Denting sendok dan garpu yang dibanting menjadi prolog Syerin setelah mukaddimah yang lebih dahulu disampaikan oleh papanya. Tarikan napas mengakibatkan pundaknya naik turun. Tubuhnya diayun untuk berdiri dari bangku dengan dua kepal tinjuan tegang di balik meja.
”Aku enggak mau dijodohin!” Tegas kalimat itu Syerin ucapkan tidak mengubah ekspresi tenang di wajah Haji Zainal, papanya.
”Aku sudah menemukan orang yang bisa bikin aku bahagia untuk sekarang dan di masa depan. Bahagia itu bukan dari kacamata Papa. Dialah yang bisa berikan aku semuanya.”
Lelaki yang ditinggal mati belahan jiwanya itu menyentuh dahinya dengan pelan. Ia telah berhasil sembunyikan getir ketika kalimat keras itu terdengar. Air wajah tenang yang menghiasi dua pipi itu sudah dilatih puluhan tahun lamanya. Lebih-lebih sejak putrinya semakin berani membangkang nasihatnya, ia tak mengeluarkan pancaran sedih meskipun hatinya terluka. Hanya istrinya yang mengerti kelembutan hati yang ia punyai. Atmanya semakin berlumur duka melihat sang putri tidak pernah ingin mengenal jalan pikirannya yang hanya inginkan Syerin hidup layak.
Ia pernah berjanji kepada mama Syerin akan menyerahkan putri mereka kepada pria baik-baik. Orang itu bukan kekasih yang selama ini Syerin ceritakan dan bawa pulang. Cinta buta putrinya mungkin menutup mata hati sehingga Syerin tidak menemukan cela dari lelaki itu. Sungguh Zainal tidak dapat menjelaskan kenapa ia tidak terima lelaki itu mendampingi putrinya. Yang pasti alasannya bukan hanya karena kasta. Jika masalah tidak memiliki pekerjaan, Zainal punya ladang luas yang bisa lelaki itu kerjakan. Tidak mengapa dia bekerja serabutan sebelum menjadi anggota keluarga tetapi akan menjadi puncak pimpinan setelah masuk ke keluarga besarnya. Namun, kunci masuk lelaki itu telah hilang dan dia tidak dapat membuka pintu restu Zainal meski apa pun keadaan.
”Syerin cuma mau menikah dengan orang yang Syerin cintai. Jangan sakiti Syerin, Pa. Syerin enggak mau melawan Papa. Syerin sangat mencintai Papa jauh sebelum dia. Jangan minta Syerin pilih antara Papa dan dia karena sampai kapan pun Syerin enggak akan bisa. Syerin mohon Papa bisa mengerti perasaan Syerin. Syerin enggak bisa menuruti Papa untuk kali ini.”
Ia menyesal. Mana mungkin ia tega membentak papa yang telah memberikan cinta dan kasih sayang selama ia hidup. Sejak ia mengetahui dunia, ia hanya mengenal papanya. Tidak ada mama sehingga segala kehidupannya diisi bersama papa saja. Lalu apa dia salah meminta kebahagiaan berupa selembar restu untuk menerima lelaki yang membuat hatinya penuh akan cinta selain cinta kepada papanya?
”Dia sedang berjuang, Pa. Dia lakukan apa yang Papa minta. Sebelum waktu yang Papa kasih, dia sudah dapat kerjaan. Papa enggak boleh begini. Papa harus tepati janji untuk berikan dia izin menikahi putri Papa. Karena Papa pasti tidak lupa bahwa hal yang dipegang dari manusia adalah ucapannya. Kalau Papa sudah janji seperti itu seharusnya Papa melakukannya bukannya tetap keras hati menolak dia dengan alasan dia enggak setara dengan keluarga kita.”
Setelah itu, Syerin naik ke kamarnya di lantai dua dengan tangisan yang sejak tadi berusaha ia tahan. Ia merasa sudah keterlaluan. Betapa besar dosanya sebab telah mendikte papa seperti itu. Padahal papanyalah selama ini yang berjuang memberikan segala yang ia minta. Entahlah, Syerin merasa bahwa saat ini ia tidak bisa berpikir jernih karena papanya bukan hanya menolak Tala tetapi juga ingin menjodohkannya dengan pria lain.
Bukankah sekarang waktunya Tala datang dan bicara kepada papa? Sejak Tala mengabarkan bahwa dirinya sudah bekerja, lelaki itu menjadi orang paling sibuk. Ia begitu sulit dihubungi. Jangankan mengantar-jemput dirinya seperti biasa, kabarnya saja Syerin tidak tahu. Ia hanya menelepon sekali semenjak dua minggu yang lalu. Bukankah seharusnya begitu mendapatkan pekerjaan, Tala datang kepada papa?
Nomor lelaki itu tidak dapat dihubungi. Setelah lima kali mencoba, Syerin menyerah. Ia membanting ponselnya lalu mengempaskan punggung di sebelah ponselnya terlentang.
***
”Besok kamu kerja?”
Suasana telah dingin di antara mereka. Kesal yang menjalar di kepala Tita telah surut setelah ia bilas seluruh tubuhnya di bawah shower. Hotel yang mereka tempati itu berada di dekat Pantai Marina. Ia menjadi bangunan yang berdiri gagah apabila dilihat dari pinggir pantai.
Seharusnya malam ini mereka keluar untuk menikmati pemandangan alam di bebatuan pantai. Sayangnya hujan menahan mereka tetap berada di dalam. Pun si batita kesayangan Tita telah berbaring santai sambil mengemut dot di tempat tidur. Sesekali ia melepas botol dari mulut kemudian memukul-mukulkannya ke kasur sehingga mencetak bulatan bekas air s**u.
Tala menggaruk rambut dan memamerkan giginya. ”Minta izin sama Pak Levi pasti dikasih.” Lelaki itu menelepon bos besarnya dan bicara santai layaknya teman alih-alih karyawan baru.
”Jadi, gimana tadi pagi dengan Pak Levi? Ada kemajuan?”
”Maa.” Celita bangkit dan merangkak naik ke pangkuan mamanya. Ia menyerahkan botol dotnya kepada Tala. Celita telah cukup tidur dan sekarang matanya tampak berseri.
Tita memeluk sang putri erat kemudian mencium rambut yang wangi strawberry.
”Jadi,” ucap Tita meniru Tala, ”jauh-jauh bawa kami ke sini hanya untuk membicarakan hal itu?”
”Bukan.” Tala mengambil Celita kemudian membaringkan sembari memukul pantatnya. Ia berharap si Centil segera tidur karena tidak ingin telinga anak kecil itu mendengar apa yang akan ia sampaikan kepada mamanya.
”Celi udah kenyang tidur dari tadi siang. Walau kamu paksa dia pake lem di matanya, dia enggak akan bisa tidur lagi.”
”Terus gimana? Dia mau begadang?”
Tita angkat bahu.
”Ta.”
Tala menyerah untuk membuat Celita memejamkan mata. Dia belakangi Celita dan bicara dengan cara berbisik. ”Ini hasil pantauanku selama dua minggu. Dia kompeten banget untuk jadi papanya Celita.” Kalimat terakhir benar-benar diucapkan pelan agar gadis kecil tidak mendengarkannya.
”Aku tidak berminat.”
”Oke.” Tala mengangkat tangan kanan ke hadapan perempuan itu. ”Aku bukan bermaksud ikut campur walaupun kesannya seperti itu. Kamu pasti tahu tujuanku melakukan semua ini untuk siapa. Cetita dengar,” bisiknya kemudian menoleh ke belakang. Celita memutar-mutar tubuhnya seperti tidak menghiraukan mereka.
”Takdir mempertemukan kita tidak semata-mata karena sebuah kebetulan.”
Tita mengangguk setujui aksioma Tala.
”Aku pikir begini, ada suatu tujuan kenapa kita ketemu di sini, maksudku di Pekanbaru, di kotaku. Coba kamu pikir, aku satu dari ribuan penduduk Pekanbaru yang bisa kamu temukan di kota itu. Tetapi nyatanya kamu ketemunya dengan aku. Makhluk tampan luar biasa,” ucapnya menaikkan alis dengan konyol.
Tita tak acuh. Ia tidak ada keinginan melihat wajah yang dikatakan tampan oleh pemiliknya itu apalagi mengakuinya.
”Kamu bisa tangkap penjelasanku atau tidak? Tita, aku ini perpanjangan tangan jodohmu. Akulah yang ditugaskan mencarikan sosok yang akan melengkapi kebahagiaanmu bersama Celi—Kamu mau kemana?” tanyanya saat perempuan itu berlari ke kamar mandi.
Terdengar suara muntah dibuat-buat dari arah perginya Tita.
”Niat banget sih kamu, Ta. Kalau muntah beneran, aku enggak mau tanggung jawab.”
Tita memukul belakang kepala lelaki itu. Tentu saja Tita sudah sangat paham akan hal itu. Tanpa perlu diberi tahu pun, dia tidak akan meminta lelaki seperti Tala memikul tanggungjawab apa pun untuk dirinya.
”Sebentar lagi aku menikah,” ucap Tala serius tetapi suaranya murni berbisik. Tidak ada senyum apalagi tawa.
Tegangan listrik mengalir dari ujung rambut hingga kuku kaki perempuan yang disajikan berita.
Tala tidak bisa membaca arti dari pancaran wajah Tita. Dia terus menjelaskan bagaimana bisa sampai pada titik dimana akhirnya ayah dari kekasihnya memberikan lampu hijau kepada dirinya. Dia merasa Tita berhak mendengarkan cerita itu langsung darinya karena ingin perempuan itu juga bahagia. Bahkan ia pikir dengan mengatakan semua ini kepada Tita menjadi alasan untuk perempuan itu mau memilih lelaki yang ia rekomendasikan. Tanpa ia sadar bahwa dirinya berniat sekali mengotak-atik kehidupan Tita yang nyaris bahagia.
”Oke, stop. Abang dengarkan aku baik-baik! Kamu mau jungkir balik memohon atau menyuap aku dengan berlian dan intan segerobak, aku pastikan aku enggak akan ikuti kamu. Mau kamu utusan jodohku atau bahkan perpanjangan tangan Tuhan pun, aku tetap pada pendirian awal. Aku luar biasa bahagia hanya dengan putriku dan aku tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun melengkapi kebahagiaan itu. Aku minta kamu berhenti melakukan semua ini.”
Wajah wanita itu tenang tanpa amarah maupun kesedihan.
”Atau sebenarnya kamu mau minta izin dari aku dulu sebelum menikah?”
***