Pukul dua siang ketika Celita akhirnya bangun, Tita memberi anak itu makan. Batita semok itu mengajak ibunya berjalan-jalan sehingga butiran nasi jatuh di mana-mana. Celita ke toko dan memukul pintu rolling.
”Ada apa, Sayang?”
”Amamaa. Hoom,” ucapnya menunjuk ke pintu yang tertutup rapat. Setelah itu terdengar suara bel.
”Ada tamu.” Tita menaruh piring ke lantai kemudian memutar kunci. Ia geser rolling door.
”Bang Tala! Mau ngapain lagi?”
”Hoomaa! Zaaza hoom Li kaa.”
”Kamu bicara apa sih, Centil?” kata pemuda itu mencubit wajah Celita.
”Celi makan, Om,” sahut Tita. Ia ambil piring Celita kemudian membawanya ke belakang.
Tala menggendong si Centil semok itu mengikuti mamanya. ”Kamu enggak buka?”
Tita tak menghiraukan lelaki iseng itu. Kalau ditanggapi, hanya membuat dirinya jengkel. Tita malas meladeni yang pada akhirnya akan membuatnya sakit kepala.
”Iiih yang habis jalan-jalan sama Om Levi sombong banget sih. Kemana aja tadi, Ta?” tanya Tala tak lelah diabaikan.
Perempuan bertubuh berisi itu mengentakkan kaki sebelum pergi ke depan. Tala menelan saliva karena tak sengaja melihat tubuh belakang wanita itu. Ia mengucapkan istigfar supaya setan-setan pergi dari kepalanya.
”Emak kamu bikin napas Om sesak.” Huft. Tala menarik napas.
Itu bukan yang pertama terjadi pada tubuhnya. Matanya sering menabrak batas sopan kepada wanita yang telah melahirkan Celita itu. Dia bisa bersikap santai padahal darahnya berdesir seperti air akan mendidih.
”Mamanya Celi enggak bisa apa gayanya bagusan dikit? Ini nih banyak baju bagus. Pilih yang paling cantik supaya banyak yang suka.”
Saat itu Tala mengucapkannya untuk mengalihkan pikiran. Ia benci karena berubah menjadi m***m setiap melihat mama Celita. Jangan sampai perempuan itu mengetahui apa yang dia pikirkan. Tita bisa menggorok lehernya. Kemudian malam itu, dia melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat. Rejeki anak soleh nih, pikirnya saat itu. Keberadaan sang sahabat di hadapan perempuan itu, yang pasti sedang menikmati pemandangan syur di hadapannya, membuat sumbu kompor dalam telinganya menyala. Dengan kuat ia cekik leher perempuan itu. Ingin ia habisi napas perempuan asing yang mengusik sisi kelelakiannya itu.
”Bang Tala mau ambil uangnya lagi?” Perempuan yang sedang ia pikirkan bertanya.
”Enggak. Aku mau ngajak Centil jalan—aw! Eh, kenapa aku dipukul? Tita Tita sakit!” Celita dalam gendongan tertawa kesenangan melihat penderitaan Tala. Tita semakin ganas memukul punggung lelaki itu agar Celita semakin senang. Ia pun tertawa tak kalah keras dari putrinya. Sementara laki-laki yang dipukuli berusaha lari untuk menjauh darinya.
”Mau lari kemana?” tanya Tita menggoda wajah Celita yang menghadap kepadanya saat Tala membawanya lari. Mereka berkejar-kejaran di lantai bawah. Tala membawa Celita menaiki tangga.
”Eh, kenapa naik? Capek! Turun, turun!” Tita mengikuti langkah cepat Tala yang membuat Celita semakin senang dan tertawa melihat ibunya tertinggal di belakang. Tiba di lantai dua, Tala terduduk di lantai. Celita ia lepaskan dan ia sendiri merebahkan tubuh di lantai.
”Capek,” ucapnya. Celita naik ke perutnya kemudian melompat-lompat. ”Emak sama anak sama-sama jahat.” Tetapi Tala membiarkan Celita tetap menginjak perutnya.
”Ta,” ucapnya pelan saat melihat Tita berjalan mendekat, ”kamu enggak boleh. Berat! No, awas Celi! Om enggak mau diinjak emak kamu! Om bisa patah tulang.”
Sebelum Celita berhasil disingkirkan, ibu batita itu dengan ganasnya telah menginjak pahanya membuat Tala menjerit.
”Tita! Kamu berat! Aduh, kakiku bisa patah! Enggak, jangan perut! Kamu enggak bole—AAH!! Sakit!”
Tita terbahak melihat derita lelaki kurang ajar itu. Celita pun tak kalah bahagia melihat omnya kesakitan.
”Itu balasanmu!” ucapnya kemudian duduk menyandar di dinding.
Ruangan bagian atas itu kosong. Tita belum menggunakannya karena lantai bawah sudah lebih dari cukup.
”Di sini panas banget seperti di neraka ketujuh. Kita turun aja,” ajak Tala berdiri.
”Capek.” Tita berselonjor. ”Bang Tala mau dapat pahala?”
Mata Tala memicing.
”Gendong dong ke bawah,” ucapnya.
”Amit-amit! Bisa remuk semua tulang aku!” Dia meninggalkan Tita yang menatap punggungnya dalam kobaran amarah.
”KAMU YANG KURUS SEPERTI TUSUKAN BAKSO BAKAR!”
***
”Damai,” ucap Tala berjalan di belakang Tita.
Perempuan itu menaiki tangga kapal dengan hati-hati. Celita diserahkan kepada Tala atas permintaan lelaki itu. Jadi, saat ini Celita kembali berada di tangan Tala. Tiba di atas, mereka disambut angin laut. Samudra membentang dibelah oleh Kapal Roro yang mereka tumpangi.
”Iya, damai. Nanti aku ditinggal di pulau kalau masih kesal sama kamu. Iya, ‘kan? Siapa juga yang enggak bisa baca pikiran jahatmu. Atau sekarang kamu sedang pikirin cara untuk dorong aku ke laut.”
Tala mencekik leher perempuan itu pelan. ”Iya. Aku bunuh dan cincang terus kubuang jadi makanan paus. Pasti mereka senang makan daging padat.”
Tita menendang tulang kering lelaki itu. ”Abang! Hina terus, ayo! Kamu enggak pernah mikir orang yang kamu hina akan sakit hati. Bicara bukan hanya pakai mulut tapi juga pakai otak!”
Orang-orang di sekeliling mereka melirik. Tita tidak hiraukan. ”Aku diam bukan berarti aku senang fisik aku dihina-hina. Biar gendut tapi aku enggak minta makan dari kamu! Aku cari uang sendiri dan beli makan kesukaanku enggak nampung uang ke kamu. Apa salah kalau aku gemuk? Aku nyakitin mata kamu? Aku enggak pernah suruh kamu melihat aku!”
Tala mengusap kepala Celita kemudian menarik tangan Tita lembut.
”Jangan mengamuk di sini, Cetita.” Ia hela tangan perempuan itu masuk ke dalam ruang VIP kapal di mana ada jejeran tempat duduk dan suguhan televisi. Ia mendorong tubuh perempuan itu duduk di sudut kapal kemudian ia susul di sebelahnya.
Semenjak duduk, Tita tidak lagi berbicara. Perempuan itu hanya menatap ke depan pada laut yang sedang mereka seberangi. Beberapa penumpang yang berada di ruangan pun tidak bersuara. Mereka larut dalam ketenangan serta empasan yang sesekali terjadi.
”Si Centil tukang tidur. Baru juga duduk udah bobok lagi.” Tala merebahkan tubuh Celita di bangku sebelahnya yang masih bersisa dua. Ia mengeluarkan kain dari tas milik Tita yang ada dalam pangkuan wanita itu. Tala menyelimuti Celita kemudian mengusap rambutnya.
Tita tetap mendiamkannya. Tala mengambil tangan perempuan itu, menyatukan lima jemari mereka kemudian bersandar lebih nyaman.
”Maaf, ya,” ucapnya lalu memejamkan mata.
Tita menoleh ke sebelah tidak berapa lama setelah Tala terdiam. Napas lelaki itu telah teratur.
”Setengah jam lagi sampai, sempat-sempatnya tidur.” Tita melihat ke Celita yang tidur dengan nyaman. ”Kamu tiru yang bagus-bagus kenapa sih, Sayang, jangan yang jeleknya!”
Setengah jam kemudian mereka masuk ke mobil dan keluar dari kapal yang telah bersandar di dermaga. Langit telah gelap ketika mereka menyusuri jalanan Kota Bengkalis. Rinai hujan memercik ke kaca mobil.
”Apa yang mau kita cari ke sini? Udah malam juga hujan. Naik kapal bukannya melihat laut malah tidur. Ah, ini mah hanya bikin capek bukannya refreshing.”
Tala melajukan mobil hati-hati. Siapa yang mengamuk di kapal? Kalau bukan karena perempuan itu yang malu-maluin, mereka tetap berada di bagian kapal yang terbuka bukan dalam ruangan yang temaram dan bikin mengantuk.
”Kapalnya nyeberang lagi jam berapa?”
”Setengah delapan. Tapi kita enggak naik yang jam segitu. Kita balik besok pagi.”
”APA? JANGAN SEMBARANGAN, YA! AKU ENGGAK MAU.”
”Besok pagi, Cetita. Pasti Celi senang karena dia udah cukup istirahat untuk main di geladak atas kapal.”
”Jadi kamu mau menginap?”
”Kamu mau aku turunkan di sini?”
***
Tala tertawa senang melihat pemberontak itu akhirnya menyerah. Dia berdalih kalau uangnya hanya cukup untuk menyewa satu kamar bukan dua. Ketika perempuan itu akan mengeluarkan uangnya sendiri untuk memesan kamar, Tala menarik tangannya dan bilang ke resepsionis bahwa wanita itu akan mengambil botol s**u putrinya dari tas.
”Aku mau tidur, capek banget nyetir dari Pekanbaru. Kalau kamu setuju, besok kita nyeberangnya sore aja dengan gitu Celi bisa main di pulau ini. Tapi kalau enggak setuju, ya udah kita check out pagi-pagi sekali.”
”Apa pendapatku didengarkan?”
Tita pergi ke kitchenette untuk mengisi botol dengan s**u bubuk dan air panas yang ia bawa dari rumah. ”Celi kemari, Sayang. Susunya sudah jadi.” Tita menyerahkan s**u kepada putrinya. Gadis kecil itu berlari ke Tala yang duduk di sofa. Mulutnya mengisap cairan putih dengan bersemangat.
”Om boleh minta?”
Gadis kecil itu menggeleng. ”Ammaa,” ucapnya kemudian kembali memasukkan dot ke mulut.
Tala tertawa. Celita melihati dirinya sambil mengemut dot.
”Kamu kenapa? Dirasuki hantu pulau?” Tita datang kepada mereka dengan tangan berlipat di d**a.
”Kata Celi aku disuruh minta susunya ke kamu.”
Tita memukul kepala lelaki itu kemudian pergi ke kamar mandi.
”Bikinkan juga yang hangat, Ta. Dingin nih!” teriaknya. Pintu kamar mandi terbuka kemudian sebuah sikat gigi melayang ke kepalanya.
”Hampir aja kena Celi.” Ia tertawa makin keras. Tala Tala bercanda yang nyakitin diri sendiri, ucapnya pelan.
***