LIMA BELAS

1470 Words
Hino memperhatikan Tania yang begitu lahap memakan sate madura. Gadis itu sedikit mendesis karena merasakan kuah sate yang pedas. Kesukaan Tania dari dulu adalah kuah sate kacang yang pedas. Hino membantu mengelap peluh yang muncul di pelipis Tania. Setelah mengatakan bahwa Tania sedang ngidam, Mami langsung kembali ke kamarnya. Hino pun tidak bisa mengabaikan permintaan Tania jika memang benar Tania sedang mengandung. Nanti anaknya ileran. Membayangkan hal itu membuat Hino jijik. Amit-amit. Hino masuk ke kamarnya untuk mengambil jaket tebal dan kunci mobil. Dia meraih tangan Tania lalu mereka masuk ke mobil Hino. Selama dalam perjalanan, mereka hanya diam saja. Hino sebenarnya ingin mendengar langsung dari mulut Tania apakah benar dia sedang mengandung. Tania sepertinya lebih memilih tidak mengacuhkan Hino dan menyandarkan kepalanya di jendela sambil melihat ke depan. Setibanya mereka di warung yang dimaksud Tania, gadis itu langsung turun dan menghampiri pemilik warung. Tania menyebutkan pesanannya dan akan duduk di dekat pintu masuk. Hino lalu menarik tangan Tania dan menuntun istrinya untuk duduk di bagian dalam warung. Tania mengikuti tanpa protes. “Kamu hamil?” tanya Hino setelah merasa bahwa rasa penasaran bisa membunuhnya. Tania mengangguk dan masih melanjutkan makannya. “Kok nggak ngasih tahu?” tanya Hino. “Aku juga baru tahu tadi,” jawab Tania. ”Untuk apa lagi ke rumah kontrakan?” Firasat Hino curiga Tania menemui kekasihnya. ”Banyak barang yang belum dibawa. Aku packing.” ”Lalu sampai pingsan itu karena apa? Jangan-jangan kamu bukan packing, tapi jalan ke mana-mana.” “Siapa yang bilang aku pingsan? Aku cuma ketiduran!” jawab Tania abai. “Ketiduran?” “Iya. Aku cuma tidur. Kak Aldy aja yang panik banget sampai ngira aku pingsan!” Hino merasa tak nyaman setelah Tania menyebut nama Aldy. Hino tidak rela ada yang mengkhawatirkan Tania selain dirinya dan Mami tentu saja. Akhirnya Hino diam. *** Hino mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil istrinya. Hino sangat nyaman tidur dengan memeluk Tania. Hino menghirup aroma rambut Tania yang sudah ia hafal. Wangi tubuh Tania seperti lemon. Dan Hino suka memakan buah asam itu seperti ia sangat suka memakan Tania. Tania menggeliat dalam tidurnya. Gadis itu mendengar suara detakan abnormal di telinganya. Pipi Tania menghangat setelah menyadari posisinya saat ini berada dalam pelukan Hino. Rasanya panas tubuh Hino menular kepada Tania. Apalagi setelah melihat bahwa suaminya ini bertelanjang d**a. Ckckck. Kebiasaan buruk, pikir Tania. “Udah ke dokter?” tanya Hino begitu mengetahui Tania sudah bangun. Tania menggeleng di d**a Hino. “Pagi ini kita periksa ya,” ucap Hino. Tania mengangguk. “Berapa umurnya?” tanya Hino. “Kata Dokter Sita sudah tiga minggu masuk empat.” Hino menghitung. Tiga minggu berarti .... “Seumur pernikahan kita,” ucap Hino. Tania mengangguk. “Aku mau turun,” ucap Tania sambil mendorong d**a Hino. “Ngapain? Ini masih pagi,” ucap Hino melihat jam digital di atas nakas yang menunjukkan pukul enam. “Bikin sarapan.” Hino melihat Tania berjalan ke kamar mandi. Rambut ikal cokelatnya Tania gelung ke atas. Gadis itu lalu mengambil baju ganti dan langsung hilang di balik pintu kamar mandi. Hino tersenyum miring membayangkan Tania. Pikiran nakal Hino sering membayangkan dirinya ketika menikmati tubuh Tania. Entah kenapa Hino gusar sendiri karena tidak mengingat malam saat pertama kali ia menyentuh Tania. Walaupun belum ada cinta di hati Hino, tapi ia tidak ingin melewatkan b******a dengan Tania. Tania adalah hak Hino. Sabar. Tania keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Tangan gadis itu sibuk mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecil. Tania duduk di depan cermin riasnya untuk menyalakan hairdryer. “Tan ....” Tania melihat Hino melalui kaca. Hino masih dalam posisi berbaringnya dengan kedua tangan dilipat di bawah kepala. “Ya?” “Sini!” Dengan kening berkerut, Tania menghampiri Hino setelah mematikan hairdryer. Tania duduk di sisi ranjang tepat di samping Hino. Hino duduk dari posisi berbaringnya. Dia menatap lekat manik cokelat Tania yang sedang menatapnya dengan bingung. Hino menjalankan jemarinya di rambut lembab Tania. Ia menghirup aroma rambut Tania yang disukainya. “Lemon,” ucap Hino dengan suara bergetar. Tania merasakan sensasi aneh ketika dirinya berdekatan dengan Hino. Tania meneguk salivanya saat Hino mencium rambutnya. Jantungnya seperti habis berlari ratusan meter. Lalu Hino mendekatkan wajahnya ke wajah Tania. Tania menutup matanya. Lama sekali, tetapi Tania tidak merasakan apa-apa selain detak jantungnya yang marathon. Lalu Tania membuka matanya kembali dan melihat mata Hino yang kelam sedang mengamati wajah Tania. Hino membawa bibirnya ke telinga Tania. “Boleh?” Tania merasakan napas hangat menyerbu telinganya lalu pindah ke tengkuk. Lama sekali Tania terdiam membuat Hino menjauhkan diri. *** Setelah sarapan, Tania dan Hino berangkat ke rumah sakit. Tania menundukkan kepala dalam-dalam saat berjalan di rumah sakit. “Kamu kenapa?” tanya Hino bingung dengan tingkah Tania. “Nanti ada yang lihat,” ucap Tania. “Melihat apa?” tanya Hino. “Siapa tahu di sini ada orang yang mengenali kita. Kalau mereka melihat kita jalan berdua maka habislah,” jelas Tania. Mereka tiba di depan ruang praktik Dokter Sita. Tania duduk di salah satu kursi penunggu untuk menantikan namanya dipanggil. Sementara Hino harus berdiri karena Tania memilih bangku yang tersisa satu di antara ibu-ibu dan suami mereka. Niatnya sih agar Hino duduk di kursi lain.  “Neng udah berapa minggu?” tanya seorang ibu muda yang duduk di sebelah Tania. Dalam pangkuan ibu itu ada seorang balita tiga tahun. “Masuk empat minggu, Mbak,” jawab Tania. “Sendiri? Suaminya mana?” tanya ibu muda itu lagi. “Kerja, Mbak. Nggak bisa nganterin,” ucap Tania agak keras agar Hino mendengar. “Apa-apaan sih?” bisik Hino tanpa suara lalu mendekati Tania. “Lho ini siapanya?” tanya ibu muda itu melihat Hino yang kini berdiri di belakang kursi Tania sambil memegang bahu Tania. Hino tersenyum miring. “Adik saya, Mbak,” ucap Tania polos. Hino kontan melotot dan mendumel kecil. “Ganteng ya, Mo. Semoga si adek mirip om ini,” ucap ibu muda itu kepada anak di pangkuannya sambil mengelus perut besarnya. Kini gantian Tania yang mendumel dan Hino terkekeh. “Nyonya Tania Mahyeza.” Tania tersentak begitu namanya dipanggil. Tania agak gugup untuk menjalani pemeriksaan. Hino merangkulkan tangannya ke pangkal lengan Tania. “Siang Hino, siang Tania,” sapa Dokter Sita begitu mereka masuk ke ruangan dokter itu. “Siang Dok,” jawab Tania ramah. “Periksa pertama kali?” tanya Dokter Sita. “Iya, Dok,” ucap Hino. “Aduh ini pengantin baru, masih malu-malu aja ya,” goda Dokter Sita waktu melihat wajah Tania yang selalu menunduk. “Ayo berbaring di sini.” Tania mengikuti intruksi Dokter Sita dan selanjutnya Tania tidak mengerti apa yang dilakukan Dokter Sita hingga ia melihat bulatan hitam kecil di layar monitor. “Ini dia calon bayi kalian,” kata Dokter Sita. Mata Tania dan Hino terpaku melihat kehidupan baru di rahim Tania. “Kalian beruntung, kandungan kamu  kuat, Tania.” Setelah melakukan USG, Dokter Sita memberikan foto calon bayi mereka kepada Tania.  *** Argio berjalan di loby rumah sakit tempat Dea koas. Adik perempuan Argio itu meminta Argio untuk menemaninya makan siang. Seperti biasa, Argio dan Dea selalu terlibat cekcok jika sudah bersama. Namun, Dea yang begitu manja kepada Argio selalu meminta abangnya untuk mengantar dan menemaninya ke mana-mana. “Kan udah putus, ya udah waktunya Bang Gio buat aku,” jawab Dea. “Eh, Bang Bang tunggu dulu!” Dea menahan tangan Argio sambil memperhatikan seseorang yang dia kenal. “Itu kan Hino. Sama siapa?” tanya Dea sambil menyipitkan matanya melihat Hino bersama perempuan keluar dari ruangan praktik Dokter Sita. Dea tidak dapat melihat wajah perempuan itu lantaran wajahnya menunduk. “Kamu lihat Hino? Di mana?” “Itu Bang baru keluar dari ruangannya Dokter Sita,” jawab Dea. “Mungkin kamu salah orang.” “Nggak mungkinlah! Sama adek sendiri kok bisa salah! Itu anak awas, ya!” “Lho De, elo mau kemana?  Hoi!” Argio menyusul Dea yang berjalan cepat ke dalam rumah sakit. “De.” Argio pun ikut menerobos ruangan praktik Dokter Sita dengan nafas satu-satu. “Itu tadi Hino kan, Tante?” tanya Dea tanpa sopan santun. Dokter Sita menghentikan kegiatan memeriksa pasiennya lalu melihat calon dokter urakan di depannya. “Iya. Itu adik kalian. Kalian ketemu dia?” tanya Dokter Sita. “Dia ngapain kesini, Tan?” tanya Dea. “Nemenin—” “Dasar anak satu itu, emang bandel banget. Beraninya dia ngehamilin anak orang!” “Dea! Lo bicara apaan sih! Belum tentu juga kan si Hino melakukan itu!” tegur Argio. “Lho Bang, dia kan adek kamu! Pasti dia ngikutin kelakuan abangnya lah!” “Sembarangan lo kalau ngomong! Gue cowok baik tau!” bela Argio. Mereka pun lupa untuk menanyakan siapa perempuan yang bersama Hino karena terlalu sibuk berdebat apakah Argio cowok baik-baik atau bukan. Sementara itu Dokter Sita melanjutkan memeriksa pasiennya dengan senyum geli. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD