SEPULUH

1969 Words
LOVE GUYS, THANKS SEPULUH   Sebagai lelaki, tentunya Hino mikir panjang untuk menikahi seseorang. Tidak butuh waktu yang lama, asalkan otaknya mau diajak bekerja sama.  Satu malam, sebelum datang ke acara makan bersama keluarga Aldy beserta Tania adalah waktu yang cukup. Hino memutuskan akan menikah, walaupun tidak setuju dilaksanakan secepat ini. Jadi, pernikahannya dengan Tania bukan cuma karena dipaksa orang tua. Hino enggak bisa main maju begitu aja mengijabkan anak perempuan orang. Apalagi calonnya tidak dia kenal. Menurut mami dan papinya, Tania baik. Bisa saja ada udang di balik batu bukan? Seseorang yang ingin meraih sesuatu rela menghalalkan segala cara, termasuk menjebak pria untuk menikahinya. Hino pernah memikirkan kejadian malam itu. Mungkin dia masuk dalam perangkap wanita matre. Namun, tidak. Hino merunut kejadian demi kejadian. Tania berhubungan baik dengan Aldyano Farely, pengusaha muda yang sukses. Tania adalah keluarga Nagita, meskipun bukan saudara kandung. Dari yang diceritakan Nagita, Tania adalah lulusan luar negeri. Ya, Nagita selalu membanggakan kakanya sejak dulu. Nama Tania memang tidak asing di telinganya. Bahkan sebelum datang, Hino menanyakan Tania kepada Nagita. Tentunya tanpa harus membuat Nagita curiga. ”Lo nggak bilang kakak lo kerja di kantor bokap gue, Gi,” pancing Hino waktu itu melalui telepon. Tiga hari sebelum menikah, Hino tak mungkin berada di Bandung. ”Emang perlu?” Nagita ada benarnya, pikir Hino. ”Yakali ... gue ada rencana ngajakin lo gabung setelah wisuda, tapi ada kakak lo.” ”Eh, Nono! Aku nggak sedarah ye sama Kak Tania. Dan itu ... siapa juga yang berencana di-KKN ama elo! Gue bisa cari kerja tempat lain kali.” Hino terus memancing Nagita untuk membicarakan Tania sampai gadis itu mengulangi lagi cerita tentang Tania yang kuliah di Australia tanpa biaya. Betapa Nagita bersyukur mengenal sosok sesempurna dan sebaik Tania. ”Gue sebenarnya masih ditanggung Kak Tania, Nono,” kata Nagita yang suaranya berubah sendu. ”Lo pikir duit dari mana gue bisa kuliah di Bandung tanpa bekerja? Gue malu, No. Dulu Kak Tania membiayai kuliahnya sendiri. Gue malahan jadi beban dia. Tiap gue bilang mau kerja, Kak Tania nolak. Gue dimarahi kalau sudah bahas kerja aja daripada kuliah.” Mendengar cerita itu, Hino sangat yakin bahwa Tania adalah jodohnya. Siapa yang tidak suka ketiban jodoh? Cinta bisa nyusul karena kesan Tania di mata Hino telah bernilai A plus. Hino melupakan tipe-tipe wanita yang ada dalam daftarnya. Asalkan kepribadiannya baik, fisik bisa menyesuaikan. ”Kok masih di rumah? Bukannya kemarin belum berhasil ngurus surat-surat ke KUA? Kamu niat nikah apa enggak sih, Hino?” Yah, Hino melupakan tujuannya ke rumah Tania. Bukan cuma makan siang sebetulnya, Mami meminta mereka mendaftar ke KUA. Karena Tania pulangnya sudah hampir sore, Hino merasa tidak perlu mengatakan keperluannya datang. Hino menirukan ocehan maminya dengan gerakan bibir. Ibu-ibu selalu ribet dengan pemikirannya. Memangnya perlu buru-buru mengurus surat? Menurut Hino, karena pernikahan dirahasiakan, urusannya bisa kapan-kapan. ”Mana selesai, Mami, kan nikahnya lusa. Nanti saja setelah sah agama diurus.” ”Biar nggak apa-apa. Yang penting kamu ada usaha daripada tiduran di rumah.” ”Males.” Hino menambah volume musik. Kepalanya bergoyang mengikuti musik yang mengalun dari earphone. ”Pergi sekarang atau berhenti jadi anak Mami?” teriak maminya yang ditangkap dengan jelas, walau musiknya keras. Dih, ancaman Mami adalah penderitaan bagi dirinya sendiri. Siapa tuh yang biasanya telepon bilang kangen? Karena Hino juga ingin ketemu Tania di tempat netral, anak yang baik itu pun menurut saja. Walau dia sudah pamitan dengan Tania akan bertemu di meja akad, hari ini H-1 pernikahan, Hino menemui Tania lagi. Tania terkejut saat membuka pintu. Dia mendapati Hino yang tanpa senyuman berlipat tangan di d**a melihati penampilan Tania yang sangat alakadar. Sepotong kaus kebesaran dengan leher yang melar akibat keseringan dicuci. Celana kotak-kotak sebatas lutut. Rambut panjang diikat tinggi tanpa sentuhan sisir. Sepertinya, Hino akan berpikir ulang untuk menikahi gadis seburik dirinya. Lain halnya dengan Hino yang berusaha menjaga wibawa. Hino frustrasi dengan usia mereka yang berat sebelah. Jangan sampai Tania meremehkan Hino dan menganggap Hino hanyalah anak mami yang manja dan tidak bisa apa-apa. Walaupun kenyataannya memang demikian. Hino belum memiliki penghasilan dan Tania sudah. Secara materi Hino jauh lebih baik dibandingkan Tania, tetapi itu tak membuat Hino bangga. Hino ingin dia dikenal sebagai Hino versi pria dewasa yang bertanggung jawab dan tidak suka cengengesan. Inilah intinya. Cowok itu ingin membuat kesan tak tersentuh di mata pasangannya, calon pasangannya. ”Kelamaan nunggu lo, gue jadi lupa tujuan kemarin.” Hino masih di posisi yang sama. Tak ingin masuk walaupun sepertinya Tania juga tidak berencana mempersilakannya. ”Mandi sono! Calon pengantin kok hancur begitu!” Hino memerintah setelah itu dia duduk di bangku yang berada di teras. Tania secara refleks merapikan pakaiannya. ”Yang kamu suruh mandi itu siapa? Sampaikan saja apa yang dipesankan ibu kamu, lalu kamu bisa pulang.” Hino memutar duduknya yang semula menghadap jalan. ”Disuruh ke kantor urusan agama. Nggak tahu apa gimana kalau pernikahan butuh surat segala macam?” ”Oh.” Tania tidak memikirkannya. Dia kira pernikahan rahasia hanyalah pernikahan siri. Yang penting sah secara agama. ”Kamu yakin kita perlu mengurus semua itu?” Lebih baik siri bukan? Kalau tidak cocok, bisa bercerai dengan mudah. Setelah itu, Tania bisa menikahi pria yang dia cintai tanpa perubahan status di kartu identitasnya. ”Nggak perlu, ya, penting dong, Mbak. Siap-siap nggak pakek lama!” Hino tak mau berdebat lagi. Dia berselancar di internet untuk mencari cara mengurus surat nikah. ”Nggak pakek lama, Tania!” teriaknya. Wow, Hino suka memanggil nama Tania. Bibirnya melebar dengan sendirinya. Tania, gumamnya. Tania siap hanya dalam dua puluh menit. Tambutnya tergerai di punggung. Wanita itu mengenakan blouse kembang-kembang ungu berbahan siffon dengan lengan sesiku dan celana jin. Sandal flat bertali menjadi alas kakinya. Hino berdiri begitu mencium wangi parfum Tania. ”Jangan lupa akte kelahiran, KK, sama KTP dibawa.” Tania berbalik ke dalam tanpa protesan. Hino merasa bangga bisa menjadi sosok yang memimpin terhadap wanita yang seharusnya dia panggil kakak. Hino membersihkan tenggorokan untuk melanjutkan peran sebagai pria dewasa. ”Sudah. Ini aja?” tanya Tania menunjukkan dokumen itu kepada Hino. Hino merebut ketiganya dari Tania. Tania Mahyeza. Akhirnya, Hino mengetahui nama belakang calon istrinya. Kan aneh kalau Hino belum hafal nama itu saat duduk di meja akad. ”Kamu punya foto close up?” Tania mengangguk. Dia memiliki foto yang dia perlukan saat melamar pekerjaan. Tania pun langsung jalan ke dalam sebelum Hino memanggilnya lagi. ”Gak pake lama.” Sepertinya, Tania kesal dan Hino suka melihat gadis itu berjalan dengan sepatu ditekan kuat ke lantai. Tak berapa lama, mereka tiba di rumah ketua RT atas arahan Tania. Mereka perlu mengurus surat keterangan domisili. Bapak itu ternyata mendukung niatan menikah muda. Lama sekali mereka mendengarkan cerita Pak RT bahwa dia ingin mencarikan suami untuk anak gadisnya yang sebentar lagi tamat SMA. Kini Hino dan Tania di ruangan Dokter Fadlan. Papi yang menyarankan agar mereka membuat surat keterangan sehat di dokter keluarga saja. Saat Tania pamit ke toilet, Hino bertanya hal pribadi kepada dokter yang berusia empat puluhan itu. ”Dok saya ingin cerita, dan tolong Dokter jaga rahasia ini.” Dokter Fadlan tersenyum kebapakan. ”Aku lupa sudah pernah tidur dengan gadis. Anehnya aku membayangkan kami melakukannya. Apa itu gelaja serius?” ”Wah, apa mungkin sebelumnya kamu minum minuman beralkohol?” ”Enggak, Dok! Sekali menyentuh minuman haram itu, Papi Mami terseret masuk neraka. Nggak mungkinlah, Dokter.” ”Permisi,” ucap Tania membuat Hino menutup mulutnya rapat-rapatnya. Dia tak bisa melanjutkan konsultasi tersebut di dekat Tania. ”Dari tadi?” tanya Hino setelah berdeham. Dokter Fadlan menaikkan alisnya. Paham. ”Apanya?” tanya Tania terlihat belum connect. Hino hanya menggeleng. Syukurlah, Tania tidak dengar. ”Ini suratnya.” Dokter Fadlan memberikan sebuah amplop. Dokter Fadlan menepuk pundak Hino, lalu berbisik. ”Melihat kamu, saya yakin kamu tidak melakukan hal buruk demi orang tuamu. Bisa saja kamu sebetulnya ingat, tapi kamu menganggap hal itu sebagai mimpi.” ”Maksud Dokter?” Dokter Fadlan menepuk pundak Hino. ”Bagaimana dengan Dea? Berarti perjodohan kalian dibatalkan?” tanya Dokter Fadlan kuat, hingga Tania mendengar. Hino sudah dijodohkan? Tania bergumam. ”Dokter dapat omongan dari mana? Hino dengan Dea, mana mungkin. Siapa bilang ada perjodohan.” ”Saya sendiri. Kalau begitu, Dea untuk Abraham saja. Saya akan menjodohkan mereka.” ”Dokter sebetulnya hanya memastikan? Mami memang mau cucu, tapi bukan dengan cara jodohin Hino sama anak mantannya.” Dokter Fadlan tersenyum. “Saya diundang kan nanti?” ”Besok, Dokter. Kami menikah besok pagi.” Dokter Fadlan awalnya terkejut, tapi kemudian menepuk pundak Hino lagi. ”Semoga pernikahan kalian bahagia.” ”Dokter kalau mau datang, dipersilakan. Tidak ada acara karena memang kami enggak memberitahu publik, tapi menjamu makan malam pasti Mami mau.” Dokter Fadlan mengangguk. Keluar dari ruangan dokter, mereka melanjutkan semua urusan ke KUA.   ***   ”Ada yang perlu diluruskan.” Tania meminta perhatian Hino setelah mereka selesai makan petang hari. ”Bicaralah,” ucap Hino. ”Aku tidak menginginkan pernikahan ini.” Hino kaget. Lebih dari itu, dia kesal. Tangannya dilipat di d**a, menanti Tania dengan pandangan angkuh. Apa maunya nih cewek? Seharusnya, dia yang memohon tanggung jawab. ”Kenapa kamu setuju kalau tidak suka?” Tania tidak dapat menjawab. Apakah karena perintah Aldy? Apakah karena Argio? Yang jelas karena kejadian malam itu. Dia terpaksa melukai banyak perasaan karena tindakan yang disesalinya. ”Oh, kamu memiliki kekasih.” Hino menyimpulkan sendiri. ”Belum kamu selesaikan?” ”Enteng sekali bagi kamu,” cela Tania. Tidak ada simpati. Tania benci. ”Hello, Mbak. Bagi saya yang nggak pernah bolos pelajaran agama, zina itu haram. Gue nggak ngerti kenapa bisa melakukan itu dengan mbaknya. Tapi saya tahu, saya harus melakukan penebusan dengan menikahi kamu.” ”Dengan alasan seperti itu, pernikahan tidak akan berjalan. Lebih baik tidak sama sekali kalau karam di tengah jalan.” ”Mbaknya mau dinikahi karena cinta? Dengan pacarnya? Tidurnya sama saya.” Tania selalu malu kalau diingatkan kejadian malam itu. Kenapa mudah sekali bagi pria mengucapkannya? ”Kalau kamu pesimis, ya, susah. Kita harus optimis ini akan berhasil. Lama-lama juga kamu bakalan terima pernikahan ini dengan lapang d**a dan hati ikhlas.” Hino terus berorasi. Demi Maemunah, dia tidak akan melepaskan Tania ke cowok lain. Cinta memang belum, tertarik sudah. Alasan ini memalukan dan biarlah Hino simpan dalam hati saja. ”Maksud aku begitu. Kita jalani pelan-pelan aja. Saling mengenal dulu. Kita hidup masing-masing seperti biasa. Kamu kuliah dan aku bekerja di sini. Mungkin bisa berteman dulu sebelum menjadi suami dan istri sungguhan.” ”Terus kamunya masih pacaran sama orang lain, maksud kamu seperti itu?” Hino melontarkan kecurigaannya. ”Kami sudah putus.” Wajah Tania mendung. Hino tak ingin mengingatkan Tania dengan kisah cintanya. Hino kasihan, tetapi juga bersyukur. ”Okelah,” putus Hino cepat. Menyetujui keinginan perempuan bisa menghibur hati mereka. Tania cukup senang karena permintaannya diiyakan. Butuh waktu lama bagi Tania untuk ikhlas menjadi istri orang lain, selain Argio. Menikah dengan Hino berarti berbakti kepada Aldy. Semoga alasan ini cukup layak sebagai penyangga rumah tangga mereka nanti. ”Nanti aku ajari cara move on.” Tania kurang menangkap perkataan Hino. Karena saat itu dia sedang mengunyah kerupuk. ”Apa?” tanyanya. ”Ayo pulang, ini sudah sore.” Hino tidak akan mengulangi. Akan panjang. Langkahnya terayun menuju kendaraan. ”Kamu ikut ke rumah Mami malam ini.” ”Eh eh tunggu! Kenapa bisa?” Tania mengejar langkah Hino yang panjang. Lelaki itu menutup kembali pintu mobil. ”Bisa. Ikut aja, nggak usah protes!” Setiba di rumah Mami, wanita itu menyambut kedatangan Tania dengan gembira. Melihatnya, Hino menjadi teringat sikap maminya kepada Lafila. Sama. Setelah mengantar Tania ke kamar tamu, maminya mencubit pinggang Hino. ”Kamu nggak macem-macemin Tania kan? Kalian belum sah.” Hino menirukan ucapan maminya dengan gerakan bibir. ”Mami sudah minta Tania mengunci kamarnya.”   *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD