TUJUH BELAS

1675 Words
Hino bersyukur Tania mau diajak tinggal bersama. Untuk itu, Hino pindah ke apartemen yang lebih luas. Sebetulnya, dia ingin mengontrak rumah di daerah pedesaan agar Tania jauh dari orang-orang yang mengenal mereka. Dan itu akan jadi rencana berikutnya. Apartemen yang mereka tempati sekarang adalah milik teman yang ditinggal KKN. Karena Hino mendapat kabar soal kehamilan Tania juga mendadak,  mengajak pindah pun secara spontanitas. Sebelumnya, Hino sudah bertekad akan pisah ranjang sampai wisuda. Hino berjanji pada diri sendiri. Dia akan memperlakukan Tania dengan sebaik-baiknya. Anak dalam rahim Tania akan dia manjakan semenjak dalam kandungan. Melalui cara ini Hino yakin perasaannya kepada Tania semakin tumbuh. Sejak tinggal berdua, Hino lebih senang di rumah. Ia jarang berkumpul dengan sahabatnya di kampus. ”Hai. Baru bangun?” Seperti saat ini, dia tidak ragu memeluk Tania dari belakang untuk mengejutkan wanita itu. ”Ngapain sih?” keluh Tania yang sedang mengoleskan pelembab ke wajahnya. Rangkulan Hino terlepas. ”Ada bakso. Mau?” Hino selalu bawa makanan ala kampus. Setiap pulang dari kampus tidak pernah absen. ”Maulah.” Tania cepat-cepat menyelesaikan ritual perawatan muka, lalu kabur ke dapur lebih dulu. ”Nggak bosan, No?” Mereka sudah sebulan hidup bersama. Tania di rumah dan Hino kuliah, tetapi sejak pulang di  siang hari  dia tidak ke mana-mana lagi. ”Nggaklah. Kamu bosan?” Tania memutar bola mata. Tentu saja Tania jengah dengan kehidupan monoton yang dijalani. Dahulu setiap hari dia memiliki kegiatan positif. Dalam apartemen kecil ini, dia sendirian dan tidak ada kerjaan. Yang bisa dilihat hanyalah dinding. ”Kenapa ngeliatin?” tegur Tania mendapati tatapan Hino tidak beralih dari wajahnya. ”Kamu cantik ternyata.” ”Ekhem.” Tania jadi salah tingkah. Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tangannya bergerak lincah menuang bakso ke mangkuk. ”Makanya aku betah di rumah.” ”Ini bukan rumah,” bisik Tania. Tania ingin tinggal di rumah berteras yang ada bunga di halamannya. ”Oh iya, lusa kita pindah ke rumah. Pemiliknya sudah selesai KKN.” Tania sudah diberitahu jika mereka tidak permanen di sana. ”Rumahnya sudah dapat? Berasa nomaden nih pindah-pindah kalau rumah yang kamu cari nggak cocok sama kita.” Wanita itu membawa dua mangkuk ke ruangan depan. Tania lebih suka duduk di lantai dibandingkan kursi meja yang tinggi. ”Lupa bawa kerupuk, No,” ucap Tania dan menganga saat melihat Hino ternyata membawanya. Memang tak pernah lupa dengan makanannya yang satu itu. ”Pilus aja buat aku. Mana?” ”Sebentar aku beli.” Hino berjalan sangat cepat ke luar. Kelakuannya membuat Tania menganga. Tak perlu diminta dua kali, suaminya akan membawakan apa yang Tania ucapkan. Terbukti, hanya dalam sepuluh menit Hino sudah datang membawa dua bungkus pilus. ”Apa yang membuat kamu tidak bosan, Tania?” tanya Hino yang makannya selesai lebih dulu. Tania masih mengunyah baksonya. Setelah menelan, barulah ia bisa bicara. ”Bekerja.” ”Kalau aku minta kamu nggka kerja, kamu marah?” Tania tidak marah. Ia hanya bosan. Ia merasa tak berguna. Akhirnya, Tania menggeleng. ”Sungguh kamu ingin bekerja lagi?” Tania tak mampu menjawab. Mungkin Hino akan tersinggung, pikirnya. Sebab lelaki itu tidak bekerja. ”Maaf, kalau aku tidak bisa mengerti perasaan kamu.” Tania meletakkan sendok dan garpu. Perutnya sudah kenyang. Pentol tinggal tiga dan ia tak sanggup menelannya lagi. Ia menggeser mangkuk itu ke hadapan Hino. ”Aku hanya bicara mengeluarkan perasaanku, No. Bukan berarti aku ingin bekerja. Kalau bicara saja tidak bisa, aku akan tambah stres.” ”Aku bikin kamu stres, ya?” Tania mengambil sendok dan mengisinya dengan bakso. Sendok itu dia arahkan ke depan bibir Hino. ”Baksonya enak. Kapan-kapan beli, ya?” Tangan Tania masih setia di depan mulut Hino. ”Thanks.” Hino menelan baksonya. ”Hm.” Tania menyendok lagi. ”Aku sejak awal egois. Hanya aku yang bahagia, kamu tidak. Apa kamu sudah berusaha untuk menerima aku, Tan? Aku nggak menyalahkan kamu. Kalau seandainya belum, cobalah untuk terima keberadaan aku. Aku ingin kamu juga menikmati proses kita.” ”Akan kucoba,” bisik Tania.   ***   Sehari setelah obrolan mereka, Hino tidak pulang. Tani pikir Hino ingin mengganti waktu kebersamaan dengan sahabatnya. Dia menunggu sampai malam, suaminya tak kunjung pulang. Hari berikutnya, Hino juga tidak kembali. Tania jadi berpikir, apakah dia sudah membuat Hino marah? Suara bel pukul delapan malam. Tania agak heran karena Hino biasanya akan membuka pintu sendiri. Ketika pintu terbuka, Tania melihat orang asing. ”Siapa?” Orang itu memperhatikan Tania dari kepala hingga kaki. Tania juga mengira-ngira perempuan yang berdiri di depannya. Perempuan itu membawa koper berukuran medium dan jaket tebal melapisi tubuhnya. Kontan mata Tania terbelalak. Wanita cantik ini pasti pemilik apartemen, tebak Tania. ”Maaf, silakan masuk.” Tania mempersilakan Perempuan berjaket abu-abu menelengkan kepala, kemudian menyeret kopernya masuk. Tanpa disuruh dia mengistirahatkan tubuhnya di sofa kulit hitam mengilat di tengah-tengah ruangan. ”Teman Hino, ya?” kata wanita itu. Tania cepat-cepat mengangguk. ”Oh, iya waktu itu Hino bilang ada temannya dari Palembang butuh tempat tinggal segera.” ”Maaf, euhm, saya belum keluar. Saya akan segera beres-beres.” Tania nyaris berdiri dan tertahan waktu wanita itu menahan tangannya. ”Nggak apa. Duduk dulu. Kita belum berkenalan.” ”Aku Mira. Nama kamu siapa?” Tania segera menyambut tangan Mira. ”Tania. Namaku Tania.” Keadaan menjadi canggung. ”Sebetulnya Hino sudah memberitahu kalau pemilik akan segera pulang.” ”Nggak masalah. Kamu bisa tinggal di sini seberapa lama kamu mau. Tapi sekarang, izinkan aku istirahat. Boleh ya? Badanku remuk banget.” Tania mengangguk. Mira berdiri. Kopernya tidak dibawa serta. Wanita itu masuk ke kamar yang selalu terkunci di sebelah kamar Tania dan Hino. ”Hino ke mana sih?” gumam Tania antara sebal dan resah. Tania ke kamarnya. Satu orang yang dapat dia tanyai saat ini adalah Nagita. ”Hai, Kak Tania.” Suara Nagita yang semerdu suling dangdut terdengar menyapa. ”Udah tidur?” ”Belum. Lagi begadang dengan Jason.” Nagita berbisik dan tertawa kecil. ”Gi,” tegur Tania tak suka bercandaan Nagita. ”Serius, Kak. Kita nggak aneh-aneh, kok, cuma duduk dan sebentar lagi tidur.” ”Nagita, please, kamu jangan macam-macam.” ”Maaf maaf. Aku lagi senang banget bisa menghabiskan waktu semalaman sama Baby Jason. Itu, Kak, kami di rumah sakit, nungguin teman. Beneran deh, Nagi nggak bisa macem-macemin Jason di sini.” Tania memejamkan matanya. Oh Tuhan, apa Tania harus bertanya siapa yang sedang ditunggui Nagita? Jantung Tania berdetakan tak keruan. Ia menggigit-gigit bibir bawah bagian dalam. Sebelum bertanya, Tania memejamkan mata. ”Nono! Kamu mau ke mana?” Tania benar-benar kaget mendengar suara Nagita di seberang sana. Nono bukankah adalah Hino? Tania berharap dia salah dengar. ”Siapa teman kamu yang sakit, Gi?” ”Hi—” Tuut tuut. Sambungan telepon terputus. Begitu juag tubuh Tania. Ia terduduk di tempat tidur. Tania merasakan matanya basah. Air itu terus mengalir dan membuat Tania terisak-isak. Kenapa Hino tidak mengabarinya? Seberapa parah sakitnya? Apa yang membuat Hino masuk rumah sakit? Apakah ini ada hubungannya dengan Tania?  ***   Karena Tania bilang bosan, Hino mencari cara untuk menghilangkannya. Keesokan harinya, Hino sedang menyetir ke kampus. Di lampu merah dia melihat sekelompok orang naik sepeda. Tiga orang yang Hino perkirakan terdiri dari orang tua dan anak mereka. Usai kuliah Hino pun pergi ke toko mencari sepeda. Begitu dapat yang sekiranya nyaman, Hino pun membawa sepeda pulang dalam mobilnya. Kenapa tidak dirakit lebih dulu dan membawa sepeda utuh ke apartemen? Hino pun menitipkan mobil di rumah Mario dan merakit sepedanya di sana. Hino tertarik untuk mencoba sepeda itu pulang. Naasnya dia terserempet mobil hingga sepedanya oleng. Hino terjatuh dan ia tidak menemukan ponselnya di mana-mana. Saat ini Hino berada di rumah sakit ditemani Nagita dan Jason bergantian dengan Mario yang menjaganya semalam. Kaki Hino perlu digips karena keseleo. Lengannya hanya lecet-lecet, tetapi berhasil membuat Nagita menjerit ketakutan melihatnya sebelum dibalut. ”Tidak semua hal perlu lo umumkan ke seluruh orang!” Hino mengetahui Nagita menerima telepon dari Tania. Dia turun dari tempat tidur untuk merebut ponsel gadis itu, tetapi didahului oleh teguran Nagita. ”Semua hal biasanya gue cerita ke Kak Tania.” Nagita melafalkan suku kata satu per satu. Hino teramat benci harus merahasiakan Tania. Saat ini ia ingin sekali mencekik Nagita karena telah memberitahu Tania. ”Terserah! Lo mau cerita apa aja ke siapa saja, terserah. Asalkan nggak bawa-bawa nama gue!” bentak Hino. ”Hih, sensian amat sih. Cewek tuh, ya, seperti gue. Semua dicurhatin. Nggak bisa gue pendam sendiri. Apalagi sama orang yang biasa jadi tempat gue berbagi. Sama lo, Baby Jason, dan Markom aje gue sering cerita apaa aja. Ini Kak Tania. Marah-marah saja sih, lagi sakit juga.” Ponsel Nagita kembali bergetar ditelepon oleh Tania. ”Matiin hape lo!” perintah Hino seenak jidat. ”Dih, males. Minta tolong tuh, Baby Jason, teman kamu pegangin dulu sebentar. Suntik obat penenang aja deh biar diam. Pakek nyuruh matiin telepon. Tukang atur banget sih.” Nagita tetap tidak mengacuhkan perintah Hino dan menjawab telepon Tania. ”Gimana keadaan teman kamu, Gi?” Nagita melirik Hino sebelum menjelaskan jawaban dari pertanyaan Tania. Sementara itu, Hino menatap Nagita dan Jason yang kini membantunya berbaring. ”Lo berdua, tinggalin gue sendirian.” Jason memberi kode kepada Nagita. Mereka melihat raut wajah Hino yang sangat kesal. ”No. Gue minta maaf,” ucap Nagita setelah selesai bertelepon. ”Gue maafin, tapi pulang.” ”Jason—” Maksud Nagita Jason biarkan tinggal di sana karena Hino hanya marah sama Nagita saja. Hino langsung menyela, ”Kalian berdua.” ”Trus elo gimana?” Jason mengangguk. Hino mengulurkan tangan. ”Handphone lo.” Hino segera mengirimkan pesan teks kepada Tania. Dia yakin Tania pasti sangat khawatir. Hino menulis alamat dan nomor kamar. ”Gue udah minta seseorang datang. Lo cabu! Sekarang!” desak Hino. Nagita mengerucutkan bibir merasa tidak dibutuhkan lagi. Dia segera melingkarkan tangannya di lengan Jason. ”Besok gue balik lagi. Jangan marah lama-lama. Aku sama Baby Jason pulang dulu. Cepat sembuh ya, Nono.” Hino menunggu Tania dengan harap-harap cemas sambil berdoa. Semoga Tania aman di jalan. Ia sangat merindukan Tania.   *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD