Tisha menatap bahagia stok lemon yang berjejer rapi di dapur Kafe Lemonia. Ia kemudian mulai mengambil sebuah lemon, menempelkannya ke hidung, lalu menghirup aroma kulitnya dalam-dalam. Senyum dibibirnya selalu mengembang lebar tatkala bisa menyentuh dan memandangi lemon dalam jumlah yang banyak.
"Tisha... antarkan ini ke meja 21," perintah chef Juna.
Tisha langsung bergegas mengambil dua piring yang sudah tersaji hidangan ayam panggang lemon, lalu mulai berjalan menghantarkannya. Ia tersenyum ketika melihat pelanggan yang memesan hidangan itu. Tampak keluarga kecil yang terlihat bahagia menanti pesanan makanan mereka.
Tisha meletakan piring-piring itu diatas meja sambil menatap anak perempuan dengan pipi tembem yang begitu lucu. Ia mengeluarkan sebuah permen lolipop dari dalam sakunya dan memberikannya pada anak kecil itu sambil membelai lembut pipi tembemnya.
"Tasya bilang apa sama Mbaknya?" tutur Ibu dari anak itu dengan muka pura-pura galak.
"Makasih Kakak cantik," ucap anak itu dengan senyum manisnya.
"Sama-sama Adik cantik," balas Tisha sambil membelai kepala anak itu.
Melihat keluarga kecil itu, tiba-tiba ia menjadi merindukan keluarganya sendiri. Makan bersama keluarga kini merupakan sebuah angan yang benar-benar mustahil untuknya. Orang tuanya sudah tenang di surga. Ia kini mulai terbiasa menyiapkan makanan dan memakannya sendiri.
Tisha menghela nafasnya setiap kali pikirannya berputar ke masa lalu hidupnya yang penuh kebahagiaan. Ia mulai berjalan menuju dapur dan bertekad mengusir kegalauan hatinya dengan bekerja. Tidak ada gunanya meratapi nasib dan terus berkutat dalam kesedihan.
Tisha lalu mengambil dua gelas ice lemonade dan dua piring cake lemon, lalu meletakkannya diatas nampan. Kemudian ia berjalan menuju meja nomor lima belas dan meletakan pesanan itu disana. Keningnya berkerut ketika ia melihat pelanggan yang duduk di sana. Wajah pelanggan itu tampak tak asing baginya.
"AH! Dia pria tampan yang aku liat di Kafe Bakeyu! Garlan!" jerit Tisha dalam hati. Ia tersenyum melihat kebetulan yang baru saja terjadi. Tak disangka ia bisa melihat lagi wajah pria itu untuk kali ke dua saat dirinya sedang bekerja.
"Ini pesanannya, Mas. Lagi nunggu temennya datang ya?" tanya Tisha. Ia memberanikan diri menyapa pelanggan yang ada dihadapannya kini. Menurutnya ini takdir. Jadi Tisha merasa perlu untuk setidaknya menyapa pria itu.
Namun, Garlan hanya tersenyum datar dan tak menjawab pertanyaannya. Tisha langsung memahami jika pria itu tidak mau diganggu dan enggan menjawab pertanyaannya. "Kalo ada yang mau dipesan lagi, silahkan panggil saya," ucap Tisha tetap sopan. Kemudian ia langsung berlalu pergi dan melanjutkan aktivitas kerjanya.
Setelah satu jam berlalu, Tisha menatap heran Garlan yang masih duduk di sana tanpa menyentuh minuman dan makanan yang telah dipesannya. Garlan hanya bersender di kursinya sambil mendengarkan musik melalui earphone dan menatap sedih makanan yang ada di hadapannya. Tisha heran mengapa pria itu tidak menyantap hidangan itu dan terus bersabar menanti seseorang.
Jika Tisha adalah Garlan, setidaknya ia akan sesekali meminum ice lemonade itu untuk menghapus dahaganya selama menunggu. Ia juga akan sewot menghubungi orang yang ditunggunya untuk segera datang. Namun Garlan terlihat hanya menunggu sambil mendengarkan musik dan menatap makanannya. Ia merasa tingkah laku Garlan sangat aneh.
Selama bekerja, sesekali Tisha melirik ke arah Garlan. Pria itu masih tetap menunggu selama dua jam tanpa menyentuh makanannya. Ia benar-benar heran. Ketika pertama kali melihat Garlan, ia dapat menerka pria itu memiliki kepribadian ceria dan mudah bergaul. Namun kali ini, ia melihat Garlan justru terkesan menyendiri dan pemurung. Ia seperti melihat dua sisi yang benar-benar berbeda.
Ketika Tisha hendak menghantarkan pesanan dan berjalan melewati Garlan, ia tiba-tiba terkejut melihat Garlan tiba-tiba berdiri. Garlan meninggalkan mejanya dan membayar pesanannya di kasir. Ia masih menatap heran meja yang ditinggalkan oleh Garlan. Pria itu benar-benar tidak menyentuh pesanannya sama sekali.
"Apa dia pesen ini semua cuma untuk memandanginya selama tiga jam? Cowok aneh," gumam Tisha dalam hati.
***
Tisha berdiri meninggalkan kursinya dan berjalan menuju meja guru. Kemudian sedikit membungkuk untuk berbicara dengan gurunya. "Bu, saya ijin ke toilet ya," ucap Tisha dengan nada sopan.
Setelah melihat gurunya mengangguk, Tisha langsung bergegas keluar dari kelasnya. Namun langkah kakinya bukan menuju toilet yang sebenarnya dekat dengan kelasnya, melainkan berjalan menuju gudang yang terletak dibelakang gedung sekolah.
Tisha mengambil kotak makan yang ia sembunyikan dibelakang timbunan plastik dekat pintu gudang. Ia akhirnya duduk disana, membuka bekalnya, dan mulai menyantapnya dengan sangat cepat. Benar-benar cepat agar teman-teman di kelasnya bisa tetap mengira ia baru selesai dari toilet ketika masuk kembali ke dalam kelas.
Setelah lima menit mengunyah makanan, Tisha menutup bekalnya dan menyimpannya kembali di belakang timbunan plastik. Ia kemudian bersiap untuk bergegas kembali menuju kelasnya. Namun tiba-tiba ia berpapasan dengan Giovanni ketika hendak meninggalkan gudang. Tisha menelan ludahnya, tanda sedang gugup melihat sahabatnya yang tiba-tiba ada di hadapannya.
"Lo ngapain disini?" tanya Giovanni heran.
"Ehmm... gue... abis ketemuan sama Rivaldo di sini tadi," jawab Tisha sambil menggigit bibirnya.
"Ngapain lo ketemu mantan busuk lo di sini?" tanya Giovanni dengan emosi yang mulai terpancing.
"Ehmm... ya dia minta balikan, tapi gue tolak. Lo ngapain disini?" Tisha berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Gue disuruh buat balikin bola voli ini ke gudang. Soalnya udah rusak. Oh ya! Kalo si k*****t gangguin lo lagi, kasih tau gue. Biar gue hajar tuh k*****t!" kata Giovani.
"Udah tenang aja. Dia gak bakalan gangguin gue lagi. Oh ya, gue balik ke kelas ya. Bye!" Tisha menepuk pundak sahabatnya itu dan berlari pergi menuju ke kelasnya. Lebih baik segera menghindari Giovanni, sehingga kebohongannya tidak akan terbongkar.
Namun sepanjang perjalanan, Tisha menyesali alasan bodoh yang ia lontarkan ke Giovanni. Rivaldo adalah mantannya ketika kelas 10. Mereka hanya berpacaran selama dua bulan karena Rivaldo ketauan berselingkuh dibelakangnya. "Rivaldo ngajak gue balikkan? Aduh b**o banget lo Tisha! Gak bisa apa ngarang yang lebih bagus," gerutu Tisha dalam hati sambil menepuk jidatnya.
***
Tisha menatap banner pengumuman yang tertempel di papan mading sekolah bersama Kayla dan Marlene. Kedua sahabatnya itu tampak antusias membaca pengumuman tentang rencana angkatannya untuk liburan bersama di Bali selama tiga hari dua malam. Namun Tisha justru menatap sedih dan hanya bisa menghela nafas ketika melihat biaya perjalanan yang tertera di banner itu.
"Bagus juga nih! Itung-itung buat kenangan sebelum kita lulus SMA," ujar Kayla.
"Lo ikut kan Tis?" tanya Marlene.
"Heh? Ehm... mungkin ikut," jawab Tisha ragu.
"Kok mungkin sih Tis?!" Kayla menatap kesal Tisha.
"Yah kan kita gak tau ada apa di masa depan. Kalau gue jawab ikut, terus ada something happen gimana?" jawab Tisha.
"Pokoknya lo harus ikut! Gue gak mau tau! Kalo lo gak ikut, berarti lo gak sayang gue!" ancam Kayla.
"Lho kok gitu? Masa kadar sayang gue ditentukan dari event ini?"
"Ya iya lah. Ini tuh liburan sekolah terakhir kita. Semester depan kita udah ujian dan bakal lulus SMA. Lo gak mau ciptain kenangan terakhir bareng kita?" ucap Kayla.
"Emang kalian mau mati? Kok kenangan terakhir sih," kata Tisha sambil geleng-geleng kepala.
"Yah bukan! Ih Tisha mah!" Kayla mulai cemberut dan ngambek. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal karena lelah beradu argumen dengan Tisha.
"Udah Tis. Lo jawab iya aja permintaan bocah ini. Daripada dia nangis merengek di lantai," ucap Marlene sambil tertawa cekikikan.
"Gak bisa Mar! Kita harus didik dia jadi dewasa!" ujar Tisha dengan wajah pura-pura galak.
"Kalian..." Kayla menatap sinis kedua sahabatnya itu.
"Udeh... kita bercanda, Kay. Balik ke kelas yuk. Bel udah mau bunyi nih," ajak Tisha sambil menarik kerah Kayla.
"Iiiiih! Kenapa tarik-tarik sih! Emang gue peliharaan apa!" protes Kayla.
Tisha hanya tertawa melihat tingkah Kayla yang begitu imut di matanya. Sahabatnya itu memang bak bocah SD yang memakai seragam SMA. Selalu memaksa keinginannya sampai tercapai hingga tak jarang sampai merengek ke Tisha.
Namun ia merasa ucapan Kayla tadi memang benar. Sebenarnya ia harus ikut event itu sebagai kenangan mereka sebelum melepas seragam SMA. Namun melihat biaya perjalanan yang mencapai tujuh juta rupiah, sungguh mustahil iya bisa mendaftar dan ikut acara itu.
Dahulu nominal angka itu bukan jumlah yang besar untuknya, tapi sekarang itu terasa sangat besar. Biaya perjalanan liburan itu bahkan melebihi biaya hidupnya selama sebulan. Tisha hanya bisa memikirkan alasan apa yang akan ia berikan kepada sahabat-sahabatnya karena tidak bisa mengikuti acara liburan sekolah itu.