“Seseorang pernah bilang padaku, cinta yang dipendam itu seperti bom waktu. Menunggu untuk dihentikan paksa atau meledak dengan sendirinya dan berakhir menyakitkan. Melukai orang lain dan pastinya diri sendiri.”
~Cintadanrahasia~
***
Di tengah asiknya Zihan dan Zahra saling bercerita tiba-tiba Windi datang menghampiri keduanya, lebih tepatnya menghampiri sang putri. “Apa, Bun?” tanya Zihan setelah sang bunda ikut duduk di sebelahnya.
“Ikut Bunda yuk,” ajaknya.
“Ke mana?” tanya Zihan.
“Udah ikut aja nanti juga tau,” sahutnya.
Zihan melirik ke arah sahabatnya. “Zahra?”
“Udah enggak papa yuk, Ra ikut aja,” tutur Windi.
“Gak papa, Han gue juga mau cabut, ada urusan. Maaf, Tan aku gak bisa,” tolaknya.
“Bener nih gak mau ikut?” tanya Zihan memastikan.
Zahra mengangguk. “Iya, Zahra pamit pulang dulu, assalamualaikum.”
“Wa'alaikumussalam Warahmatullah,” jawab Zihan dan Windi berbarengan.
***
Windi mengajak sang putri pergi ke sebuah tempat yang mampu membuat Zihan merasa heran aneh dan kebingungan. Pasalnya untuk apa sang bunda mengajaknya ke butik yang menjual banyak baju kebaya pernikahan?
“Ayo masuk malah bengong di sini,” ujarnya seraya menarik lengan Zihan untuk memasuki butik. “Mau ngapain ke sini, Bun?” tanya Zihan penasaran sekaligus bingung.
“Udah kamu duduk di sini, Bunda mau ketemu sama yang punya butik dulu,” titahnya. Zihan langsung duduk di salah satu sofa panjang yang memang sudah disediakan di butik tersebut.
“Ini toh anaknya cantik yah,” ucap seseorang yang datang bersamaan dengan sang bunda. Zihan hanya tersenyum tipis mendengar pujian yang terdengar sangat berlebihan di telinganya.
“Kok sendirian mana calonnya?” tanyanya yang membuat Zihan mematung tak mengerti dengan maksud seseorang yang berada di sebelah bundanya.
‘Calon?’ batinnya bertanya-tanya linglung.
“Masih di jalan mungkin sebentar lagi nyampe,” jawab Windi yang membuat Zihan cengo seketika.
“Hah!” pekiknya kaget setengah berteriak. “Biasa aja kali, Han,” kekeh bundanya.
‘Biasa aja! Helo maksudnya Bunda apa coba? Ngajak aku ke butik terus pas datang ke sini ditanyain calon, hey calon apaan? Calon Gubernur, calon Walikota atau calon Presiden? Calon apa coba!’ Rasanya kepala Zihan ingin meledak seketika memikirkan semua itu.
“Udah kamu coba gih sana,” titah Windi menyodorkan sebuah kebaya berwarna putih tulang ke arah putrinya. “Gak mau,” tolak Zihan.
‘Apa-apaan sih tiba-tiba ngajak ke butik terus nyuruh nyoba kebaya, permainan macam apa yang tengah Bunda rencanakan,’ pikirnya sudah berkelana ke mana-mana.
“Coba dulu, Han kalau kebesaran atau kekecilan, ‘kan bisa diperbaiki lagi,” desak seseorang yang Zihan yakini sebagai pemilik butik.
Zihan menarik lengan sang bunda untuk menjauh dari pemilik butik. “Bunda apa-apaan sih tiba-tiba ngajak Zihan ke sini terus nyuruh nyoba kebaya pengantin segala. Bunda halu? Zihan itu gak punya pasangan,” cerocosnya.
“Kalau Bunda mau liat Zihan nikah. Iya nanti Zihan juga bakal nikah tapi gak sekarang juga kali, Bun. Calonnya juga gak ada mana bisa nikah,” lanjut Zihan mengomel tak jelas.
Zihan seperti sudah kehabisan kata-kata setelah mengetahui bahwa dia akan menikah dengan seseorang yang tak pernah dia ketahui wujudnya. Bagaimana mungkin kedua orang tuanya menerima lamaran dari seorang pria tanpa sepengetahuannya? Lalu bagaimana dengan cintanya yang selama ini dia pendam?
“Zihan gak mau, Bunda,” tolak Zihan untuk yang kedua kalinya. Windi membawa tubuh putri sulungnya ke dalam dekapan. Namun Zihan berontak tak mau, dia masih belum bisa terima dengan keputusan sepihak kedua orang tuanya.
“Tuh calonnya udah datang,” ucap Windi spontan saat retinanya menangkap sosok laki-laki tampan yang tengah berjalan ke arah mereka. Zihan spontan langsung melepaskan pelukannya dan memutar tubuh untuk melihat sosok yang dimaksud sang bunda.
Deg! Jantungnya seperti berhenti mendadak saat melihat sosok yang kini ada di hadapannya. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi kerongkongannya tiba-tiba kering kerontang, dan itu membuat dia kesulitan untuk berucap.
“Maaf telat,” katanya yang langsung menyambar tangan Windi untuk disalami. 'Mantu idaman,' batin Windi semringah bahagia.
“Enggak kok,” sahut Windi.
Zihan? Dia masih diam mematung dan membeku di tempat, otaknya masih mencerna setiap adegan yang baru saja terjadi.
“Ayo, Han fitting baju dulu,” ajak sang bunda seraya menggandeng lengan putrinya. Sedangkan Zihan, dia hanya bisa mengikuti ke mana pun langkah sang bunda pergi. Kakinya sudah lemas dan logikanya sulit untuk mempercayai apa yang baru saja dia alami.
Windi menyodorkan Zihan sebuah kebaya berwarna putih tulang yang sangat cantik dan kelihatannya akan sangat cocok untuk dia kenakan. Entah ada dorongan dari mana hingga Zihan melangkahkan kakinya begitu saja ke ruang ganti.
“Cantiknya anak Bunda,” tutur Windi saat melihat sang putri yang sudah mengenakan kebaya. Tak ada ekspresi apa pun yang Zihan berikan atas pujian sang bunda yang sangat berlebihan. Raut wajah datar tanpa ekspresi mewakili suasana hatinya yang kini tak menentu.
'Pokoknya aku harus minta penjelasannya.' Tekad Zihan dalam hati. Dia sudah tidak tahan untuk memberondong dua manusia yang sedari tadi menampilkan senyum bahagianya sedangkan dia hanya bisa memasang wajah datar kebingungan.
***
Setelah sampai di depan rumah Zihan keluar begitu saja dari mobil dan masuk dengan langkah tergesa-gesa tak sabaran. Mendaratkan b****g di sofa empuk miliknya, dengan tangan yang sudah menyilang di depan d**a dan jangan lupakan juga wajah datar serta masamnya. “Jelasin semuanya!’ tuntut Zihan setelah kedua makhluk yang membuat dirinya kebingungan tiada tara itu datang menghampirinya.
Mereka hanya terkekeh mendengar ucapan Zihan yang terdengar sangat ngotot dengan ekspresi yang sangat tidak bisa dijelaskan. “Buruan jelasin!” Nada suara Zihan sudah naik satu oktaf. Mereka ikut duduk di sofa. Windi yang duduk di sebelah Zihan, sedangkan laki-laki itu duduk berhadapan dengan Zihan dan Windi.
“Anak Bunda lucu banget sih,” kekehnya yang sumpah demi apa pun membuat kadar kejengkelan dan kekesalan Zihan kian bertambah besar. “Lucu? Udah deh, Bunda Zihan perlu penjelasan kalian, bukan basa-basi!” kata Zihan dingin dengan suara ketusnya.
“Mau minum apa, Nak?" tawar Windi pada sang calon menantu. “Udah deh, Bun jangan buang-buang waktu. Jelasin semuanya sama Zihan sekarang juga!.” pinta Zihan keukeuh. Windi tak menggubris tuntutan sang putri, dia malah melenggang ke dapur untuk membuatkan minuman. Zihan mendelik tajam ke arah laki-laki yang ada di hadapannya. “Jelasin semuanya sama gue!”
“Tak perlu penjelasan ataupun alasan untuk menghalalkan seorang gadis pujaan selain karena Allah,” tuturnya yang membuat hati Zihan menghangat. Tapi itu tak bertahan lama, karena dengan cepat logikanya menolak dan menuntut dia untuk melanjutkan sesi introgasinya. “Bukan itu yang gue mau denger dari loe,” ujar Zihan menuntut lebih penjelasan dari seseorang yang ada di depannya. Yang tak lain dan bukan adalah calon suamianya.
“Cukup Allah dan aku yang tau, karena Allah lah aku bisa berada di sini,” tungkasnya. “Mau ke mana?” tanyanya melihat Zihan pergi begitu saja. “Cukup aku dan Allah yang tau, ke mana kaki aku melangkah,” jawab Zihan menirukan jawaban calon suaminya.
'Aku?' Hatinya menghangat dan berdesir hebat saat sang gadis pujaan merubah panggilan mereka menjadi --aku kamu--. Laki-laki itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polah Zihan yang sangat kekanak-kanakan.
“Loh kok sendirian, Zihannya mana?” tanya Windi dengan nampan yang sudah berisi segelas minuman dan beberapa makanan ringan. “Maklumin aja, Nak mungkin Zihan masih belum bisa menerima semuanya. Masih shock kayanya,” lanjutnya seraya memindahkan apa yang dibawanya di atas nampan ke meja.
Laki-laki itu mengangguk maklum dan tersenyum. “Ya udah, Tan kalau gitu aku pamit dulu,” pamitnya. “Kok buru-buru banget sih?” sela Windi. Lelaki itu tersenyum ramah pada sang calon mertua. “Nanti aku juga bakal tinggal di sini, Tan. Sekarang ada urusan mendadak.”
Windi mengangguk maklum dan tersenyum. “Assalamualaikum, Tan,” pamitnya seraya mencium punggung tangan Windi. “Wa'alaikumussalam warahmatullah,” jawab Windi.
***
Zihan merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong yang menerawang entah ke mana. Pintu kamar Zihan tiba-tiba saja terbuka lebar dan menampilkan sosok sang bunda yang seharian ini membuatnya jengkel sekaligus kesal. Dengan cepat dia membelakangi sang bunda saat bundanya itu duduk di tepi ranjang.
Windi mengusap pucuk kepala Zihan dengan sayang. “Kamu marah sama Bunda?” Zihan tak berniat untuk menyahut ucapan bundanya, dia masih bertahan dengan gemingnya. “Bukankah dia yang selalu ada dalam doa kamu. Lantas kenapa setelah Allah mengabulkan doa kamu. Kamu malah seperti ini?” tanyanya lembut selembut kain sutra.
“Apakah kamu ingat kisah Putri Zulaikha yang mengejar-ngejar cinta Nabi Yusuf? Allah malah menjauhkannya, bukan? Tapi ketika Putri Zulaikha mengejar cinta Allah. Allah dengan begitu mudah mendekatkan Putri Zulaikha dengan Nabi Yusuf. Begitulah cara Allah dalam menjodohkan setiap hambanya, bagi Allah sangat mudah untuk membolak-balikkan hati setiap hambanya. Bersyukurlah karena Allah telah mengabulkan doamu,” jelas Windi panjang lebar.
“Kamu memang tidak pernah memperlihatkan rasa cinta kamu untuknya tapi kamu berjuang bersama Allah di sepertiga malam-Nya. Kamu tau dia hanyalah seorang hamba yang hatinya berada di tangan Allah maka dari itu kamu memintanya langsung kepada Allah. Bukan mengemis cinta di hadapannya melainkan, di hadapan Allah dan sepertiga malam yang menjadi saksi cinta kamu,” lanjutnya.
“Tapi kenapa Bunda gak ngomong dulu sama Zihan?” sahut Zihan yang masih betah membelakangi ibunya. “Bunda kira Zihan udah tau langsung dari orangnya,” ucapnya enteng yang mampu membangkitkan tubuh sang putri untuk duduk dan berhadapan dengannya.
“Ayah sama Bunda menerimanya, karena kami tau kamu mencintainya,” tutur Windi. Zihan langsung mendekap erat tubuh bundanya, air mata sudah tak bisa dia bendung lagi. “Makasih, Bun.” Windi tersenyum dan membalas pelukan putrinya tak kalah erat.
***
Setelah melaksanakan salat malam Zihan menengadahkan kedua tangannya. Tangis kembali pecah tatkala mengingat begitu indah rencana Allah dalam menjodohkannya dengan dia yang sudah lama bertahta di hatinya.
“Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim, alhamdulillah. Terima kasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan untukku. Rabbana Aatinna fiddun yaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqina adza ba naar. Allahumaghfirllii waliwaalidayya warham humma kamaa rabbana nii shaghiraa. Aamiin Allahuma Aamiin.” Doanya seraya mengusap permukaan wajah dengan kedua telapak tangan.
-Bersambung-