[09] Lingkaran Takdir

1453 Words
  ”Atau kamu mau minta izin dari aku dulu sebelum menikah?” Dalam bayangan Cetita, Tala tak sempat berpikir ketika menjawab pertanyaan itu. ”Ya ampun, Cetita!” Lelaki itu tertawa keras seperti kebiasaannya. ”Untuk apa juga aku lakukan itu? Kamu enggak sadar dengan pertanyaan itu? Memangnya aku perlu mendapatkan izin dari kamu? Menurut kamu, pendapatmu nanti akan mengubah keputusanku untuk menikah? Eh, Cetita? Kamu kocak sekali. Enggak ada pertanyaan yang lebih  lucu lagi? Ada? Tidak? Ternyata kamu ini perempuan yang terlalu percaya diri.”   ”Aku--”   ”Maksud kamu mau bercanda atau serius, keduanya kedengaran sangat menggelikan. Aduh,” ucapnya sambil mencongkel telinga dengan kelingking, ”sampe sakit perut ya Tuhan. Tita. Yang mau menikah itu aku dan Syerin. Beroleh restunya sudah dari Pak Haji Kumis. Dan untuk apa coba aku minta izinnya sama kamu? Ini nih kamu pasti baperan lagi. Tita-Tita, kamu udah bukan remaja lagi. Aku deketin kamu dua minggu ini bukan berarti aku ada perasaan sama kamu. Itu semua karena aku ingin membujuk kamu supaya memberikan kesempatan kepada bosku. Cetita, ayolah! Aku ingin memastikan kamu tidak punya perasaan apa-apa kepadaku.”   Tala lupa kalau suaranya tidak lagi berbisik.   ”Kamu naif sekali, Cetita. Seharusnya aku bersikap seperti pertama kali bertemu bukan? Say hello and smile sehingga kamu tidak salah paham. Kamu tahu Cetita, aku mencintai perempuan lain. Punya anak tidak mendewasakan cara pikir kamu.”   ”Oke, stop!” Suara Tita serak.   ”Stop? Aku enggak bawa mobil kenapa disuruh berhenti. Kamu lagi ngigo?” tanya Tala bingung.   ”Bukannya kamu tadi bilang aku naif?” Tita menyuarakan kebingungannya juga.   ”Naif gimana? Aku enggak ngomong apa-apa, Cetita. Ta, jangan bikin aku takut.”   ”Tapi barusan kamu menghina umurku juga cara aku berpikir.”   ”Tita. Mungkin apa yang kamu takutin itu benar, kalau ternyata hotel memang ada hantunya?” Tala menghabisi jarak mereka. Kedua paha mereka kini bersentuhan.   ”Aku enggak pernah mikir seperti itu,” ucap Tita mulai dibuat semakin bingung mengikuti alur pembicaraan Tala.   ”Kamu ingat enggak, dulu kamu takut banget waktu masuk ke hotel.”   ”Tala bodoh! Aku udah lupa ingatan. Aku enggak ingat lagi.” Tita menyadari posisi mereka yang menempel. ”Kamu mau modus hah, minggir atau aku banting?!”   Tala tertawa. Ia merangkul pundak wanita itu. ”Apa? Hah? Kamu deg-degan?” Tala menaikkan alisnya sambil menahan tertawa.   ”Celi udah tidur.”   ”Bang Tala jangan macam-macam!” Tita mencari sesuatu sebagai alat bantuan. Ia menemukan botol s**u Celita yang berisi separuh. ”Aku siram!” gertaknya mengacungkan dot ke arah lelaki itu.   ”Dikasih s**u,” kata Tala semakin menggoda perempuan itu. Ia mati-matian bertahan agar tidak tertawa. ”Laki-laki enggak takut sama s**u, Ta.”   ”Jangan bicara aneh-aneh, ada Celi!” Tita mundur beberapa langkah.   ”Hujannya enggak berhenti tuh Ta. Kamu ingat sesuatu enggak?” tanya Tala menggunting jarak.   Tita menyemprotkan isi botol dot ke wajah lelaki itu. Tala menjerit ulah kaget tak sempat menghindar.   ”Kamu takut banget sih,” ucap Tala menyeka wajahnya dengan tangan. ”Kalau kamunya enggak izinin, aku enggak akan berani, Cetita.”   Tita menekan dahinya, ”Tadi aku bilang apa terakhir kali?”   ”Jangan macam-macam ada Celi,” jawab Tala.   ”Bukan yang itu hiih! Sebelumnya, sebelum aku bilang stop.”   ”Aku lupa, Cetita. Pokoknya apa pun yang kamu dengar tadi tentang aku yang bilang kamu naif atau menghina umur kamu, itu bukan aku.”   ”Sudahlah, lupain aja. Mungkin aku emang lagi ngigau.”   Tita berjalan ke tempat tidur hendak berbaring ketika Tala memanggil namanya.   ”Susunya, Ta?”   Tita melempar bantal ke wajah lelaki itu.   ”Selamat tidur, mamanya Celita dan mimpi indah Centil.” Tala telah berpindah ke sisi Celita tidur kemudian mengusap rambut anak itu.   ”Sebentar lagi aku menikah. Kamu gimana, Cetita?”   Tita yang telah terpejam mempertahankan dirinya dalam keadaan tersebut.   ”Levi bisa kamu pertimbangkan kok, Ta.”   ”Aku udah ngantuk. Sehabis ini aku minta Bang Tala enggak membahas siapa pun lagi untuk mengisi posisi kosong yang kamu tinggalkan. Aku tidak memerlukannya.”   Tala mengangguk. Usahanya tidak akan berhenti sampai di sini. Cetita harus menemukan ganti. Perempuan itu perlu diarahkan untuk mendapatkan seseorang yang baik agar tidak mengulangi kesalahan di masa lalu.   ”Tala emang bodoh!” Lelaki itu menggaruk kepalanya. ”Aku tidur di mana? Kenapa tadi enggak pesen kamar dengan double bed?” Ia melirik posisi kosong di belakang Tita yang menyamping menghadap Celita. ”Bangun-bangun bisa jadi perkedel kalau nyelip di sana,” ucapnya lagi.   ”Aaah!!!”   Bantal satu lagi melayang ke punggungnya bersamaan dengan selimut tebal.   ***   Pagi-pagi sekali mereka telah keluar dari hotel. Rencana liburan untuk Celita pupus sudah. Tidak ada main di pantai atau menikmati semilir angin di atas kapal Roro. Tita membawa anaknya duduk di bagian dalam kapal sedangkan Tala memilih tetap berada di luar. Kedua netra lelaki itu menatap jauh ke samudra yang dilalui.   Lelaki itu bagai patung karena tidak mengubah posisi berdiri sejak tegak di sana. Hanya bahunya sesekali naik turun yang menandakan bahwa lelaki itu manusia yang membutuhkan bernapas. Tiga puluh menit berdiri ia putuskan mencari Cetita.   ”Aku ingin kamu meneruskan hidup dengan seseorang yang udah pasti bisa bikin kamu dan Celi bahagia.”   ”Dalam kepala pintar kamu, yang bisa membuat seseorang bahagia hanya orang yang punya digit nol banyak di bank. Padahal kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang.”   Tala terdiam. Selama ini ia telah terdoktrin bahwa uang yang tidak dia punyailah penghalang restu hubungannya dengan Syerin. Kalau bukan uang, lalu kenapa sampai beberapa saat yang lalu Haji Zainal tidak mengizinkannya melamar Syerin? Bukankah untuk menikah hanya dibutuhkan tekat yang kuat? Teman-temannya yang menikah sebelum mendapatkan pekerjaan mengatakan  hanya niatlah yang mereka punyai untuk melamar anak orang. Setelah menikah, pekerjaan bisa dicari.   Namun, lagi-lagi pendapat itu disanggah kuat oleh Zainal. Keluarga tidak bisa dihidupi hanya dengan modal nekat tetapi harus dengan pangkat. Punya pekerjaan tetapi masih ajudan orang, tidak akan bisa membuat hati istri senang. Kalau ingin menikahi anak seorang juragan maka kamu harus punya pangkat di atas juragan, itu kata Haji Zainal. Haji Zainal seorang pengusaha kaya raya yang punya banyak ajudan. Tala telah menjatuhkan hatinya kepada putri bapak matrealistis tersebut. Mau tidak mau selama ini ia telah dicekoki oleh kalimat ’uang sebagai sumber segala kebahagiaan.’   ”Kamu benar. Ada seorang ayah yang memberikan anaknya kepada pemuda pengangguran tanpa takut anaknya nanti hidup susah. Cara berpikir seperti itu harusnya yang dipakai oleh Pak Kumis.”   ”Lalu bertahan dalam diam melihat anaknya ditinggalkan dan menjadi benteng kokoh saat istrinya mengadu betapa kasihannya anak mereka yang disia-siakan? Uang juga sangat diperlukan untuk hidup tetapi bukan uang tuhannya.  Yang dilakukan Pak Kumis sudah benar. Dia hanya ingin menyerahkan anaknya kepada lelaki yang mampu. Kalau memang kamu orangnya, kamu harus membuktikan kepadanya. Masalahnya bukan hanya materi yang harus kamu tunjukkan kepadanya tetapi sebuah kepercayaan. Jangan menyalahkan beliau untuk semua masalah yang kamu lalui dalam hubunganmu dengan putrinya.”   ***     ”Kemana pacar kamu? Biasanya mobil kamu hanya jadi hiasan garasi Papa,” sindir Zainal saat Syerin turun untuk sarapan pagi itu.    Mata gadis itu telihat bengkak ulah menangis semalaman. Bertengkar dengan papa merupakan pilihan terakhir dalam hidupnya. Dirinya tidak pernah tega membalas kata-kata papanya sedangkan kemarin ia sudah membentak papanya. Ia sangat menyesal karena itu. Mendengar papanya dijuluki macam-macam oleh Tala, Syerin sangat tidak suka. Sekarang demi lelaki itu dia ambil sikap jahat dengan bersuara keras serta memaksa papa untuk menuruti keinginannya.   ”Dia kerja, Pa.” Syerin memilih jawaban aman. Padahal pada kenyataannya, dia sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukan lelaki itu sehingga teleponnya selalu diabaikan.   ”Papa ingin kamu jalani dulu dengan lelaki pilihan Papa. Lalu kita lihat apa yang dapat dilakukan pria yang kamu banggakan itu  setelah mengetahui bahwa laki-laki yang Papa pilihkan untukmu jauh lebih berbudi dibandingkan dia.”   ”Papa masih maksa mau jodohin Syerin dengan dia?”   ”Ya. Ini hal terakhir yang Papa inginkan dari putri Papa. Perjodohan ini bukan hanya dari Papa tetapi almarhumah mamamu. Sewaktu kamu di dalam kandungan, mama ingin jika anak yang di kandungnya perempuan maka  akan ia serahkan kepada putra sahabatnya. Inilah alasan kenapa Papa selalu menghalangi kalian sebab Papa sangat ingin melihat mama tersenyum setelah keinginannya Papa penuhi lewat kamu.”   Setelah berbicara seperti itu, Zainal berdiri, berikan satu kecupan di ubun-ubun Syerin, dan berlalu.   Sebongkah besar batu bagai memukul d**a perempuan itu. Membuatnya amat merasa nyeri sehingga menimbulkan lelehan sungai hangat dari sepasang matanya.   Ia coba lagi menghubungi Tala tetapi tidak berhasil. Sekarang ponsel lelaki itu dalam keadaan tidak aktif. Sakit di hatinya bukan hanya datang dari satu arah tetapi dua. Syerin tidak menghabiskan makan paginya. Segera setelah mobil papanya keluar pagar, ia pun menyusul kemudian.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD