LOVE CERITA INI, YA.
***
Tak pernah terbayang oleh Tania akan menyerahkan kesucian kepada pria yang baru dikenal. Apa yang telah diperbuatnya sangat disesali oleh gadis yatim piatu itu. Tania jadi teringat apa yang dahulu dikatakan kepada orang tentang dirinya.
”Kamu pasti penasaran siapa orang tua kamu. Kebanyakan anak yang tinggal di panti adalah anak buangan, bukan pure karena orang tuanya meninggal. It’s mean, mereka masih ada orang tua.”
”Maksudnya?” tanya Tania waktu itu.
”Yah seperti anak-anak yang nggak diharapkan. Biasanya anak yang lahir dari pasangan yang tidak menikah. Pacaran kebablasan dan hamil. Anaknya dibuang ke panti asuhan dengan berbagai alasan dan tentu aja keegoisan mereka para orang tua.”
Sejak saat itu, Tania mulai rendah diri. Perkataan Tifani, teman sebangku Tania, ada benarnya. Tifani hanya penasaran saat bertanya. Tak ada nada menghakimi dalam suaranya. Tania mulai menarik diri perlahan-lahan. Dia tidak berkomunikasi dengan teman lain, kecuali Tifani yang selalu mendekati Tania dan mengajak Tania bergaul. Tania menghabiskan masa mudanya dengan belajar dan membantu bunda di panti, mengurus bayi-bayi dan balita yang lucu.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sebaik-baiknya Tania menjaga diri selama ini, akhirnya dia jatuh ke lembah dosa juga. Walau tanpa Tania inginkan, entah apa yang merasuki Tania malam itu. Dia tidak berpikir risiko yang akan ditimbulkan di kemudian hari. Bisa saja Tania akan menjadi seperti sang ibu, membuang anak yang tiada dosa ke panti asuhan.
”Apa yang akan aku lakukan?” batin Tania berteriak frustrasi.
Tania mengunci pintu kontrakan. Sebuah mobil menepi di pagar rumah.
“My Tan.” Argiolah yang keluar dari mobil tersebut.
“Hai.”
Tania tersenyum manis menyambut kekasihnya yang pagi ini terlihat sangat tampan. Pria itu mungkin akan mengernyit jijik terhadap Tania jika tahu apa yang sudah terjadi. Senyuman mungkin hilang dari bibir si tampan itu.
“Pagi, Gio,” ucap Tania mendekat kepada Argio.
“Pagi cantik,” balas Argio sekaligus memuji hingga kedua pipi Tania memerah. “Kita berangkat sekarang?” tanya Argio.
“Ayo.” Tania berjalan di samping Argio.
Secara gentle Argio membukan pintu penumpang depan untuk Tania. Hal ini disambut dengan hati bahagia oleh Tania. Tuhan, Tania sangat mencintai pria ini. Apa yang akan terjadi jika Argio mengetahui bahwa Tania telah menusuknya dari belakang? Tania sangat takut kehilangan Argio, namun ia juga tidak mungkin jujur soal kejadian tempo hari. Tania berharap Lafila dan Aldy melupakan malam terkutuk itu seperti Hino yang lupa ingatan. Mungkin begitu lebih baik.
Setiba mereka di gedung Alendra Company, Argio segera turun lalu membukakan pintu untuk Tania.
“Jangan terlalu capek, my Tan,” ucap Argio.
“Siap. Bos,” jawab Tania.
“Aku balik, ya.” Argio melajukan mobilnya dengan mulus di jalan raya menuju Marcuss Hotel tempatnya bekerja.
“Waaah bahagia banget nih pagi ini?”
Tania mendengar sapaan dari meja resepsionis. Di balik meja panjang, seorang gadis dengan rambut disanggul rapi tersenyum mengejek Tania.
“Pagi, Memey,” balas Tania tak acuh.
“Yeah, sombong ya mentang-mentang habis dianter pangerannya,” ledek Memey.
“Aduh, udah ah. Aku mau ke atas dulu, hampir telat ini.”
“Oke, Bu GM,” balas Memey membungkukkan badannya bersikap sopan yang dibuat-buat. Melihat kelakuan Memey,Tania menghadiahi sahabatnya itu tatapan tajam.
Memey adalah teman pertama Tania di kantor ini. Sewaktu masih di bagian marketing, Memey satu-satunya teman yang dapat Tania percaya dan menerima dirinya tanpa melihat latar belakang diri Tania yang berasal dari panti. Kemudian Tania diangkat menjadi sekretaris presdir, Ben Alendra, dan Memey masih tetap di meja receptionist. Mereka tetap menjadi sahabat hingga Tania menduduki jabatan General Manager di perusahaan ini.
“Pagi, Pak.”
Tania berpapasan dengan Ben Alendra ketika berjalan menuju lift karyawan, sedangkan Ben ke arah lift khusus petinggi perusahaan. Bapak presdir itu mengangguk lalu tersenyum hangat. Tania merasa tenang melihat senyuman itu. Senyum seorang ayah yang tidak pernah Tania miliki. Di kantor Ben sangat profesional terhadap karyawannya. Namun di luar kantor Ben menjadi sosok bapak yang hangat dan baik kepada Tania.
***
Tania segera turun menuju loby untuk menemui Memey dan mengajak gadis cantik itu makan siang.
“Eh, Tan, sini dulu dong!”
Tania mendekat ke meja Memey lalu duduk di kursi sebelah gadis itu.
“Masih banyak kerjaan kamu?” tanya Tania.
“Ini dikit lagi, aku mau menyerahkan janji temu ini kepada Pak Ben.”
Tania duduk tenang tanpa mengajak Memey bicara lagi. Tania memperhatikan lalu lalang karyawan yang keluar masuk kantor. Mata Tania melihat sepasang suami istri yang selalu tampak mesra di tempat umum berjalan ke melintasi loby. Lafila dan Aldy keluar dari kantor Alendra Company dengan wajah serius dan tidak memperhatikan orang-orang di sekeliling mereka yang melihat mereka dengan tatapan iri. Sesekali tangan Aldy mengelus perut Lafila.
Tania menyentuh perutnya sendiri. Tania takut sesuatu akan tumbuh di perutnya. Belakangan ini Tania berusaha melupakan kejadian malam itu.
“Kamu udah laper?” tanya Memey begitu melihat Tania sedang mengelus-elus perutnya. Tania tertawa kikuk lalu nengangguk.
“Sorry ya. Ini aku udah selesai kok. Ayo kita ke kafetaria,” ajak Memey.
***
Ben Alendra keluar dari ruangannya dengan wajah kusut. Kabar yang diberikan Aldy membuat ayah satu orang putra itu marah dan kecewa. Entah kenapa langkah kaki Ben membawanya menuju ruangan GM, Tania. Tepat saat Ben tiba di depan ruangan Tania, gadis itu keluar dari balik pintu.
“Sore, Pak,” tegur Tania agak kaget melihat presdir telah berdiri di depan ruangannnya.
“Iya,” jawab Ben datar.
“Mau pulang, Pak?” tanya Tania. Tania merasa atmosfer yang lain dari biasanya saat bersama Ben.
“Eng ... Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Tania sopan.
“Tidak ada. Kamu mau pulang?” tanya Ben dan Tania mengangguk.
“Kalau begitu hati-hati di jalan,” tukas Ben.
Tania meninggalakan Ben dengan perasaan aneh. Sepertinya presdir ingin menyampaikan sesuatu, tetapi beliau tahan. Atau ini hanya perasaan Tania saja? Mungkin Pak Ben sedang ada masalah, putusnya
***
“Masya Allah, Pi. Apa benar anak kita melakukan itu?”
Ben memberitahukan cerita dari Aldy kepada Dewi. Dewi mengusap d**a karena tidak menyangka pergaulan anaknya akan sebebas itu.
“Mami harus menyuruh Hino pulang secepatnya. Mami mau bicara sama dia. Kelakuan anak itu tidak bisa dimaafkan.”
Menunggu teleponnya diangkat Hino, Dewi berjalan mondar mandir di depan suaminya. Tangan kiri Dewi mengusap-usap d**a menyuruh tenang.
“Sabar, Mi. Sekarang jam tidurnya Hino. Mami tau sendirikan susah membangunkan anak itu,” ucap Ben.
Padahal tadi amarah Ben sudah di puncak, tapi melihat tingkah istrinya, amarah itu surut seketika. Ben sekarang bisa tersenyum melihat sang istri yang kini sedang kesal kepada anak mereka. Kesal Dewi juga sama sekali tidak mengerikan.
“Hino lagi ngapain lama banget ngangkat telepon Mami?” tanya Dewi begitu Hino menjawab salam darinya.
“Habis mandi, Mi.”
“Hino ambil penerbangan malam ini!” ucap Dewi tegas.
“Ada apa, Mi, kok mendadak?”
“Mami nggak mau tahu, jam delapan Hino sudah duduk di hadapan Mami Papi!”
Klik. Di tempatnya Hino tercenung mendengar kalimat tanpa basa basi maminya. Tidak seperti biasa Mami bicara seketus itu kepada Hino, kecuali Mami mengetahui bahwa Hino telah berbuat salah. Hino segera memesan tiket ke Palembang. Takut membayangkan amarah Mami.
“Duduk!” perintah Dewi setelah Hino memasuki rumah besar mereka.
Mami jadi ibu-ibu judes sih? Pikir Hino.
Hino yang memakai kaus hitam duduk di hadapan sepasang suami istri itu. Suasana tegang begitu kentara jika dilihat dari wajah Mami dan Papi. Hino menunduk di hadapan mereka sambil meremas jemarinya siap untuk mendengar apa yang akan dibicarakan Maha Ratu Dewi Sinta dan Pak Bos Ben Alendra.
“Nikahi Tania!” kata Dewi bagai petir yang menghantam telinga Hino.
“Tania siapa, Mi?” tanya Hino.
“Siapa? Berapa Tania yang kamu kenal?” tanya Dewi ketus.
“Hhhm .... Ada sih, tapi baru sekali ketemu,” jawab Hino dalam nada amat bingung.
“Ya di pertemuan pertama itu kamu langsung meniduri dia!” kata Dewi.
“Mami! Mami omongannya nggak sopan gitu sih?” tanya Hino shock dengan perkataan yang baru saja diucapkan Dewi.
“Jadi kamu nggak mau ngaku?” bentak Dewi.
“Hino nggak melakukan itu! Apalagi sama dia. Dia bukan tipe Hino kali, Mi!” sergah Hino.
“Tapi yang bukan selera kamu itu juga kamu makan?” sindir Dewi tajam.
“Aduuh. Mami dapat kabar nggak bener dari mana sih?” tanya Hino.
“Dari Papi,” jawab Ben singkat.
Hino membelalakkan mata mendengar pernyataan Ben.
“Hino nggak mungkin nidurin anak orang sembarangan, Pi,” sela Hino tak terima.
“Kamu yakin?” tanya Ben serius.
Hino jadi agak ragu. Dari mana Papi tahu kalau sejak terbangun di kamar Tania, Hino sering memiliki fantasi tentang gadis berambut panjang itu? Hino akui memang ia merasa aneh sebab entah mengapa sampai membayangkan dirinya dan Tania melakukan hal itu. Dan kalau dipikir-pikir soal bekas cakaran di pundaknya itu, apakah artinya mereka ....
“Kamu nggak bisa jawab?” ejek Ben.
“Hino nggak ingat apa-apa. Pagi itu tiba-tiba Hino bangun dan Hino sudah ada di kamar Tania. Dan Hino ....” tidak memakai apa-apa, ucap Hino dalam hati. Apakah mungkin?
“Dan kamu lupa telah meniduri anak perawan orang?” tanya Dewi gemas.
“Mami!” ucap Hino kesal disudutkan atas perbuatan yang tidak ia ingat sama sekali.
“Papi yakin kamulah lelaki pertama Tania. Papi sangat kenal anak itu. Jadi kamu harus bertanggung jawab!” kata Papi tegas.
“Kalau bukan yang pertama berarti nggak perlu?” Masih ada jalan keluar, pikir Hino, enak saja disuruh menikah secara tiba-tiba.
“Apa kamu bilang? Tidak ada bantahan, Hino Alendra. Kamu menikah dengan Tania!” Lantang, tegas, dan dominan perintah seorang Ben Alendra adalah titah raja yang wajib dilakukan.
“Kamu nggak bisa lari begitu saja, Hino! Tania gadis yang baik. Kalau kamu tidak menikahinya, kamu akan dikutuk bumi, Nak!” Dewi Sinta seorang ibu yang suka melebih-lebihkan keadaan.
“Hino masih mau kuliah, Mi, gimana bisa Hino menikah saat ini?” Sang anak berusaha membuat penawaran yang ia tahu adalah sia-sia.
“Lalu kamu mau lepas tanggung jawab begitu saja? Seandainya yang terburuk itu terjadi bagaimana?” ujar Dewi.
”Yang terburuk seperti apa? Kena penyakit kulit maksud Mami?”
”Hino!” Dewi membentak bikin Hino terperanjat.
“Kamu nggak bisa mengelak lagi, Boy. Di keluarga Alendra semua lelaki adalah pria yang mampu memikul tanggung jawab! Apa pun keadaannya, keharusan bagimu untuk menikahi gadis itu,” tegas Ben.
“Kita nggak tahu, bisa saja Tania nggak hamil. Nggak perlu dibikin seriuslah, Pi.”
“Bagaimana pun kamu harus menikahinya karena kamu telah merusak Tania!”
”Hino enggak merasa merusak apa-apa, Mami. Hino ngerti batasan. Mami tahu skinship Hino sama perempuan hm ... nggak pernah berlebihan. Kabar dari mana itu, Pi? Hino belum pernah pacaran yang serius. Mi, ayolah Hino belum punya pacar. Hino belum mau menikah, Mami!” Sifat kolokan anak kesayangan Mami Dewi akhirnya keluar mengingat masa mudanya akan berakhir kalau tidak bisa membatalkan niat orang tua.
”Hino! Kamu ini!” geram Dewi. ”Mami nggak mengajarkan kamu kurang ajar, No. kamu wajib tanggung jawab. Yang tidur sama Tania itu kamu.”
”Bukan! Hino nggak tahu. Mami cari orang lain saja. Itu bukan Hino!”
”Kita akan tentukan tanggal pernikahan kalian.”
Ben Alendra muak mendengar putranya berkilah. Ia tidak ingin putra satu-satunya menjadi seorang pria tidak bertanggung jawab. Ben nyaris merasa gagal menjadi orang tua. Dia harus menyelamatkan harga diri mereka semua.
Ben mengenal Tania. Gadis itu takkan mau kecuali Hino yang memaksa. Ben betul-betul ingin menghajar putranya sendiri, tetapi Dewi pasti akan balik menghajar Ben.
”Kita akan bertemu keluarga Aldy sebagai wali Tania. Secepatnya Hino dan Tania harus menikah.”
Ini kutukan bagi Hino, sang prince di kampusnya. Hilang sudah masa muda Hino Rezky Alendra.
***