”Motor?”
Bukan ini yang Tania pikirkan ketika Hino menyuruhkan turun. Dia kira Hino akan mengajak bicara atau memprotes penolakannya tadi pagi.
Lelaki yang telah berhelm itu juga melapisi tubuhnya dengan jaket kulit hitam serta celana panjang hitam. Hino naik ke kuda besi itu.
”Pakai!” Sebuah helm biru muda dilemparkan ke Tania, hingga mau tak mau Tania harus sigap menangkap. Kalau tidak begitu, benda akan jatuh menggelinding. Tania mengerti betapa kesalnya melihat helm lecet-lecet.
”Biru Doraemon,” gumam Tania. ”Ah, yang benar saja.”
”Eh, bengong. Mbaknya bisa cepat dikit nggak sih?”
”Aku naik di sini?” Tania ragu melihat kendaraan yang cukup tinggi.
”Kalau duduknya di pangkuan, kita naik lagi ke kamar.”
Tania ingin memukul cowok itu dengan helm. Wanita yang rambutnya diikat tinggi itu pun naik. Mulanya biasa. Namun, begitu tubuhnya mendarat di jok motor, ada kupu-kupu beterbangan di perut Tania. Ia tak bisa sedekat ini. Secara naluriah, gadis itu pun mundur.
”Helm-nya dipakai. Kalau sudah, kita berangkat.”
”Kita ke mana ini?”
”Ke mana-mana.” Hino menghidupkan mesin hingga berderum lalu berangkat.
Motor itu jalannya pelan saja. Tania salah telah mencurigai Hino akan mulai modus. Keadaan membuat Tania tak perlu melingkarkan tangan di perut suaminya.
Pagi mulai merangkak naik. Cahaya matahari menyilaukan pandangan. Tania pun menutup kaca helm yang gelap. Tadinya dia sengaja membuka agar bisa merasakan segarnya udara.
Sepeda motor memelan di seberang gedung yang tinggi. Hino mematikan mesin di parkiran pinggir jalan.
”Loh ini?” Tania agak terjekut melihat keberadaan mereka sekarang. Di depan sana gedung Alendra Finance berdiri gagah.
Mereka duduk pada bangku panjang yang tersedia di pinggir jalan raya.
”Sudah sadar belum? Ternyata kamu dinikahi pewaris perusahaan di depan sana.”
Belum. Dan, ya, Tania baru menyadari hal itu sekarang. Ia tak dapat berkata-kata.
”Shock banget muka mbaknya. Berarti baru sadarnya sekarang.” Hino tersenyum kecil.
”Anak Papi satu-satunya itu aku. Anak Mami yang bisa disuruh ini dan itu juga cuma aku. Karena dua alasan itu, aku nggak bisa jauh dari mereka. Mereka minta aku pulang dua kali dalam sebulan. Pertama untuk belajar hal-hal di perusahaan itu. Kedua, dikangeni Mami Dewi Sinta.”
Tania terbatuk mendengar yang kedua.
”Hm ... kamu menikahi si anak mami.”
Hino membuat Tania terkejut sampai jantungnya bertabuhan saat cowok itu ganti arah duduk. Tak lagi melihat ke gedung. Hino saat ini menatap lawan bicara.
”Kita belum pernah ketemu, ya, di kantor Papi?”
Tania menggeleng. Benar juga, pikirnya. Mengapa dia melewatkan anak bosnya jika Hino sering bertandang ke gedung yang sama.
”Tunggu,” batin Tania bermonolog. Bukankah seharusnya mereka bertemu di rapat-rapat? Setidaknya sekali Hino pasti diikutkan rapat untuk mengamati cara kerja papinya.
Tania semakin bingung mengingat masa lalu.
”Aku di rumah aja sama Mami, nggak mungkin ketemu kamu.” Habis itu, Hino tersenyum lebar.
Tania merengut.
”Awalnya, aku pikir kamu merencanakan semuanya karena tahu aku anak siapa. Tapi itu hanya sekilas, nggak bertahan lama, karena sepertinya aku nggak begitu terkenal di kalangan karyawan Alendra.”
”Tidak mudah menikah di usiaku ini. Belum bisa apa-apa, tidak punya apa-apa. Aku sudah mencari alasan untuk menolak perintah mereka, tapi aku juga nggak bisa membuat orang tuaku kecewa. Pernikahan kita adalah untuk kebaikan bersama. Menikah itu ibadah bukan?”
”Aku menikah dengan kamu bukan untuk sehari dua hari, setahun dua tahun, atau lima tahun kemudian pisah. Dalam waktu singkat, aku yakin untuk menikah dengan kamu dan hidup bersama hingga akhir hayat. Nanti kepada kamu aku bercerita tentang semua kegiatan dalam satu hari. Pulang ke Palembang bukan cuma untuk mengobati kangennya Mami. Juga untukku sendiri. Bertemu istriku dan menceritakan semua hal yang kita lewatkan di tempat yang berbeda. Tidur di pangkuan kamu sambil mendengar kamu menceritakan kegiatan harian kamu. Mungkin, setelah pernikahan kita dimumkan, aku akan mengajak kamu makan siang di kantin fakultas aku, bertemu Nagita dan yang lain.”
”Maksud kamu kita tidak akan tinggal bersama?”
Hino mengangguk. ”Seperti yang aku katakan, kita hidup masing-masing.”
”Dan ....” Tania tak tahu apa yang dia harapkan. Namun, mendengar perpisahan yang akan mereka lakukan, untuk apa menikah?
”Kamu tetap bekerja, tetapi pulang pergi dari rumah Mami Dewi.”
”Maksudnya, sebentar ... aku kira ... aku pikir kamu ....” Tania mengatupkan bibirnya. Malu mengeluarkan apa yang dia pikirkan.
”Belum bisa. Papi meminta kita merahasiakan pernikahan. Aku nggak mungkin tinggal berdua dengan kamu di apartemen yang kecil. Temanku bisa datang dan pergi sesuka hati.”
”Oh, oke.” Tania melemaskan bahunya. Pandangannya menatap lurus gedung besar di depan mereka.
”Maaf soal yang tadi pagi,” ungkap Hino.
Kini dua pasang mata itu saling menatap. Tania mengerjab begitu mata mereka bertemu, lalu memalingkan muka.
”Sebetulnya aku selalu bertanya-tanya. Kenapa aku bisa tidak terkendali saat berada di dekat kamu?”
Tania meneguk ludahnya. Pembahasan ini agaknya terlalu canggung dilakukan di tempat umum.
”Ya, kalau kamu ingin kita mulai semua dari awal, baiklah. Aku hanya ingin memastikan satu hal bahwa tidak ada opsi untuk mundur atau menyudahi semua ini. Tugas kita adalah menjajaki hubungan sampai kita sama-sama cinta.”
”Maaf karena aku sudah membuat impian kamu hancur. Bukan aku yang kamu harapkan. Kalau bagi kamu aku terlalu memaksakan keinginan, aku juga minta maaf untuk itu. Aku membuatmu tidak punya pilihan lain, selain menjadi istri anak kuliahan.”
Tania menggeleng. Ia yakin, Hino juga tidak berencana tidur dengannya. Tidak ada niatan untuk menikah di usia muda.
”Kenapa? Kenapa kamu setuju? Aku membebaskan kamu untuk tidak melakukannya. Pernikahan ini maksudku.”
”Aku tertarik sama kamu.”
***
CIYEEE, 9 JUNI 2021