Keputusan Syerin membuat Tala tak habis pikir. Dia kira Syerin tetap sabar menunggu dirinya sukses. Tala akui dia memang kurang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Tala terlalu sombong karena berpikir dia mampu bekerja langsung pada posisi yang bagus tanpa memulai dari bawah. Lowongan yang ia ambil hanya pada posisi yang wah seperti jabatan yang disukai papa Syerin. Padahal, andai sejak dulu Tala sudah bekerja sebagai bawahan mungkin ia sudah diangkat atau naik jabatan. Tidak menganggur dan menjadi peminta-minta kepada ibundanya.
Entah kenapa kini ia ingin seseorang mendengar keluhannya itu. Ia ingin bertanya di mana letak kesalahannya sehingga nasibnya begini amat sejak Zaman Neolitikum. Tangannya dengan lancar menekan bel sebuah ruko yang saban hari ia datangi. Perempuan itu pasti baru saja menutup rukonya. Tala menantinya dengan sabar.
”Bang Tala?”
Senyuman Tala terlihat dibuat-buat tidak seperti biasanya. Tita membuka pintu dengan kedua alis hampir bersatu.
”Sama Celi?” tanyanya.
Tala menggeleng. Lelaki itu mengaktifkan alarm mobil kemudian mendorong Tita yang menghalangi di pintu. Ia masuk dan terus ke ruang tamu perempuan itu. Tita menutup pintu tanpa menguncinya supaya Ibu Diyas dan Celita bisa langsung masuk.
”Kenapa, Bang?” tanyanya. Kedua tangan ia lipat elok di d**a. Tita berdiri di samping televisi.
”Menurut kamu kenapa orang zaman dulu menciptakan matematika?” Tala merebahkan kepalanya di sofa.
Tita malas meladeni. Ia melihati garis-garis plester dinding seberang ia berdiri.
”Kalau tidak ada matematika. Apa kamu tahu satu ditambah satu berapa?”
”Bang Tala ngejek aku?”
”Galak banget sih. Kamu ’kan masih muda, jangan suka galak-galak dong sama orang. Lihat kamu saja orang sudah takut apalagi berniat ingin deket. Kurangin tuh metode kode-serangnya.”
”Bang Tala habis ngunyah ekstasi? Melantur terus.” Tita duduk di karpet dekat televisi. Kakinya sedikit pegal akibat berdiri.
”Jawab dong Ta, kamu tahu enggak satu ditambah satu berapa?”
”Aku emang enggak tamat SMA dan kamu kira aku lupa pelajaran TK? Kecuali ini tipe pertanyaan khas Bang Tala. Jawabannya hanya kamu yang tahu.”
Tala tertawa. Sofa yang dia duduki kembang kempis. ”Emang aku akan langsung jawab. Karena kamu pasti akan menyerah, Ta. Kamu takkan dapat menjawabnya. Satu tambah satu itu dua kata orang zaman dulu sampai sekarang. Aku percaya itu. Tapi sekarang ada yang mengotak-atik ketentuan itu.”
Tita mengurut pelipis. Tala melirik wanita itu lalu tertawa kecil.
”Pusing, ya?”
”Bang Tala ada apa sebenarnya? Aku mau jemput Celi dan istirahat. Bicara aja deh sesukamu tapi jangan tanya apa-apa ke aku.”
”Ok, baiklah Mamah Galak. Jadi, si bapak gendut kaya raya itu bilang satu tambah satu sama dengan besar. Seperti perutnya yang kayak babi bunting.”
”Bang Tala sedang ngata-ngatain siapa? Babi-babiin siapa?!”
”Aduh, jangan teriak dong, Ta. Nanti warga datang, dikira kamu aku apa-apain.” Tala tertawa karena berhasil membuat Tita bungkam.
”Gila! Datang-datang bertanya aneh-aneh. Ketawa sendiri. Udah ah, aku mau jemput Celi.”
Tita berdiri. Hendak berjalan meninggalkan lelaki aneh itu tetapi tangannya ditahan. Langkahnya tertambat. Tala menyelipkan lima jarinya ke sela-sela jemari Tita.
”Besar maksud dia adalah kesuksesan. Anaknya harus dinikahkan dengan orang yang setara agar kekuasaannya semakin besar. Dan aku enggak punya itu.” Jemari mereka bertautan. ”Aku tidak bisa kembali dan enggak bisa pergi juga, Ta.” Mata itu menatap Tita dengan kesenduan yang tak pernah diperlihatkannya.
”Kenapa?” tanya Tita. Tetapi aneh, jantungnya berdebar dan itu sungguh menjijikkan.
”Sini temanin Bang Tala. Celi pasti aman sama ibu.”
Tala menarik tubuh Tita sehingga perempuan itu duduk di sebelahnya.
”Gemukan, Ta.”
”Mau dihajar hah? Bang Tala lidahnya kenapa sih sering banget bikin kesel?”
Tala terkekeh. Dia menatap keseluruhan tubuh Tita secara terang-terangan. ”Cantik kok,” pujinya. Sayangnya, Cetita Maharani tidak mendengarnya.
”Kalau kamu mau tahu, aku memang naik beberapa kilo. Apalagi semenjak Celi enggak minum ASI lagi. Nutrisi kayaknya disadap semua makanya aku jadi gemuk. Walau gendut gini, aku bangga karena aku seorang ibu. Jadi enggak perlu sok kecakepan pakai diet-diet segala.”
”Cerewet!” kata Tala. Ia mendekat kepada Tita dan merapatkan kedua tangan mereka. ”Tanganmu besar juga, ya,” ledek Tala.
Tita melotot sebal.
”Aku pernah dengar katanya perempuan yang bulu tangannya lebat, nafsunya tinggi.”
”Diih, enggak bisa dipercaya.” Tita menjauh.
Dia merasa suhu ruangan itu naik. Pekanbaru sangat panas apalagi ia yang tinggal di ruko. Keempat sisi ruangan adalah dinding batako. Namun, kali ini panasnya berbeda. Tita mengipas-ngipas wajah dengan tangan.
”Buktikan kalau memang enggak.”
Tita bergidik. Sepertinya lelaki itu benar-benar habis mengisap sabu. Tita berdiri hendak pergi.
”Mau ke mana? Aah, kita ke kamar langsung nih? Ayooo.”
Tingkat bercanda Tala sedang terkontaminasi kemesuman akut. Itu semua disebabkan oleh tubuh molek wanita yang hanya mengenakan gaun tidur tipis dengan rambut setengah basah sehabis mandi itu. Tita sepertinya hanya sempat memakai baju ketika dia mengetuk pintu. Wanita itu belum sempat menyisir rambut.
”Bang Tala apa-apaan sih pegang-pegang?” Tita melempar tangan lelaki itu.
”Kamu galak banget, Ta. Nanti enggak ada yang suka.”
”Aku enggak mikirin itu, Bang. Aku udah punya Celi. Enggak ada tempat lagi dalam kepala ini untuk mikirin orang akan suka atau enggak.”
”Kalau begitu, bagus. Orang yang katanya suka kamu itu sekarang sedang bersenang-senang dengan kekasih orang lain,” ungkap Tala. Lagi Tita tidak mendengarnya.
Tala menarik tubuh Tita merapat. Wajah kaget wanita itu ia sentuh dengan ujung telunjuk. Jarinya berhenti di bibir yang pucat. ”Tadi berendam berapa lama?”
Tita jawab dengan gelengan.
”Aku kembalikan warnanya, ya, tanpa lipstik pun aku bisa bikin merah lagi.”
Dengan punggung tangan mengelus lengan Tita yang ia katakan berbulu lebat tadi, bibirnya mencari celah untuk masuk ke mulut wanita itu. Ibarat bertamu, Tala menciptakan rasa nyaman bagi tuan rumahnya. Perlahan-lahan tubuh wanita itu ia tarik ke kamar tanpa melepaskan pertautan bibir mereka.
Kedua bola mata mereka bertemu. Tala menjauhkan Tita untuk melihat bentuk tubuh wanita itu.
”Sangat seksi.”
Ucapan itu membuat Tita tidak sanggup berdiri. Semua bulu di tubuhnya meremang. Darahnya mengalami pemanasan hingga ratusan selsius. Tala menangkap tubuh wanita itu kemudian menahan dengan lengan kokohnya.
”Ini tubuh ibu-ibu, Bang.”
”Super mommy,” bisik Tala.
Setelah menyelesaikan basa-basi, ia mulai menikmati hidangan makan malam yang telah lama tidak ia santap.
”Lembut,” puji Tala kepada bibir yang menjadi dessert-nya malam itu.
”Boleh?” tanyanya sebelum imannya berceceran.
Main cantik, Tala.
”Dosakah kalau aku berkata tidak?” tanya perempuan yang sejak tadi bagaikan setir mobil yang ingin ia bawa ke mana-mana.
”Yes!” balas Tala girang. Saatnya mengemudi ke atas bukit.
***
Diyas mengangkat tubuh lelap Celita dengan lembut. Anak itu ketiduran menunggu ibunya menjemput. Setelah memastikan rumah terkunci, ia berjalan keluar g**g menuju jalan raya dimana ruko Tita berada.
Kedua mata berkacamata hipermetropia itu berfokus kepada mobil yang terparkir di halaman ruko. Ngapain anak itu di sini, gumamnya. Ia memperbaiki posisi Celita yang masih nyenyak. Berjalan ke pintu, ia menggeser rolling kemudian masuk pelan-pelan. Belum sempat ia menutup kembali pintu besi tersebut ia mendengar suara orang berbicara.
”Bang Tala, udahan! Ibu bentar lagi datang bawa Celi.”
Diyas mendekat untuk mencari sumber suara. Perempuan itu menyebut nama Tala. Benar dia ada di sini. Diyas melangkah pelan-pelan agar suara itu tetap tertangkap dengan bersih oleh pendengaran tuanya.
”Kerja enggak boleh tanggung-tanggung. Ini juga untuk kamu, Tita. Enggak bisa dinikmatin aja apa? Jangan pakai cerewet. Berisik deh! Cukup dirasakan, oke?”
Diyas bergidik mendengar suara aneh itu. Percakapan tadi hilang membuat Diyas menduga-duga apa yang dilakukan oleh kedua orang itu. Diyas berhenti untuk memastikan pendengarannya. Ia tidak ingin berspekulasi macam-macam.
”Benar kata orang, laki-laki kalau lagi galau larinya ke minuman atau wanita.”
Apakah telinganya rusak? Kenapa kedengarannya Tita sedang meracau? Ia bicara terputus-putus seperti sedang mendesah. Diyas menahan napasnya, memastikan pendengarannya tadi salah.
”Aku enggak seperti itu, Tita. Eh, kalau sudah tidak kuat bicara, jangan ngomong lagi deh. Nikmatin aja, kenapa sih?!”
Nikmatin apa? d**a Diyas semakin berdentam oleh amarah. Apa yang mereka lakukan? Dilangkahkan kakinya pelan-pelan, menjaga agar suara itu tetap kedengaran. Dia mendekat ke sumber suara yang berasal dari kamar. Diyas mengurut dadanya menenangkan diri. Beruntung Celita tetap tidur dan tidak mengganggu kegiatan mengupingnya.
”Udah jadi ibu-ibu gini, aku masih kategori wanita, Bang. Kamu larinya ke aku itu sesuai dengan teorinya. Iya kamu memang bisa memilah yang halal dan haram. Di antara minuman dan aku, kamu lebih pilih yang halal.” Satu kata diiringi suara lenguh lesu.
Diyas menggeram. Ia ingin menjambak rambut perempuan itu.
”Tita! Di luar memang kamu pendiam tapi kalau lagi ginian kenapa jadi cerewet sekali sih?! Sekarang panggil namaku. Bentar lagi sampai nih, sebut namaku.”
Diyas melihat mereka. Kedua cuping telinganya memanas melihat keadaan dua orang yang bergumulan di atas tempat tidur itu.
”Dari tadi aku sebut nama kamu. Cepetan Bang, Tita mau ketemu Celi.” Perempuan itu memekik di ujung kalimatnya.
”TALA! TITA!”
”Ibu!” ucap Tala panik.
Teriakan itu membuat Tala mengendur. Ia menutup tubuhnya dan Tita dengan selimut. Ibarat sehabis mencuci pakaian, ia terburu-buru mengangkat jemuran yang masih lembab akibat hujan yang datang tiba-tiba. Keadaan itu menggambarkan hal yang kini mereka alami dengan tepat.
”Bang, gimana ini?” bisik Tita dengan kesadaran yang mulai pulih.
”Ibu tunggu di depan.” Diyas membawa Celita yang tidur di gendongannya.
”Lanjut lagi ya, Ibu mau menunggu kok.”
Tita menampar pipi Tala. ”Ambilkan bajuku!”
”Oke, Kanjeng Ratu.”
”TALA! TITA!”
”Sabar, Bu!” balas Tala terburu-buru merapikan diri. ”Seru ya, Ta,” kedipnya kepada wanita itu.
***