EMPAT BELAS

1709 Words
LANJUT DAN JANGAN LUPA LOVE. *** Selama tiga minggu di Bandung, tidak sekali pun Hino menghubungi istrinya. Meski kelihatannya Hino kembali bebas seperti sebelumnya, hati Hino selalu resah memikirkan Tania. Jika Hino pikirkan lagi, dia tidak tahu apa yang membuat perasaannya tidak tenang. Menikah di usia muda, tidak pernah terbayangkan dalam pikiran Hino. Apalagi perempuan yang ia nikahi tiga tahun lebih tua dibandingkan Hino. Hino akui dirinya bukankah lelaki baik-baik. Hino sering menyakiti hati wanita. Hino sering membuat mereka patah hati. Tetapi untuk Tania, Hino tidak sanggup membayangkan masa depan gadis itu hancur hanya karena kesalahan semalam yang mereka lakukan. Karena itulah, Hino menikahi Tania. Apalagi kedua orang tuanya percaya kepada Tania. Saat melamar Tania kepada Aldy dan Lafila waktu itu, Hino menyadari bahwa Tania telah menautkan hatinya kepada lelaki lain. Tania kelihatan pasrah dalam sakitnya menerima segala keputusan. “Kalau dia masih berhubungan dengan pacarnya selama aku di sini bagaimana?” Pikiran itu tiba-tiba melintas di benak Hino. Meskipun Tania secara sah adalah milik Hino, namun hati Tania bukanlah milik Hino begitu pula sebaliknya. Jika Tania masih bertemu dengan kekasihnya, bukankah itu sama saja tidak menghargai tali pernikahan? Walaupun tanpa cinta, pernikahan mereka tetaplah sakral. “Siapa lelaki itu?” pikir Hino. “Kusut amat muka kamu?” “Lo kata muka gue kaya baju lo!” jawab Hino ketus. “Sotoy ... Baju gue licin gini,” sanggah Nagita. “Tumben banget kamu rajin ke kampus. Mau cepat tamat?” sindir Nagita. “Ya. Gue pengen cepat keluar dari sini,” sambung Hino. “Elah udah memikirkan masa depan nih?” goda Nagita menoel-noel pipi Hino. Ringtone maju mundur cantik menghentikan obrolan tak penting mereka. Hino melirik Nagita yang memasang senyum dua belas senti lalu merogoh ponsel dalam kantong ranselnya. “Kak Gio, ada apa, ya?” gumam Nagita. “Halo,” Nagita melirik Hino yang ingin meninggalkannya untuk menahan Hino. “Aku di Bandung, Kak.” “Apa?” “Kak Gio jangan bercanda deh! Nggak mungkin. Aku tahu kalau Kak Tania mencintai Kak Gio. Dan kalau memang benar kenapa aku nggak tahu?” “Hah! Bunda nggak tahu apa-apa?” “Ha-halo, Kak Gio.” Selama Nagita berbicara dengan orang di telepon, jantung Hino berdetak hebat. Tania yang dimaksud Nagita sudah pasti istri Hino. Lalu yang berbicara di telepon pasti pacar Tania. “Hoi!” Nagita melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Hino. “Siapa yang telepon?” tanya Hino datar seolah tidak peduli. Padahal yang di dalam sudah tidak sabar untuk mendengarkan. “Pacar Kak Tania,” jawab Nagita. “Oooh.” Hino berusaha menahan rasa penasarannya mendengar kisah cinta istrinya. Ego Hino lebih tinggi saat ini daripada rasa ingin tahunya. “Kamu nggak lihat apa wajah aku saat ini sedang minta ditanya sedang ada masalah apa?” kata Nagita cemberut. “Kalau mau curhat, langsung aja. Nggak pakai tampang pengen digaplok gitu,” ucap Hino datar. “Ya ampun. Kamu tu yang tampangnya pengen aku bejek-bejek tahu nggak? Nggak peduli banget kalau temannya lagi pusing!” Hino memutar bola matanya. Ya gue tahu apa yang mau elo sampaikan. “Kak Gio bilang Kak Tania udah nikah!” Nagita meremas-remas ujung kaosnya geram. “Iya nikah dengan gue!” ucap Hino lantang tentunya hanya di dalam hati. “Kak Tania nggak ngasih tahu aku!” lanjut gadis itu. “Elo nggak penting,” sahut Hino lagi membatin. “Nggak mungkin Kak Tania mutusin Kak Gio. Kak Tania cinta banget sama Kak Gio.” “Suaminya lebih keren dan tajir kali daripada Kak Gio-nya elo itu!” ucap Hino. Plak. “Woi. Main tangan nih cewek,” ucap Hino mengelus mulutnya. “Mulut lo jangan asal nyablak! Kak Gio itu nggak kalah cakep kok dari Om Ganteng. Lo nggak tahu aja Kak Aldy dulu sempat putus gara-gara pesona Kak Gio yang bisa menawan Bu Niza. Dan nggak ada yang lebih keren dari mereka berdua,” ucap Nagita menggebu-gebu. “Lo nggak tahu kan Kak Gio itu udah lama berusaha menakhlukkan hati Kak Tania? Baru aja mereka jadian, eh, udah putus dengan rumor begini.” Suara Nagita kali ini terdengar lemah. *** Hino mengingat kembali percakapannya dengan Nagita. Nagita menceritakan bahwa sebelumnya Tania mencintai Aldy. Hah! Dan saat ini Tania dan Aldy sangat dekat. Gadis itu, apa yang membuatnya dikelilingi oleh lelaki seperti Aldy? “Yang penting sekarang dia adalah milikku seutuhnya,” ucap batin Hino membuatnya tersenyum. “Dia mencintai Gio,” bisik batinnya yang lain. “Dia tidak bisa macam-macam karena sudah terikat denganku,” ego lelaki Hino membenarkan. “Bisa saja dia pergi dengan Gio karena kalian berjauhan!” kata batin Hino realistis. “Aaaaaahhh!” Hino mengacak-acak rambutnya. Hino terperanjat saat mendengar lengkingan suara ponselnya. “Bang Aldy?” Hino melihat nama Aldy berkedip-kedip di layar. “Halo, Bang.” “Hino! Istri kamu pingsan di kontrakannya. Sekarang kami bawa dia ke rumahmu” Sambungan telepon terputus. Hino sudah seperti orang linglung. Dia berdiri kemudian duduk, berdiri lalu duduk lagi. Istri Pingsan Di kontrakan Aldy Membawa Tania Shit. Aldy menyentuh Tania! Hino segera memesan tiket pulang. Dan selama di perjalanan Hino tak henti-hentinya mengumpat. Kenapa Tania bisa pingsan? Aaaaah ngapain Tania pergi ke kontrakan itu lagi? *** Hino tiba di rumahnya pukul sembilan malam. Rumah kelihatan sepi. Jam segini tentunya Mami sudah masuk ke kamarnya. Hino memperhatikan sekeliling. Tania sudah pasti ada di kamar. Hino kembali mengingat cerita Nagita tentang masa lalu Tania. Sulit sekali menakhlukkan hati Tania. Tunggu! Apakah hati Hino sudah takhluk? Dia enggan memikirkan pertanyaan sederhana, tetapi sulit dijawab. Lalu menghapus semua soal dan menuju kamar. Hino membuka pintu kamarnya perlahan. Hanya lampu tidur yang hidup, memperlihatkan Tania yang tidur menyamping. Hino mendekati ranjang dan menumpukan lututnya di lantai agar wajahnya sejajar dengan wajah Tania. Tania meringis dalam tidurnya. Gadis itu terlihat tidak nyaman. Hino menjalankan jemarinya pada alis Tania, sehingga wajah gadis itu sedikit rileks. “Kamu mimpi apa?” Hino bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi. Cepat-cepat Hino menyesaikan mandinya lalu keluar hanya dengan handuk saja. Hino mengambil bokser dari lemari lalu langsung memakainya. Hino lebih nyaman tidur dengan bertelanjang d**a. Setelah itu, Hino mengambil posisi di samping Tania dan menarik istrinya ke dalam pelukan. Tania tidak terbangun dan malah mengalungkan tangannya di pinggang Hino. Hino pun mematikan lampu tidur dan di saat kegelapan menyembunyikan mereka, Hino juga jatuh ke alam mimpi menyusul Tania. Kehangaan dirasakan Tania dalam tidurnya. Gadis itu mengenali aroma manis yang saat ini dekat sekali dengan hidungnya. Tania lalu bergerak dari posisi tidurnya saat merasakan cacing dalam perutnya berdemo minta makan. Begitu Tania membuka mata, ia mendapati pemandangan d**a bidang seorang pria di depan mata. Tania terbelalak lalu menjauhkan dirinya dari tubuh pria itu. Jantungnya berdetak kencang begitu ingat kejadian beberapa bulan lalu. Apakah aku berhalusinasi? “Kok kamu bangun? Masih tengah malam, ayo tidur lagi,” ucap Hino menarik tangan Tania sehingga tubuh gadis itu kembali berbaring di samping Hino. “Hino?” tanya Tania tidak percaya. “Hhhhmm.” Hino masih memejamkan matanya. Dia menarik Tania ke dalam pelukannya. Tania terdiam. Berada dalam pelukan Hino membuat Tania merasakan di sinilah rumahnya. Tania tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Hino. Mereka jarang bertemu apalagi berbicara. Tania tidak tahu bagaimana ia harus bersikap kepada suaminya ini. Tania lalu melonggarkan pelukan Hino. Gadis itu duduk lalu menurunkan kakinya ke lantai. “Kamu mau ke mana?” tanya Hino dengan suara megantuk. “Ke bawah, aku laper,” jawab Tania. Tania turun ke dapur untuk melihat isi kulkas. Sebenarnya Tania bingung bagaimana harus bersikap dengan Hino. Selain memang perutnya yang minta diisi, Tania juga ingin menghindari Hino. “Uuft.” Tania mendengkus melihat isi kulkas dan tidak ada yang dapat ia makan. Tiba-tiba saja Tania begitu ingin makan sate madura. Tania naik lagi ke kamar untuk mengambil dompet dan jaket. Dilihatnya Hino tidur dengan tenang. Tania berjalan dengan hati-hati agar tidak membangunkan Hino. Setelah tiba di pintu kamar, Tania terkesiap kaget saat merasakan tangannya dicekal. “Mau kemana kamu?” tanya Hino. Mata pria itu merah. “Maaf, aku ganggu tidur  kamu,” kata Tania. “Hh. Kamu mau ke mana jam segini?” “Aku laper,” ucap Tania. “Belum makan malam?” tanya Hino menyelidik. Pantas Tania mudah pingsan ternyata gadis ini tidak menjaga makannya. “Udah. Tapi laper lagi,” ucap Tania malu lalu menyembunyikan wajahnya dengan melihat lantai. “Ckck. Perasaan kamu tadi udah ke bawah kan?” selidik Hino. “Nggak ada yang enak. Aku mau makan sate madura.” Hino menganga lebar mendengar keinginan gadis itu. “Ini udah malam banget. Mau nyari ke mana?” tanya Hino frustrasi. “Aku pengen makan itu. Lagian di dekat rumahku ada yang jualan sampai jam tiga pagi,” jelas Tania. “Jauh banget. Terus mau ke sana sekarang?” “Iya,” jawab Tania singkat. “Besok aja gimana? Sekarang aku masakin kentang bakar gimana?” tawar Hino. “Nggak mau. Aku mau sate madura. Lepasin tangan kamu!” ucap Tania. “Nggak bisa. Kamu nggak boleh keluar malam-malam gini!” larang Hino. “Lepasin, aku mau sate Pak Le!” Tania berusaha melepas cekalan tangan Hino. Hino semakin mengencangkan pegangannya membuat Tania kesulitan melelaskan tangannya. “Aku laper. Aku mau sate Pak Le. Lepas tangan aku!” Di malam yang begitu lengang ini, suara mereka kedengaran cukup keras. “Nggak. Nyusahin, Tan!” ucap Hino. Tania menitikkan air matanya akibat larangan Hino. Dirinya ternyata menyusahkan. Gadis itu menangis sambil berusaha melepaskan tangannya. “Jangan menangis!” bentak Hino. Melihat air mata Tania membuat Hino jadi serba salah. Niat hati ingin membujuk, namun yang keluar justru bentakan. Tania menangis semakin kencang. Bukan seperti anak kecil, tetapi terisak tertahan. Itu lebih menyedihkan hingga Hino amat menyesal. Kata-katanya telah menyakiti istri. “Hino!” Dewi yang terbangun karena perdebatan anak dan menantunya langsung membentak Hino. “Kenapa kamu membentak istri kamu seperti tadi?” tanya Dewi kesal. “Bukannya menuruti keinginan Tania, ini malah melarang dengan suara tinggi!” “Tania ingin keluar tengah malam gini Mi. Bahaya, ini jam operasi begal,” jelas Hino. “Kalau tahu bahaya, seharusnya kamu yang keluar menuruti ngidam istri kamu!” ucap Dewi kesal. Hino tersentak mendengar perkataan Dewi. Matanya beralih menatap Tania yang tangisnya tinggal isakan kecil. “Ngidam? Tania hamil?”   ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD