Ini sudah hari kelima sejak kepindahan Kaia ke apartemen Rere. Tidak banyak hal yang berubah kecuali bahwa dia kini tinggal di apartemen sepupunya dan dia harus menempuh jarak yang sedikit lebih jauh daripada saat dia masih berada di apartemennya dulu. Mereka sering memasak dan makan bersama saat sarapan juga makan malam.
Hal lain yang mengubah kebiasaan Kaia, yakni ketika dia menemukan taman di dekat kompleks apartemen Rere dan biasanya dia menghabiskan waktu untuk menyendiri sejenak di sana. Tempat itu cukup sepi sehingga dia akan pergi ke sana setelah pulang bekerja saat harinya terasa berat sebelum akhirnya pulang ke apartemen sepupunya.
Meski dia memiliki Rere saat ini yang menemani dan membantunya, tetapi tidak bisa menyembuhkan luka kehilangan Mama begitu saja. Dia masih sering memimpikan Mama, mungkin karena kerinduannya yang tak terelakkan.
Kaia menghela napas di tengah makan siangnya, tiba-tiba dia teringat dengan Mama yang biasanya meminta melakukan panggilan video atau mengabari dengan menanyakan apakah dia sudah makan siang. Namun, kali ini dia makan siang di kafetaria seorang diri tanpa panggilan video atau pesan dari Mama. Gadis itu menyuap bekal nasi dan ayam tumis lada hitam dengan tidak bersemangat.
“Kai.” Seseorang menepuk bahu Kaia. Grace berdiri sambil tersenyum canggung.
“Kenapa, Grace?” tanya Kaia.
“Ah, maaf mengganggu makan siang kamu, ya. Aku mau menyampaikan pesan kalau Pak Dion minta kamu menemui beliau ke ruangan Kepala Divisi setelah makan siang kamu selesai.” Grace tampak tidak enak hati menyampaikan pesan itu di waktu istirahat.
“Ya? Ada apa memangnya? Biasanya, Pak Dion menghubungiku,” ujar Kaia.
Atasannya itu memang memiliki kebiasaan buruk, tidak tahu waktu saat memanggilnya. Padahal, dia sudah menyelesaikan dan memberikan laporan-laporan yang diperlukan hari ini. Kini, untuk makan siang dengan tenang pun dia tidak bisa karena harus memenuhi panggilan dari atasannya itu.
Grace yang ditanya hanya menggeleng. “Aku juga tidak diberitahu. Aku diminta menyampaikan itu aja kalau bertemu kamu karena Pak Dion kelihatan buru-buru.”
“Oke, terima kasih informasinya, Grace.”
“Sama-sama, kamu habiskan dulu aja makan siangmu, Kai.” Grace berusaha menenangkan Kaia yang tengah mengemasi makanannya.
“Iya, Grace. Kamu juga selamat makan siang, ya.” Kaia menjawab seadanya dan tersenyum. Dia bisa melihat teman-teman Grace menunggu di meja kafetaria yang hanya berjarak beberapa meja dari tempatnya makan.
“Kalau begitu, aku permisi, ya,” pamit Grace.
Kaia hanya mengangguk dan membiarkan Grace pergi. Dia sendiri segera meneguk air minum lantas mengemasi kotak bekalnya. Dia harus secepatnya menemui Pak Dion jika tidak ingin terkena semprot seperti yang sudah-sudah.
Padahal waktu istirahat belum lewat lima belas menit, tetapi dia harus kembali berhadapan dengan atasannya. Saat karyawan lain beranjak untuk makan siang, dia justru bergerak menuju ruangan kepala divisi. Dia menyimpan kotak bekal di meja dan merapikan pakaiannya sebelum menemui Pak Dion.
Kaia mengetuk pintu ruangan kepala divisi sebelum membuka pintu dan melongokkan kepala. Pak Dion tampak sibuk mengangkat telepon dengan ekspresi yang cukup gusar. Beberapa kali terdengar percakapan tentang laporan dan perkembangan produksi barang.
“Permisi, Pak,” ucap Kaia sopan karena Pak Dion tidak juga menyadari kehadirannya.
Akhirnya, Pak Dion menoleh dan meminta dia masuk dengan gerakan kepala menunjuk ke kursi di seberangnya. Kaia lantas mengangguk dan menutup pintu. Dia duduk di kursi seberang Pak Dion sembari menunggu atasannya itu selesai berbicara di telepon.
Selama lima menit dia menunggu waktu berjalan sangat lambat. Dia tidak tahu mengapa waktu selalu berjalan begitu lambat saat bekerja. Apakah mungkin karena dia sudah tidak lagi menikmati waktu untuk bekerja karena begitu banyak pekerjaan lain yang dibebankan padanya?
Pak Dion akhirnya selesai melakukan panggilan dan mendengus kesal. Pria berusia akhir 30-an itu mengecek sesuatu di laptop sebelum mengarahkannya pada Kaia.
“Bagaimana bisa ada kesalahan di sini?” tanya Pak Dion tiba-tiba, menunjuk pada angka penjualan yang tertulis di laporan. Itu adalah laporan yang dia kumpulkan beberapa hari lalu. Laporan itu dibuat berdasarkan hasil susunan dari tim marketing yang tinggal dia susun.
“Mohon maaf, kesalahan di bagian mana ya, Pak?”
“Hasil penjualan ini tidak sesuai dengan tim produksi. Sebenarnya kamu bisa menyesuaikan dengan laporan dari tim marketing tidak, sih?” Suara Pak Dion sedikit meninggi. “Ini bisa fatal.”
“Tapi, Pak, berdasarkan hasil laporan dari tim marketing memang begitu dan sudah saya sesuaikan, Pak,” jawab Kaia berusaha untuk tidak terkejut karena bentakan dari Pak Dion. Meski sudah berkali-kali mengalami ini, dia tidak juga terbiasa.
“Mana buktinya?” tanya Pak Dion.
“Saya izin mengambil hard file dari tim marketing, Pak.” Izin Kaia hanya dijawab dengan gerakan tangan yang memintanya cepat pergi dan mengambil laporan itu.
Kaia buru-buru keluar dari ruangan. Dia menghela napas dan berusaha agar tidak menangis karena harus menerima amarah dari atasannya. Dia yakin tidak salah karena dia masih ingat angka-angka yang dia tulis di laporan dari tim marketing. Dihampirinya meja yang sudah sangat dia kenal dan mengambil file laporan di antara tumpukan file lain. Lantas, dia mengecek angka yang ditunjukkan Pak Dion. Setelah menemukan bahwa angkanya sesuai dari tim marketing dengan yang dia tulis di laporan, dia melangkah dengan mantap kembali ke ruangan kepala divisi.
Pintu kembali diketuk dan Kaia masuk untuk menunjukkan laporan dari tim marketing.
“Saya menulis berdasarkan laporan ini, Pak,” ujarnya setelah duduk dan menunjukkan laporan tim marketing pada sang atasan yang kondisi hatinya tidak juga membaik.
Pak Dion mengecek dan mencocokkan dengan angka-angka di laporan itu. Lantas, menutup map laporan dengan kasar. “Walaupun ini kekeliruan dari tim marketing seharusnya kamu cross-check juga pada tim marketing. Ini hanya akan menghambat kinerja ke divisi yang lain juga, kamu tahu?”
Yah, lagi-lagi atasannya tidak mau mengalah dan tetap menyalahkannya. Gadis itu sudah hafal bahwa dia yang akan menerima semprotan dari atasannya. Kaia hanya mampu menguatkan hatinya dan berusaha bersabar.
“Baik, Pak.” Gadis itu menjawab dengan sopan.
“Sekarang kamu konfirmasi ke tim marketing dan laporkan angka yang benar pada saya. Saya tunggu.” Pria itu tidak menerima bantahan.
Alhasil, yang bisa Kaia lakukan lagi-lagi adalah mengangguk dan melaksanakan perintah. Dia mengambil map laporan dan undur diri dari ruangan. Makan siangnya sudah tercerna cepat dan menyisakan asam lambung yang menggerus perutnya begitu keluar dari ruangan yang terasa seperti neraka itu.
Namun, tidak ada waktu lagi. Kaia menghampiri meja kerjanya dan mengambil satu tablet obat. Gadis itu lantas mengunyah obatnya sebelum meneguk air banyak-banyak. Begitu dirasa sedikit lebih baik, dia keluar dari ruang kerjanya menuju ruang marketing dengan map laporan yang masih dipegang dengan erat.[]