SEBELAS

1184 Words
LOVE, YA. Malam kedua Tania berada di rumah keluarga Ben Alendra. Sejak pukul sembilan pagi, Tania resmi menjadi menantu di keluarga pengusaha tersebut. Tania menangis lagi mengingat nasib yang harus ia jalani. Apakah ini hukuman akibat perbuatannya? Tania segera menghapus air mata begitu mendengar pintu kamar dibuka. Saat ini Tania sedang berada di kamar pengantin. Akad nikah tadi pagi hanya dihadiri oleh Ben dan Dewi dari keluarga Hino. Sedangkan dari pihak Tania hanya ada Aldy, Lafila, dan kedua orang tua Lafila. Itu pun karena mereka bertetangga. Walaupun hanya akad nikah saja, tetapi kamar yang saat ini Tania tempati dihias sedemikian indah. “Kamu nangis lagi?” tanya Hino yang baru saja masuk ke kamarnya. Semalam, waktu Hino mengecek gadis itu di kamar tamu, Tania sedang tersedu-sedu. Agaknya menikah dengan Hino dirasakan Tania sebagai penderitaan. Tania menggeleng. Hino melirik Tania. Diam-diam dia mencebikkan bibir. “Aku kehilangan masa bebasku.” Hino merebahkan punggungnya di kasur pengantin.  ”Aaaaah ... Oh aku lupa, aku masih bebas selama kuliah,” ucap Hino.  “Maaf,” cicit Tania. “Ckckck.” Hino berlalu ke kamar mandi. Memang benar-benar gadis bodoh. Kenapa dia yang meminta maaf? Hhh. Mami bilang dia gadis pintar. “Maaf,” gumam Hino lalu mengguyur seluruh tubuhnya. Seseorang menderita akibat perbuatannya. Ah, bukan Tania saja, mungkin kekasih gadis itu pun ikut kecewa. Begitu banyak orang yang perasaannya Hino hancurkan, termasuk kedua orang tua Hino sendiri serta keluarga Aldy. Satu lagi jika dia sampai tahu ... Nagita Rayanna. ”Di awal semuanya mungkin nggak terima, tapi kita lihat saja. Gue bakalan bikin Tania bahagia. Bang Aldy nggak akan menyesal udah maksa kami menikah.” Hino keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar. Sebelumnya, dia telah mengenakan pakaian di kamar mandi. Matanya mengintip ke ranjang yang mulai saat ini adalah ranjang Hino bersama Tania. Perempuan itu sudah terlelap. Hino memperhatikan wajah rileks Tania yang sedang tidur. Hino duduk di sisi Tania kemudian menyentuh alis yang terlihat mengerut. Mungkin gadis yang telah diperistrinya itu sedang bermimpi buruk, seperti hidup yang dia jalani sekarang. “Ckckck ... Orang ini mukanya biasa banget.” Hino berbaring di sisi Tania yang tidur miring. Kepalanya berbantalkan lengan dengan posisi menghadap Tania yang memunggunginya. Lelaki di usia Hino pasti telah banyak pengalaman bersama wanita. Lain halnya dengan putra Dewi Sinta itu. Selama ini Hino tidak tertarik menjalani percintaan, walaupun banyak mahasiswi di kampus yang sudah menjadi mantan kekasihnya. Semata-mata Hino menerima para gadis agar mereka senang jika keinginannya Hino kabulkan. Jatuh cinta masih jauh dalam angan lelaki yang telah berubah status tersebut. Ternyata jalannya seperti ini. Dia diharuskan jatuh cinta kepada istri yang dinikahi tanpa cinta. Wanita yang jauh dari ekspektasi karena tidak menarik secara fisik ... pada awalnya. Degupan jantung Hino berpacu saat Tania mengganti posisi tidur menghadap Hino. Kata-katanya tertelan ketika wajah polos milik wanita berambut panjang itu terlalu dekat dengan wajahnya sendiri. Bibir Tania tertekuk seolah mimpinya terasa tidak menyenangkan hati. Mungkin Tania memimpikan kekasihnya, pikir Hino. Lelaki berpiyama biru dongker itu mengamati wajah wanita yang telihat tidak rileks. Pipi Tania sedikit berisi, meski tidak bisa dikatakan tembam. Namun, tidak pula cocok dikatakan tirus. Sedang-sedang saja. Alisnya tebal dan hitam. Perias pengantin tampaknya telah merapikan rambut-rambut halus yang memanjang di atas mata tersebut.  Kelopaknya diteduhi oleh bulu mata yang cukup lentik. Dia memiliki bibir yang bervolume dan berlekuk simetris. Baiklah, Hino tak bisa mengatakan gadis itu biasa saja. Hino memejam saat fantasi mengajaknya berkelana di bibir merah istrinya. Tidak. Hino hanya akan tidur malam ini karena tadi sangat melelahkan. Bukan perkara berdiri lama-lama karena mereka memang tidak melakukan penerimaan tamu yang seperpanjang. Hino lelah melihat wajah Tania yang mendung sepanjang acara. ”Segitunya nih cewek nggak setuju jadi bini gue,” gumam Hino lalu membelakangi Tania.  “Siapa pria beruntung itu?” tanya Hino kepada Tania dan hanya dijawab oleh keheningan. Lama-kelamaan mata Hino juga ingin menyusul Tania ke alam mimpi. ***   Tania bangun dengan perasaan yang lebih baik. Ketika melihat sekeliling kamar yang begitu indah, Tania langsung ingat bahwa dirinya bukan lagi Tania yang dulu. Kini gadis yang dibesarkan di panti sudah menjadi seorang istri. Tania memperhatikan suami berondongnya. Tania tersenyum begitu mengingat jarak usianya dengan Hino. Saat ini Tania sudah dua puluh empat, sedangkan Hino dua puluh satu. Tania telah selesai kuliah dan bekerja di perusahaan bagus, sedangkan suaminya masih kuliah. “Udah puas melihat pemandangan indah?” Suara serak Hino menyentakkan Tania. “Suka?” tanya Hino. Tania langsung bangkit menuju kamar mandi dengan wajah panas. Saat ini muka Tania sudah semerah tomat masak. Tania baru saja diledek oleh suami yang masih bocah. ”Apa yang kulakukan?” erangnya. Setelah mandi, Tania mengingat kebodohan dirinya yang lupa membawa handuk ke kamar mandi. Jangankan pakaian ganti, handuk saja Tania lupa. “Bagaimana ini?” gumam Tania. “Lama banget sih? Kamu pingsan, ya, di dalam?” tanya Hino sambil mengetuk pintu kamar mandi. Tania diam. “Tan! Kamu nggak kenapa-napa kan?” tanya Hino. “Eng ... Bisa ambilkan handuk?” tanya Tania pelan. “Apa?” ulang Hino tidak percaya. “Tolong ambilkan handukku!” tanya Tania. “s**l. Kenapa nggak kamu bawa aja ke dalam tadi?” rutuk Hino berjalan mencari handuk Tania. “Ini,” ucap Hino mengulurkan handuk ke pintu kamar mandi. Tania menjangkau handuk dengan sebelah tangan. Menyadari tangan putih yang menyembul dari balik pintu, membuat Hino berpikir macam-macam. Hino meneguk air ludahnya membayangkan yang iya-iya. “Dia tidak memakai apa-apa kan?” bisik Hino. Pintu kamar mandi kembali tertutup meninggalkan Hino dengan pikiran yang melantur. Setelah pintu itu tertutup, Hino mengembuskan napas. “Aaaah.” Hino mengacak-acak rambut hitamnya frustrasi. “Kamu kenapa?” tanya Tania begitu keluar dari pintu kamar mandi. ”Cuma capek—” Hino melihat Tania yang hanya mengenakan selembar handuk putih. Rambut basah perempuan itu ia sanggul menampakkan leher jenjangnya. “S*alan. Kamu bisa nggak sih jangan kasih lihat s*su! Mancing banget sih!” Mata Hino sudah merah dan tubuhnya sangat panas. Apalagi dengan tatapan bingung Tania yang semakin membuat perempuan itu  menggemaskan. ”What! Aku kasih apa?” Akhirnya, Tania memahami yang dimaksud lelaki itu. Dengan sigap dia memegangi handuk kuat. Hino mendekat ke arah Tania. Tania membelalakkan mata melihat mata Hino yang terlalu intens menatap wajahnya. ”Ya udah, Tania, ayo, begadang lagi.” Telapak tangan Hino mengusap leher jenjang Tania sambil tersenyum. ”Nggak apa-apa kan? Udah halal juga.” ”Jangan begini!” Tania mendorong d**a Hino. ”Kamu berjanji tidak akan macam-macam!” Tania memegangi ikatan handuk di d**a sekaligus menutup bagian tersebut. ”Kapan? Gue nggak menjanjikan apa pun.” Hino terus maju, sehingga tubuh Tania merapat ke dinding. ”Semua dijalankan pelan-pelan. Kita mulai dari berteman.” Tania menekankan setiap kalimat. Hino meremas kulit Tania di bagian pundak yang tidak tertutup oleh handuk. Dia menunduk. ”Sebenarnya bukan kamar yang dikasih mantra. Cewek ini yang udah bikin gue gila!” gumamnya. ”Pakai baju yang sopan. Aku tunggu di bawah.” Setelah lelaki itu keluar, Tania mengembuskan napas. Sangat lega. Bahunya yang tegang kini melemas. ”Yang tadi itu apa?” Tania meraba dadanya berdetak di atas normal. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD