Hari ini keluarga Bintang akan pindah. Mereka sedang sibuk mengemasi barang- barang untuk mereka pindah ke Jakarta.
Wanita umur empat puluh tahun itu Sedang memasukkan semua pakaian yang ada di lemari ke dalam koper. Semua barang yang penting sudah di masukkan ke dalam mobil, mereka akan berangkat ke Jakarta siang nanti.
Di dalam kamar seorang laki-laki sedang berada di atas tempat tidurnya, ia berbaring berbantal lengannya, matanya menerawang menatap langit-langit kamar dengan tatapan nanar.
Ingatannya saat ini hanyalah Senja, gadis yang sangat ia cintai. Ia tak bisa bayangkan bila nanti jauh dari cintanya, tapi Ia telah berjanji akan selalu menjaga dan mencintai Senja sampai kapanpun.
Tak terasa air mata Bintang menetes, pikirannya masih menerawang tak karuan kala mengingat Senja, rasanya tidak ingin berpisah dengan cintanya.
Setelah beberapa lama ia melamun Segera ia bangkit dari tempat tidurnya sekarang ia duduk di samping tempat tidur. Setelah itu ia berdiri dan berjalan ke arah lemari dan membukanya, ia segera mengambil jaket yang ada di dalam lemari dan segera memakainya.
Bintang segera menyambar kunci motor yang berada di atas nakas. Ia membuka pintu kamar dan menuruni tangga dengan sedikit berlari. Bahkan ia tak mengindahkan teriakan ibunya yang sedari tadi memanggilnya untuk menanyakan kemana Ia akan pergi. Dan sepertinya tak didengar oleh anaknya.
Segera Bintang melajukan motornya dengan sedikit tergesa dan tidak sabar. Diperjalanan Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan menyelip beberapa kendaraan yang ada didepannya. "Woi, hati- hati!" teriak para pengguna jalan raya yang di lewati oleh Bintang. Pikiran Bintang sedang kalut, saat ini yang sedang dipikirkan hanyalah Senja hingga ia tak mengindahkan siapapun yang mengajaknya bicara.
Tak lama Ia pun sudah sampai didepan rumah Senja, segera Ia memarkirkan motornya dan segera masuk kedalam halaman rumah kekasihnya. Ia berdiri didepan pintu dan segera memencet bel yang berada di sisi pintu depan rumah.
Ting Tung!
Tak lama seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.
"Silahkan masuk mas Bintang, non Senja ada di kamarnya, akan Bibi panggilkan."
Bintang hanya mengangguk, Ia masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Tak lama Senja datang menghampirinya.
Melihat Senja datang Bintang langsung berdiri dan memeluknya erat. Entah apa yang sedang Ia rasakan saat ini hanyalah ingin bertemu dengan kekasihnya. Matanya terpejam dan Pelukan ini membuat laki-laki itu sangat nyaman.
"Nanti siang, aku akan pergi, aku janji akan selalu menghubungimu. Jaga selalu cinta kita, tunggu aku tanggal tujuh belas september nanti di pantai tempat kita jadian dulu."
Hening seketika, dua orang yang saling mencintai itu hanya bisa diam dengan gejolak hati dan pikirannya masing-masing. Akankah mereka bisa menjalani Cinta jarak jauh? Karena mereka selama ini selalu bersama, Pertanyaan itulah yang membuat mereka terdiam. tak terasa air mata keduanya jatuh perlahan hanya hening yang mereka rasakan.
Setelah beberapa saat mereka saling berpelukan, Bintang melepaskan pelukannya dan segera pamit, kakinya seakan berat untuk melangkah. Tangan kirinya masih berpegang pada tangan kekasihnya, setelah berjalan satu langkah, ia menoleh kebelakang dan di lihatnya wajah Senja yang berlinang airmata. Ia segera berbalik dan menghapus airmata cintanya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih berpegangan erat dengan tangan Senja. Bintang menatap nanar dan setelah menghapus airmata kekasihnya ia memeluknya sekali lagi.
"Aku pergi dulu." ucapnya lirih dengan wajah tertunduk karena tak tega melihat wajah sedih yang berada didepannya. Setelah melepaskan pelukannya Ia mulai melangkahkan kaki perlahan, tangannya masih berpegangan seakan sulit untuk melepaskan. Setelah berjalan beberapa langkah tangan keduanya mulai sedikit terlepas hingga ujung jari mereka yang masih berpegangan. Airmata Senja terus mengalir membasahi wajah cantiknya, ia terus menatap Bintang yang berjalan meninggalkannya. Sedangkan Bintang tak menoleh sedikitpun kearahnya sesekali mata Bintang terpejam, tak terasa embun menetes dari wajah tampannya, kakinya terus melangkah menuju ke arah pintu keluar dari rumah Senja.
Seketika tubuh Senja luruh ke lantai dengan tangisan yang terisak kedua tangannya menutup wajah cantiknya yang berlinangan air mata. Rasanya Ia ingin mencegah kepergian kekasihnya tetapi ia tak sanggup untuk berkata- kata, ia hanya bisa diam melepaskan cintanya pergi. Ia harus menjalani kesedihan ini dalam kesendirian tak ada lagi tempat berbagi cinta dan cerita tawa dan canda seperti ketika bersama dengan Bintang cinta pertamanya.
Di luar rumah Bintang segera menyalakan motornya dan segera pergi dari rumah senja. Walaupun dihatinya sangat sakit meninggalkan cintanya tetapi apalah daya ia tetap harus akan pergi meninggalkannya. karena papanya mendapat tugas dan harus pindah ke Jakarta.
Di perjalanan pulang didalam dadanya masih terasa sesak dan sakit saat melihat orang yang dicintainya menangis, ia sungguh sangat tidak tega melihat Senja berlinang air mata didalam hati Bintang juga sangat sedih dan sakit.
Setelah sampai dirumah Bintang turun dari motornya dan berjalan dengan gontai memasuki rumahnya. Setelah ia memasuki pintu dilihatnya seorang wanita umur empat puluh Tahun itu Sudah menunggunya di sofa ruang tamu rumahnya.
"Dari mana saja kamu Bintang? kamu sudah membereskan barang- barang kamu belum? sebentar lagi papa pulang dan kita langsung berangkat."
"Ya Ma, akan segera Bintang bereskan." jawabannya datar. Ia segera masuk berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya dan segera membereskan baju yang ada di lemari dan barang barang yang penting. Saat Ia akan membereskan buku di rak tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah buku, didalam buku itu tersimpan sebuah foto dirinya bersama Senja memakai seragam sekolah putih abu- abu saat acara ulang tahun di sekolah.
Setelah melihat foto itu Ia membalikkan fotonya dan dibelakang foto itu tertulis sebuah nama Bintang dan Senja. Seketika ia tersenyum dan menyimpan foto itu di dalam tas bersama bajunya.
***
Bintang dan keluarganya sudah berada didalam mobil, Bintang berada sendirian dibelakang dengan kepala bersandar di pintu samping. Sedangkan nyonya Wijaya berada di depan menemani tuan Wijaya menyetir. Di dalam mobil Bintang hanya diam pandangan matanya menatap kebawah, ingatannya saat bersama Senja selalu berputar- putar di kepalanya.
Saat mobil berjalan melewati sekolahnya ia menatap ke jendela kaca mobil dengan tatapan nanar seakan ia sedang melihat Senja di sana, ia teringat semua kenangan yang mereka lalui bersama Senja di sekolah itu. Di sekolah inilah ia bertemu dengan cinta pertamanya yang membuat Ia bersemangat menjalani hari-hari di sekolah dengan bahagia. Semua kenangan bersama Senja seakan terus berputar di kepalanya saat ini.
Kota Bandung yang akan menjadi kenangan terindah buat Bintang, walaupun jauh didalam lubuk hatinya ia masih sangat ingin berada disini menjalani hari-hari bersama Senja, dadanya terasa sesak dan hatinya terasa sakit kala ia melewati sekolah itu.
***