“Aduh... Pelan-pelan, apa!” Rakabumi mengentikan langkahnya, dia menatap jengah Reina disampingnya yang terus saja menggerutu tak jelas, seperti tadi contohnya. Padahal, dia menarik perempuan itu biasa saja, tanpa ada kekerasan apapun, meskipun sedikit paksaan. Tapi, perempuan itu bersikap dan berucap seakan dirinya menarik dengan keras hingga menyebabkan rasa sakit padanya. Padahal kan tidak. Reina mencebikkan bibirnya, menatap kesal Rakabumi yang memaksanya. Sebenarnya, dia tak merasa sakit atau apa, hanya saja kesal karena Rakabumi memaksa. Oke, Reina sebenarnya enggak juga menolak ajakan Rakabumi untuk ikut menemui rekan bisnis pria itu. Ucapannya hanya seperti gengsi semata. Gengsi dong kalau dia langsung saja menjawab iya, jadi harus ada sedikit penolakan dulu. Meskipun, pada akh

