DUA PULUH EMPAT

2240 Words

Hino memperhatikan kegiatan Tania pagi ini. Istrinya menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Tania mengolesi roti tawar dengan keju, menaburkan bawang, daging, dan menumpuk sayur serta telur di atas roti. Terakhir Tania mengolesi saus. Tania tengah menuangkan kopi dan s*su ibu hamil ke dalam gelas. “Nggak usah segitunya ngeliat aku.  Ayo duduk!” ajak Tania. Hino menghampiri Tania kemudian berdiri sangat dekat lalu menempelkan b*birnya pada b*bir Tania sekilas. Belum habis keterkejutan Tania, Hino membungkuk di depan perut Tania. Tangannya meny*ntuh perut yang mulai berisi tersebut. “Apa kabar, B*by? Kamu nggak nakal di sini? Kasihan Mama. Tumbuh sehat ya, Sayang.” Hino mendongak lalu berkata, ”Aku panggil ‘sayang’ untuk anak aku. Kamunya jangan cemburu. Dulu aku dilarang. Sekarang ngga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD