[06] Lamaran

1423 Words
  Tita tidak merencanakan akan bertemu dengan Levi di taman itu. Tiba-tiba lelaki perlente yang ramah itu menepuk bahunya. Cukup untuk membuat mulut Tita mengembang dan matanya mengedip tiga kali. Sekarang Tita menjadi penonton kegiatan Levi dengan Celita. Putrinya kelihatan senang bisa main di taman. Celita bebas berlari engejar Levi lalu menepuk-nepuk pipi pria itu ketika pura-pura jatuh. ”Bang Levi enggak salah datang ke sini?” tanya Tita saat Levi duduk di sampingnya. Celita didudukkan di antara mereka. ”Maksudnya ke sini?” ”Iya. Ehm, itu ibu-ibu yang lain natapin kamu. Kamu kayak salah kostum. Ehm ... Seperti ditelepon waktu lagi di kantor dan langsung berlari ke sini.” ”Oh itu. Tadi memang habis dari kantor.” ”Minggu masih kerja?” Levi mengangguk. ”Kita liburnya Sabtu untuk bagian surat kabar. Karena khusus untuk edisi Minggu udah dikerjain di hari-hari kerja. Dan di hari Minggu kita kerja untuk edisi Senin. Kalau di bagian iklan sama seperti kantor lain, Minggunya libur.” ”Jadi tadi Bang Levi dari kantor redaksi?” ”Iya.” Giliran Tita yang mengangguk. ”Pantesan pakaiannya rapi banget. Kayak bapak-bapak muda yang lagi ngajak anaknya main.” Levi menggaruk leher kanannya. ”Oh, ya? Apa aku sudah cocok jadi ayah?” ”Kalau fisik sih sudah. Segi umur juga kayaknya paslah. Dan yah, untuk jadi orang tua sebenarnya bukan ditimbang dari cocok enggaknya tapi dari siap atau tidaknya.” Levi tampak paham. ”Aku sudah mencari calon istri sejak satu tahun yang lalu. Sayangnya aku dijodohin sama janda gesrek yang menuduhku sebagai pedofil.” Lelaki itu tertawa. ”Wah, emang ada yang seperti itu? Masih muda banget, ya?” ”Ada. Usianya di atas kamu. Waktu itu dia sudah dua puluh tahun. Pernah menikah. Dan bagi aku itu bukan masalah. Tapi takdir berkata lain. Dia enggak tertarik oleh pesonaku.” Lelaki itu kembali mengukir tawa. ”Sampai sekarang belum dapat calonnya? Ah, kalau laki-laki enggak ada limitnya. Jadi Bang Levi enggak usah khawatir.” Levi berlari ke penjual balon lalu kembali dengan membawa setangkai yang berisi dua balon. Ia serahkan benda bulat berwarna-warni itu kepada Celita. ”Makasih sama Om, Sayang.” Tita mengajarkan. Celita mengucapkan ’syi’. ”Siapa bilang tidak ada limit? Laki-laki dan perempuan sama saja. Perempuan punya batas dan laki-laki pun sama. Kami ingin melihat anak-anak menikah sebelum pakai tongkat dan sebelum duduk di kursi roda. Maksudnya saat masih gagah-gagahnya, di saat itu anak-anak kami antarkan ke kehidupan baru mereka.” ”Tita paham. Ya kalau begitu, dicari.” ”Apa kamu mau bantu aku?” ”Aku? Tita bisa apa? Abang lihat sendiri, hidupku saja begini-begini.” Tita tersenyum ketika Celita meniru ucapannya dengan bahasa cadelnya. ”Justru karena begini-begini aja. Gimana kalau aku bantu kamu jadi begitu?” Levi menunjuk tiga orang di hadapan mereka: wanita berambut dikuncir, lelaki tinggi dengan kaus putih dan celana pendek, serta anak kecil yang sedang menunjuk ke penjual balon. Tita memejamkan mata. Ia tahu maksud lelaki itu. Apalagi dia sering dengar dari Tala kalau lelaki itu menyukainya. ”Bang Levi bisa sampai ke sini, enggak ngikutin aku ’kan?” tuduhnya. Sejak tadi ia merasa aneh. Terlalu kebetulan bertemu dengan si lelaki di taman ini. Yah meskipun ini taman umum sih, klarifikasinya. ”Kamu jujur banget, ya, rupanya?” Lelaki itu terkekeh. ”Ya aku ingin berkunjung ke toko tadi pagi. Tapi waktu tiba kulihat kamu masuk mobil. Jadi aku awasi dari belakang.” Tita menggeleng. Ini salah, pikirnya. Ia tidak bisa diam saja. Dia tidak boleh pura-pura tak tahu. ”Bang Levi enggak bisa mengubah keadaanku yang seperti ini. Hm ... maaf kalau aku kegeeran. Seperti yang kamu sebut tadi Tita orangnya jujur, jadi aku enggak bisa menutup mata kalo sebenarnya Tita tahu apa tujuan Bang Levi ke sini.” Tita menggeleng lagi. Saking seringnya mungkin orang yang melihat akan mengira dirinya sawan. ”Tita sudah merasa bahagia hanya tidur sama Celi. Aku enggak mau tambah satu orang lagi.” Levi tertawa. Ya Tuhan, dia akui  Cetita memang perempuan dengan tingkat percaya diri tinggi. Belum diajak nikah, sudah bicara tentang tidur bersama. Bukankah bisa saja perkataan Levi sebelumnya mengarah kepada hubungan pertemanan dimana dia akan menjaga Tita dan putrinya tanpa menikah. Contohnya sekarang, tanpa ikatan pernikahan mereka bisa jalan ke taman dan membeli balon untuk Celita. Lalu Levi akan menjadi manusia munafik jika bersembunyi dari tujuan yang sebenarnya karena belum melamar sudah ditolak duluan. ”Kamu tahu, aku dengar nama kamu dari teman-teman di kantor. Mereka sering belanja di tokomu. Karena penasaran dengan janda muda itu, aku pun datang ke sini. Sejak itu aku udah tertarik ingin mengajak kamu menjaga Celita bareng-bareng. Kamu tidak mau memberi aku kesempatan?” ”Informannya kurang akurat. Harusnya dia lihat kalau aku selalu kelihatan happy sebagai single mother.” Levi mengangkat Celita duduk di pangkuannya. ”Aku udah cocok loh, Ta, sama Celi. Kamu bisa lihat ini, Celi juga senang main dengan Om, iya ’kan Cel?” ”Cocok dari mana? Celi emang bisa main dengan siapa aja. Dia enggak rewel anaknya. Juga tidak pilih-pilih teman,” bisik Tita. ”Anaknya aja cocok, siapa tahu nanti mamanya ikutan cocok.” Levi masih berusaha. ”Maaf, Bang. Tita saat ini tidak memikirkan masalah kehidupan pribadi. Ehm, fokus hidupku sekarang adalah Celi. Gimana susunya tercukupi, makannya yang bergizi, pakaiannya hangat, dan cinta mamanya yang hanya untuk dia. Di luar itu, Tita enggak pikirin dulu. Tita mau anak Tita tumbuh jadi gadis baik-baik, itu aja. Dan sampai saat ini, aku rasa aku masih mampu melakukan semua itu sendirian.” Levi mengacak rambut Celita lalu meletakkan gadis kecil itu di bangku. Lelaki itu berlutut di rumput tepat di depan putri Cetita. ”Seperinya Om harus terima dijodohkan aja. Bener enggak, Cel?” Celita menepuk-nepuk d**a Levi. Kakinya yang terjuntai ia tendang ke lengan pria di depannya. ”Rencananya aku ingin ajak kamu serius di awal. Jadi kesan kamu ke aku, aku ini bukan lelaki yang suka main-main. Rupanya perempuan yang sudah diseriusi lebih susah daripada perempuan yang pernah di-PHP-in.” ”Kamu orangnya asyik, Bang. Kaya lagi.” Tita mentertawakan dirinya sendiri karena teringat kata-kata Tala. ”Masih banyak perempuan single yang cocok sama kamu.” ”Semoga.” Levi berdiri. ”Mau pulang sekarang atau makan siang dulu?” tanyanya. ”Kayaknya pulang aja. Si centil udah capek juga.” Lalu Tita memukul mulutnya karena mengatai putrinya sendiri. ”Ayo mobilnya di sana.” Ketika di mobil, Celita betul-betul pulas. Balon miliknya diletakkan di bangku belakang. Anak itu nanti akan menanyakan dimana balonnya ketika sudah bangun. Itu pasti. Perjalanan mereka isi dalam keheningan sebab apa yang ingin dibicarakan sudah dibahas tuntas di taman. ”Makasih, Bang.” Tita menerima balon ketika telah turun dari mobil. Celita tetap tidur di gendongannya tanpa terusik saat Tita pindahkan dari mobil. ”Bilang ke teman-teman Abang, aku bukan janda.” Levi menyipitkan mata kemudian mengangguk diiringi senyuman. Suara klakson mengudara sebelum SUV hitam itu menjauh. ”Oh, si Centil Om Tala ketiduran?” Tita membawa Celita ke pintu. ”Bang Tala mau diam aja di sana atau bantu cariin kunci ruko di dalam sini?” Lelaki itu tertawa menyengir sembari menggaruk rambutnya. Ia menarik tas dari pundak perempuan yang sedang menggendong anak itu. Rolling door ia geser lalu persilakan sang empu masuk terlebih dahulu. Ia menyusul setelah mengatupkan pintu besi itu kembali. Tala duduk di depan televisi, mengambil remote kemudian menekan tombol merah. Ia sedang mencari-cari channel saat sebuah kertas melayang ke pangkuannya. ”Ini buat kamu kenapa dilempar ke aku?” ”Apa maksudnya kamu kasih aku uang? Sudah merasa kaya?” Tala berdiri mempersempit jarak. ”Belum. Aku baru kerja beberapa hari. Gajiannya nanti tanggal dua.” ”Lalu ini apa? Kamu dapat dari merampok?” Tala makin dekat, mengakibatkan punggung Tita menabrak televisi ulah berusaha menghindar. ”Begitu kebiasaan emak-emak. Hal yang tak penting masih ditanyakan. Apa susahnya terima aja tanpa nanya asal-usulnya? Dijamin halal. Bukan dari palakan apalagi jarahan.” Tita mendorong d**a lelaki di depannya. ”Aku masih punya uang. Aku enggak terima sumbangan. Kasih ke orang yang lebih membutuhkan.” Tala mengambil tangan Tita dan menaruh amplop ke genggaman perempuan itu. ”Pokoknya ini aku kasih ke kamu, mamanya si Centil. Terserah kamu mau diapakan setelah ini.” ”Aku enggak ngemis!” Tala berdecak. ”Terima aja apa susahnya? Ambil nih ambil!” Tala menarik leher baju kaus yang dikenakan Tita kemudian menyelipkan amplop lalu berlari kencang keluar. Tita bangun dari tegunnya lalu memekik kencang, ”LANCANG KURANG AJAR!” Itu namanya pelecehan! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD