Part 07. Tamu Tak Diundang

1138 Words
Setelah beberapa jam mereka melakukan perjalanan kini mereka sudah sampai di Jakarta. Mobil melaju masuk kedalam sebuah kompleks perumahan elit yang ada di Jakarta, sekarang mobil berhenti tepat didepan rumah mewah yang ada di kawasan elit itu. Tuan dan nyonya Wijaya membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil yang seketika diikuti oleh Bintang anak laki-laki satu - satunya. Nyonya wijaya mengambil sebuah kunci rumah dari dalam tasnya dan memberikannya pada suaminya untuk membuka pintu rumah itu. Setelah pintu terbuka mereka masuk kedalam rumah itu. Rumahnya luas perabotan semua tertata rapi dan bersih itu karena setiap seminggu sekali ada asisten rumah tangga yang membersihkannya tetapi Ia tidak menginap dirumah itu. didalam rumah ada beberapa lukisan yang terpajang diruang tamu, ruang tengahnya juga luas ada televisi besar didinding. Dan beberapa guci besar menghiasi ruang tengah yang berada dibawah tangga menuju lantai dua. Rumah inilah peninggalan orang tua Nyonya Wijaya karena Ia ikut suaminya di Bandung jadi rumah ini tak ada yang menempati, walaupun rumahnya tak ada yang menempati tetapi ada asisten rumah tangga yang membersihkan. *** "Ma, kamar Bintang yang mana?" "Oh iya, sayang, kamar kamu ada diatas, ayo mama tunjukkan." ajak nyonya Wijaya, wanita dewasa itu akan menunjukkan kamar pada Bintang. Mereka berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Setelah sampai didepan pintu nyonya Wijaya membukanya dan menunjukkan kamar pada Bintang anaknya. "Ini kamar kamu sayang, semuanya sudah di bersihkan sama asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini, semoga kamu suka sama kamarnya." Bintang hanya mengangguk, dan segera nyonya Wijaya menyuruh Bintang membereskan baju- bajunya. Bintang melihat, kamar ini luas, dindingnya di d******i warna putih dan hitam khas kamar laki-laki, kamarnya juga kelihatan bersih walaupun sudah lama tidak ditempati. "Selamat istirahat sayang, Mama mau beresin baju Mama dan Papa dulu dibawah." suara nyonya Wijaya menyadarkan Bintang dari lamunan. Laki-laki muda itu tidak menjawab hanya mengangguk dan menatap ibunya. Setelah nyonya Wijaya pamit. Ia segera keluar dari kamar dan menutup pintu kamar itu. Laki-laki muda itu segera menata bajuku kedalam lemari pakaian yang ada didalam kamar, tak lupa juga segera ia bereskan buku - buku yang ia bawa, seketika Bintang ingat dengan foto Senja dan segera mengambilnya. Setelah melihat fotonya seketika ada rasa rindu yang tiba-tiba saja melanda hatinya, laki-laki itu berjalan menuju tempat tidur dan menjatuhkan tubuh di sana, untuk sejenak berbaring. Ia memeluk foto Senja, ada rasa hangat dan nyaman, Bintang tatap langit-langit kamar dan semua kenangan saat bersama Senja seakan berputar disana, ia tersenyum dan tiba-tiba merasa sangat mengantuk, mungkin karena kelelahan diperjalanan tadi. Mata Bintang seketika terpejam dan memasuki alam bawah sadar dalam mimpi. **** Nyonya wijaya membereskan bajunya kedalam lemari di kamarnya, sedangkan Dokter wijaya sedang istirahat di atas tempat tidurnya. setelah selesai membereskan bajunya, ia pun menuju ke dapur untuk memasak buat makan malam. Setelah semua masakan matang Ia pun menyajikannya di meja makan. Saat mencuci peralatan masak yang tadi Ia gunakan untuk membuat masakan didengarnya ada Suara bel yang terdengar dari luar rumah. "Siapa ya?" Nyonya wijaya tampak bingung karena baru saja mereka sampai sudah ada tamu yang berkunjung. Ia segera mencuci tangannya dan berjalan menuju kearah pintu ruang tamu. Dibukanya pintu itu dan ternyata ada tamu yang dikenalnya. "Assalamualaikum tante!" sapa seorang tamu laki-laki muda yang ada di depannya. "Waalaikumussalam. ini Langit ya?, wah sekarang sudah besar dan tambah ganteng, ayo masuk." puji Nyonya wijaya kepada tamunya dan mengajaknya masuk kedalam rumah. Laki-laki muda itu tersenyum "Ah, tante bisa aja, Bintang mana tante?. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya." Langit menanyakan saudara sepupunya. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju sofa ruang tamu. "Bintang ada di kamarnya, kamu kapan pulang dari luar negeri?" Nyonya wijaya bertanya seraya duduk di sofa dan juga diikuti oleh Langit. "Dua minggu lalu, tante." "Kok, tidak main ke Bandung kemarin?" Laki-laki muda itu tersenyum. "Kata papa kalian akan pindah ke Jakarta. Makanya, Aku tidak berkunjung ke Bandung, tadi papa yang menyuruh aku untuk main kesini." "Oh ya, Langit mau minum apa?, tante sampai lupa menawari kamu minum." "Tidak usah tante, oh ya tante kamar Bintang sebelah mana?" Mata laki-laki itu menyusuri ruangan di rumah itu. "Ayo, tante tunjukkan kamar Bintang." ajak Nyonya wijaya berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua dan disusul oleh Langit. Tok Tok Tok! "Bintang!" wanita umur empat puluh tahun itu membuka pintu kamar anaknya karena tak ada jawaban dari dalam kamar. "Langit, kamu masuk saja, tante tinggal dulu ya." "Ya tante." jawab Langit sambil tersenyum. Setelah Nyonya wijaya pamit dan kembali menuruni tangga. Langit segera masuk kedalam kamar Bintang sepupunya. Mata laki-laki itu menyusuri semua sudut kamar dan matanya tertuju pada tempat tidur di mana ada seorang laki-laki yang sedang tertidur nyenyak. Senyum terukir dari sudut bibirnya. Ia segera berjalan menuju tempat tidur itu dan duduk di samping laki-laki yang sedang tertidur pulas. Saat merasakan ada seseorang yang sedang duduk disampingnya, Bintang segera membuka mata dan kepalanya menoleh kesamping dimana ada seseorang yang sedang duduk di sana dan menatapnya dengan senyum yang mengejek. "Bangun lo, sore- sore gini tidur!" ejek Langit sambil melempar bantal kearah seorang laki-laki yang masih berbaring di atas tempat tidurnya. "Ah, lo ngapain disini, ngintipin gue tidur ya?" Bintang segera bangun dari tempat tidurnya dan duduk disebelah Langit. "Sorry ya, gue gak nafsu sama lo." ejek Langit dengan santai. Setelah saling mengejek tiba-tiba mereka saling berpelukan dan tertawa bersama. "Apa kabar lo, Lang ?" tanya Bintang sambil menepuk pelan punggung sepupunya itu. "Gue baik, gimana juga kabar, lo?" Langit juga menepuk punggung Bintang. Mereka masih saling berpelukan melepas rasa rindu karena beberapa tahun terakhir ini tak pernah bertemu. "Gue juga baik, Lang." Mereka kini melepaskan pelukannya. "Kapan lo balik dari luar negeri, Lang?" "Dua minggu lalu gue pulang, bokap gue yang nyuruh gue pulang. Katanya gue di suruh untuk mengurus cabang cafenya yang baru, sebenarnya sih, gue gak betah di Indo ceweknya kagak ada yang cantik, kalau di luar negeri ceweknya seksi, gue suka." "Ah, lo emang otak m***m, Lang!" Bintang tertawa sambil melempar bantal ke arah Langit. Seketika Langit juga membalasnya dengan melempar bantal dan mereka tertawa bersama. Kedua saudara sepupu itu tertawa bahagia bersama sambil main lempar bantal hingga membuat sprei dan bantal yang ada di atas tempat tidur itu menjadi sangat berantakan. Setelah beberapa saat mereka saling melempar bantal membuat mereka lelah kemudian menjatuhkan tubuhnya dan berbaring bersama di atas tempat tidur yang berantakan itu. Mereka masih mengatur napasnya yang terengah- engah, mereka menatap langit-langit kamar dan tersenyum bersama, karena sudah sangat lama kedua saudara sepupu itu tidak pernah saling bertemu satu sama lain. Langit segera bangkit dari tempat tidur dan duduk ditepi kasur. Matanya melihat ke arah lantai dan menemukan sebuah kertas putih seperti foto. Karena penasaran Langit pun kini menanyakannya kepada sang pemilik kamar. "Eh, itu kertas apaan? Kayak, kertas foto?" Kata Langit sambil sedikit berjongkok tangannya mengulur untuk mengambil kertas yang berada dilantai bawah tempat tidur. Karena penasaran Ia pun akan mengambilnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD