Hino yakin waktu pertama kali melakukannya dengan Tania dia dalam pengaruh alkohol. Alam bawah sadarnya bahkan melarang ia meneguk minuman tersebut waktu di pesta. Hino tidak bisa menoleransi alkohol setetes pun. Dia akan kehilangan kesadaran.
Wajar sekali ia sampai lupa percint*annya dengan Tania malam itu sebab yang semalam Hino tidak bisa melupakannya. Seluruh kepalanya kini memutar kembali adegan saat ci*mannya mulai turun ke puncak hidung lalu merambat ke b*bir Tania. Malam yang sangat mendebarkan karena Hino tidak mendapat penolakan dari Tania.
Saat ini istri yang telah ia miliki lahir dan batin masih tertidur di sebelahnya. Rambut panjang Tania berserakan di sekitar kepalanya. Hino telah bangun sejak tadi. Ia menonton Tania yang tampaknya tidur begitu lelap. Seberkas cahaya jatuh ke wajah Tania. Hino mengulurkan tangan untuk menutupinya. Tania merapatkan selimutnya membuat Hino tersenyum. Sudah pukul 7.45 wib di Minggu yang tampaknya akan cerah ini. Hino libur, sehingga akan menunggui Tania sampai bangun.
Dalam lima menit, Hino ketiduran. Ia tak menyadari sekarang Tania membuka mata. Sekumpulan ingatan tentang semalam menyerbu masuk kepalanya. Tania segera mengintip di balik selimutnya. Ia menghela napas lega. Gaun satin itu masih menempel di tubuhnya. Ralat, bukan masih, tetapi dia pasang lagi setelah dilepas secara perlahan oleh suaminya.
Tania turun pelan-pelan agar tidak mengusik Hino. Perutnya terasa minta diberi jatah. Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, Tania memeriksa bahan-bahan di kulkas. Ada dua ekor nila dan kentang. Pagi ini Tania ingin makan perkedel yang simpel tanpa perlu hati ayam. Lalu ia akan menggoreng yang diolesi bawang putih serta jahe dan kungit.
Tania tengah mengupas kentang untuk digoreng. Ia merasakan sesuatu melingkari pinggangnya dan menempel di perutnya.
”Pagi, Baby dan Mamah.” Hino berbisik.
Aroma pasta gigi dan segarnya facial wash merambat di udara kemudian singgah di hidung Tania.
Gerakan Tania menjadi kaku. Ia didominasi oleh pikiran. Apakah ia harus bertahan dipeluk seperti ini? Apakah ia boleh melepaskan diri? Apakah ia harus mengatakannya dulu?
Hino sendiri yang melepaskan pelukan tersebut. Dia pun berdiri di sebelah Tania ikut membantu mengupas kentang yang tersisa dua lagi.
”Masak apa, Tan?”
”Tunggu aja di sana, nggak usah ikut-ikutan.”
Hino menggaruk kepala dengan telunjuk. Salah apa lagi dirinya?
Tak mau membuat ibu hamil marah di pagi hari, Hino manut. Dia duduk di bangku yang mejanya masih kosong. Dari sana Hino memperhatikan kegiatan Tania.
”Tuh orang senang banget nyiksa gua,” pikirnya. Ayunan kain berbahan satin saat Tania bergerak seakan memanggil untuk dilepas. Pikiran-pikiran gila yang sejak beberapa lama ia kontrol kuat, kini mulai bermunculan lagi.
”Bod*, gue mau.” Hino bangkit dari tempat duduk. Kaki panjangnya berjalan cepat mendekati Tania.
Di tangan Tania ada pisau karena ia tengah memotong kentang. Cowok itu nggak peduli. Dia menunduk ke pundak Tania. Hidungnya menempel di bahu wanita itu dan menghirup aroma yang ia sukai dari Tania.
Pisau yang dijatuhkan Tania memantul dari pantri ke lantai untung tidak mengenai kaki mereka. Lengan Hino memeluk tabuh Tania saat hidungnya masih menikmati aroma yang menguar dari tubuh istrinya.
”Kenapa sih?” tanya Tania bingung. Tidak biasanya mereka peluk-pelukan di pagi hari.
”Ada yang salah?” tanya Tania lagi menepuk-nepuk punggung suaminya.
”Nggak ada apa-apa. Aku suka ci*m kamu seperti itu,” jawab Hino dan membuat pipi Tania bersemu disusul oleh suara kriuk dari perut si wanita hamil.
Mereka berdua terdiam. Tania dengan malunya dan Hino dengan rasa bersalahnya.
”Oke. Aku nggak akan mengganggu lagi. Panggil aku kalau kamu butuh bantuan.”
Tak sampai tiga menit p*ntat Hino menyentuh kursi, Tania memanggilnya. Cowok itu melesat secepat kilat.
”Bantu lumatkan kentangnya.” Tania menyerahkan gorengan kentang dalam mangkuk serta gelas.
”Siap, Istriku.” Hino sangat senang diberi kepercayaan menghaluskan kentang.
Begitu pekerjaan Hino selesai, Tania menaburkan bawang yang sudah ia goreng beserta bumbu lainnya. Hino mengaduk adonan tersebut dengan hati-hati.
”Bulatkan terus bikin gepeng seperti ini,” ucap Tania memberikan contoh.
”Tania,” panggil Hino.
Tania hanya menjawab dengan gumaman.
”Keberatan kalau aku panggil kamu ‘sayang’?”
Tania tak menduga akan ada pertanyaan sejenis itu. Jika itu Hino, segala hal akan dia sertakan izin. Semalam contohnya. Selama ini Hino menahan diri karena Tania tidak memberikan izin.
”Terserah.”
Hino paling tidak senang dengan kata terserah. Ia banyak makna kalau keluar dari mulut perempuan.
”Kok terserah, sih? Gini aja, aku coba dulu deh, Yang. Bagaimana?”
”Aneh.” Tania menjawab ketus karena ia merasa aneh dengan panggilan itu.
”Kalau langsung aja, Sayang?”
”Nggak cocok banget. Sudahlah seperti biasanya aja.”
”Hah. Oke oke. Nggak perlu kata-kata sayang karena sayangnya aku sama kamu cukup kamu rasakan aja.” Hino pun mengecup cepat pipi Tania.
”Aduh!” Tania menyentuh perutnya.
”Kenapa, Tan? Perut kamu sakit?”
”Mual.”
Hino mengusap-usap perut Tania sambil berkata bayinya agar jangan nakal. Jangan sampai mama muntah-muntah.
”Bukan bayinya yang nakal,” omel Tania menepuk punggung tangan Hino. ”Bapaknya yang bikin mual.”
”Kok aku sih?”
Tania tertawa. Ia tak lagi melanjutnya percakapan dan hanya sibuk dengan pekerjaan membulatkan perkedel. Setelah semuanya selesai, Tania memanaskan minyak kemudian memecahkan kulit telur.
Sarapan pagi dimulai setelah perkedel kentang Tania sajikan di atas meja. Ikan nila belum digoreng, tetapi sudah ia bumbui.
***
”Beli sepeda lagi, yuk.”
Saat ini mereka baru saja selesai mencuci piring bekas makan siang. Nila goreng dan sambal terasi beserta kerupuk kemplang yang tak boleh ketinggalan. Tania juga ikut-ikutan mengunyah makanan garing tersebut walau hanya sebiji.
”Memangnya di sini nggak bisa sewa aja?”
”Nggak ada, Tan. Mending kita beli. Masalah uang kamu jangan khawatir. Papi banyak duit.”
”Gini nih kalau menikahi anak kecil," cibir Tania.
”Aku masih ditanggung sampai selesai kuliah. Mereka itu anaknya cuma aku. Jadi uangnya mau dikemanakan kalau bukan untuk anak dan cucu? Dan menantu.” Hino tertawa menampakkan giginya.
”Jangan minta lagi, No. Aku punya uang kok. Nggak enak sama Papi dan Mami.”
”Uang kamu, ya, uang kamu. Itu kamu dapatkan dengan bekerja. Untuk hidup kita, biarin Papi yang nanggung cuma sampai aku wisuda, Tan. Kamu nggak bekerja dan harus bayar uang kuliah juga.”
Tania kemudian menoleh dan menatap Hino dengan raut muka kaget.
”Aku punya teman yang mulutnya gak bisa dikondisikan.”
”Aku lupa itu. Semester depan kalian bayar uang kuliah baru. No, aku bekerja lagi. Boleh? Aku lupa. Aku nggak bisa tidak bekerja.”
”Tania,” panggil Hino melihat Tania gelisah.
”Tania. Aku minta nggak bekerja artinya semua kebutuhan kamu, aku yang penuhi, termasuk tanggungan kamu. Memang untuk saat ini aku belum bekerja, tapi aku punya tabungan. Sumpah, aku bisa membiayai dua orang kuliah dan kehidupan kita berdua, kok. Nggak usah bekerja, ya? Kamu bisa ‘kan? Cukup kamu nolak waktu aku panggil sayang, aku minta di rumah, kamunya mau. Oke, Tania?”
”Terlalu berat untuk kamu, No.”
”Enggak. Dari awal aku sudah tahu kamu membiayai kuliah Nagita, aku sudah mikirin ini. Sebagai suami kamu, aku yang akan menanggung hidup kamu. Dan tugas kamu mengurus aku.”
”Beneran kamu nggak keberatan? Semua ini terlalu mendadak. Aku tidak berencana ada pernikahan dalam waktu secepat ini dan aku akan menguliahkan Nagi sampai tamat. Begitu skenarionya.”
”Yah siapa yang tahu skenario Tuhan, Tania. Aku tahu kita nggak sengaja, tapi aku yakin itulah jalan takdir kita. Aku pikir-pikir, kenapa sampai nggak sadar saat meneguk minuman keras. Aku nggak bisa minum sedikit pun.”
”Maksudnya? Minuman keras apaan, No?”
”Oh itu. Apa ya, oh, itu, Mami melarang minum alkohol. Aku nggak bisa mengonsumsinya.”
”Tuhan juga mengharamkannya, Hino,” sanggah Tania.
”Kamu keberatan kalau kita membicarakan kejadian malam itu? Ada yang perlu dibahas, Tan.”
Wajah Tania terasa panas. Selain malam itu, ia kembali mengingat yang tadi malam. Rasanya baru saja terjadi.
”Sudah lewat, No. Nggak usah diusahakan mengingat.”
Hino mengangguk. Dia bertanya-tanya, kenapa Nagita memberikan minuman keras kepada kakaknya? Nagita juga yang sengaja minta tolong kepada Hino untuk mengantarkan. Apakah dia sengaja? Apakah dia pikir Hino akan ditawarkan minum mengingat sifat kakaknya? Tujuannya apa? Hino tak pernah mengakui pada Nagita jika ia tak bisa menoleransi alkohol. Maksud Nagita apa?
”Sepedanya aku yang beli. Uang kamu disimpan aja,” tegas Hino saat mereka bersiap ke toko sepeda.
***
Waktu mereka tiba di toko sepeda dan Tania duduk di sadel, dia langsung mengeluh, ”No, nggak nyaman. Jangan beli buat aku.”
Hino menekan bawah hidungnya ketika melihat kepada penjual. Ia merasa tidak enak. Hino membeli sepeda bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi khusus untuk membuat Tania senang. Namun, yang dituju malah berkata seperti itu. Sepeda yang dibawa saat kecelakaan dulu, masih bisa diperbaiki.
”Istri saya sedang hamil, Pak. Maafkan kami, hari ini belum jadi ambil sepedanya.”
”Satu dulu buat masnya. Olahraga itu perlu, apalagi untuk menyiapkan stamina saat istrinya tiba-tiba butuh gendong waktu lahiran.”
Hino hampir terg*da. Jika itu ada hubungan dengan Tania, dia akan melakukannya. Namun, cubitan Tania membuat mulut Hino yang akan bilang ‘iya’ segera terkatup.
”Aduh, No, sekarang cari makan dulu. Aku kelaperan banget. Kasihan anak kamu,” keluh Tania, sengaja membuat ekspresi butuh diasupi makanan.
”Maaf sekali, Pak, kami permisi dulu. Lain kali kami kembali. Terima kasih, Pak.” Hino merangkul Tania ketika menuju mobil. ia senang merasakan keempukan lengan atas istrinya.
”Tidak usah buang duit. Kamu belum bekerja!” Tania memperingati.
”Tan! Aku punya tabungan,” protesnya.
Tania melipat tangan di d**a. ”Aku nggak bilang kamu tidak punya uang. Apa salahnya uang kamu itu dipake untuk sesuatu yang perlu saja? Sebentar lagi anak kita lahir. Mending untuk keperluan dia. Apa sepeda bisa dipakai ngurus bayi?”
”Maaf. Aku akan dengerin kamu. Kamu ingin makan apa, Tania?” rayu Hino melihat muka istrinya tampak tidak bersahabat.
”Dan satu lagi. Ingat kamu, Hino, sudah ada aku istri kamu. Jangan lirik-lirik apalagi jalan sama perempuan lain!” Tania dengan keadaan emosi yang sedang tinggi akhirnya mengatakan kalimat yang semalam belum berani ia ucapkan. Setelahnya, ia berjalan cepat di bahu jalan menuju tempat mobil mereka diparkir.
”Bukan berarti kamu cemburu?” kejar Hino hingga kini berjalan di sebelah Tania.
”Cemburu ataupun tidak, enggak pantes kamu nemenin teman kamu berduaan malam-malam. Tanya sama siapa saja, ada nggak istri yang senang suaminya makan malam di rumah cewek yang habis ia antar pulang?”
”Iya. Aku salah.” Hino membukakan pintu mobil untuk wanita yang sedang menormalkan emosinya.
”Aku melakukan kesalahan. Untuk itu, kamu mau maafin aku?”
Tania mengalihkan pandangannya ke kaca jendela di sebelahnya.
”Tapi aku senang, Tania, kamu sudah mengungkapkan hal yang tidak kamu sukai. Aku ingin seterusnya kamu begini. Aku pasti akan menjauhi hal-hal yang kamu benci.”
Hino masih berusaha mengambil perhatian Tania dengan memanggil nama wanita itu. Tibalah mereka di depan restoran nasi khas Sunda. Hino memarkirkan kendaraan.
”Aku nggak punya motif apa-apa. Sumpah, Tan. Potong lidah aku kalau kamu ingin percaya. Aku menerima ajakannya karena kasihan. Aku anter pulang juga kasihan. Aku bisa jamin aku nggak berbuat aneh-aneh di luar sana. Kamu percaya sama aku?”
”Hm.”
Bagi Hino, Tania memiliki banyak kepribadian. Terkadang ia seperti gadis polos dan setuju dengan apa saja yang diucapkan orang lain. Terkadang ia menjadi tukang atur dan hobi marah-marah. Terkadang seperti wanita pada umumnya yang bilang terserah padahal banyak maunya.
***