Sudah seminggu Tisha bekerja di Kafe Lemonia. Ia begitu gembira saat hari sabtu dan minggu tiba karena itu jadwal ia bekerja di sana. Tisha dengan penuh semangat melayani dan mengantarkan pesanan pelanggan ke meja mereka. Ia selalu tersenyum setiap kali memegang nampan yang berisi hidangan berbahan lemon.
Namun tiba-tiba ia tertegun melihat Garlan memasuki kafe itu dan duduk disana. Ia mengangkat tangannya ke arah Tisha, tanda ingin memesan makanan. Tisha langsung berjalan ke arah Garlan dan menyodorkan buku menu padanya. Namun Garlan menepis buku itu dengan pelan, tanda ia tidak memerlukannya.
"Saya pesan dua gelas ice lemonade dan dua cake lemon," kata Garlan.
"Baik. Ditunggu pesanannya ya, Mas." Tisha langsung berbalik dan berjalan menuju dapur untuk mengantar list pesanan Garlan.
Tisha benar-benar heran dengan pria itu. Untuk apa ia datang kembali ke kafe ini jika makanan yang dipesannya sama sekali tidak disentuh. Untuk apa juga ia memesan dua porsi makanan jika orang yang ditunggunya tidak akan pernah datang. Tisha mengantarkan hidangan yang dipesan Garlan dengan pikiran yang masih berkecamuk berbagai pertanyaan.
"Terima kasih," jawab Garlan setelah menerima pesanannya.
"Tau berterima kasih juga dia," gumam Tisha dalam hati. Dimatanya, Garlan itu pria tampan yang aneh. Ia sangat berbeda jika di depan teman-temannya dan saat sedang sendirian seperti sekarang.
Seperti dugaan Tisha, Garlan terlihat tidak menyentuh sama sekali makanannya dan hanya memandanginya saja sambil mendengarkan musik melalui earphone. Sesekali ia terlihat memegang ponsel hanya untuk menggati lagu yang ia dengarkan. Benar-benar aneh.
Tisha berjalan mendekati Lidia, teman kerjanya sesama pelayan. Lidia tampak sedang senggang, sehingga Tisha pikir tidak apa-apa mengajaknya bicara. "Lid, lo tau pelanggan yang di sana gak?" tanya Tisha sambil menunjuk Garlan.
"Oh dia... kenapa? Ganteng?" ucap Lidia sambil mengedipkan matanya.
"Dia emang ganteng sih. Cuma bukan itu maksud gue. Lo kenal?" tanya Tisha lagi.
"Kaga. Cuma dia emang selalu ke sini di hari dan jam yang sama selama empat tahun," jawab Lidia sambil mengelap piring yang masih basah karena baru selesai dicuci.
"Selama empat tahun dia kayak gitu? Gak makan pesenannya dan cuma mandangin doang? Selalu pesen menu yang sama dan selalu dua porsi? Empat tahun kayak gitu sendirian?" seru Tisha dengan ekspresi takjub.
"Enggak. Bukan gitu. Tahun pertama dia sempet ke sini sama ceweknya. Terus tahun ke dua, dia sempet buta, gak bisa ngeliat. Cuma masih suka ke sini sama ceweknya itu. Beberapa bulan kemudian, gue liat tuh cowok udah bisa ngeliat lagi. Cuma setelah itu dia gak pernah datang bareng ceweknya lagi. Mungkin dia nungguin tuh cewek disini. Makanya selalu pesen dua porsi buat nunggu tuh cewek datang. Itu dugaan gue doang ya," ujar Lidia.
"Oh gitu... gue gak nyangka. Ternyata dia sempet buta," gumam Tisha.
"Kalo bener dugaan gue, dia romantis banget ya. Nungguin tuh cewek selama tiga tahun. Setia banget," ucap Lidia dengan sinar mata penuh kekaguman.
"Apaan yang romantis. Itu namanya dia b**o. Ngapain nungguin cewek yang udah ninggalin dia selama itu. Paling tuh cewek gak terima kondisi dia pas lagi buta. Makanya pergi gitu aja," kata Tisha sambil mendengus kesal.
"Husss... kita gak tau apa yang sebenernya terjadi. Udah ah, kita balik kerja yuk," ajak Lidia.
"Yaudah."
Tisha kemudian berjalan ke arah meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan. Ia membersihkan meja itu sambil sesekali melirik ke arah Garlan. Tatapan mata Garlan kini terlihat sangat sedih di mata Tisha. Hanya dari penggalan cerita Lidia, kini Tisha memandang Garla dengan sisi yang berbeda. Ia tidak lagi menganggap Garlan pria yang aneh. Ia justru menganggap Garlan benar-benar bodoh.
Menanti seorang perempuan selama tiga tahun dengan duduk di kafe sendirian seperti itu, sungguh sangat menyedihkan. Rasanya
Tisha ingin menghampiri Garlan dan menyadarkannya. Ia ingin bilang jika apa yang dilakukannya merupakan upaya yang sia-sia. Menurutnya waktu selama tiga tahun di rasa sangat cukup untuk membuktikan kalau perempuan itu tidak akan pernah kembali.
Namun Tisha sadar tidak bisa melakukannya. Ia hanya seorang pelayan dan tidak mengenal Garlan secara pribadi. Ia tidak mempunyai hak untuk mencampuri kehidupan pribadi pelanggan tempatnya bekerja. Tisha hanya bisa menghela nafas melihat pemandangan menyedihkan yang ada didepan matanya kini.
***
Tisha sedang membereskan buku-buku pelajarannya dan bersiap untuk pulang. Ia terkesan tergesa-gesa ingin meninggalkan kelas. Karena selepas sekolah, ia harus pergi ke Restoran Bakeyu untuk bekerja lagi sebagai pelayan. Ia tidak memiliki waktu untuk bercanda atau sekedar mengobrol dengan Kayla dan Marlene.
"Nih buat lo." Giovanni tiba-tiba ada didepannya dan meletakkan selembar kertas tiket pesawat, serta bukti pembayaran acara liburan sekolah ke Bali.
"Apa ini?" Tisha tampak tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Giovanni saat ini.
"Tiket pesawat lo dan bukti pembayaran. Gue ngebayarin lo buat ikut liburan sama kita ke Bali. Jadi mau gak mau lo harus ikut. Gue udah keluar uang lho ini. Kalo lo gak ikut, rugi gue," paksa Giovanni.
"Yang minta siapa? Gue bisa beli kok kalau emang waktu gue memungkinkan buat ikut," kata Tisha dengan tatapan kesal.
"Kok lo jadi tersinggung sih, Tis? Gue gak ada maksud buat ngerendahin lo. Gue cuma mau lo ikut liburan sama kita," ujar Giovanni.
Kayla dan Marlene mulai bangkit dari posisi duduknya. Sejak tadi mereka memperhatikan percakapan Giovanni dengan Tisha. Mereka merasa perlu turun untuk menengahi ke dua sahabatnya itu, sebelum mereka benar-benar bertengkar.
"Tish..." sapa Marlen.
"Gue gak bisa ikut, bukan gak mau ikut. Kenapa sih kalian gak paham sama keadaan gue. Gue kan udah bilang kalau tanggal itu gue ada janji sama Tante Lia. Gak mungkin banget gue batalin," kata Tisha penuh emosi.
"Kita cuma pengen lo ikut, Tish. Lo sadar gak sejak orang tua lo meninggal, kita gak pernah punya waktu bareng buat hang out. Kita cuma ngobrol dan ngumpul pas waktu istirahat doang. Udah enam bulan lo sibuk sendiri. Gue juga gak tau lo kenapa. Kita cuma pengen seneng-seneng bareng lo. Gak ada maksud apa-apa," tutur Marlene.
"Iya Tisha. Udah lo ikut aja sama kita, Gue kangen sama lo," rengek Kayla.
"Lo ikut aja. Nanti gue jemput lo di rumah. Kita berangkat bareng-bareng aja ke bandara," ajak Giovanni.
Tisha tampak terdiam selama beberapa saat. Di satu sisi ia merasa tidak nyaman dibayari oleh Giovanni. Uang tujuh juta rupiah untuk seorang Giovanni memang bukan jumlah yang besar. Keluarganya memiliki maskapai penerbangan, sehingga Giovanni berasal dari keluarga yang sangat kaya. Namun, baginya sekarang nominal tujuh juta sangat besar. Ada perasaan tidak enak karena Giovanni membayari biaya perjalanannya.
Namun di sisi lain, apa yang dikatakan oleh Kayla dan Marlene memang benar. Ia tidak pernah lagi bersama mereka sejak enam bulan yang lalu, kecuali ketika waktu istirahat. Tisha benar-benar sibuk dengan pekerjaannya sebagai pelayan dan masalah pribadinya. Ia bahkan tidak sempat mendengar curhatan Kayla tentang mantan-mantannya atau curhatan Marlene tentang keluarganya. Mungkin dengan menerima ajakan sahabat-sahabatnya ini, Tisha dapat sedikit menebus kesalahannya yang mengabaikan mereka.
"Jangan jemput gue di rumah. Kita ketemuan di tempat Kayla aja. Jadi Giovanni gak perlu capek-capek keliling tiga rumah," jawab Tisha.
Kayla dan Marlene langsung bersorak kegirangan. "Yeay! Tisha ikut! Finally kita liburan bareng-bareng! Arrrggghh! Gak sabar!" seru Kayla yang kemudian langsung mengecup pipi Tisha.
Tisha mendorong pipi Kayla untuk menjauh. Ia risih dicium oleh perempuan, apalagi oleh Kayla. "Apaan sih pake cium-cium segala! Geli tau gak!" protes Tisha sambil mengelap pipinya.
"Lo maunya dicium sama gue?" canda Giovanni.
"Dih! Ogah!" teriak Tisha yang langsung disambut tawa oleh Kayla, Marlene, dan Giovanni.
"Gue cabut dulu ya. Bye!" seru Tisha yang langsung berlari meninggalkan ketiga sahabatnya itu secara mendadak.
Kayla, Marlene, dan Giovanni hanya mampu melongok melihat Tisha yang tiba-tiba berlari meninggalkan mereka tanpa basa-basi untuk pamitan.
"Dia mau kemana sih? Selalu ngilang setiap bel pulang sekolah," gumam Kayla.
"Entahlah. Gue juga bingung. Dia selalu kayak gitu selama enam bulan ini," ucap Marlene.
"Yaudah, kita juga balik yuk. Gue mau pergi les gitar abis ini," ajak Giovanni.
"Gaya kamu, Nak. Udah kayak mau jadi pemusik aja," ucap Kayla sambil geleng-geleng kepala.
"Who knows?" sahut Giovanni sambil memakai kaca mata hitam yang ia simpan didalam saku.
Kayla dan Marlene hanya mendengus kesal melihat tingkah alay Giovanni yang sangat memuakkan itu.