Tisha membuka matanya dengan terpaksa, meskipun kelopak matanya masih terasa berat. Suara alarm ponselnya benar-benar terdengar cukup nyaring hingga membangunkannya dari lelap tidur. Tisha mengambil ponselnya yang sengaja ia letakan disebelah ranjang tidurnya. Ia melirik angka disudut kiri layar ponselnya dan langsung melepaskan selimutnya ketika melihat sekarang sudah pukul setengah lima pagi.
Tisha langsung bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju dapur yang sebenarnya masih satu ruangan dengan kamar tidurnya. Tisha hanya memerlukan tiga langkah dari kasurnya menuju rak piring dan rice cooker, karena kamar kostnya memang termasuk berukuran kecil. Ia mengambil tempat penanak nasi dan memasukkan beras secukupnya untuk sarapan dan makan siang.
Sambil menunggu nasi matang, Tisha langsung mengambil handuk dan bersiap untuk mandi. Setelah selesai, ia segera mengenakan seragam, lalu memakai celemek untuk memasak lauk sarapan dan makan siangnya. Ia mengambil sebutir telur dan satu sosis instan yang ia beli kemarin di supermarket.
Sosis instan memang lebih mahal jika dibandingkan dengan sosis mentah yang dijual di warung. Namun, Tisha tidak memiliki kulkas di kamar kostnya. Sementara ia hanya membutuhkan satu batang sosis setiap harinya untuk digoreng bersama telur. Jika membeli sosis instan, ia dapat menyimpan sosis sisanya didalam lemari tanpa takut basi atau busuk.
Tisha kemudian memotong sosis itu, lalu memasukkannya ke dalam telur, dan menggorengnya. Setelah matang, ia membagi telur itu menjadi dua. Setengahnya ia letakan diatas piring dan setengahnya lagi ia taruh ke dalam kotak bekal. Setelah melihat tanda matang di penanak nasinya, ia menaruh nasi di atas piring dan kotak bekal makan siangnya. Kemudian dengan cepat, ia melahap sarapan sederhananya itu. Setelah selesai, ia segera mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.
Waktu telah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Tisha langsung bergegas mengambil tas dan bekal makan siangnya, lalu berlari menuju parkiran sepedanya yang terletak dilantai bawah. Ia tersenyum ke arah Ibu kostnya yang terlihat sedang menjemur pakaian di halaman.
"Mau berangkat ya?" tanya Bu Dahlia, pemilik rumah itu dan kamar kost-annya.
"Iya Bu. Saya ambil sepedanya ya," ucap Tisha sopan.
"Hati-hati di jalan. Waspada kalau ada mobil dan motor di jalan," pesan Bu Dahlia.
"Iya Bu," jawab Tisha sambil mengeluarkan sepedanya.
Setelah menutup pagar, Tisha mulai mengayuh sepedanya secara perlahan sambil mendengarkan musik melalui earphone. Ia menghirup udara pagi yang terasa sangat segar dan merasakan angin sejuk yang menerpa wajahnya sambil tetap mengayuh sepedanya.
Berangkat pagi memang lebih nyaman. Selain karena tidak terlalu macet, ia bisa merasakan kesejukan udara pagi dan sinar mentari yang terasa indah. Setelah sampai, Tisha memarkirkan sepedanya di sebelah parkiran motor. Di sekolah ini, memang hanya dia yang mengendarai sepeda untuk pergi ke sekolah. Karena itu tidak ada parkiran khusus untuk sepeda.
Tisha mulai berjalan menuju kelasnya di 3 IPS-1 yang terletak di lantai satu. Tisha tersenyum kecil ketika melihat beberapa adik kelasnya yang telah datang memasuki gerbang sekolah. Dulu Tisha juga seperti mereka, berangkat sepagi ini karena takut terlambat dan menghindari amukan Pak Narto, guru killer yang bertugas memarahi anak-anak yang terlambat.
Namun alasan Tisha sekarang datang sepagi ini tidak sama dengan para adik kelasnya itu. Ia menghindari berpapasan dengan teman-teman sekelasnya. Ia malas harus berbohong setiap hari tentang alasannya datang ke sekolah dengan sepeda.
Tisha selalu bilang ingin berolah raga dengan sepeda, setiap kali ada teman yg bertanya padanya. Ia menutupi keadaan sebenarnya dimana dirinya memang sudah tidak memiliki mobil, motor, atau uang untuk sekedar menyewa taksi untuk pergi ke sekolah.
Sepeda adalah alat transportasi tidak memakan biaya baginya. Ia hanya perlu berangkat sangat pagi dari kost-an dan berlelah sedikit untuk mengayuhnya selama dua puluh menit. Tisha merasa cukup beruntung memiiki sepeda yang dulunya merupakan pemberian orang tuanya.
Sepeda itu dibeli oleh orang tuanya dengan harga yang cukup mahal. Jadi Tisha tidak terlalu tampil menyedihkan didepan teman-temannya dengan mengendarai sepeda itu. Mereka juga tampak percaya dengan kebohongannya yang ingin olah raga.
Namun berbohong setiap hari... mulai terasa sangat melelahkan.
Tisha memandang kelasnya yang tampak masih kosong. Ia memang selalu menjadi yang pertama menapaki kaki disana setiap pagi. Ia kemudian langsung duduk di kursinya yang terletak di pojok ruangan.
Tisha menaruh tasnya, lalu langsung mengambil posisi tidur dengan menelungkupkan tangannya diatas meja. Tidur selama setengah jam dirasa cukup untuk menghilangkan rasa lelah dan kantuknya yang masih tersisa. Bekerja sebagai pelayan dari jam 3 sore sampai jam 11 malam, lalu harus bangun pagi untuk pergi ke sekolah, sungguh rutinitas yang melelahkan.
"Dorrrr!"
Sebuah teriakan dan tepukkan di punggungnya yang cukup keras, mampu membuat Tisha terbangun dari tidurnya. Dengan tatapan kesal ia menoleh ke arah temannya yang mengusilinya. "Kebiasaan deh! Kenapa harus ngagetin gue sih?!" protes Tisha.
"Yah lo lagian tidur mulu tiap gue datang. Kan, jadi pengen usil hahaha," jawab Kayla.
"Lo molor mulu emang Tis," ucap Marlene sambil geleng-geleng kepala.
"Gue ngantuk!" seru Tisha sambil kembali ke posisi tidurnya.
Namun Marlene langsung menarik kerah baju Tisha dan mencegahnya untuk kembali tidur. "Lo beruang kutub apa yak! Kerjanya hibernasi mulu."
"Daripada lo tidur, mending lo komenin tas baru gue. Menurut lo gimana?" Kayla langsung berbalik dan menunjukkan tas ransel yang dipakainya.
Tisha memicingkan matanya dan menelusuri design tas yang dipakai sahabatnya itu. "Siapa yang beliin? Itu tas edisi terbatas yang baru keluar hari ini kan?"
"Yaps! Lo emang ahli tas deh! Dibeliin sama bokap gue. Lebih tepatnya sih gue ambil kartu kreditnya dia hahaha," jawab Kayla dengan senyum usil.
"DASAR!" Tisha geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu
Kedua sahabatnya itu memang sangat suka tampil modis dan mewah. Keluarga Kayla memiliki perusahaan tas dan sepatu yang cukup ternama di Indonesia. Sementara keluarga Marlene memiliki perusahaan retail terbesar di negeri ini. Mereka memang suka belanja dan membeli barang yang bukan menjadi kebutuhan.
"Lo kenapa pake tas itu terus, Tis? Tas lo kan banyak," tanya Marlene heran.
"Iya. Lo gak bosen apa. Gue aja bulan ini udah ganti tas lima kali," ucap Kayla.
"Emang kalian suka liat gue gonta ganti tas apa?" tanya Tisha sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ehm... ya enggak sih," jawab Kayla.
"Cuma lo gak bosen apa, Tis?" tanya balik Marlene.
"Ehm... gue masih nyaman pake tas ini. Oh ya, kalian udah ngerjain tugas ekonomi?" Tisha berusaha mengalihkan topik.
"Oh iya! Mampus gue... belum kelar!" Kayla langsung duduk dan segera mengambil buku tugasnya dari dalam tas.
Tisha hanya berdecak heran melihat kelakuan Kayla. Namun di satu sisi ia juga menarik nafas lega ketika obrolan tas tidak dilanjutkan. Tisha tidak ingin teman-temannya tau seberapa sulit kehidupannya sekarang. Ia cukup beruntung masih memiliki satu tas sekolah yang cukup mahal, sehingga tidak tampil menyedihkan di depan teman-temannya.
***
"Kriiiinggg!" Bel tanda istirahat berbunyi. Tisha membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Kemudian mengambil earphone dan bersiap untuk tidur sambil mendengarkan musik. Namun, Kayla dan Marlene menghampirinya, lalu mencabut earphone-nya dengan usil.
"Yuk ke kantin," ajak Kayla.
"Gue..."
"Diet? Please deh Tis... lo itu udah kurus. Ngapain sih pake diet-diet segala. Itu namanya lo ngehina gue! Kalo lo gendut, gue apa?!" protes Marlene sambil menunjukkan lemak perutnya.
"Gue emang gak makan siang. Lebih prefer sarapan dan makan sore. Gue ngantuk guys. pengen tidur," kata Tisha sambil menguap.
"Lo ngantuk mulu! Pake n*****a lo yak?!" tanya Kayla dengan tatapan melotot.
"Gila kali ya! Kagalah! Aneh-aneh aja deh pikiran lo," jawab Tisha sambil mendengus kesal.
"Yah lagian kerjanya tidur mulu. Lo temenin kita pokoknya! Gue gak mau tau!" Kayla menarik tangan Tisha.
"Lo mending turutin Kayla deh, Tis. Lo tau kan kekuatan dia kalo lagi merengek. Bayi aja kalah kali ma dia," sahut Marlene.
Tisha tau kebocahan Kayla. Setiap kali ada permintaan yang tidak diturutin, dia pasti terus meminta sambil merengek bak bocah umur lima tahun. Tak jarang ia sampai malu ditempat umum karena rengekan sahabatnya itu. Tisha menghela nafas kesal. Ia akhirnya bangkit berdiri sambil membawa botol air minumnya. "Yaudah gue temenin kalian. Cuma gue gak makan ya!"
"Yeay!" Kayla langsung bersorak kegirangan karena permintaannya dituruti.
Mereka akhirnya berjalan bersama menuju kantin. Kayla merangkul manja lengan Tisha bak seorang pacar. Tisha menyenggol tangan Kayla seolah risih dengan tingkah sahabatnya itu. "Geser gak?!" seru Tisha.
"Iye! Galak bener sih," balas Kayla dengan ekspresi manyun.
"Cuy! Itu ada Giovanni. Udah nangkring sendirian disana," ujar Marlene.
Tisha langsung melirik arah yang ditunjuk oleh Marlene. Ia langsung menemukan Giovanni yang sudah duduk di meja langganan mereka sambil melambaikan tangan. Giovanni memang sudah bersama dan bersahabat dengan mereka sejak SMP. Di mata mereka Giovanni bukan seorang pria, karena terlalu dekatnya mereka. Padahal paras Giovanni termasuk tampan dan menjadi idola adik-adik kelas mereka.
"Woy! Sendirian aja Bang," goda Kayla.
"Iya nih Neng. Nungguin kalian Abang bener-bener lelah," jawab Giovanni dengan tingkah alaynya.
"Mulai deh kaum alay berdrama," keluh Tisha sambil geleng-geleng kepala.
"Lo belum mesen Gi?" tanya Marlene.
"Belum lah. Gue kan nungguin kalian. Sebagai satu-satunya pria di kelompok ini, gue bertugas menjaga dan memberi makan kalian," jawab Giovanni sambil memukul dadanya.
"Emang kita piaraan lo ape sampe dijaga dan diberi makan," sahut Tisha.
"Yaudah lo pesenin gue bakso," seru Marlene.
"Gue mau Salad with peanut sauce," ucap Kayla dengan nada ala kebarat-baratan.
"Emang ada tuh menu di kantin ini?" tanya Giovanni heran.
"Maksud si Kayla itu gado-gado, Gi," sahut Tisha.
"Yaps! Lo emang pinter, Tis." Kayla menepuk pundak Tisha dengan bangga.
"Ya ampun! Timbang bilang gado-gado aje susah bener si Neng. Lo pesen apa, Tis?" tanya Giovanni lagi.
"Gak ada. Gue diet," jawab Tisha singkat.
"Ehm... oke baiklah." Giovanni langsung bangkit berdiri dan berjalan untuk memesan makanan.
"Tuh manusia kapan sih ngegandeng cewek? Masa sama kita mulu," ucap Marlene.
"Au tuh. Gue gak pernah liat dia kencan, apalagi jadian. Padahal banyak yang naksir dia. Masa gak ada yang kepincut satupun sih," kata Kayla.
"Dia naksir kali sama gue," sahut Tisha asal.
Kayla dan Marlene tiba-tiba terdiam, lalu menatap Tisha dengan tajam. Menerima perubahan sikap kedua sahabatnya itu yang mendadak membuat Tisha ikut merasa aneh.
"Kalian kenapa?" tanya Tisha.
"Apa yang lo ucapin mungkin bener..." gumam Kayla.
"Iya. Mungkin emang bener. Jangan-jangan Gio emang nungguin lo janda," canda Marlene.
"Gila kali kalian yak! Kagalah. Dia gak mandang gue cewek, gitu juga sebaliknya," ucap Tisha sambil geleng-geleng kepala.
"Ya bisa aja, kan. Cuma bisa aja sih dia suka sama gue. Secara gue itu cantik dan populer di sekolah ini," kata Kayla sambil mengedipkan matanya.
"Mulai deh halusinasi nih orang kambuh," kata Marlene.
"Noh yang kalian omongin datang. Panjang umur dia," ujar Tisha.
"Helloooo... ini pesenan kalian!" Giovanni langsung menaruh nampan berisi pesanan mereka bak seorang pelayan professional.
"Thank you tampan," seru Kayla.
"Sama-sama Neng. Oh ya, ini rujak buat nona manis ini." Giovanni langsung menaruh sepiring rujak dihadapan Tisha.
"Lho gue kan gak mesen," kata Tisha heran.
"Ini bagus buat diet. Gue yang traktir. Gue juga pengen makan rujak. Jadinya beli dua deh buat lo," kata Giovanni.
"Yaudah makan aja, Tis. Kasian Abang tamvan kita ini udah capek-capek bawain lo rujak," sahut Marlene.
"Yaudah gue makan. Cuma lain kali lo jangan beliin makanan tanpa seijin gue."
"Siap bos!" seru Giovanni.
Tisha mengunyah rujak itu sambil memikirkan bekal makan siangnya yang masih ada didalam tas. Sepiring rujak yang dibelikan Giovanni tidak akan mampu membuat perutnya berhenti menjerit karena rasa lapar. Tisha menemukan sebuah ide baru. Setiap pagi ia akan menyembunyikan bekal makan siangnya di gudang sekolah, lalu diam-diam memakannya di sana ketika waktu istirahat tiba atau di tengah jam pelajaran.