Mungkin inilah yang orang-orang sebut neraka dunia. Setelah Kaia mengambil cuti karena kepergian sang mama, di hari selanjutnya dia pergi ke kantor dan bekerja seperti biasa. Bahkan, rekan-rekannya mungkin tidak tahu bahwa dia mengambil cuti karena meninggalnya sang mama. Kini, gadis itu harus menjalani hari-hari berduka dengan bersikap seperti karyawan biasa yang tidak memiliki hati dan mendedikasikan diri demi perusahaan.
Ruang marketing berada satu lantai di atas ruang administrasi. Dia menaiki lift demi menemukan plang ruang marketing dan mencari Joanna yang bertanggung jawab atas laporan perusahaan cabang. Akan tetapi, saat dia memasuki ruangan itu, bangku Joanna masih belum berpenghuni. Wajar saja mengingat waktu istirahat masih ada 10 menit lagi.
“Permisi, apa mungkin ada yang tahu di mana Joanna?” tanya Kaia pada sekelompok karyawan yang baru saja keluar dari lift dan dia kenali sebagai orang-orang marketing.
Salah seorang gadis dengan blus krem menjawab, “Ah, sepertinya tadi Joanna masih berada di kafetaria. Mungkin sebentar lagi akan kembali. Ada yang bisa dibantu?”
Kaia mengangguk. “Terima kasih informasinya, tidak ada. Biar saya tunggu Joanna di sini.”
“Oh, iya.”
Setelah mengangguk sopan pada sekelompok karyawan itu, Kaia memilih untuk duduk di salah satu sofa yang berada di ruang tunggu. Berbeda dengan ruangan administrasi yang ruang tunggunya berada di dalam, ruang tunggu marketing berada tepat setelah keluar dari lift. Lalu, ada sebuah lorong yang menghubungkan ke ruang marketing dan finance.
Kaia kembali mengecek arlojinya dengan resah saat terdengar denting pintu lift. Akhirnya, orang yang dia tunggu datang juga. Tanpa pikir panjang, dia bangkit dan mendekat pada wanita yang tengah mengecek ponsel sembari membawa segelas kopi.
“Joanna,” panggil Kaia.
Wanita yang merasa dipanggil pun menoleh dan terkejut dengan keberadaan Kaia.
“Hei, Kai! Ada apa?”
“Maaf aku mengganggumu, aku tahu ini masih jam istirahat, tapi aku butuh bantuan.”
“Oh, nggak apa-apa. Katakan apa yang kamu butuhkan?”
“Aku mau mengonfirmasi dan mengecek kembali laporan dari cabang Bogor. Ada kesalahan sepertinya, jadi Pak Dion memintaku untuk double-check.”
Wanita itu menepuk kepala begitu mendengar ucapan Kaia. “Oh, astaga. Biar aku cek lagi. Sini ikut masuk, Kai.”
Kaia mengikuti Joanna dan membiarkan wanita itu mengecek kembali laporan yang dimaksud. Hingga akhirnya, Joanna menemukan kesalahan pada angka yang ditunjuk oleh Kaia.
“Kai, sorry. Ini benar-benar kesalahan dariku. Tunggu aku perbaiki dulu, ya.”
“Iya, Jo, nggak apa-apa.”
“Kamu pasti dimarahi Pak Dion karena ini. Apa nanti aku bilang Pak Dion aja?” Joanna tampak panik sembari memperbaiki angka yang salah.
“Nggak apa-apa, Jo. Pak Dion cuma minta perbaikan aja, kok.”
“So sorry, Kai. Nah, ini udah aku perbaiki, ya. Tunggu aku print out dan soft file udah kukirim ke email kamu.” Kaia mengangguk dan membiarkan Joanna mengecek mesin printer.
Tak berselang lama kemudian, hard file dokumen yang sesuai telah berada di tangan Kaia. Joanna masih merasa sangat bersalah dan berjanji akan mentraktir Kaia karena harus menerima semprotan dari Pak Dion padahal kesalahan murni dari tim wanita itu.
“Nggak perlu repot-repot, Jo. Aman ajaa.”
“Tetap aja, kamu yang jadi sasaran Pak Dion. Kapan pun kamu ada waktu hubungi aku, ya, kita makan siang atau makan malam bersama.”
“Oke, Jo. Terima kasih, ya, kalau begitu aku permisi dulu. Pak Dion udah menunggu.”
Joanna mengangguk. Lantas, Kaia meninggalkan ruangan marketing dan kembali menuju ruangan Pak Dion. Dia harus menyelesaikan urusan kekeliruan ini jika tidak ingin berakhir lembur sore ini. Lagi pula, tenaganya sudah habis jika harus mendengarkan omelan atasannya itu lagi.
***
Seharusnya, Kaia berdoa lebih spesifik agar tidak lembur sore ini dan tidak diganggu di waktu istirahat. Sebab setelah menyelesaikan revisi laporan kantor cabang atas perintah Pak Dion, dia masih harus mengerjakan laporan yang seharusnya dikumpulkan lusa dan menjadi tugas rekan kerjanya yang lain.
Kini, atasannya yang tidak tahu waktu itu justru meminta Kaia mengerjakan bahan presentasi untuk meeting esok hari.
“Rapikan dan cek kembali ke tim yang bersangkutan. Nanti pukul 9 kirim ke email dan besok pagi hard file harus sudah berada di meja saya,” tulis Pak Dion dalam pesan.
Tentu saja tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengerjakan dengan setengah hati. Akan lebih baik jika pekerjaan ini dihitung lembur, tetapi untuk mengerjakan bahan presentasi tidak dihitung lembur karena atas permintaan atasannya.
“Maaf ya, Re, kita jadi nggak bisa memasak bersama,” kata Kaia dengan ekspresi merasa bersalah.
Gadis itu duduk di kursi counter yang mengarah pada dapur apartemen, sementara Rere tengah mencuci sayuran. Kaia mengatakan itu sembari jemarinya menari lincah di atas keyboard.
“Udah, nggak apa-apa lah, Kai. Khusus hari ini aku masakin dulu, kita masih bisa memasak bersama kapan-kapan,” jawab Rere dengan nada tenang.
Namun, Kaia masih tidak menghapus ekspresi bersalahnya. Mereka sudah berencana memasak bersama sepulang bekerja dan menikmati makan malam dengan hidangan favorit, tetapi semuanya gagal begitu saja setelah pesan dari Pak Dion masuk ke ponselnya.
“Nah, daripada kamu cemberut terus mending kamu bantu aku memilih. Biasanya kamu pakai bumbu kari yang mana?” tanya Rere, kali ini sudah berdiri berseberangan dengan Kaia sembari membawa dua bungkus bumbu kari di kedua tangan.
“Aku biasanya memakai kari blok dan menurutku rasanya lebih enak itu.”
Rere menunjuk Kaia dengan ekspresi puas, mengisyaratkan pendapat yang sama.
“Ada yang bisa aku bantu lagi?”
“Udah, kamu lanjutkan pekerjaanmu dulu aja, Kai. Selanjutnya biar Chef Rere yang memasak,” canda Rere, membuat Kaia tidak bisa menahan tawa.
“Awas! Jangan sampai keasinan seperti yang udah-udah, ya.”
“Itu karena aku kurang fokus. Udah kamu diam aja, biar aku fokus memasak.”
“Ya, ya …” Kaia membiarkan Rere melanjutkan aktivitas, sedangkan dia kembali berkutat pada angka-angka di layar laptopnya.
Beberapa waktu kemudian hanya suara ketikan di keyboard dan aktivitas memasak yang terdengar. Lantas, tiba-tiba saja Rere telah duduk di kursi seberangnya.
“Kai,” panggil sepupunya itu.
“Hmm?” Dia menjawab sambil masih terfokus pada laptop.
“Kamu nggak mau ambil cuti aja untuk istirahat?”
Pertanyaan Rere membuatnya menghentikan kegiatan mengetik. Dia tampak berpikir.
“Kalau mau, sih, mau aja, Re, tapi kamu tahu sendiri aku butuh uang dan masih banyak hal yang perlu aku urus.”
Rere menghela napas mendengar jawabannya. “Soal tempat tinggal, kamu bisa tinggal di sini dulu sampai kamu benar-benar settle, Kai. Aku justru senang kalau kamu ada di sini.”
“Iya, Re, aku lebih memikirkan perihal biaya rumah sakit Mama. Kalau semua itu udah selesai, mungkin aku akan mempertimbangkan mengambil cuti,” kata Kaia akhirnya.
“Kamu udah banyak bekerja keras, Kai. Belum lagi tuntutan atasanmu itu semakin nggak masuk akal. Kamu bekerja selama dua tahun terakhir malah seperti diperbudak begini.” Sepupunya mengatakan itu dengan penuh simpati.
“Yah, rasanya aku juga sudah lelah.”[]