“Dia hadir kembali dengan niat dan tekad yang sama namun datang dengan cara yang berbeda. Tidak lagi meminta untuk memacari tapi meminta untuk menikahi.”
***
Kini Zihan tengah berada di salah satu restoran bersama dengan Irfan dan juga Zahra. Jujur Zihan enggan dan menolak untuk bertemu dengan Irfan, tapi karena Irfan yang memaksa. Jadi, mau tidak mau dia menuruti permintaan Irfan dan sebagai penengahnya dia membawa serta Zahra.
“Katanya mau ngomong,” ucap Zihan merasa bosan, karena Irfan yang tak kunjung mengutarakan maksud dan tujuannya. “Dimakan dulu nanti aku jelasin,” titahnya, Zihan mau tidak mau menuruti apa yang dikatakan oleh lelaki itu, karena mubazir juga kalau makanan yang sudah tersedia di depan mata, tapi malah dibiarkan begitu saja. Di luar sana masih banyak orang yang kelaparan dan harus susah-susah dulu sebelum makan.
“Cepetan mau ngomong apa?” tagih Zihan setelah menyelesaikan ritual makannya. “Iyah, gak sabaran banget sih,” kekehnya yang membuat kadar kekesalan Zihan bertambah. “Buruan ngomong, Fan waktu gue gak banyak,” cetus Zihan. Irfan tersenyum manis, sangat manis ke arah Zihan. Merogoh kantong jasnya yang ternyata terdapat sebuah cincin.
Irfan memperlihatkan cincin tersebut pada Zihan. "Will You Marry Me." Zihan dan Zahra beradu pandang tak percaya dengan apa yang baru saja ditangkap oleh indra pendengar dan penglihatnya. Hening! Tak ada sahutan dari Zihan atas lamaran mendadak yang Irfan layangkan.
“Dulu cara aku salah dengan meminta kamu untuk menerima aku sebagai pacar, tapi sekarang aku berniat untuk meminang kamu, menghalalkan kamu, menjadikan kamu satu-satunya wanita yang akan menemani aku hingga akhir hayat aku. Tentunya dengan ridho Allah yang diikat dengan akad dan seperangkat alat salat,” ucapnya begitu manis dan romantis.
Mungkin wanita yang berada di posisi Zihan, mereka akan langsung menjawab ‘iya’ tanpa banyak pikir lagi. Tapi beda halnya dengan Zihan, dia tidak suka mendengar lamaran tersebut. Zihan kembali terperanjat kaget dengan apa yang baru saja dipaparkan oleh Irfan. Ini adalah kali kedua baginya. Karena dulu sewaktu mereka kelas sembilan SMP, Irfan juga menyatakan perasaannya pada Zihan untuk menjadikan Zihan sebagai kekasih. Sekarang pun sama, Irfan meminta Zihan untuk menjadi kekasihnya yang membedakan hanya label halalnya saja.
'Mental baja loe, Fan udah kena damprat dan penolakan tapi masih keukeuh ngelamar Zihan,' batin Zahra kagum dengan cinta yang dimiliki Irfan untuk sahabatnya.
“Maaf,” Zihan berucap sangat lirih. Ia tidak enak, karena untuk yang kedua kalinya ia mematahkan hati laki-laki tampan itu. “Apa gak ada sedikit pun ruang di hati kamu untuk aku?”
“Maaf, Fan gue gak bisa,” tolaknya lagi.
“Mengikhlaskan seseorang yang dicintai memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi dengan melihat seseorang yang disayang bahagia dan mengukir senyum indah, yang terbit di wajahnya, itu menjadi penyembuh luka akan sakitnya cinta yang tak terbalaskan,” tutur Zahra yang sudah seperti penyair yang pandai dalam mengolah kata.
“Allah mempertemukan kita hanya untuk menjalin sebuah pertemanan tidak dengan sebuah pernikahan,” ungkap Zihan seraya tersenyum canggung berharap dia tak mengukir luka di hati Irfan. Namun, pada kenyataannya luka dan sakit hati itu sudah mengakar daging di dalam hati lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu.
“Apa karena dia kamu menolak pinanganku?” tanya Irfan entah dia siapa yang dimaksudnya. “Dia?” cicit Zihan tak mengerti dengan kata ‘dia’ yang terdengar sangat ambigu.
Irfan terlihat mengangguk lemah. "Gibran" lirihnya. Kini sempurna sudah lukanya yang semakin menganga dengan begitu lebar. Zihan dan Zahra kembali tersentak kaget dengan nama yang disebut oleh orang yang berada di hadapannya.
“Jangan ngomong sembarangan, Fan,” elak Zihan menutupi kegugupan agar terlihat biasa saja. Namun, detak jantungnya berdetak abnormal kala mendengar nama 'Gibran' yang selalu saja mengusiknya.
“Cintamu memang tak terucap dengan lisan, tapi terlihat jelas dengan sorot mata tajam penuh keinginan,” ucapnya bak pujangga yang sedang mencari cinta.
“Jaga ucapan loe!” sentak Zahra merasa tak terima sahabatnya disudutkan. “Gue rasa udah cukup untuk hari ini, kita cabut duluan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.” Zihan langsung bangkit dan menarik lengan Zahra untuk pergi dari restoran tersebut.
Kilatan ingatan semalam tentang Irfan yang tiba-tiba saja melamarnya membuat kepala Zihan pusing tujuh keliling. "Udah, Han jangan dipikirin bawa enjoy aja," kata Zahra yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya. Kini mereka tengah berada di rumah Zihan, karena memang hari ini hari libur. Jadi, Zahra berkunjung ke rumah sang sahabat. Inilah alasan sebenarnya mengapa Zihan pulang telat semalam. Sehabis mereka pulang dari pusat perbelanjaan tiba-tiba saja Irfan menghubungi Zihan dan memintanya untuk bertemu.
Zihan hanya menanggapi Zahra dengan senyum tipis. “Maaf,” lirihnya. Zahra terlihat menautkan kedua alis bingung, “Untuk?” tanya Zahra tak mengerti. “Maafin gue, Ra. Gue udah lancang mencintai Gibran,” gumamnya menahan sesak yang sudah terpendam lama di dalam d**a.
Zahra terlihat tersenyum ke arah sahabatnya. “Gue udah tau,” tuturnya begitu santai. “Cinta itu fitrah dan semua manusia berhak untuk merasakan betapa dahsyatnya fitrah yang telah Allah berikan untuk setiap hambanya. Jadi gak perlu ada kata maaf dalam urusan cinta,” lanjutnya seraya memberikan lengkungan indah di kedua sudut bibirnya.
“Apa loe gak marah sama gue?” Zahra terkekeh pelan. “Marah? Untuk apa?” seloroh Zahra begitu tenang. “Gibran, ‘kan calon suami loe. Gak sepantasnya gue suka sama calon suami sahabat gue sendiri,” jelas Zihan merasa bersalah dengan rasa cinta yang bersarang di hatinya. “MANTAN calon suami, Zihan!” koreksi Zahra.
“Skenario Allah itu sulit ditebak dengan nalar, gue kecewa bahkan sakit hati dengan cara Gibran yang pergi begitu aja di hari pernikahan kita. Tapi asal loe tau rasa sakit hati gue gak sebesar rasa bahagia gue,” sambungnya.
“Bahagia?” Zahra mengangguk. “Gue sama Gibran emang enggak berjodoh dalam hal pernikahan, tapi gue sama Gibran berjodoh dalam hal persahabatan. Gue bersyukur atas musibah yang membawa berkah ini.”
“Maksud loe?” Zihan tak mengerti dengan pemikiran sahabatnya kali ini. Zahra menggenggam erat kedua tangan Zihan. “Kalau Gibran emang bener-bener cinta sama gue, dia gak akan pergi ninggalin gue apa pun alasannya. Tapi apa yang Gibran lakuin?” Zahra menjeda kalimatnya, “dia malah memilih pergi begitu aja tanpa adanya sebuah alasan ataupun penjelasan. So, gue rasa bukan cinta yang tumbuh di hati Gibran tapi hanya obsesi dan rasa penasaran.”
“Dia cinta sama loe, Ra,” sanggah Zihan tak setuju dengan pemikiran sang sahabat. “Asal loe tau Gibran pergi ninggalin loe itu bukan karena keinginan dan kemauan dia. Tapi---” Zihan tak bisa melanjutkan kata-katanya. “Apa pun alasannya kalau emang Gibran berniat serius dan benar-benar mencintai gue. Gue yakin dia gak akan ninggalin gue,” sahut Zahra cepat.
“Loe harus tau alasan Gibran pergi gitu aja di hari pernikahan loe,” sela Zihan keukeuh. “Udahlah, Han gue gak mau lagi bahas tentang hal itu,” balas Zahra tak suka mengungkit kejadian yang telah lalu. “Semuanya karena Kak Galang, Ra,” lirih Zihan yang membuat Zahra diam membeku.
“Ternyata Kak Galang diam-diam suka sama loe, dia juga diam-diam nyuri nama loe dalam doa di sepertiga malam. Gibran ninggalin loe dengan harapan loe sama Kak Galang berjodoh, dia gak akan tega ngeliat dua orang yang dia sayangi terluka, hanya karena keegoisannya yang menginginkan loe. Begitu besar rasa cinta yang Gibran miliki buat loe sampai dia rela menahan rasa sakitnya,” jelas Zihan panjang lebar.
'Kak Galang? Suka sama gue?' batinnya. Zahra hanya diam terpaku menatap kosong tak percaya dengan penjelasan yang sahabatnya berikan. ‘Apa mungkin Kak Galang juga suka sama gue.’ Lagi-lagi dia hanya bisa membatin.
“Mengikhlaskan adalah cara Gibran mencintai loe,” lanjut Zihan. Entah mengapa setiap kata cinta yang keluar dari bibirnya memberikan rasa sakit di hati. Sakit yang tak terlihat dan berdarah tapi teramat sangat membekas.
“Kenapa loe baru ngomong sekarang sama gue, Zihan?” tuntut Zahra. “Seharusnya bukan gue yang ngomong ini semua sama loe. Tapi gue gak akan tega ngeliat dua sahabat gue terbelenggu kesalahpahaman yang tiada henti.”
Zahra masih betah dengan gemingnya mendengarkan segala macam penjelasan dari sang sahabat membuat perasaannya tak keruan. “Loe tau? Gue rapuh saat ngeliat Gibran gak bisa menggenggam cintanya. Gue sakit saat Gibran gak bisa ngebales perasaan gue. Tapi gue lebih rapuh dan sakit hati saat dia merasakan apa yang selama ini gue rasakan.”
“Dan kalau gue ngelanjutin pernikahan itu, Gibran akan lebih sakit hati karena gue yang gak bisa membalas perasaannya,” sahut Zahra. “Seharusnya kalian melangsungkan pernikahan itu, karena cinta akan tumbuh dengan sendirinya,” sela Zihan.
“Cinta emang akan tumbuh dengan sendirinya tapi apakah itu adalah sebuah jaminan?” sanggah Zahra. “Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia, tentunya Allah juga bisa mengubah perasaan loe untuk Gibran dengan sangat mudahnya,” tutur Zihan.
“Gue tau loe suka sama Kak Galang tapi gue rasa perasaan itu akan hilang dengan sendirinya. Karena gue yakin Gibran bisa bahagiain loe,” lanjutnya. “Gue gak bisa jamin kalau perasaan gue akan berpaling dengan begitu mudahnya, karena sampai saat ini perasaan gue masih untuk orang yang sama,” ucap Zahra.
“Gue mencintainya sejak awal pertama kita ketemu, dan sejak saat itu gue minta sama Allah agar Allah berkenan untuk menjodohkan gue sama Kak Galang.” Jujur Zahra dengan seulas senyum. Memorinya kembali mengingat awal pertemuan dia dengan kakak dari sahabatnya itu.
Zahra yang waktu itu duduk di bangku kelas X SMA, sedangkan Galang yang duduk di bangku kelas XII SMA bertemu tanpa sengaja di koridor sekolah. Mereka berdua tidak saling mengenal tapi ada perasaan aneh saat melihat sorot mata kakak tingkatnya itu. Mereka sering sekali berpapasan tapi enggan untuk sekadar menyapa dan bercengkrama. Sampai suatu hari Gibran mengajak Zihan dan Zahra ke rumahnya untuk bermain, karena memang pada saat mereka menginjak bangku SMA mereka tidak lagi satu sekolah. Zihan dan Gibran yang memang memilih sekolah yang sama, sedangkan Zahra memilih bersekolah di tempat yang berbeda, dan di sekolah itulah dia merasakan apa yang orang-orang sebut dengan cinta pada pandangan pertama.
Zihan dan Zahra memang sering mengunjungi rumah Gibran. Tapi tak pernah sekalipun mereka bertemu dengan Galang. Galang yang sangat pendiam dan sulit bergaul membuatnya cuek akan lingkungan sekitar dan memilih untuk mengurung diri di kamar. Tapi hari itu, Zahra dan Galang bertemu karena ketidaksengajaan. Zahra yang main nyelonong masuk begitu saja ke dapur untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering kerontang. Namun, tanpa disangka dan diduga Galang dan Zahra bertemu dan semenjak pertemuan itu hubungan mereka menjadi lebih dekat dan akrab. Namun, tak ada siapa pun yang mengetahuinya termasuk Gibran dan Zihan sekalipun.
“Kenapa loe baru cerita sekarang semuanya sama gue?” tanya Zihan menuntut perjelasan lebih pada sahabatnya. “Emang apa urusannya sama loe? Loe juga gak pernah cerita kalau loe suka sama Gibran. Jadi, kita satu sama dong.” Zihan memberengut kesal. “Tau ah,” katanya sedikit kesal. “Terus maksud loe ngirimin Kak Galang surat apa?”
Wajah Zahra langsung merah padam karena malu. “Tau dari mana loe?” tanyanya tanpa mau menjawab pertanyaan Zihan terlebih dahulu. “Gue gak percaya seorang Zahra Nureni Sukma Prawira bisa seberani dan senekat itu sama cowok yang disukanya,” ledek Zihan.
Mendengar itu Zahra tidak tinggal diam, tangannya dengan lincah bergerak untuk mencubit lengan sang sahabat. “Rasain cubitan maut gue.” Aksi cubit-cubitan yang diselingi tawa mewarnai kebersaman mereka. “Sakit, Zahra!” ucap Zihan mengaduh kesakitan. “Jawab dulu pertanyaan gue. Loe tau dari mana soal surat itu?” selorohnya yang begitu penasaran. Zihan menggeleng, dan itu semakin membuat Zahra gencar menghujani bagian perut serta pinggang Zihan dengan cubitan.
“Gibran,” jawab Zihan akhirnya menyerah. Gerakan tangan Zahra langsung berhenti, pandangannya menerawang kosong menunutut lebih penjelasan dari mulut sang sahabat. “Gibran nemuin surat cinta loe dan karena itu dia memutuskan untuk mundur. Pergi di hari pernikahan kalian dengan harapan loe sama Kak Galang bisa hidup bersama tanpa adanya halangan dari dia,” jelas Zihan menatap lurus manik mata sahabatnya.
Mata Zahra memanas air mata sudah bertumpuk di pelupuk matanya, siap untuk ditumpahkan sekarang juga. Mulutnya seakan terkunci rapat, kerongkongannya tercekat sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Zihan memegang kedua tangan Zahra yang sudah berkeringat dingin. “Loe beruntung, karena ada dua pria yang begitu mencintai loe.”
“Tapi gue udah nyakitin salah satu dari mereka, Han,” ungkap Zahra ya, orang Zahra maksud adalah Gibran, sahabatnya. “Ini bukan salah loe, tapi ini udah menjadi jalan takdir kalian. Dan gue minta sama loe jangan sampai sia-siain pengorbanan Gibran. Perjuangkan cinta loe sama Kak Galang karena itu akan membuat perasaan lega di hati Gibran, walau gue yakin hal itu akan membuat luka Gibran semakin besar. Tapi itu udah jadi keputusan dia.”
Zahra memeluk erat tubuh sahabatnya, menumpahkan semua kegelisahan dan rasa bersalah yang bersarang di hati. Dia merasa menjadi wanita yang tak tahu diri dan tak tahu diuntung, karena sudah menyia-nyiakan orang yang tulus mencintainya. Namun, apalah arti sebuah penyesalan karena semua itu sudah terjadi.
Sejatinya cinta itu hadir untuk saling memberi kebahagiaan dan untuk melengkapi sebuah kekurangan, karena cinta ada untuk saling menyempurnakan bukan saling mencari sebuah kesempurnaan. Dan cinta dalam diam adalah cara paling mujarab dalam menjaga kesucian cinta yang sebenarnya. Cukuplah Allah dan sepertiga malam yang menjadi saksinya. Cinta bukan soal seberapa banyak orang yang mengetahuinya tapi seberapa banyak doa yang diuntai dalam setiap sujud panjang di sepertiga malam-Nya. Cukuplah Allah yang mengetahui seberapa besar cinta yang kita miliki, karena Dia-lah Sang Maha Pemberi Cinta.
-Bersambung_