[10] Orang Kaya S*alan!

1467 Words
  Seorang gadis kecil berseragam putih merah dengan rambut dikuncir kuda berjalan ke arah meja resepsionis.   ”Ata mau ketemu Om Levi?” tanya resepsionis dengan name tag Sari.   Ata, gadis yang baru datang tersebut, mengangguk. ”Teteh bisa temenin aku naik lift?” tanyanya.   Sari melihat ke sekitarnya dan menemukan seorang lelaki dengan kemeja putih tanpa dasi hendak melewati mejanya.   ”Bang Tala!” teriaknya. Anak kecil yang dipanggil Ata itu juga melihat Tala.   ”Kamu mau ke atas?” tanyanya sehingga Tala mengangguk. ”Tolong sekalian bawa Permata ke ruangannya Pak Levi.”   Tala mendekat. ”Hello, Permata. Ayo, bareng Bang Tala.” Lelaki itu memegang pergelangan tangan Permata. Sementara itu sang gadis kecil melepaskan dengan cepat.   ”Kenapa enggak mau digandeng sama orang ganteng?” tanyanya.   Sari tertawa kecil hingga terbatuk-batuk sembunyikan kegelian.   ”Laki-laki semuanya jahat.” Perempuan kecil itu berjalan lalu diikuti Tala sambil menggaruk rambutnya.   ”Tahu aja sih, kenal juga belom.” Lelaki muda itu bergumam.   Setiba mereka di lantai pemilik perusahaan tersebut, Permata mengamati Tala.   ”Kenapa, Dek? Abang Tala sudah punya anak lho, kamu enggak boleh naksir sama bapak orang.”   Permata geleng-geleng dramatis. ”Kalau begitu, kamu harus jadi bapak yang baik atuh. Hargai perempuan. Jangan suka menyakiti hatinya karena kamu akan menyakiti hati ibumu kalo sampe berbuat jahat sama perempuan.” Permata masuk ke ruangan Muhammad Akmal Pahlevi.   ”Aduh aduh, anak delapan tahun bisa ngomong begitu. Ya ampun! Centil, kamu jangan berlagak dewasa seperti dia, ya. Berpikirlah sesuai usiamu.” Tala meninggalkan tempat itu.   Pukul lima Tala telah mematikan komputer. Lelaki itu melihat rekan sedivisinya juga melakukan kegiatan yang sama.   ”Pulang duluan, semuanya!” serunya.   Di lobby tempat siang tadi ia melihat Permata, Tala kembali menemukan perawakan gadis kecil itu. Saat ini Permata berjalan dengan Levi. Tala mengejar mereka untuk menyapa bos sekaligus kandidat penggantinya itu.   ”Sore, Pak.”   Levi membalas sapaannya.   ”Terima kasih karena sudah mengizinkan saya kemarin,” ucapnya. ”Oh iya, Permata ini putri Pak Levi?” selidiknya.   Levi menepuk pundak Permata sambil tersenyum. ”Dia keponakan saya.” Terdengar olehnya Tala mengucapkan syukurlah. ”Kenapa, Tala?”   Pemuda itu menggeleng. ”Keponakan Bapak cantik sekali.” Dia tersenyum dengan formal kepada Permata.   ”Om, si eta mah teu sopan ka urang teh.”   ”Dia ini maksud Ata Tala?” tanya Levi.   Permata mengangguk. ”Dia teh genit pisan. Dari tadi goda Ata terus padahal katanya teh sudah punya anak. Nu tos gaduh putri oge masih keneh tiasa macem-macem ka perempuan nu langkung anom.”   Akmal Pahlevi dan Tala Diansyah menjadi patung dadakan. Kedua pemuda Sumatra itu tidak memahami bahasa yang baru saja diucapkan Permata. Levi sebagai om segera meminta kejelasan kepada keponakannya.   ”Macem-macem apa, Ata?”   ”Orang yang udah punya anak mah juga bisa macem-macem sama perempuan muda.” Wajah Permata berubah sedih harus mengulang kalimat menyakitkan itu.   ”Ata.” Levi membungkuk menyamai tinggi dengan Permata. ”Tidak semua laki-laki seperti itu, Ata. Bang Tala orangnya baik. Seperti Om, dia enggak suka jahat sama perempuan.”   Tala tersenyum pahit. ”Permata memang pintar. Kamu pasti tidak akan bertemu dengan lelaki seperti itu karena sejak kecil sudah mampu menyisir karakter laki-laki.”   ”Maafkan Permata,” kata Levi tidak enak hati. ”Permata punya pengalaman buruk dengan laki-laki jahat. Sampai sekarang dia tidak percaya kepada lelaki dewasa karena berpikir kalau orang-orang seperti kita punya sisi jahat.”   ”Enggak masalah. Permata betul. Dengan begitu dia akan sangat berhati-hati untuk mengenal dan menyeleksi teman atau mungkin pasangannya nanti.”   ”Ayo Om kita teh harus siap-siap! Kan mau pergi ke acara pentingnya Om!” desak Permata. Matanya menatap bengis kepada Tala.   ”Oh iya. Kalau gitu kita jalan. Kami duluan, Tala,” pamitnya.   Tala mengangkat tangan lalu melambai.   ”Selain baik kepada karyawan, dia juga baik kepada anak kecil.”   ***   ”Dua hari kemarin Celi enggak main ke sini. Sekarang lihatlah dia enggak mau pulang-pulang.”   Diyas melaporkan hal itu kepada Tala. Tala yang sekarang memangku Celita menjalin rambut tipis gadis itu.   ”Susah juga ya kerjaan tukang salon,” ucapnya setelah berkali-kali gagal. ”Cel, rambutnya dipanjangin lagi dong seperti mama biar gampang dikepang.”   ”Tala, perasaan Ibu denger hape kamu bunyi. Enggak diangkat?”   Tala melirik ke ponselnya yang menyala. ”Sekarang Om Tala memberikan perintah kepada Putri Celi untuk membawakan handphone Om ke sini.”   Celita tak mengerti tentu saja. Dia harus dijelaskan sekali lagi agar paham lalu mengambilkan ponsel tersebut.   ”Wah, ini queen-nya Om Tala nih yang telepon. Centil main sama nenek dulu. Om mau terima telepon.”   ”Hay Sa--” Ucapannya terpotong saat yang bicara dalam telepon adalah laki-laki.   ”Kamu sudah bekerja? Kenapa tidak lapor kepada saya?”   ”Oh iya aku lupa, Pak. Pak Zainal sudah merestui aku ’kan? Bapak jangan khawatir, aku akan menyayangi putri Bapak dan bikin hati dia senang dan bahagia.”   ”Kalau begitu, datanglah ke rumah sekarang. Sebentar lagi acaranya dimulai.”   Tala menyentuh dadanya. ”Acara apa? Saya belum bicara dengan ibu saya soal rencana ke rumah Bapak secara resmi.”   ”Datang sendiri.” Haji Zainal mematikan telepon.   ”Kenapa rasanya aku akan dapat surprise?” gumamnya.   ”Aku ke rumah Pak Kumis, Bu. Celitanya nanti Ibu yang antarkan. Kasihan mamanya yang jemput. Waktu aku lewat tadi, tokonya masih rame.”   Ketika Tala melewati ruko Cetita lagi, mamanya Celita itu sedang menuntun pembelinya. Mobil dikendarai Tala dengan kecepatan tinggi setelah lewat dari lampu merah dekat toko Tita.   Rumah mewah di seberang RSUD itu terlihat ramai. Beberapa tenda terpasang begitu indah. Kerlip lampu di pagar yang kokoh menghiasi kegelapan malam. Melajukan mobilnya untuk berputar ke rumah tersebut, Tala merasakan jantungnya semakin bermasalah. Apakah Pak Kumis mengadakan acara ini untuknya?   Memikirkan hal itu, Tala terkekeh. Tetapi perasaannya masih bimbang. Tala segera parkir di ruas jalan yang memang diisi oleh beberapa mobil mewah. Ia turun dari mobilnya dan masuk lewat pagar utama. Tamu-tamu berkeliaran sepanjang mata memandang. Meja kursi telah terisi. Beberapa tamu ada yang berdiri. Semua itu membuat Tala berpikir kenapa Pak Zainal mengundangnya pada acara keluarga sedangkan selama ini tidak pernah.   Sebuah pesan dari w******p Syerin membuat langkah Tala terhenti sesaat. Ia mulai curiga mungkin Pak Kumis yang mengirimkannya. Sebelum membaca rentetan pesan dari kekasih, ia melihat ke samping sekitar sepuluh meter darinya ada Zainal berlipat tangan. Lelaki tua itu tengah mengobrol dengan manusia seusianya. Tidak mungkin dia si pengirim pesan yang sekarang baru saja masuk lagi ke ponsel pintarnya.   Tala!!   Tala jelek!!   Kamu kemana aja?!   Kenapa enggak pernah jawab telepon aku?!!   Pesan dikirim kemarin. Tala belum sempat membacanya. Telepon Syerin yang tidak ia jawab alasannya karena ia memang tidak sadar. Tala tidak memegang handphone selama di Bengkalis. Dan semenjak bekerja di kantor Levi, Tala terlalu asyik dengan tujuannya untuk mendekatkan Tita dan Levi.   Aku udah durhaka sama papa   Kamu enggak bisa temenin aku?   Tala!   Kamu dimana?   Tala. Maafkan aku. Kita harus pikirkan lagi hubungan ini. Aku butuh waktu dan aku juga yakin kamu pun butuh waktu. Dengan berat hati, walau aku sangat cinta sama kamu, aku minta kita istirahat dulu. Aku ingin kamu konsentrasi sama pekerjaan kamu tanpa pikirin gimana hubungan kita ke depan. Tala, aku sayang banget sama kamu. Tapi aku juga mencintai papaku. Aku cuman punya dia di sampingku sejak kecil. Melawan perintah papa bikin aku jadi anak enggak berbakti. Saat ini, aku minta sama kamu, berikan aku waktu untuk bikin papa aku bahagia. Aku percaya dan sangat yakin kita akan bersatu kok suatu hari. Tapi sekarang kita udahan dulu. Tala... Aku cinta kamu. Jangan lupakan itu.   Lelaki itu menelan ludahnya setelah membaca chat panjang kekasihnya. Ia ingin menghampiri Syerin yang malam ini terlihat sangat cantik. Busana yang dipakainya adalah gaun yang beberapa waktu lalu mereka beli. Iya, waktu itu kata Syerin akan ada acara keluarga. Berarti acaranya itu malam ini.   Ketika akan melangkah, seluruh cahaya telah dipadamkan kecuali satu lampu yang disorotkan kepada Syerin dan lelaki di sebelahnya. Tiba-tiba jantung Tala nyeri melihat siapa yang berdiri di sebelah kekasihnya.   ”Terima kasih sudah hadir di acara keluarga kami,” ucap Pak Kumis yang memegang setangkai microfon. Lampu disorotkan kembali kepada Syerin dan Levi.   ”Silakan dimulai acara tukar cincinnya.” Tala semptuliuli ketika membaca pesan Syerin sehingga ia melewatkan acara sambutan dari Zainal. Saat ini kekasihnya bertukar cincin dengan lelaki baik itu di hadapan semua tamu.   Tala ingmerusaksak acara tersebut tetapi dia ingat permintaan kekasihnya. Syerin ingin memberikan papanya sebuah kebahagiaan. Acara ini sudah disetujui oleh Syerin. Jika Tala maju, dia akan memberontak sendirian.   Tala bimbang. Apakah ia sanggup memalukan dirinya sendiri di acara orang besar itu? Lama-kelamaan lelaki itu mundur teratur dengan membawa keperihan di hatinya. Menurutnya, Syerin mengambil langkah ini secara tergesa-gesa tanpa berdiskusi terlebih dahulu. Anak dan bapak itu sama-sama tidak pernah menghargai dirinya. Kastanya benar-benar rendah dari mereka para borjuis.   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD