Seseorang menyibak tirai tempat tidur Hino. Tentu saja Hino sangat siap menyambut orang yang ditunggu-tunggu. Bahkan Hino telah tersenyum sebelum wanitanya menampakkan muka. Namun, yang terlihat justru wajah yang kesal. Mata melotot dan pipinya merah.
Tania membanting tasnya di dekat Hino.
”Hai,” sapa Hino melambaikan tangan, disertai senyuman.
Tania melirik lelaki itu karena mendengar nada ceria. Irama tak bersalah dan seolah tidak terjadi apa-apa. Juga ... senyuman yang bisa menyetrum ulu hati. Senyuman yang ternyata Tania rindukan karena hilang selama dua hari.
Nanti dulu. Tania mengingatkan batinnya. Dia sudah diabaikan. Ia ingin menenangkan hatinya sejenak sebelum meluapkan kekesalannya dan segala keluh kesahnya. Tania tanpa sengaja membalas Hino dengan mencueki lelaki itu. Hino kebingungan melihat aksi diam istrinya.
Selama itu, Hino menghitung di dalam hati. Tiga ribu dua, bisik Hino saat Tania terdengar menghirup udara.
”Kenapa bisa jatuh?” tanya Tania pertama kali. Suaranya halus.
”Lupa.”
”Serius,” bentak Tania waktu melihat Hino berkata sambil menatap panjang ke wajah Tania.
”Semuanya hanya tentang kamu. Aku lupa kejadian sebelum kamu datang.”
”Kamu beneran nggak akan kasih tahu kalau Nagita nggak membocorkan rahasia kamu.”
Hino mengangguk.
”Bener?” ulang Tania tak percaya Hino akan mengiayakan, bukan malah mencari alasan supaya Tania merasa tidak diasingkan.
”Ternyata aku nggak penting bagi kamu.”
”Kamu pentinglah. Penting banget. Aku nggak mau kamu lihat waktu ngggak keren. Lihat, kaki segede gajah gini. Aku tampan aja kamu nggak mau. Apalagi aku jelek.”
”Bukan nggak mau.”
”Artinya kamu mau?” Volume Hino naik beberapa oktaf.
”Jadi gimana? Aku nggak mungkin jagain kamu terus tanpa membuat kita ketahuan. Aku pulang atau kamu pindah ke rumah sakit lain?”
Hino jadi teralihkan. Dia langsung mengangguk sambil berpikir. ”Aku pulang. Kita sama-sama pulang.”
”Hei!” seru Tania.
”Di rumah sakit lama sembuhnya. Di rumah pasti cepat sehat. Obat aku tuh kamu. Aduh!
Tania memukul dengan keras kepala Hino.
”Pertama, bisa nggak kamu kabulkan satu permintaan aku? Supaya agak mendingan kakinya.”
”Hm.”
Tania pun teringat kalau anaknya Mami Dewi ini manja sekali. Dia sendiri telah mengakui. Bagaimana pun Hino berusaha menjaga sikap saat di rumah, Tania beberapa kali menangkap adegan saat Hino tiduran di kaki maminya. Kepala Hino diusap-usap oleh maminya.
Entah siapa yang meminta. Entah siapa yang duluan. Bisa jadi Mami Dewi yang memanjakan anaknya dan Hino tak menolak. Interaksi mereka berdua sangat manis. Setiap kali tak sengaja melihat hal itu, Tania tidak ingin mengganggu.
”Give me a hug.”
Hino yang kaget saat Tania langsung menghambur ke pelukannya. Lelaki ietu tersenyum lebar di punggung Tania. Kedua tangannya semakin erat mendekap tubuh istrinya. Hino bersorak kegirangan dalam hatinya. Ia resapi aroma Tania yang sudah absen beberapa waktu.
***
Kaki Hino sehat dan bisa berjalan dengan normal. Dia kembali ke aktivitas semula. Sejak pulang dari rumah sakit, mereka pindah ke rumah yang dikontrak Hino.
Tania mulai berubah. Dia selalu bertanya melalui perpesanan apa yang dilakukan Hino. Yang dikirimi pesan merasa tak terganggu. Di kampus Hino tersenyum-senyum sendiri berbalasan pesan.
”Hino.”
Seorang gadis mengenakan blus biru ceruti duduk di sebelah Hino.
Saat itu Hino sedang sendirian. Jason dan Mario pergi ke tempat fotokopi untuk mengopi tugas Hino. Nagita tak ingin Hino mengurusnya. Bocah itu akan datang dan pergi sesuka dirinya.
Hino tidak melirik sama sekali. Tania sedang mengetik, dan sudah berlangsung selama beberapa detik. Tulisannya pasti panjang. Hino tidak sabar untuk membacanya. Mereka sedang membahas anak kucing tetangga yang buang air kecil di sofa. Tania tengah kesal. Hido ada untuk mendengarkan keluh kesahnya. Meskipun hanya tulisan, Hino dapat membayangkan wajah Tania saat marah.
”Malam ini ada acara?” Gadis itu masih berusaha.
Tania
Wajar aku marah. Apa masalahnya aku kesal? Aku cuma ngelempar. Itu udah bagus daripada aku mutilasi. Pemiliknya ngatain aku nggak punya hati. Oke, aku minta maaf karena kucingnya aku banting sampai pusing. Aku juga sampai menyesal. Tapi dalam beberapa menit kucing itu berdiri lagi, berlari. Kamu tahu kan, No, nyawa kucing ada tujuh. Dia nggak akan mati cuma karena dilempar dikit. Salahnya juga. Aku udah minta maaf sama yang punya secara baik-baik, tapi dia nggak mau membersihkan sofa kita. Kalau begini, aku bolehkan membanting orangnya juga?
Hino tertawa tanpa bisa dia tahan. Sebagian mahasiswa di sekitarnya menoleh. Mereka rasa tidak ada yang aneh, habis itu mengabaikan Hino.
”Hino? Asyik banget sih kayanya. Kamu dengar pertanyaan aku?”
”Enggak,” jawab Hino dengan cepat.
”Bisa temani aku ke pesta ultahnya Stefani malam ini?” Menurut gadis itu, Hino biasanya tidak menolak ajakan para gadis. Gadis itu bersaumsi bahwa kali ini ia bisa menjadi partner Hino di hadapan teman-temannya.
”Nggak ada yang lain? Coba minta tolong sama yang lain.”
”Please.” Gadis itu menangkupkan kedua tangannya. Hino melirik penampilan gadis itu. Pakaian tertutup dan berkacamat. Di depan gadis itu ada setumpuk buku.
”Mario aja atau Jason. Mereka pasti senang malam Sabtu ada acara.”
”Ya sudah, maaf. Terima kasih.” Gadis itu hendak berdiri, kemudian Hino menahannya.
”Jam berapa?”
”Hah?”
”Nama lo siapa?” tanya Hino dan mengulkan tangannya.
Gadis itu tampak ragu-ragu menjabat tangan Hino.
”Lo kenal gue, tapi guenya nggak kenal. Nama lo siapa?”
”Sama. Namaku Sama.”
Mulut Hino membula. Bukan bermaksud menghina. Ia hanya terkejut.
”Sama apa?”
”Sama Dia.” Gadis bernama aneh itu tertunduk memeluk bukunya.
”Ya udah, nanti malam sama gue.” Hino tersenyum. ”Jangan sedih.”
Entah terlalu baik atau ada bakat playboy, Hino tidak menyadari buntut ucapannya.
***
Tania tidak berusaha mendekatkan diri. Perkataan Hino tidak dapat Tania bantah. Selama ini Tania pasif. Ia menerima semua perlakuan baik Hino dan tidak meminta. Ia menyadari jika itu salah. Mana bisa hubungan mereka berhasil jika hanya Hino yang mencoba. Dari awal Hino sudah mengatakan bahwa mereka akan selalu mencoba untuk jatuh cinta. Mereka artinya lebih dari satu. Kenyataannya cuma Hino.
Sepulang dari rumah sakit Tania lebih perhatian. Hal itu juga untuk menghindari hilangnya Hino seperti waktu itu. Tania memastikan bahwa Hino sehat dan baik-baik saja.
Menggunakan waktu untuk Hino terasa menyenangkan. Tania menikmati ketika jam-jam kosongnya digunakan untuk mengobrol dengan Hino. Hino pernah mengirim pesan tentang dosennya yang meresahkan di jam-jam kuliah. Hal-hal sederhana yang membuat mereka berdua tertawa bersama.
Pernah kehilangan kontak dan mendapati keadaan Hino terluka, Tania tidak ingin mengalami hal itu lagi. mereka bukan orang asing. Mereka suami dan istri. Seharusnya, antara mereka saling mengetahui. Walaupun tidak semua hal wajib dibagikan, baik buruknya keadaan masing-masing, Tania tak mau melewatkannya.
”Wah, ada acara apa? Tumben keluar?”
Tania melipat tangan di d**a sambil melihat Hino menyisir rambutnya.
”Bantu teman. Kasihan dia.”
Tania mendekat. Dari balik cermin dia memperhatikan penampilan Hino yang lebih keren dari kesehariannya ketika akan ngampus.
”Pesta?” tebaknya.
”Iya. Kamu emang pintar. Suatu saat kamu juga aku ajak ke pesta. Sekarang anggap aja belum waktunya karena teman-temanku belum pada nikah. Setamat kuliah nanti mungkin kita akan banyak dapat undangan. Kamu sama aku bisa pergi berdua. Eh, bertiga sama anak kita.”
”Pulang pukul berapa?”
Hino serta merta mengejek pergelangan tangan kirinya.
”Sepuluh udah sampai rumah. Nggak bisa ninggalin kamu lama-lama.”
Tangan lelaki itu melingkar di tubuh pasangannya. Dadanya bersentuhan dengan punggung Tania. Hino membalikkan posisi mereka menghadap cermin rias. Dari sana Hino dapat memperhatikan penampilan Tania melalui pantulan cermin.
Tania malam ini terlihat lebih cantik. Dia mengenakan kimono satin berenda di d**a. Ada jubah yang menutupi lengannya. Perutnya sedikit terlihat menyembul dari balik baju. Hino tergerak untuk menyentuh bagian itu. Tangannya atraktif mengusap.
Mata Tania terpejam. Keintiman pelukan itu melenakannya. Aroma parfum yang Hino semprotkan membuainya. Tania tak menyadari ketika tubuhnya dibalikkan menghadap Hino.
Hino mengusap rambut Tania dan wanita itu masih terpejam. Batin Hino berperang. Akhirnya, dia melabuhkan kecupan singkat di dahi Tania. Seketika itu, mata Tania terbuka.
Gemuruh di d**a wanita bertabuhan. Apakah Hino akan menciumnya lagi?
Hino mengacak rambut Tania yang dibiarkan tergerai.
”Hati-hati di rumah. Sampai sana nanti aku kabari,” pesan Hino.
Tania merasa kehilangan.
Setelah Hino pergi, Tania pergi ke dapur untuk membuat s**u. Dia mendengar dering ponsel. Dengan bergegas Tania menghampiri benda yang berbunyi tersebut.
”Ceroboh sekali. Gimana akan memberi kabar?” olem Tania pelan. Dia melihat notifikasi grup dari layar depan.
”Mulanya ambil keputusan sendiri. Akhirnya, selalu minta gue yang membereskan.” Pesan itu dari Nagita.
Tania baru mengetahui ternyata Hino dan Nagita sedekat itu. Siapa lagi yang ada di grup itu? pikir Tania. Dia menantikan seseorang membalas.
Sebetulnya Hino tidak mengunci ponselnya. Mudah bagi Tania untuk melihat isi percakapan dan anggota grup tersebut. Hanya saja Tania enggan melanggar privasi lelaki tersebut. Jika mengintip dari luar, bukankah bisa ditoleransi?
”Gue sama siapa? Gi, lo aja sama gue.” Mario yang membalasnya.
Gawai milik Hino masih dipegang sambil menunggu.
Nagita membalas. ”Baby Jason, gue sudah cantik, menunggu depan kos. Mario enyah kau ke teluk!”
Jason membalas dengan emoticon. Tania tak dapat melihat, sehingga dia melupakan adab. Ponsel itu dia aktifkan dan langsung masuk ke grup. Jason mengirimkan emoticon berpikir.
”Mikirin apa sih, Jason? Lupa arah ke kosan aku?”
Tania menggeleng-geleng tak menyangka adiknya seagresif itu.
Jason sedang mengetik dan semua orang menunggunya.
”Hino ke mana sampai nggak cek HP.”
Mario yang menanggapi pertanyaan itu.
”gue iba sama lo, Pendek. Sudah sama gue aja. Jason cuma perhatian sama Hino. Dan yang dipikirkan cuma read chat kita karena asyik kencan sama si pintar fakultas sebelah. Buat lo, No, simpen hape lo dan fokus aja sama tuh cewek!”
Sebenarnya, Tania belum boleh merasakan kemarahan dan kesedihan seperti sekarang. Dia sendiri yang selalu mengabaikan Hino. Dia tak bisa mencintai cowok itu. Kenapa saat Hino mencari kebahagiaan yang lain, Tania merasakan sesak di dadanya. Ia merasa terhina, padahal tidak seharusnya merasakan itu. Tania meras sedih, padahal dia tak memiliki perasaan khusus. Tania merasa dikhianati, padahal dia tidak pernah memiliki.
***