SEMBILAN

2089 Words
JANGAN LUPA LOVE CERITA INI. *** Sehari setelah makan malam yang artinya tinggal dua hari lagi Tania akan menikah, perempuan itu tidak bekerja. Izin langsung Tania dapatkan dari presdir yang sekaligus menjadi calon mertua. Karena tidak ada kegiatan, Tania hanya tidur-tiduran di kamarnya. Dia merencanakan perkataan yang akan ia ucapkan kepada kekasihnya. Setelah menimbang-nimbang, Tania memutuskan untuk menghubungi Argio dan meminta agar mereka bertemu di Restaurant Chi Chi. Tania langsung melajukan motor matic miliknya menuju tempat tersebut. “Udah lama, My Tan?” tegur Argio. “Nggak. Tapi aku tadi udah pesankan makanan untuk kamu seperti biasa. Kita makan dulu,” jelas Tania. Melihat Tania yang tidak berbasa basi lagi, Argio pun menurut saja. Setelah pesanan mereka datang, Argio makan dengan cepat. “Kamu nggak makan?” tanya Argio begitu melihat Tania hanya memandangi Argio yang sedang makan. “Kamu makan aja,” ucap Tania. “Aku udah kenyang,” jawab Argio lalu mengelap bibirnya. “Ehm ... Gio,” panggil Tania. “Ada apa, My Tan?” “Aku udah bilang belum kalau kamu itu adalah lelaki terbaik setelah Kak Aldy di hidup aku?” tanya Tania. “Sebenarnya aku ingin mendengar kamu bilang kalau aku adalah lelaki terbaik di hidup kamu,” balas Argio. Ia tak rela disandingkan dengan Aldy. “Tapi nggak apa-apa. Aku senang mendengarnya.” Argio melanjutkan disertai senyuman tulus. Argio memang tahu jika dalam hidup Tania, Aldy adalah malaikat. Mau tak mau ia harus terima disandingkan walau takkan pernah compatible. “Tapi aku pernah bilang nggak sih, kamu adalah satu-satunya lelaki yang aku cintai?” Argio membelalakkan mata serta membuka mulut selebarnya. Argio berkedip setelah Tania melanjutkan kalimatnya. “Aku mencintai kamu, Gio.” “A-apa? Aku nggak salah dengar kan, My Tan?” Tania menggeleng. “Aku nggak tahu kapan aku punya perasaan ini. Tapi aku merasa senang berada di dekat kamu. Aku bahagia dengan perhatian kamu. Aku tersenyum melihat segala tingkah kamu dan aku sayang kamu,” ucap Tania tersenyum. Senyuman itu menular kepada Argio. “Tapi ....” “Tapi apa, My Tan?” “Aku nggak pantes buat  kamu,” ucap Tania tercekat. Teringat jelas dalam kepalanya apa yang terjadi malam itu. Tania bukan gadis baik yang pantas untuk lelaki sebaik Argio. Bukan Tania orangnya. Argio bisa mendapatkan perempuan yang lebih berakhlak. “Siapa yang mengatakan itu? Apa salahku, My Tan?” “Bukan kamu, Gio. Aku yang nggak cocok buat kamu. Aku yang nggak pantes mendapatkan kamu. Kamu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku,” jelas Tania. “Kenapa kamu berpikir terlalu jauh? Kamu sempurna. Kamu terlalu baik buat lelaki seperti aku, tapi aku janji akan berusaha bikin kamu bahagia.” “Nggak, Gio. Aku nggak bisa. Kamu harus mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada aku. Terima kasih, Gio. Selamat tinggal.” Tania keluar restoran meninggalkan Argio yang masih terpaku di tempat duduknya. Tania menyeka air mata lalu memasang helm. Selamat tinggal, Gio. Tania melajukan motor matic menuju rumah Aldy. Kalau lebih lama lagi Tania di sana, dia akan menyesali keputusan itu. Cinta yang ini lebih menyakitkan karena pria yang dia cintai juga tersakiti. Mengapa Tania harus menyakiti mereka berdua? Ke mana otaknya saat melakukan perbuatan itu? Tania tidak memahami diri sendiri. Kehilangan Argio karena perbuatannya, lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan kesucian. “Mbak.” Tania segera memeluk Lafila begitu Lafila membuka pintu rumahnya. “Kamu kenapa, Tan?” “Semuanya selesai, Mbak. Hancur. Aku telah menyakitinya. Aku nggak bisa jujur kepadanya, Mbak. Aku nggak mau bikin dia lebih sakit jika mengetahui aku telah mengkhianati dia.” “Cinta sekali sama Argio, Tan? Anggukan Tania sangat kuat. Entah kapan dimulai perasaan itu. Saat ini perasaannya bahkan berkali lipat lebih dalam. Jauh lebih besar daripada saat mereka bersama. Tania ingin merengkuh Argio dalam pelukannya. Tania menyesal dahulu mengabaikan Argio terlalu lama, menyuruh lelaki itu berjuang hanya untuk diabaikan. ”Gio ... Aku nggak bisa dengan dia, tapi aku ingin, Mbak. Aku ingin sama Gio. Aku sayang dia, Mbak. Aku tidak bisa menikah dengan orang lain, tapi aku juga nggak pantas untuk Gio.” ”Kamu tenang, ya. Kamu pasti bisa melewatinya. Mbak yakin, Argio dan kamu itu kuat. Mbak yakin, jodohmu sudah ditulis dengan siapa. Kita ikutin alur yang Tuhan tentukan. Semoga kamu bahagia bersama Hino,” bujuk Lafila. Tania menangis semakin jadi dalam pelukan Lafila. ***   Hino ingin mengonfrontasi Mami Dewi. Karena desakan Mami, Hino harus terdampar di rumah kosong. Tambahan lagi yang bikin Hino kesal, ada rantang di tangannya saat ini. Ke mana penghuni rumah ini? Maminya bilang, Tania sudah mulai tidak masuk kerja. Lalu pergi ke mana dia? Hino merasa sedang dikerjai oleh para wanita. Kalau rantang ini dibawa pulang lagi, Mami pasti akan mengamuk. Kalau Hino buang, ah, Hino tak ingin terkena karma. Kemarahan nasi adalah hal yang paling Hino hindari. Jangan sampai suatu saat nanti, Hino dan anak-anaknya kesulitan membeli segenggam beras. Semua hal bisa saja terjadi jika tidak berhati-hati terhadap perbuatan. Oke, Hino mulai stres. Seperti tahu saja kalau Hino bakalan menunggu penghuni dalam keadaan membosankan, Mami Dewi telah membekali sebungkus kerupuk kemplang. Cowok berjaket kulit hitam itu mulai membuka tali pengikat bungkusan. Mulutnya mulai bekerja melumatkan kerupuk sambil memandangi lalu-lalang kendaraan di depan rumah Tania. Menit demi menit berlalu, kerupuk Hino tinggal tiga buah. Hino baru sadar kalau ia telah memindahkan satu plastik besar kemplang ke lambungnya. Hampir saja dia khilaf menggigit kerupuk berikutnya ketika sosok yang ditunggu hadir di hadapannya. ”Duh, begah nih kelamaan nunggu yang punya rumah!” sindir Hino sambil menyeka remahan kerupuk di wajahnya. Tania yang matanya bengkak karena kebanyakan menangis berusaha menyembunyikan tawa ketika melihat betapa doyan anaknya Pak Ben makan kerupuk. Anak orang kaya seleranya sangat merakyat. Dengan sebungkus kerupuk, Hino pasti sudah bahagia. ”Ekhem ....” Tania membersihkan tenggorokan, kalau-kalau habis menangis, suaranya serak. Hino bangun dari duduknya, melompat ke depan Tania. Tangannya mengulurkan benda yang dibawa. ”Makan siang—makan sore dari Mami Dewi,” ralat Hino. Batinnya mengejek waktu yang banyak terlewati akibat si Tania yang kelayapan. ”Eh buat aku?” tanya Tania ragu-ragu. Ia agak takut memakan sesuatu pemberian Hino. Sementara itu, anak muda di depannya cuma mengangguk. ”Ambil. Pegel nih,” keluhnya. Tania meraih gagang rantang. ”Untuk aku?”  Tania akan memastikan jika Hino mengangguk lagi, makanan itu hanya boleh dimakan sendirian oleh Tania atau Hino. Tidak ada acara makan berdua lagi. ”Dari Mami untuk kamu. Nanya lagi dapat piring cantik.” ”Terima kasih.” Tania berlalu, ingin membuka kunci. Perasaan Tania mengatakan kalau tamunya tidak tahu diri. Maksud Tania, jika dia tidak mengajak masuk, seharusnya Hino sadar diri untuk pergi. Lalu Tania berbalik. ”Terima kasih,” ulangnya, melihat Hino masih berdiri memegang bungkus kerupuk. ”Seret loh tenggorokan saya, Mbak, dikasih minum air putih seteguk kayaknya gak rugi-rugi amat.” Tangannya gemetaran. Tania menjatuhkan anak kunci secara tidak sengaja. Cepat-cepat dia memungut benda itu dan melakukan pekerjaan dengan benar. Pintu berhasil dibuka. Tania masuk buru-buru. Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat dihindar. Kakinya tersandung saat menyorongkan sandal rumahan. Sandal yang kebesaran ujungnya terinjak oleh kaki yang sebelah lagi. Lutut Tania membentur lantai dan kelontangan suara rantang membuat berisik. ”Astagfirullah! Kenapa nggak makan di piring aja?” teriak Hino melihat Tania duduk memunguti ikan dan nasi yang berserakan di lantai. Tania ingin mengumpat walau ia jarang melakukannya. Saat ini, Tania hanya ingin melemparkan rantang itu ke kepala anaknya Pak Ben. Dia pikir Tania sedang makan? Bahkan Tania sedang menahan nyeri di lututnya yang terasa sakit sekali. Sambil menunggu lututnya normal, Tania memunguti makanan yang berserakan. ”Mau diambilin sendok? Sepertinya enak juga makan langsung dari lantai.” Hino menyela rasa sakit Tania. Lelaki jangkung itu jongkok di sebelah Tania. ”Gak sabaran banget mau makan,” oceh Hino, ikut meraup nasi-nasi yang bertebaran. Hino juga mengambil sapu dan mengumpulkan jadi satu tempat. Dia ke belakang mengambil tempat sampah, membersihkan lantai sampai bersih. Kemudian mengambil pel-pelan dan membuat lantai kembali wangi dengan aroma super pel. Tania terdiam memperhatikan kegesitan anak orang kaya bertindak sebagai tukang bersih-bersih. Tangan Tania asyik mengusap lututnya sebelah kanan. Bagian itu yang terbentur cukup keras. Sakitnya masih terasa ngilu sampai sekarang. ”Sakit bilang.” Jiwa Tania bagaikan hendak lepas akibat perbuatan Hino yang tiba-tiba. Lelaki itu membawa tubuh Tania di tangannya. ”Turun! Aku bisa jalan sendiri!” teriaknya, tetapi tidak dihiraukan Hino. Tania mencubit bagian punggung lelaki supaya Hino sadar bahwa Tania tidak setuju. ”Ke mana sih ke mana?” ”Hah!” Hino membuang napas berat akibat memanggul tubuh Tania yang tidak enteng. Dia melakukannya secara hati-hati ketika meletakkan Tania ke tempat tidur. Berada di ruangan ini bersama Hino membuat Tania sangat malu. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut bulu bergambar Doraemon. ”Terima kasih. Please, tinggalkan aku sendirian.” Akhirnya, Tania terpaksa mengusir. Hanya itu satu-satunya cara agar pria itu paham. Tania mendengar suara sandal menjauh. Ia bernapas lega. Ia menyibak selimut dan meraup udara bersih banyak-banyak. Apa yang terjadi kepada mereka? Kenapa Hino sama sekali tidak canggung terhadap Tania? Kecanggungan itu telah membuat lutut Tania retak, mungkin. Wanita berkemeja hijau itu mendengar suara ponsel di ruangan tamu. Tania mengenali ringtone  tersebut. Argio. Ponsel itu di dalam tasnya masih bernyanyi nyaring. Barangkali mantan kekasih Tania baru bangun dari syok setelah diputuskan dan ingin menuntut penjelasan yang lebih panjang. ”Teleponnya bunyi. Nggak diangkat?” Hino melangkah dengan kakinya yang panjang-panjang. ”Oh, tangannya nggak sampai.” Lelaki yang katanya berniat baik itu membawa gawai milik Tania dan menyerahkan ke empunya. Hino tidak melihat layarnya karena saat menyerahkan benda itu, dia fokus kepada air yang diteguknya dari gelas. Tania menolak panggilan tersebut, lalu mematikan ponselnya. ”Masih di sini kamu?” Kini perhatian Tania dicurahkan kepada makhluk yang tidak mempan diusir. Mungkin jika Tania membacakan ayat kursi, Hino akan kabur? Hino meletakkan gelasnya di meja sebelah tempat tidur. Pemuda itu kini memperhatikan Tania. Seluruh tubuh Tania yang ditutupi selimut. Benarkah dia sudah menyentuh Tania? Kenapa dia tidak mengingat kejadian itu? Kalau dipikir-pikir, Tania tidak terlalu buruk. ”Hey!” Teriakan Tania membuyarkan pemikiran Hino. Lelaki itu lantas pura-pura batuk. ”Pelan aja, aku nggak budek.” Hino berusaha stay cool mengembalikan fantasinya yang berceceran. Sengaja dia masuk ke kamar ini untuk memancing ingatannya. Namun, dia tidak melihat apa pun. Justru otak mesumnya yang berkelana dengan lihai. Membuat sendiri adegan saat baju Tania dia buang ke lantai. s****n, sejak kapan Hino tumbuh jadi pria dewasa? Hino hanya tersengir melihat wajah Tania memerah. Ia mengangguk. ”Kenapa kamu?” Tania berbisik dan tubuhnya mundur secara otomatis. Melihat Hino banyak diam lalu tertawa sendiri, Tania menyimpulkan ada yang mengganggu saraf pemuda itu. ”Kamu sudah bisa pulang.” Sudah berapa kali Tania mengusir? ”Tan ... dua hari lagi kita menikah. Masa aku diusir?” Kenapa Hino membicarakan hal itu dengan sikap santai? Laki-laki yang memakai celana jin hitam itu duduk bersandar pada meja rias milik Tania, sambil minum air putih. Kakinya diluruskan. ”Lantas?” ”Aku di sini supaya kita bisa ngobrol. Kita perlu berkenalan dong. Masa langsung nikah-nikah aja?” Tania memejamkan matanya sesaat. Sepertinya, dia perlu usaha sedikit. Walau Tania telah ikhlas dengan nasibnya, dia juga ingin mengubah selagi ada kesempatan. ”Haruskah melakukan pernikahan? Aku nggak menuntut kamu untuk menikahi aku. Tidak perlu meneruskannya.” ”Harus!” Hino menegaskan kata-katanya. ”Aku perlu kita menikah. Semua orang sudah setuju. Aku ke sini bukan mau membahas ini. Kita akan berkenalan bukan membatalkan.” Hino meneguk air yang tersisa dari gelas ukuran jumbo di tangannya. ”Begini, Tania, aku perkenalkan diriku. Nama Hino Rezky Alendra. Usia dua puluh satu tahun. Aku anak baik-baik. Label itu rusak karena tidak disengaja. Dan aku harus memperbaikinya. Aku nggak akan kabur setelah merusak kamu.” Tania sudah menyetujui perintah Aldy. Hino juga tidak bisa diajak berkompromi. Sepertinya, Tania tak bisa mengubah nasibnya. Mereka tetap menikah. ”Kamu bukan tipe yang bikin aku langsung suka. Tapi kamu bikin aku pengin nerkam!” Hino berdiri. ”Aku yakin, kamar kamu ini dipasangi jimat. Sampai ketemu lusa aja kalau gitu. Karena belum halal, nggak bisa dekat-dekat. Nanti aku pesankan makanan untuk kamu, ganti isi rantang Mami.” Hino sudah meninggalkan kamar lalu kepalanya muncul lagi di pintu. ”Menikah adalah kegiatan yang dilakukan sekali saja dalam hidup. Aku yakin, Tuhan memberikan aku jodoh dengan jalan sesat. Walau demikian, aku tidak akan membawa kamu tersesat. Tujuan kita adalah bahagia sampai surga-Nya. Walau dulu udah bikin salah, kita perlu taubat biar bisa masuk surga bersama-sama. Sampai bertemu di meja akad, ya, Tania!”   *** ALHAMDULILLAH, 6 JUNI 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD