“Nah, kamu bisa tidur di kamar ini.”
Rere menyalakan lampu dan meletakkan koper Kaia, barang terakhir yang dipindahkan dari ruang tengah ke kamar kosong yang akan ditinggalinya.
“Ini nggak ada yang pakai?” tanya Kaia. Gadis itu sedikit tidak yakin harus menempati kamar yang sepertinya milik orang lain karena sangat rapi dan tampak seperti kamar yang berpenghuni. Meskipun, tidak ada barang-barang personal yang menunjukkan milik seseorang di kamar itu. Isi kamarnya masih relatif kosong karena hanya ada nakas, lemari baju, dan meja serta kursi yang bisa dimanfaatkan untuk bekerja.
“Biasanya ini dipakai Mama saat menginap, tapi kamu bisa memakainya, Kai. Tenang aja,” jawab Rere dengan entengnya. “Lagi pula, kalau kita sekamar, kamu pasti juga butuh privasi.”
Kaia mengangguk. “Oke. Terima kasih sekali lagi, Re.”
“Santai aja. Kamu mau merapikan barang-barang sekarang atau nanti? Biar kubantu.”
“Nanti aja, aku bisa membongkarnya satu per satu dan nggak harus hari ini. Lebih baik kamu istirahat karena ini hari liburmu. Kamu bilang juga mau mandi.”
Rere tampak berpikir sejenak. “Oh, ya … Oke, aku mandi dulu kalau kamu mau ambil minum atau makan bisa ambil di dapur atau pantry, ya.”
Kaia mengangguk. “Udah, sana! Bau asam,” canda Kaia.
Sepupunya itu tampak tidak terima dan memprotes, “Yee … Mentang-mentang kamu udah mandi. Kamu juga istirahat aja, nanti siang aku pesan makan untuk makan siang, ya.”
Kaia terbahak, kemudian mengangguk dan membiarkan sepupunya meninggalkan kamar yang mulai hari ini akan ditinggalinya. Dia bersyukur memiliki Rere yang selalu sigap membantu. Untung saja apartemen sepupunya lebih luas dan memiliki dua kamar yang bisa menampungnya. Jika tidak ada Rere mungkin dia akan luntang-lantung membawa barang-barangnya di jalanan saat ini.
Bukannya dia hiperbolis, tetapi mencari tempat tinggal mendadak benar-benar bukan keahliannya. Salah-salah dia justru tidak beruntung dan terdampar entah di mana karena tertipu. Kini, paling tidak dia memiliki tempat berteduh untuk sementara waktu.
Kaia membongkar koper dan menata beberapa pakaiannya. Saat tengah mengeluarkan pakaian dari koper, dia melihat pakaian Mama yang masih terlipat rapi. Entah mengapa, dia tidak sampai hati untuk membuang pakaian Mama sehingga saat pindah pakaian itu pun tetap dibawa. Saat Mama sudah tidak bisa dia rasakan kehangatannya, Kaia ingin merasakan kehadiran Mama dari barang-barang milik perempuan yang melahirkan dan membesarkannya itu.
Di tengah-tengah aktivitas itu, tiba-tiba ponselnya bergetar. Kaia segera mengecek ponsel dan menemukan nama Pak Dion di layar. Melihat nama atasannya di kantor tersebut, Kaia hanya bisa menghela napas. Dia mendekat k etas punggungnya di tepi ranjang sembari mengangkat panggilan dari atasannya.
“Halo, selamat pagi, Pak!”
“Halo, Kaia. Lama sekali kamu mengangkat panggilan saya, kemana saja?” Seperti biasa, atasannya itu akan mengomel terlebih dahulu sebelum menyampaikan maksud dan tujuannya menelepon.
“Maaf, Pak, tadi saya sedang beres-beres,” jawab Kaia sembari menyalakan laptopnya. Jika atasannya sudah melakukan panggilan di hari libur, hari ini akan menjadi hari yang panjang karena berarti ada tugas yang harus dia selesaikan saat itu juga.
Terdengar helaan napas kasar dari seberang. “Ah, ya, sudahlah. Sekarang kamu buka file yang saya kirim lewat email.”
Tangan Kaia bergerak dengan cekatan membuka email terbaru yang masuk dari sang atasan. “Sudah saya buka, Pak.”
“Oke, kamu input data itu ke sistem, kemudian buat laporan tentang penjualan yang terbaru,” titah Pak Dion tanpa mau dibantah.
“Baik, Pak, hanya saja kemarin saya sudah melaporkan tentang penjualan di cabang Tangeran, bukankah sama saja dengan file terbaru?”
“Itu ada perubahan. Saya tunggu nanti sore pukul 3, ya.” Suara Pak Dion terdengar seperti tergesa-gesa.
“Tapi, Pak, ini sepertinya memerlukan waktu lebih panjang.”
“Saya nggak mau tahu, pokoknya nanti sore pukul 3 saya hubungi dan minta filenya. Ini harus dilaporkan segera ke manajer. Kamu mau nama tim kita tercoreng karena kamu nggak becus mengerjakan tugas dari atasan?!”
Ah, ancaman itu lagi. Kaia seperti sudah muak dengan ancaman dari atasannya itu, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain karena dia masih membutuhkan gaji dari pekerjaan ini. Dia akan bertahan.
Gadis itu memejamkan mata dan menghela napas beberapa kali, sebelum kembali tersenyum. “Baik, Pak. Saya kerjakan sekarang juga.”
“Nah, begitu, dong. Kamu itu juga digaji. Kalau gitu saya tutup.”
Panggilan pun berakhir sepihak. Tidak ada kata terima kasih atau apa pun yang Kaia terima setiap kali dia harus mengerjakan pekerjaan tambahan dan di luar jam kerja. Dia memang menerima uang lembur, tetapi itu tetap tidak sepadan.
Meski begitu, gadis itu tetap merapikan barang-barang ke tepi kamar sebelum kembali menghadap laptop dan mengerjakan laporan yang diminta oleh Pak Dion. Kali ini, dia harus bekerja lebih cepat karena laporan yang biasanya membutuhkan waktu pengerjaan selama dua hari harus diselesaikan dalam waktu tujuh jam. Tidak ada waktu untuk beristirahat setelah kepindahan yang teramat mendadak.
Kaia baru mengerjakan sekitar sepuluh menit tatkala terdengar suara Rere, “Kamu sedang apa, Kai?”
“Oh, ini aku diminta mengerjakan laporan dulu sama atasanku. Maaf, masih berantakan, Re. Aku harus mengumpulkan laporan ini jam 3 nanti,” jawab Kaia dengan tatapan masih tertuju pada laptop dan mengetik dengan cekatan.
“HAH?!” Rere berteriak dan mendekat ke arahnya. “Ada gila-gilanya itu atasan kamu. Ini hari libur, loh. Waktu buat istirahat.”
“Iya, aku tahu. Kamu tahu sendiri atasanku agak rewel, Re. Ini nanti juga dihitung lembur, kok.”
Rere masih tampak tidak terima. “Tetap saja, ini seharusnya jadi waktu kamu istirahat, Kai. Hitungan lembur juga pasti nggak sepadan dengan tugas yang kamu kerjakan karena kamu butuh istirahat.”
“Ya … Mau bagaimana lagi kan, Re.” Kaia mengangkat bahunya pasrah.
Namun, Rere tetap mendumal dan merasa kesal sendiri karena atasan Kaia yang semena-mena. Sebenarnya, gadis itu sudah beberapa kali menceritakan tentang tabiat atasannya pada Rere dan beberapa kali sepupunya menyarankan untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Akan tetapi, Kaia belum siap jika harus melepaskan pekerjaan ini dan mencari pekerjaan baru yang saat ini sangat sulit didapatkan.
“Ya, udah. Ini aku buatkan jus jeruk buat kamu. Kalau begitu aku nggak akan mengganggumu dulu. Biar aku bantu bongkar barang-barang kamu, ya?” Sepupunya itu akhirnya menyerah karena melihat betapa memelas dia saat ini.
“Terima kasih, Re. Aku tinggal membongkar beberapa kardus aja, sih, jadi aku rapikan sendiri aja nanti.” Kaia menepuk tangan Rere yang berdiri di sampingnya.
Rere masih menatapnya dengan bibir cemberut, tanda bahwa sepupunya memaksa ingin membantu. Akan tetapi, Kaia sudah sungkan dan sangat berterima kasih atas bantuan sepupunya. Dia tidak ingin merepotkan Rere lebih jauh, meski sepupunya mengatakan tidak apa-apa, tetapi akan lebih baik jika Rere beristirahat.
“Nanti bantu aku pesan makan siang aja, Re.”
Ekspresi wajah yang tertekuk itu perlahan-lahan mulai melembut. “Kamu mau makan apa nanti?”
“Apa, ya? Aku mau nasi padang.”
“Oke …”
“Nah, udah kamu istirahat sana.”
“Ya udah, aku tinggal dulu, ya. Aku di ruang tengah kalau kamu butuh bantuan.”[]