Luka Yang Tertinggal

1089 Words
“Aku udah terlalu banyak merepotkanmu, Re.” “Jangan bilang seperti itu. Tante sama kamu juga udah banyak membantu aku dan Mama. Udah semestinya aku juga membantu kamu, Kai,” sanggah Rere. Setelah Kaia akhirnya lebih tenang, Rere membantu Kaia merapikan barang-barang yang akan dipindahkan. Kaia membereskan pakaian miliknya dan sang mama, sedangkan Rere mengepak beberapa perabot ke dalam kardus. Kepindahan yang sangat mendadak membuat mereka mengemas barang seadanya. “Nanti kita sewa pengantar barang aja supaya lebih cepat, ya.” Kaia mengangguk dengan usulan Rere. Dia mengemasi beberapa barang Mama dengan berat hati. Setiap sudut apartemen yang meski sering kali berbau apak dan airnya tidak mengalir dengan lancar ini sudah dipenuhi dengan kenangan bersama Mama. Apartemen ini yang menjadi saksi suka duka hidup mereka berdua tanpa Papa yang menelantarkan mereka begitu saja. “Sisanya biar dikemas besok saja, Re. Udah cukup, malam ini istirahat dulu,” ujar Kaia setelah menumpuk beberapa kardus barang di dekat pintu agar memudahkan mereka saat memindahkan barang besok. “Iya, ini yang terakhir.” Rere menumpuk satu kardus berisi perabotan rumah. Sementara itu, Kaia mulai menyapu ruang tengah yang penuh debu karena barang-barang yang telah dikemas menyisakan debu tak terjamah selama bertahun-tahun di balik rak-rak dinding dan nakas. “Aku udah memesan makan malam. Kamu pasti belum makan,” kata Kaia. “Iya, aku panik saat mendengar kabarmu tadi.” “Ya udah, kamu istirahat dulu aja. Biar aku bersihkan sisanya.” “Oke, deh.” Rere segera mencuci tangan dan beristirahat di kursi belajar. Semula hanya keheningan yang mengisi ruangan, tetapi Rere kembali berbicara saat melihat foto masa kecil Kaia bersama sang mama yang masih berada di meja belajar. “Kai,” panggil gadis bersurai panjang itu. Kaia menoleh, “Kenapa, Re?” “Kamu benar-benar nggak mau memakai uang dari Om Hadi?” Rere bertanya dengan nada hati-hati. Pertanyaan itu membuat Kaia menghentikan kegiatan menyapunya. Ekspresinya agak mengeras saat mendengar nama yang sudah lama dia hindari disebut oleh sepupunya. Nama yang bahkan tidak ingin Kaia ingat selama sisa waktu hidupnya. Nama yang kembali menarik luka dan derita dari sudut hatinya. Kaia akhirnya menggeleng, “Nggak, Re.” “Tapi, Kai, aku nggak masalah kamu mau tinggal denganku sampai kapan. Hanya saja klau untuk membayar tagihan rumah sakit Tante Safira itu akan memberatkan, bukan? Kamu membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melunasi semuanya. Aku nggak mau kamu terus kesusahan.” “Aku nggak mau, Re. Nggak apa-apa kalau aku harus bekerja selama bertahun-tahun demi melunasi uang tagihan Mama, tapi untuk memakai uang dari orang itu, aku nggak akan pernah sudi,” jawab Kaia dengan rahang yang mengeras. Rere menundukkan kepala. Apa yang Rere ucapkan memang benar, tetapi dia tidak ingin menggunakan uang sepeser pun dari pria yang telah menelantarkan dia dan Mama. Lalu, tiba-tiba saja pria itu datang dan mengatakan akan mengirimkan uang sebagai bentuk tanggung jawab telah meninggalkan mereka. Lucu, bagaimana pria itu bisa mengatakannya tanpa merasa bersalah. Mama memang perempuan dengan hati paling lembut yang pernah Kaia temui. Mama berusaha untuk memaafkan pria itu, tetapi tidak dengan Kaia. Dia tidak bisa melupakan begitu saja perjuangan Mama yang membesarkannya sendirian. Dia ingat pria itu menemui Mama di depan gedung apartemen saat Kaia pulang sekolah—dia baru saja menyelesaikan ujian akhir sekolah menengah atas. Mama hampir luluh dengan ucapan pria itu, tetapi Kaia lebih dulu menarik mamanya menjauh dan masuk ke dalam apartemen. Lalu, entah bagaimana pria itu selalu mengirimkan uang setiap bulannya ke nomor rekening Mama. Hanya saja, mereka tidak pernah menggunakan uang dari rekening itu sepeser pun. Kaia dan Mama benar-benar hidup dengan jerih payah mereka sendiri. Dia tidak ingin pria itu merasa sudah memenuhi tanggung jawab hanya dengan mengirimi mereka uang setiap bulan. Sementara pria itu hidup dengan tenang bersama keluarga yang baru. “Itu hanya akan melukai harga diriku dan Mama, Re.” Rere tidak menjawab dan hanya bisa menatap Kaia sedih. “Udah, aku nggak mau membicarakan tentang apa pun yang berhubungan dengan pria itu. Makanannya sepertinya hampir datang.” Kaia hampir meletakkan sapu saat Rere bangkit dari duduk. “Maaf, Kai. Aku nggak bermaksud mendesak dan mengingatkan apa yang udah kamu dan Tante lalui. Makanannya biar aku yang ambil,” kata Rere. Gadis yang diajak bicara hanya mengangguk dan membiarkan sepupunya mengambil pesanan makanan mereka yang telah tiba. *** Kepindahan Kaia dilakukan pagi-pagi sekali. Beruntung karena hari ini akhir pekan sehingga mereka tidak terjeda jadwal kerja. Kecanggungan yang timbul karena topik semalam telah sirna. Seperti anak kecil yang bertengkar dan lupa pada keesokan harinya, mereka sudah bersikap seperti biasa. Bahkan, pagi ini Kaia memasakkan nasi goreng kesukaan Rere untuk sarapan bersama sebelum menyelesaikan pekerjaan mengemas barang yang tersisa. Kini, Kaia sudah bersiap untuk meninggalkan apartemen yang telah dia huni selama hampir tujuh tahun itu. Barang-barang sudah dikosongkan dan dibersihkan, kamar apartemen itu sekosong hati Kaia saat ini. “Kai, apa yang kurang?” tanya Rere yang kembali masuk ke apartemen setelah membantu memindahkan beberapa barang keluar kamar. Kaia memeriksa sekeliling kamar sekali lagi. “Sepertinya udah semua, Re.” “Oke. Bagaimana? Kamu udah siap?” tanya Rere, memastikan Kaia merasa sedikit lebih baik untuk meninggalkan apartemen itu. “Ya, mungkin.” Kaia mengangguk dan tersenyum tipis. Tangan Rere mengusap bahu Kaia pelan, berusaha menguatkan. “Kalau begitu, ayo berangkat!” Mereka akhirnya meninggalkan kamar apartemen itu. Meski rasa berat dan kosong masih bersemayam di dalam d**a Kaia, tetapi gadis itu berusaha menguatkan diri. Dia mungkin tidak akan bisa kembali ke apartemen ini, tetapi kenangan itu tetap akan dia simpan dengan sepenuh hati. “Jadi, rencananya aku akan tinggal sekitar satu bulan aja, Re,” kata Kaia begitu mereka keluar dari gedung apartemen. “Kai, aku udah bilang kamu nggak perlu memikirkan itu. Kamu bisa tinggal selama yang kamu mau, oke?” Rere berusaha meyakinkan Kaia yang merasa terus sungkan. “Tetap aja, aku nggak bisa melakukan itu.” “Lupakan soal itu, sekarang kamu nggak mau mengambil cuti untuk menenangkan diri, Kai?” Pertanyaan itu membuat Kaia berpikir. Dia memang membutuhkan libur untuk menenangkan diri, tetapi melihat kondisi perekonomiannya yang sulit membuatnya ragu dan mengurungkan keinginan untuk mengambil cuti. “Sepertinya aku belum bisa melakukannya dalam waktu dekat ini. Masih banyak tugas dan beberapa hal yang harus diurus.” Rere mengangguk mengerti. “Karena kamu udah tinggal denganku, kamu nggak boleh terlalu memforsir diri ya, Kai. Perhatikan kesehatanmu juga.” Kaia mengangguk dan kembali menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka menuju apartemen Rere. Hatinya masih terasa berat dan sedih. Namun, dia berharap kali ini dunia bisa sedikit lebih ramah pada dirinya. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD