TIGA BELAS

1924 Words
LOVE YUK, TEMS *** “Jadi gimana keputusan Hino?” tanya Ben ketika mereka selesai makan malam. “Hino tetap lanjutin kuliah dan Tania tinggal di rumah ini,” jawab Hino. “Iya. Usulan Papi juga sebaiknya Tania tinggal saja bersama Mami dan Papi di sini. Lagian Tania bisa berangkat kerja dengan Papi,” usul Ben. “Baiklah. Tania akan bekerja dengan syarat pergi dan pulang dengan Papi,” ulang Hino. Tania terpaku di tempat mendengar keputusan yang dibuat semua orang untuk hidupnya. Sejak kecil Tania telah biasa dengan aturan, akan tetapi sejak keluar dari panti, Tania bebas menentukan hidupnya sendiri. Di sini Tania tidak mengerti apakah mereka sudah benar? Tidak ada orang tua yang bisa Tania tanyai bahkan menjadi contoh dalam hidup berumah tangga. Apalagi berinteraksi dengan mertua. Mungkinkah selanjutnya, Tania harus mengikuti segala kemauan mereka? Tania berdiri di depan Hino. Saat ini mereka berada di bandara. Dan seperti biasanya pula, Hino melakukan perpisahan dengan maminya di rumah. Jadi yang mengantar Hino hari ini hanya Tania diantar Pak Joko. “Maaf aku harus pergi,” ucap Hino. Hino merangkul Tania dengan sebelah lengan. Dagu Tania tepat di atas bahu Hino. Gadis yang dipeluk merasa terkejut, tapi enggan berbuat apa-apa. Bahkan semalam, tidak, dari malam pertama, mereka tidur di ranjang yang sama. Tadi malam Hino mengatakan jika mulai saat itu mereka akan menumbuhkan cinta lewat kontak fisik. Sebelum tidur, harus berpelukan. Keduanya tidak bisa terlelap karena sama-sama canggung. Tiga jam setelah pura-pura tertidur, pasangan pengantin baru itu baru terlelap. Paginya mereka bangun dalam keadaan Hino di pinggir sebelah kanan dan Tania di pinggir kiri, dan tengah-tengah mereka kosong. “Untuk sementara kamu tinggal di rumah Mami. Hanya sampai aku mengurus segalanya di sana. Kamu jangan macam-macam dan menganggap aku nggak tahu apa yang kamu lakukan di sini. Mataku ada di mana-mana,” ucap Hino. Tania merasakan bulu kuduknya meremang mendengar ancaman Hino. “Aku pergi,” ucap Hino singkat sambil menepuk pundak Tania dua kali, lalu meninggalkan istrinya. Tania berbalik. Dia berjalan menuju pintu keluar. Namun, ketika kaki Tania sudah mendekati pintu, tubuh Tania dibalik secara paksa. Tania merasakan benda hangat menyentuh bibirnya membuat Tania kesulitan bernapas saat benda itu menggigit kecil bibir serta mulut dalamnya. Tania dibuat sesak napas ketika mendengar bisikan itu. “Aku akan merindukan yang tadi,” ucap Hino lalu benar-benar pergi. Tania terpaku di tempat menatap punggung cowok yang dengan tiba-tiba menciumnya. Gadis itu meraba bibirnya. Jantungnya terasa sedang aerobik. Lama-lama tubuh lelaki yang baru saja membuatnya sport jantung itu hilang. Tania memikirkan ciuman tersebut. Baginya itu adalah ciuman pertama. Ya, Tania mencatat sebagai first kiss. Adegan dewasa malam itu sudah seharusnya Tania hapus memori. *** “Tania, kamu udah siap, Sayang?” tanya Dewi begitu Tania turun ke dapur pagi ini. “Sudah, Mi. Papi belum turun?” tanya Tania menyusun piring untuk mereka bertiga. “Masih siap-siap di kamar,” jawab Dewi. Telah tiga minggu minggu Tania menjalani perannya sebagai istri dan menantu. Hari ini masuk minggu keempat. Setelah menikah, Tania tidak langsung bekerja, baru seminggu yang lalu Tania kembali ke kantor. Seperti perintah Hino, Tania pergi dan pulang bersama Ben. Sampai hari ini tidak ada kabar apa pun dari Hino. Setelah Tania dan Ben selesai, mereka segera masuk ke mobil hitam Ben yang dikemudikan oleh Pak Joko. Saat itulah Tania mendapatkan telepon dari Argio. Sejak Tania memutuskan hubungan mereka, baru kali ini Argio menghubungi Tania lagi. Tania melirik Ben yang duduk di sampingnya. “Siapa? Angkat saja,” kata Ben. “Ng-nggak, Pi. Tania nggak kenal nomornya,” kata Tania gugup lalu mematikan ponselnya. “Hey....” Tania mendengar suara khas Memey memanggil namanya begitu ia tiba di perusahaan. Tania mendekat ke meja resepsionis dan berdiri di balik meja itu. “Tumben .... udah lama aku nggak melihat pangeran tampanmu?” tanya Memey. “Uhm. Kita udah putus,” jawab Tania cuek. “Elaaah ... Kagak percaya. Lagi ada masalah?” “Nggak,” jawab Tania datar. “Eh iya juga sih. Masak badan kayak elo gini dibilang punya masalah!” sela Memey. “Emang kenapa sama badan aku?” tanya Tania meneliti penampilannya. “Kamu gemukan lho. Masak nggak sadar?” tanya Memey. “Oh, ya? Rasanya biasa aja. Pakaian nggak sempit tuh,” jawab Tania. “Tapi aku nggak bohong. Aku emang udah putus,” kata Tania sambil melenggang meninggalkan Memey. “TANIA LO BOHONG KAN?” tanya Memey dan melihat Tania menggeleng. “Ada apa, Tan?” tanya Ben yang mendengar teriakan Memey. “Pa-pak, hehehee. Nggak ada apa-apa,” jawab Tania. “Mari, Pak,” ucap Tania meninggalkan Ben dengan tatapan bingung. Tania duduk di ruangannya. Memang sejak menikah, Tania sudah mulai tidak mengingat Argio lagi. Itu karena Argio juga tidak menemui Tania. Tapi ketika Argio menelponnya, Tania kembali mengingat mantan kekasihnya itu. Mungkin ada kontak batin di antara mereka, tiba-tiba nama Argio muncul di layar ponsel Tania. “Halo,” ucap Tania. “Hai, My Tan.” Suara Argio terdengar lemah. Tania meresapi suara itu. Sampai saat ini suara Argio adalah suara yang menenangkan. Tania menyadari usahanya untuk menghapus Argio belum berhasil. “My Tan kamu udah berubah pikiran? Bilang sama aku kalau kamu nggak serius waktu itu,” ucap Argio merayu. Entah kenapa mendengar suara Argio yang mengiba meluruhkan air mata Tania. Tania berusaha menormalkan suaranya agar Argio tidak tahu bahwa Tania sedang menangis. “Kamu di mana? Kamu pindah ke mana?” tanya Argio. Tania semakin terisak mendengar suara Argio. “Kamu jaga diri kamu ya, Gio. Jangan sampai sakit. Lupakan aku!” Tania mematikan ponselnya lalu terduduk di lantai dengan mata basah. Tania memegang dadanya yang terasa sakit. Saat ini Tania juga merasakan pusing. Tania pergi ke pantry untuk menyeduh teh hangat. “Bu Tania nggak apa-apa? Kok mukanya pucat? Bu Tania sakit?” tanya Mimi, office girl kantor. “Saya sedikit pusing aja. Biasanya dengan minum teh udah hilang,” jawab Tania. “Kalau gitu saya lanjut kerja dulu Bu, permisi.” *** Tania pulang ke kontrakannya dengan Pak Joko. Banyak barang yang belum Tania bawa ke rumah Hino. Setiba di kontrakan, Tania meminta Pak Joko untuk pulang karena Tania ingin beristirahat di rumahnya sebelum mengemasi barang-barang yang perlu ia bawa ke rumah Hino. “Kangennya.” Tania berbaring di ranjang sambil menatap kalender. Telah lebih dua minggu Tania menjadi istri Hino. Sampai sekarang Tania sama sekali tidak berkomunikasi dengan suaminya. Tania merasa bahwa dirinya masih sama dengan Tania yang lajang. Ketukan di pintu mengganggu istirahat Tania. “Siapa? Tahu aja aku lagi di rumah,” pikir Tania. Tania membenahi penampilannya kemudian keluar menuju pintu depan. “Iya sebentar.” “Hai My Tan.” Argio berdiri di depan Tania dengan wajah ceria. Pria itu tersenyum lembut kepada Tania. “Gio.” “Apa kabar, My Tan?” tanya Argio. “Baik. Eh duduk, Gio,” ucap Tania. “Kamu ke mana kemarin-kemarin?” tanya Argio. Tania terdiam cukup lama. Bingung apakah ia harus jujur atau tidak tentang pernikahannya. “My Tan?” “Gio, kita udah selesai. Aku nggak mau nyakitin kamu lagi. Aku mohon lupakan aku, Gio,” ucap Tania. “Alasan kamu memutuskan hubungan kita nggak bisa diterima. Kamu bilang kamu mencintai aku. Kalau begitu, nggak ada alasan yang bisa membuat kita selesai dengan mudahnya karena cinta itu menerima keadaan pasangan apa adanya. Atau kamu hanya mau menyenangkan hatiku? Kurangku apa, Tan?” Argio mulai meninggikan suaranya tanpa panggilan kepemilikan. Argio benar-benar bingung dengan sikap Tania. Argio memperhatikan Tania yang gugup sedang meremas jari jemarinya. Mata Argio melebar begitu melihat sebuah cincin perak yang melingkar di jari manis Tania. Argio membawa tangan Tania mendekat. Deg. Tania merasakan perasaan aneh saat tangannya disentuh oleh Argio. Rasa tenang dulu saat bersama dengan Argio kini berganti perasaan yang Tania tidak dapat artikan. “Ini cincin apa?” Tania tersentak lalu melepaskan tangannya dari Argio. Argio menunggu Tania menjelaskan sesuatu. Lama sekali hingga kalimat gadis yang ia cintai itu membuat Argio tertikam ribuan besi tajam. “Aku sudah menikah, Gio.” Cukup lama Argio terdiam memperhatikan wajah Tania. “Menikah? Kamu sekarang suka becanda ya? Kamu bosan karena aku belum melamar kamu? Nggak usah takut, aku sudah ada rencana bertemu Bunda untuk melamar kamu,” jelas Argio. “Nggak. Aku nggak bercanda, Argio. Aku sudah menikah,” ulang Tania dengan hati perih. Argio menatap mata Tania. Tidak ada kebohongan di mata gadis itu. Yang ada hanya keseriuasan serta rasa takut. “Maafkan aku, Gio. Kamu lelaki terbaikku. Kamu yang membuka mata aku untuk mengenal cinta. Tapi jodoh kamu bukan aku. Aku nggak bohong soal yang kemarin. Aku cinta kamu, tapi kita tidak ditakdirkan bersama.” “My Tan please stop. Aku salah apa?” tanya Argio. “Aku yang salah, Gio. Aku.” Tania menangis tidak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya kepada Argio. “Semoga kamu dapat yang lebih baik dari aku.” Tania meninggalkan Argio yang lagi-lagi terpaku mendengar vonis Tania. Tania segera mengunci pintu rumahnya kemudian meluruhkan tubuhnya di pintu. “Mbak.” Tania langsung menemukan kontak Lafila di ponselnya. “Ada apa, Tan?” tanya Lafila dengan suara cemas. “Dia, Mbak. Aku udah nyakitin dia, Mbak.” Tania menangis histeris, sehingga kepalanya yang akhir-akhir ini sering pusing kembali sakit. “Tan ... Tania!” Suara Lafila hanya terdengar samar di telinga Tania. Udara terasa sesak membuat Tania kesusahan bernapas. *** Tania telah berbaring di ranjang king size yang ia tempati di rumah Hino. Tania mengedarkan pandangan dan heran kenapa ia bisa ada di kamar ini. Tania ingat bahwa dirinya ada di rumah kontrakan setelah kepergian Argio. Mengingat Argio membuat kepala Tania pusing. Tania kembali teringat wajah Argio yang telah ia sakiti. Pantaskah Tania menyebut dirinya manusia? Tania bahkan tidak punya hati sehingga tega menghancurkan hati orang yang mencintainya. “Sudah bangun, Sayang?” tanya Dewi begitu masuk dan mendekati ranjang Tania. “Iya, Mi. Kok Tania bisa di sini?” “Kamu pasti kecapekan sampai waktu digendong Aldy kamunya nggak sadar,” ucap Dewi. “Kenapa bisa ada Kak Aldy?” tepat saat itu Aldy dan Lafila masuk ke kamar. “Sudah bangun ya, Tuan Putri? Kami kira kamu pingsan, tapi rupanya hanya tidur. Kamu udah bikin mertua kamu jantungan melihat Kak Aldy menggendong kamu pulang,” kata Aldy. “Aduh jangan dimarahi begitu menantu Mami. Dia mungkin kecapekan. Tania gimana perasaan kamu sekarang?” tanya Dewi begitu lembut. “Tania udah nggak apa-apa, Mi.” “Tania nggak mual atau apa gitu? Tania mau makan apa biar Mami belikan?” tanya Dewi sambil mengelus pipi lembut Tania. “Tania baik-baik aja, Mi. Tania juga sehat,” jelas Tania. Kini Tania sudah kenal sekali dengan sikap Mami yang satu ini. Dewi mempunyai perhatian dan kasih sayang yang melimpah terhadap orang-orang di sekitarnya. Dewi juga sering terlalu mencemaskan hal-hal yang kecil. “Syukurlah. Tania harus hati-hati, jangan sampai capek!” “Iya, Mi. Lagian kemarin ini kerjaan sedang banyak soalnya Tania tinggal cuti lama,” kata Tania. “Kalau Hino tahu pasti dia marah sekali. Kan dia melarang Tania bekerja. Apalagi sekarang. Sebaiknya kalian bicarakan baik-baik. Hino sudah tahu ‘kan kehamilan kamu?” tanya Dewi. Mata Tania terbelalak. “Apa Mi? Hamil?” tanya Tania. “Iya, Sayang. Kamu ini nggak ngasih kabar bahagia ini ke Mami. Mami sudah lama sekali ingin punya cucu. Sayang anak pertama Mami lama sekali jalannya.” Tania sudah tidak mendengarkan kata-kata Dewi lagi. Tania terlalu kaget mendengar berita ini. “Tania juga belum tahu, Mi. Mami yakin Tania hamil?” tanya Tania ragu. “Yakin sekali, Sayang. Tania hamil tiga minggu.” *** DEG! 10 Juni 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD