3. Lemonia

1428 Words
Tisha menghela nafas lelah setelah empat jam berlalu lalang menghantarkan pesanan pelanggan. Ia duduk tersungkur di dapur restoran tempatnya bekerja sambil memejamkan mata. Ia memiliki waktu tiga puluh menit untuk makan dan beristirahat sejenak. Namun karena terlalu lelahnya, ia hanya mampu duduk bersandar di sudut dapur restorannya. "Nih makanan lo." Yonita melemparkan box makan malam ke arahnya. Restoran tempat bekerja Tisha memang menyediakan makan malam sederhana bagi karyawannya. Hal itulah yang paling disukai Tisha bekerja di sini. Baginya menu makan malam di sana terasa mewah dan enak, jika dibandingkan dengan bekal makan siang yang ia buat setiap pagi. "Thanks, Yon." Tisha tersenyum dan mengedipkan mata ke arah Yonita, teman sesama pelayan yang begitu dekat dan akrab dengannya. "Langsung makan yuk. Pelanggan lagi banyak-banyaknya nih," ajak Yonita. Tisha menuruti Yonita dan ikut membuka kotak makan malamnya. Tisha tersenyum senang ketika melihat isi kotak itu ternyata nasi dengan ayam goreng dan sayur tumis kangkung. Ia membagi ayam itu menjadi dua dan berniat hanya memakan sebagiannya saja. Sisanya akan ia makan selepas bekerja nanti jika perutnya merasa lapar ketika di kostan. Tisha melahap makan malamnya dengan cepat dan penuh nikmat. Ia tidak menyisakan sebutir nasipun dan melahap lauk serta sayurnya sampai tak bersisa. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Tisha menyelesaikan makan malamnya. Bekerja di Resto Bakeyu memang harus serba cepat, termasuk dalam hal makan di waktu istirahat. Tisha masih memiliki waktu dua puluh menit untuk sekedar meregangkan otot tubuhnya dan melepas penatnya. Yonita mulai bersandar di pundak Tisha dan mencoba memejamkan mata sebentar. "Lo mending coba tidur deh. Lumayan dua puluh menit." "Enggak ah. Lo aja yang tidur. Gue paling merem doang. Nanti si Pak Joko ngamuk kalo kita berdua tidur kelewatan," ujar Tisha. "Bener juga. Makasi Tisha! Besok gue yang melek dan lo yang tidur deh," ucap Yonita sambil merangkul Tisha. "Iya... iya... lo buruan tidur." Tisha menepuk lembut kepala temannya itu. Kisah hidup Yonita hampir sama kerasnya dengan Tisha. Temannya itu tinggal di panti asuhan sejak kecil. Karena krisis keuangan yang dihadapi panti asuhannya, Yonita terpaksa bekerja sambil kuliah demi membayar sekolah dan biaya hidupnya. Tisha menyenderkan kepalanya diatas kepala Yonita. Ia memejamkan mata, tapi tetap terjaga untuk tidak jatuh tertidur. Sesekali matanya terbuka dan melirik ke arah jam dinding untuk memastikan kalau mereka tidak melewati batas waktu istirahat. Tisha mulai menepuk bahu Yonita untuk membangunkannya ketika jarum jam telah menunjukan Pukul 20.00. "Yon... bangun. Udah waktunya kita balik kerja," kata Tisha sambil menggoncangkan tubuh Yonita. Perlahan Yonita mulai membuka mata dan tersadar dari lelap tidurnya. "Ehmm? Oh udah abis ya. Si Joko belum nyariin, kan?" tanya Yonita sambil meregangkan ototnya. "Belum. Yuk kerja lagi," ajak Tisha sambil berdiri. Raline mulai mengambil nampan dan berjalan menuju dapur. Ia melihat masakan yang belum diantar dan mencocokkannya dengan list pesanan. Kemudian mulai mengantarkan satu per satu makanan itu menuju pelanggan. Tisha terlihat sangat sibuk berjalan hilir mudik diantara meja-meja pelanggan. Ia juga membereskan meja yang tampak kotor setelah para pelanggan pergi. Ketika Tisha sedang mengelap salah satu meja, matanya tiba-tiba tertarik dengan seorang pelanggan pria di hadapannya yang sedang tertawa mendengar obrolan ke dua temannya. Matanya seolah terpikat dengan paras wajah pria itu yang terlihat sangat tampan. Tawanya seakan menghipnotis Tisha untuk sesaat. Namun, Tisha langsung memalingkan wajahnya ketika pria itu tampak mulai menyadari tatapannya. Tisha mulai tampak kembali sibuk mengelap meja dan membereskan piring-piring kotor, meskipun telinganya masih berusaha menguping percakapan ketiga pria itu. "Garlan? Oh namanya Garlan," gumam Tisha dalam hati. Ia membawa nampan berisi piring kotor sambil tersenyum setelah berhasil mengetahui nama pria itu. Yonita yang juga sedang memegang nampan menangkap keanehan sikap Tisha. Ia berjalan mendekati Tisa dan berbisik, "Lo kenapa?". "Lo liat arah jam tiga. Ada cogan," bisik Tisha sambil tertawa cekikikan. Yonita langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Tisha. "Iya! Ganteng! Kayaknya dia udah kuliah deh, Tis. Tampilannya kayak anak mahasiswa." "Iya kayaknya. Namanya Garlan." "Kok lo bisa tau?" Yonita tampak heran. "Gue nguping obrolan mereka," jawab Tisha sambil tersenyum usil. "Dasar! Kenapa gak sekalian lo gebet aja?"ujar Yonita sambil menyenggol lengan Tisha. "Gak lah! Gila aja. Masa tiap cowok ganteng gue gebet. Udah balik kerja. Liat noh si Joko lagi ngelirik ke arah kita," ucap Tisha. "Iya bener. Hidung si Joko juga udah kembang kempis. Itu tanda dia mulai emosi." Yonita langsung mempercepat langkahnya menuju dapur dengan diikuti oleh Tisha di belakangnya. Setelah menaruh piring-piring kotor itu ke dalam bak pencuci piring, Tisha tampak termenung beberapa saat. Ia memikirkan ucapan Yonita yang menyuruhnya mendekati pria tampan tadi. "Bagaimana mungkin gue mikirin pacaran atau tentang cinta-cintaan. Buat makan aja susah," gumam Tisha dalam hati. Tisha tersenyum sinis seolah sedang mentertawakan hidupnya dalam diam. Ia merasa tak berhak dan tak pantas untuk merasakan cinta saat ini. Tisha memilih untuk kembali bekerja daripada melanjutkan angan bodohnya dan terbuai dalam harapan palsu. Ia lebih baik bekerja dan membayar hutang-hutang keluarganya yang masih tersisa. *** Lia Samara Tisha, maaf tante chat kamu pagi-pagi begini. Tante cuma mau ingetin, jangan lupa transfer ya. Toko tante bulan ini penjualannya gak bagus. Sementara tante harus bayar uang sekolah Renata. Kalau sudah transfer tolong kabari ya. Aku menatap sedih layar ponselku selama beberapa saat. Meskipun pesan itu selalu aku terima setiap bulannya, tapi rasa sesak tetap terasa di hatiku setiap kali membacanya. Aku tidak menyalahkan tanteku karena menagih hutang Papa kepadaku. Namun memiliki hutang yang masih belum lunas, tentu terasa menyesakkan dan beban di hati. Orang tuaku tidak pernah membicarakan masalah keuangan denganku. Selepas mereka meninggal, aku cukup syok mendapati fakta bahwa mereka berhutang dalam nominal yang cukup besar. Ya... cukup besar hingga aku harus merelakan rumah dan seluruh asset untuk melunasinya. Setelah semua terjual, aku pikir tidak ada lagi hutang yang harus ku tanggung. Sampai suatu ketika Tante Lia menghampiriku dan bercerita kalau Papa meminjam uang 50 juta padanya untuk suntikkan dana perusahaannya. Awalnya aku bingung, mengapa Papa hanya meminjam 50 juta untuk suntikkan dana perusahaan. Uang sebesar itu tidak akan mampu menutupi pengeluaran perusahaan keluargaku dulu yang memiliki 500 karyawan. Bahkan untuk membayar gaji karyawan sebulan saja itu tidak akan cukup. Nominal 50 juta terasa tidak tepat untuk suntikkan dana. Namun, aku tidak menaruh prasangka buruk pada Tanteku. Mungkin Papa meminjam uang itu untuk keperluan lain yang tidak aku ketahui. Aku cukup beruntung Tante Lia masih mau menerima pembayaran yang dicicil setiap bulannya. Aku memahami kondisinya yang hanya memiliki satu toko souvenir di salah satu mall dan membesarkan anaknya seorang diri. Secara finansial ia pasti juga sedang kesulitan. Karena itu aku tidak berharap ia akan merelakan dan mengikhlaskan hutang itu. Namun lima puluh juta untuk ukuran gadis 18 tahun sepertiku, bukanlah jumlah yang kecil. Aku sempat frustasi menemukan cara untuk membayarnya, apalagi aku juga sedang bersekolah. Beruntung aku menemukan pekerjaan sebagai pelayan yang jam kerjanya cukup fleksibel. Mungkin karena pemiliknya merupakan teman Papaku, sehingga memberikanku kelonggaran. Sekarang aku menemukan cara untuk bertahan hidup sambil tetap membayar hutang ke Tante setiap bulannya. Aku menghela nafas dan membulatkan tekad untuk bangkit dari kesedihan. Meskipun semua terasa berat dan melelahkan, setidaknya aku telah mampu membuktikan ketangguhan untuk bertahan sampai hari ini. "Selalu ada jalan bagi jiwa yang selalu mencarinya". Kalimat yang dulu diucapkan oleh Papaku dan sekarang terngiang di telingaku. Ya... kemarin aku menemukan sebuah jalan baru untuk bertahan. Aku diterima di Kafe Lemonia sebagai pelayan selama hari Sabtu dan Minggu. Bayarannya cukup tinggi, karena kafe itu begitu terkenal di Jakarta dan terletak didepan kampus. Pelanggannya sangat banyak, sehingga memerlukan tenaga tambahan. Hari ini adalah hari pertama aku bekerja disana. Aku berusaha untuk mengembalikan semangatku yang hilang setelah membaca chat Tante Lia tadi dengan mencoba memikirkan betapa serunya bekerja disana. Kafe itu menyediakan menu makanan yang menggunakan bahan lemon. Lemon digunakan sebagai bahan pelengkap atau bahkan sebagai bahan utama untuk menu makanan disana. Aku suka lemon. Warna kuningnya begitu menyegarkan mata dan membuat suasana hatiku menjadi ceria. Aromanya juga begitu menyegarkan indera penciumanku. Rasa asam buahnya begitu enak jika dipadu dengan soda atau dibuat segelas juice. Namun olahan lemon yang paling aku suka tentu saja ice lemonade. Ahh... membayangkannya saja sudah cukup membuat semangatku kembali. Dapur yang dipenuhi dengan stok lemon. Piring-piring yang diatasnya tersaji hidangan berhias dan beraroma lemon. Senyumku langsung mengembang membayangkan itu semua. Aku bisa melihat dan menyentuh lemon sepuasku. Meski aku belum tau, apakah memiliki kesempatan menyicipi menu makanan disana. Namun, aku yakin pasti merasa bahagia hanya dengan bekerja disana. Aku mengambil tas kecilku yang ada diatas kasur dan bersiap dengan penuh semangat untuk bekerja disana. Aku memandang sebentar ke cermin, lalu bersiap memesan ojek online. Kemudian aku segera keluar kamar dan berjalan menuju supermarket yang menjadi lokasi pertemuan dengan ojek yang ku pesan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD