LIMA

1600 Words
LOVE CERITA INI, YA GUYS. *** Hino meraba-raba tempat tidurnya. Suara dering ponsel masih mengganggu ketenangan tidur Hino sebelum ia membanting benda canggih itu. “Hino, bangun! Udah lewat waktu makan malam, mandi gih terus turun ke bawah!” Hino terlonjak kaget lalu melihat jam di ponselnya. Mata Hino membeliak mendapatkan dua belas missed calls dari nomor yang sama. Digigit Nyamuk. Nama untuk nomor ponsel sahabatnya. “Aaaaah ... Hino lupa ada janji hari ini, Mi,” kata Hino sambil mengacak-acak rambutnya. “Janji sama siapa?” “Mau nganterin titipan Nagita. Hino langsung aja ya soalnya udah kemalaman.” Hino keluar dan menutup dengan keras pintu kamarnya. Hanya lima detik setelah itu, pintu kamar Hino kembali terbuka. “Mami, kalau Hino agak telat langsung tidur aja! Daah, Mi.” Sekali lagi Hino membuat Dewi jantungan karena membanting pintu seenaknya. Dewi melihat jam di nakas tempat tidur Hino yang bercahaya biru. “Ini memang sudah cukup malam untuk bertamu. Sudah jam delapan lewat.  Dasar Hino kalau sudah tidur susah sekali dibangunkan,” ucap Dewi mengoceh sendirian sambil berjalan menuju kamarnya. ***   “Mana sih alamatnya?” gerutu Hino. Hino sudah berputar-putar di komplek ini, tetapi nomor rumah yang ada di tangannya belum kelihatan. Mana lagi panggilan alam berteriak agar Hino mau membebaskan mereka. Hino tidak seperti lelaki lain yang bisa tinggal semprot di mana saja asal lega. Apalagi untuk menyemprotkan benihnya sembarangan. “Ya ampun, jadi dari tadi gue bolak-balik pas di depan rumah ini?” Hino memarkirkan sedannya di halaman rumah yang hanya cukup untuk dua mobil itu. Hino segera mengaktifkan alarm agar tidak ada tangan jail yang mengganggu mobil kesayangannya. Hino  berdiri dengan gelisah menahan sesuatu yang mendesak dari tempat penampungannya. Tangannya mengetuk pintu kuat-kuat. “Iya, siapa ya?” tanya tuan rumah setelah melebarkan daun pintu. “Permisi, kamar mandi ada di mana?” Masih sempat Hino memperhatikan penampilan gadis di depannya.  Wanita muda itu memakai daster bergambar doraemon biru sepanjang lutut. “Ini cewek nggak modis banget?” gumam Hino. Perempuan itu, Tania, mengerti dengan keadaan mendesak dari tamu tak diundang. Tanpa berburuk sangka Tania mengajak Hino menuju kamar mandi yang terletak di samping dapur. Tania segera menuju ruang tamu kembali. Satu hal yang tidak akan dilakukan Tania adalah mengunci pintu karena saat ini hanya ada dirinya dan seorang lelaki di dalam rumah. “Maaf. Aku nggak sopan banget, ya?” tanya Hino sekembalinya dari kamar mandi. Wajah Hino sudah rileks dan pembawaannya tenang. “Nggak apa-apa. Ayo silakan duduk.” Hino mengempaskan pantatnya di sofa tunggal berlapis kulit cokelat mengilap yang berhadapan dengan bangku Tania. “Jadi kenalin, aku Hino temannya Nagita,” ucap Hino memulai beramah-tamah kepada gadis sederhana yang duduk di hadapannya. “Tania,” ucap Tania pun ramah berusaha tahan dengan pesona seorang lelaki di hadapannya. “Maaf banget, gue ketiduran. Oh iya, ini titipannya si Gita.” Hino segera menyerahkan kotak hitam dari Nagita kepada Tania. “Kalau gitu gue langsung aja udah malem.” “Jangan! Tunggu sebentar. Aku mau nyiapin ini dulu. Kamu harus mencoba sebagai ucapan terima kasih aku.” Hino pun menurut saja dan duduk manis di sofa sembari menunggu Tania kembali ke tempatnya lagi. Hino memperhatikan keseluruhan ruangan ini. Kecil dan sederhana, bahkan apartemennya di Bandung lebih besar dari ini. Apalagi rumah kediaman kedua orang tua Hino. “Naaah. Ini dia varian baru yang dibangga-banggakan Nagita. Ayo kamu harus mencobanya!” Hino melirik makanan yang lumayan menggugah selera itu. Kalau ini buatan Nagita, berarti cukup bisa dimakan. Hino sering mencicipi makanan baru Nagita dan rasanya tak pernah sampai tidak sanggup dimakan. Aah, Hino mulai pusing jika sudah mengingat sifat ajaib sahabat sekampungnya itu. Hino pun segera meraih garpu yang telah disediakan Tania di piring kecil. “Eeehm. Seperti biasa, bisa dimakan,” ucap Hino berbeda dengan lidahnya yang begitu menikmati bolu buatan Nagita itu. “Uhuuk uhuuk.” Hino tersedak kue yang ia makan. Tania segera memberikan segelas sirup dari Nagita yang sudah ia siapkan dua gelas untuknya dan Hino. “Minum,” ucap Tania menyerahkan gelas berwarna merah. Hino langsung meneguk sampai habis isi gelas itu. Melihat hausnya Hino, Tania pun meminum isi gelas miliknya sampai habis karena merasakan tenggorokannya juga kering. “Nggak ikhlas banget si Gita ngasih makanan. Masak baru tiga suapan gue udah keselek?” gerutu Hino. Tania dan Hino akhirnya menyelesaikan bolu itu berdua. Dan tegukan terakhir minuman dari Nagita pun habis mereka minum. Keduanya bersandar di sofa masing-masing sambil tersenyum. “Kita makan udah kayak nggak makan seminggu ya?” tanya Tania melihat piring kotor tempat bolu tadi. “Iya. Tumben banget gue bisa ngabisin makanannya si Gita,” jawab Hino sambil mengipas-ngipas leher dengan tangan. “Sudah lama berteman dengan Nagita?” tanya Tania juga mulai merasa panas. Tania pun mengambil karet pengikat rambut lalu mengikat tinggi rambutnya. Melihat leher putih Tania yang terekspos membuat sesuatu di dalam diri Hino gelisah. Hino menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaan Tania. “Kita satu SMA dan sekarang kuliah di kampus yang sama walau beda jurusan,” ucap Hino dengan suara serak. Tania semakin merasakan panas di sekujur tubuhnya. Ia mengipas-ngipas lehernya dengan tutup kotak kue. “Panas banget ya hari ini. Pasti kamu nggak tahan dengan rumah sederhana seperti ini,” ucap Tania. Hino membuka jaket yang sejak tadi masih terpasang rapi di tubuh tegapnya. Setelah itu Hino membuka kancing kemeja yang ia gunakan. Entah mengapa Tania ingin sekali membantu Hino membuka kancing itu. Tania bergerak ke depan. Ia membantu melepaskan kancing kemeja Hino yang lainnya. Keduanya bagai tersetrum aliran listrik tingkat tinggi ketika kulit mereka bersentuhan, tetapi rasanya menyenangkan. Hino memperhatikan wajah putih Tania yang sepertinya gelisah. Keringat mengalir di pelipis Tania. Hino menyentuh pelipis Tania berniat ingin menghapus keringat gadis itu. Sentuhan Hino membuat Tania mengeluarkan satu desahan. Hino sangat mendambakan bibir seksi yang baru saja memancing gairahnya itu. Seketika itu juga Hino langsung menyerang bibir merah Tania. Tania menyukai rasa manis yang mengalir di mulut mereka yang bersatu mungkin oleh minuman merah atau brownies tadi. “Tania,” ucap Hino serak. Aura panas kini sangat mendominasi ruang tamu Tania. Suara lenguhan dan pertamuan dua kulit terdengar disertai teriakan.   ***   “Tan,” bisik Hino yang baru saja bangun dan mendapati Tania dalam dekapannya. Tania membuka matanya dan mendapati dirinya dalam keadaan yang sangat memalukan. Berada dalam pelukan seorang pria yang baru ia kenal tanpa sehelai benang. Mulutnya terbuka saat menyadari bahwa keadaan pria di sampingnya juga sama seperti dirinya. Mata Tania melebar dan ingin berteriak namun gagal karena Hino segera membungkam teriakan Tania dengan bibirnya. Sialnya Tania harus mengeluarkan suara menjijikkan itu lagi. Hingga beberapa saat lamanya hanya suara-suara e****s yang terdengar di kamar sempit itu sebelum keduanya letih dan terlelap di balik selimut.  ***   “Lho ini mobil siapa, Yang?” tanya Lafila kepada Aldy ketika mobil mereka memasuki pagar rumah Tania. “Seperti mobil Hino? Bener nggak, ya? Anaknya Tante Dewi, Yang.” Lafila  menerka-nerka. “Ngapain dia di sini?” tanya Lafila lebih kepada dirinya sendiri. Mereka tiba di depan pintu. Lafila mengetuk berkali-kali, namun tidak ada jawaban dari dalam. Lalu Aldy menyentuh handle dan seketika pintu itu pun terkuak. “Nggak dikunci,” ucap Aldy. Mereka berjalan ke dalam rumah dan melihat meja tamu yang begitu berantakan. Aldy mulai curiga ketika melihat  pakaian berserakan di lantai. Dengan menggenggam jemari sang istri, Aldy berjalan menelusuri rumah itu. Aldy agak sangsi begitu niat ingin melihat ke kamar Tania tercetus. Aldy ingin mempercayai Tania sebagai gadis baik yang selama ini dibanggakannya. Oleh sebab itu, Aldy berpikir berulang-ulang untuk melongok ke kamar berpintu cokelat itu. “Yang ....” Lafila juga mulai curiga. “Mungkin Tante Dewi datang ke sini, Yang,”  ucap Aldy berusaha menenangkan hatinya serta hati sang istri. Rasa penasaran ternyata lebih tinggi daripada rasa lain yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Hingga tangan mungil Lafila telah menekan gagang pintu kamar ke bawah. Aldy membantu dengan mendorong pintu yang tidak dikunci itu. Mata kedua pasangan muda ini terbelalak begitu melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka. Di atas ranjang itu, Tania dan Hino yang sepertinya tidak memakai pakaian apa pun tampak begitu lelap sambil berpelukan. Aldy yakin di balik selimut itu tidak ada kain lain yang membatasi mereka. “s****n!” Aldy kini mulai mengumpat. Pria yang biasanya bicara sopan itu dipenuhi amarah melihat itu semua. Hal inilah yang selalu Aldy antisipasi saat ada lelaki yang mendekati Tania. Bahkan sampai sekarang, Aldy belum memberikan restunya terhadap Argio. Akan tetapi sekarang Tania berada dalam pelukan lelaki yang lain. Aldy kecewa. Ia berjalan meninggalkan kamar itu. Seperginya Aldy, Lafila mengambil sebuah selimut lain dari dalam lemari. Ia mengguncang bahu Tania perlahan. “Tan bangun!” Begitu lembut di telinga Tania namun mampu membuatnya membuka mata. Tania langsung melihat bola mata sedih dari balik kacamata Lafila. Tania merasa aneh lalu berniat duduk. Lafila langsung memberikan selimut yang tadi diambilnya kepada Tania. Pertanyaan “Ini apa?” yang tak terucap dari bibir Tania langsung terjawab begitu Tania melihat tubuhnya yang polos. Tania segera menyelimuti dirinya dan berdiri dari ranjang. “Aaaaw ....” Gadis berambut panjang itu meringis ketika merasakan perih di kewanitaannya. Lafila membantu Tania berjalan menuju kamar mandi. Lafila mengambil baju secara acak untuk Tania. “Kamu mandi dan bersihkan diri kamu. Ini bajunya.” Lafila meninggalkan Tania sendirian di kamar mandi. Tania mulai ingat dengan kilasan kejadian semalam. Nafsu binatang menguasai Tania sehingga membutakan akal sehatnya. Tania meluruhkan satu-satunya penutup tubuh dan menatap bayangan di cermin. Tangis Tania lolos begitu menyadari keadaan tubuhnya yang begitu memprihatinkan. Bercak merah terdapat di mana-mana dan yang paling banyak berada di bagian d**a serta leher. Tania menangis pilu atas kebodohannya semalam. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD