DELAPAN

1803 Words
LOVE, YA. HAPPY READING ***   “Kamu pakai baju ini ya, Tan, pasti cantik banget.” Tania melihat gaun yang disodorkan Lafila kepadanya. Gaun itu berwarna gading dan dihiasi payet dari leher hingga d**a. Tania mencoba gaun yang kelihatannya mahal itu dan pas sekali, panjang gaun menutupi mata kaki. “Kamu dandan yang cantik!” ucap Lafila. Tania memperhatikan  Lafila yang malam ini juga berpakaian semi formal dengan gaun malam biru menjuntai. Rambut panjang Lafila hari ini dijalin menyamping, sehingga kecantikan wanita itu mampu mengalahkan tokoh kartun Elsa. “Ada acara apa ya, Mbak?” “Acara makan malam,” jawab Lafila. “Begini nggak apa-apa kan, Mbak?” Tania hanya memakai bedak tanpa fondation dan lipkrim merah serta menggulung rambutnya. Anak-anak rambut yang nakal keluar dari tatanan itu, membuat penampilan Tania bertambah manis. “Yap cantik. Kamu pakai ini.” Lafila menyerahkan kotak sepatu. Tania membuka kotak yang berisi high heels dua belas senti berwarna perak. “Nah sekarang kita berangkat,” ucap Lafila riang. Tania mengerutkan alis melihat keantusiasan Lafila. Makan malam apa, sehingga mereka harus berdandan sedemikian rupa? Tania dan Lafila masuk ke sedan merah milik Aldy. Tania duduk di belakang bersama Lafila yang tidak mau menemani suaminya di depan. Aldy hanya bisa pasrah menjadi sopir untuk dua wanita kesayangannya. Mobil Aldy memasuki parkiran hotel bintang lima. Mereka bertiga naik lift menuju lantai teratas gedung tempat restoran yang telah direservasi oleh Aldy berada. “Dalam rangka merayakan apa sih, Mbak, sampai kita makan malam di hotel segala?” tanya Tania. Lafila tersenyum penuh arti kepada Tania, sedangkan Aldy merangkul pinggang Lafila dan mereka pun jalan berdampingan. Tania mengikuti pasangan suami istri itu dengan pikiran yang penuh dengan tanda tanya. Aldy ternyata telah mereservasi sebuah ruangan privasi untuk malam ini. Seorang pramusaji berseragam merah hitam dengan rambut disanggul mempersilakan mereka bertiga masuk ke sebuah pintu yang bercat hitam dan kokoh. Tania mengikuti langkah Aldy. Tania masih berpikir ada acara apa sebenarnya malam ini? Tania duduk di sebelah Lafila dan di samping Lafila ada Aldy. Anehnya masih ada tiga bangku kosong di depan mereka yang menandakan bahwa makan malam tidak hanya dihadiri mereka saja. Tania melemparkan tatapan bertanya kepada Lafila. Namun Lafila kembali memasang senyuman misterius. Beberapa menit kemudian pintu terbuka dari luar dan muncullah dua orang yang sudah agak berumur. Ketika dua orang itu, laki-laki dan perempuan, mendekat ke meja, Tania langsung mengenali siapa orang tersebut. Yang laki-laki adalah Ben Alendra, bosnya di kantor dan yang wanita dapat dipastikan adalah Nyonya Dewi Sinta, istri bos Tania. Kedua pasangan suami istri itu mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan Aldy dan Lafila. Mereka memberikan senyuman sebelum duduk kepada Tania, Aldy, dan Lafila. “Selamat malam, Om Ben,” sapa Aldy. “Malam, Aldy. Maaf kami terlambat, kalian tidak bosan kan menunggu kami?” tanya Ben berbasa-basi. “Tidak masalah, Om. Kami akan menunggu dengan sabar,” balas Aldy. Aldy takkan bersikap bersahabat jika pria yang ia temukan di kamar Tania bukanlah Hino. Masih ada rasa hormat kepada pria tua di hadapan, meskipun putra Ben Alendra kurang ajar. “Halo cantik, bagaimana baby? Sehat?” tanya Dewi menyapa Lafila. “Baik, Tante. Baby nggak nakal,” jawab Lafila memamerkan senyuman sambil mengelus perutnya. “Oh, Sayang, Tante kangen banget sama kalian. Kalian kok jarang pulang sih?” tanya Dewi. “Hehehe ... Iya lagi banyak pekerjaan, Tan. Tante Dewi apa kabar?” tanya Lafila balik. “Kami begini-begini aja, Sayang. Sampai berita yang membuat kami jantungan itu kalian sampaikan,” kata Dewi sambil melirik Ben. “Aduh, Tante, maaf kalau kami nggak nyari waktu yang pas untuk memberikan kabar itu. Kami juga shock,” jawab Lafila. “Dia mana, Tante?” tanya Aldy mengalihkan segala basa-basi. Tania semakin bingung ke mana arah pembicaraan kedua pasangan itu. Tania menyimpulkan bahwa isi percakapan mereka tentunya menyangkut pekerjaan. Orang-orang itu masih terus bercakap-cakap yang isinya tak satu pun yang Tania pahami hingga pintu kembali terbuka dan menampakkan sosok laki-laki tinggi dengan jas hitam. Lelaki itu berjalan dengan tegap menghampiri meja mereka. “Hah?” Tania terpekik kecil menyadari siapa yang baru saja masuk. Orang itu pun duduk di bangku yang tersisa tepat di depan Tania. Tania tidak berani mengangkat kepalanya. Jantung Tania serasa akan jatuh jika ia tidak kuat-kuat menahan debarannya. ”Sebenarnya apa yang mereka rencanakan?” batin Tania meneriakkannya. “Maaf semuanya, Hino terlambat,” ucap Hino setelah duduk di bangkunya. “Nggak apa-apa, No,” jawab Lafila. “Baiklah bagaimana kalau kita langsung makan saja?” tanya Aldy. “Iya sudah waktunya makan. Mari,” ucap Ben dengan wibawa kebapakan. “Fila mau makan apa?” tanya Dewi. Hino melirik ibu yang mulai kumat dengan penyakitnya. Dunia Lafila seakan impian maminya. “Makan yang nggak pedas, Tante. Nanti bisa sakit perut kalau terlalu pedas,” jawab Aldy. “Oh. Ini Tante ambilkan steik. Fila harus makan dua porsi untuk kamu dan untuk baby. Nah, Aldy juga kalau Fila mau apa-apa harus kamu kabulkan. Orang hamil biasanya mintanya yang aneh-aneh lho,” kata Dewi. “Mi, makan. Jangan banyak bicara!” tegur Hino. Dewi tersenyum malu. “Maaf ya, Mbak. Mami suka berlebihan,” jelas Hino. Lafila sudah maklum. ”Mi, Hino nggak bisa makan.” Mami Dewi bergeleng-geleng melihat kebiasaan anak bungsunya itu. ”Nggak suka sama menunya, No?” tanya Lafila merasa tak enak karena ibunya Hino lebih memperhatikan selera dan kebutuhan Lafila dibandingkan putranya. ”Bukan, Fila. Papi ayo dong, carikan kerupuk buat Hino.” ”Kerupuk?” Aldy nyaris tertawa kalau alasan anak kesayangan Mami Dewi tidak makan cuma karena kerupuk. Hino mengacak-acak nasinya dengan tidak berselera. Ini yang paling dia tidak suka makan di restoran. Tidak seperti di kantin, Hino bisa memilih berbagai jenis kerupuk. ”Papi ini malah enak-enakan makan. Pi, jalan, carikan kemplang!” ”Merepotkan!” cela Aldy dan Hino tak perlu merasa marah akibat cibiran itu. Tania mulai pusing dengan orang-orang itu. Mereka seakan tidak menganggap keberadaannya. Dari tadi mereka sibuk membicarakan hal-hal yang tidak Tania mengerti. Bahkan ketika makan, mereka masih saja asyik berbicara. Merasa bingung dengan posisinya di sini, Tania memijit-mijit pelipis kepala sambil menunduk. “Kamu kenapa, Manis? Kamu sakit?” tanya Dewi khawatir berlebihan. Tania mendongak dan menjadi kikuk ketika seluruh perhatian kini tertuju kepadanya termasuk Hino. Tanpa sengaja Tania menjatuhkan sendoknya. “Nggak apa-apa, Bu. Ehm, maaf kalau saya membuat kalian kurang nyaman,” ujar Tania dengan suara pelan. “Kamu nggak apa-apa? Apa kami yang justru membuat kamu tidak nyaman?” tanya Dewi yang mulai menunjukkan sikap super perhatian kepada orang lain. “Eng-enggak kok, Bu,” jawab Tania tersenyum malu. “Eehm.” Ben mulai menarik perhatian semua orang dalam ruangan itu. “Maaf, Tania, kami telah gagal mendidik anak kami. Saya tahu kamu adalah perempuan baik karena sudah cukup lama mengenal kamu.” “Maksud, Bapak?” tanya Tania. “Maksud saya, kami ingin menjadikan kamu menantu di keluarga Alendra. Kami ingin menikahkan anak kami, Hino, dengan kamu, Tania,” ucap Ben tanpa keraguan sedikit pun. “Saya masih tidak mengerti, Pak, ehm ... Saya belum ada rencana untuk mengubah status saya dalam waktu dekat ini,” ucap Tania. “Apakah karena kamu sudah memiliki kekasih, Nak?” tanya Dewi. “Eeeh?” Tania menjadi bingung apakah ia harus jujur. Lalu Tania putuskan untuk mengangguk. “Tapi kami tetap ingin kamu dan Hino menikah. Hino harus bertanggung jawab kepada kamu!” tegas Dewi. “A—” Pertanyaan Tania langsung dipotong oleh Dewi. “Iya. Kami ingin kalian menikah setelah kejadian itu. Apalagi besar kemungkinannya kamu segera memberikan kami cucu,” ucap Dewi. Tania tersedak mendengar ucapan Dewi. Wajah Tania menjadi merah sekali lalu ia menunduk. Ia tidak berani mengangkat kepala untuk melihat semua orang di ruangan itu. Saat ini semua mata melihat Tania yang begitu tidak nyaman dengan pembicaraan ini. “Kamu harus mau menikah dengan Hino! Dia wajib bertanggung jawab. Dan kamu harus bersedia membuka jalan agar Hino bisa membayar kesalahannya,” ucap Aldy. Tania semakin menunduk. Aldy adalah seseorang yang tidak akan Tania bantah perkataannya. Apalagi mengingat ia telah mengecewakan Aldy. Tania tidak memiliki pilihan lain. Tania harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Bagaimana dengan orang yang Tania cintai? Bagaimana dengan Argio? Argio pasti akan marah jika mengetahui Tania menjadi milik orang lain. Dan Tania juga tidak akan bahagia bersama Hino. “Lupakan dia!” ucap Aldy tegas seakan tahu pergumulan batin Tania. Mendengar kalimat Aldy membuat air mata Tania jatuh. Tania tidak sanggup menyakiti Argio. Tania tidak sanggup kehilangan Argio. Di lain sisi Tania juga tidak bisa membantah perkataan Aldy. Di sini memang Tanialah yang bersalah. Lalu Tania mengangguk. Ia akan menerima apa pun nasibnya sebagai konsekuensi. “Tania sudah setuju. Jadi bagaimana dengan Hino?” tanya Aldy basa-basi. Aldy tidak membuka penawaran karena pernikahan ini adalah keharusan bahkan kewajiban Hino. “Hino sudah setuju,” jawab Dewi cepat. Tidak ada yang melihat bagaimana wajah Hino saat ini. Hino merasa bersalah. Hino seperti b******n yang telah merenggut kebahagiaan seseorang. Saat perintah untuk menikah diucapkan orang tuanya, hati kecil Hino sebetulnya mengakui bahwa mungkin papinya benar. Hino tak bisa mengatakan tidak lagi saat bayangan e****s semakin sering bergentayangan di kepalanya. Entah apa yang terjadi, sehingga pikirannya begitu kacau. Saat mulut dan hatinya menolak, kepalanya malah menayangkan adegan itu dalam ukuran HD. Tidaklah mungkin pikiran Hino begitu lihai menciptakan gambaran jika matanya tidak pernah melihat dan tubuhnya tidak pernah bertindak? Mami mungkin benar, Hino telah merusak Tania. Di satu sisi Hino enggan menikahi Tania karena perempuan itu tidak akan bahagia hidup dengan orang yang tidak ia cintai. Di sisi satu lagi, Hino harus menikahi Tania karena ia telah mengambil mahkota perempuan itu. Dalam didikannya, Hino tahu bahwa virginitas sangat dijunjung tinggi. Lalu bisa saja jika saat ini darahnya sedang bertumbuh kembang di rahim Tania. Hino membulatkan tekad bahwa dirinya wajib menikahi Tania, cinta atau tanpa cinta. Hino mengangguk. “Maka kita tetapkan Hino dan Tania akan menikah pada Jumat tiga hari dari sekarang,” putus Ben Alendra. ”Apa nggak kecepatan itu, Pi? Gimana bisa kami menikah buru-buru gini?” Mulut Hino secara otomatis memprotes. Bahkan otaknya sendiri kaget akibat bibir lebih dulu bekerja. Tentu saja ia akan salah lagi di hadapan ayahnya dan semua orang yang hadir di meja itu. Hino langsung menunduk dan menutup bibirnya rapat-rapat. “Kalian akan melaksanakan akad nikah saja. Resepsi kita lakukan setelah Hino wisuda. Yang penting kalian sah di mata agama dan negara. Dan pernikahan ini untuk sementara kita rahasiakan dulu dari umum. Kita tidak mau jika kebenaran akan membuat kolega Alendra dan Farely berpikir negatif bukan?” tanya Ben retoris dan tidak dapat dibantah. Putra pewaris perusahaan besar mendadak nikah. Itu pasti bakalan jadi pertanyaan besar. Semua orang diam dan menerima keputusan seorang Ben. Tania sudah tidak dapat mendengarkan semua percakapan karena sibuk memikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada Argio? *** ALHAMDULILLAH, 5 JUNI 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD