17- Hanya Karena Sebuah Goresan

1202 Words
"Nino, bisa dijelaskan apa yang terjadi ini?!" tanya Putri dengan dingin. Nada ramah dan senyum lebarnya seketika lenyap tak berbekas. Nino dan Argan bersitatap. Mereka tak tahu apa yang harus mereka jawab dari pertanyaan Putri itu. Karena setahu mereka, mereka telah menyimpan bahkan melindungi barang bernama Minifigure Minecraft itu dengan baik, bahkan dengan segenap isi hati mereka. Namun entah mengapa bisa masih tergores seperti itu. Nino dan Argan masih bersitatap, sedangkan Putri kini makin tampak kesal setelah mengamati goresan di minifig itu. Raut wajah gadis itu tampak seperti hampir menangis sekarang. "Kalian pasti lempar minifig ini, 'kan?" Putri kini blak- blakan bertanya. Ia masih sangat kesal. "Atau kalian berebut sampai tarik- tarikan sama orang?" tanyanya lagi dengan menggebu. Nino dan Argan masih terdiam tak bergeming, mereka menelan air ludah masing- masing dengan susah payah. Ingatan mereka kini terputar pada drama perebutan minifig itu tadi pagi yang sangat menguras emosi. Memang benar mereka melempar minifig itu. Iya, Nino bahkan mengakui bahwa hanya dengan cara itulah mereka dapat memperoleh barang itu. Namun apa masuk akal jika hanya dilempar maka akan timbul goresan seperti itu? "Jawab, Nino!" bentak Putri tiba- tiba di tengah keheningan. Gadis itu menggebu- gebu. Napasnya tersengal. Nino menarik napasnya dalam- dalam sebelum menjawab pertanyaan Putri itu. Setelah dirasanya siap, cowok itu segera menjawabnya. "Memang benar kita sampai berebut minifig itu, dan kita melempar minifig itu. Tapi kita gak sampai tarik- tarikan, kok, Put," jelas cowok berambut hitam itu dengan hati- hati. Ia takut salah menjawab. Argan yang melihat Nino mencoba menjelaskan itu pun tak mau tinggal diam. Bagaimana pun juga ini tanggungjawab keduanya, dan ia harus bertanggungjawab. "Iya, bener, Put. Karena dengan cara dilempar itulah kita berdua bisa dapetin barang itu." Argan menatap gadis itu dengan takut- takut. Putri masih terdiam di tempatnya. Namun wajah gadis itu tampak seperti tengah memikirkan apa yang dikatakan oleh Argan dan Nino itu. "Jadi benar kalian berdua melempar minifig ini?" tanya Putri dengan suara sangat lirih yang tampak seperti tengah berbicara dengan dirinya sendiri. Gadis itu menggumam tak jelas membuat Argan dan Nino reflek menoleh dan saling bersitatap. "Gak apa- apa, 'kan, Put?" Nino yang jengah menunggu Putri yang masih menggumam tak jelas itu pun menanyai gadis itu. Dalam hati Nino berharap Putri masih berbaik hati dan segera membayar upah untuk mereka. Nino sudah merasa sangat lelah sekarang, setelah semalaman begadang dan membiarkan Argan yang tidur. Bahkan Nino harus mengorbankan jam tidurnya. Setelah itu pagi harinya mereka harus berdesakan, berhimpit, bahkan sempat mendapat cakaran ketika berada dalam drama perebutan minifig itu. Bahkan tadi ia dan Argan tak sempat untuk sekadar mengisi perut masing- masing. Dan mereka sangat lemas sekarang. Jadi sekarang Nino hanya ingin segera kembali ke kamar kosnya dan tidur sepanjang hari. Putri yang sejak tadi masih terdiam itu, kini mengangkat kepalanya, ia menatap Nino dan Argan yang masih menunggu jawaban darinya itu. Gadis itu kini sukses mengubah raut wajahnya 180 derajat. Tak ada senyum lebar seperti tadi lagi, bahkan kini yang ada hanya seringai mengerikan dan tatapan dingin. Sungguh sekarang Argan merasa Natasha Wilona jauh lebih baik daripada Putri. "Kalau begitu ... gue gak mau bayar upah kalian." Putri berujar dengan dingin. Sorot matanya tajam. Ucapan dingin dari Putri itu tentu saja sontak membuat Nino dan Argan memelototkan mata masing- masing. Kedua cowok itu terkejut mendengar ucapan dingin dari Putri itu. Putri .... baru saja mengatakan tak mau membayar upah mereka? "Put, lo gak mau bayar upah kita? Yang benar aja!" ucap Nino. Cowok itu kini ikut marah. Dalam hatinya kini sudah terdapat banyak sekali u*****n yang akan ditujukan untuk gadis di depannya itu. Namun sekali lagi ia mengingatkan dirinya untuk tak berkata kasar di hadapan seorang wanita. Siapapun itu. Argan merasakan hal yang sama. Cowok itu melirik pada Nino yang tampak kesal itu. "Iya, Put. Lo gak bisa begitu saja gak bayar tenaga kita yang udah susah payah dapetin barang itu." Putri menatap Argan dengan seringai. "Kenapa gak bisa? Dalam perjanjiannya disebutkan kalau gue baru akan bayar upah kalian kalau minifig ini sampai di tangan gue tanpa goresan sedikit pun," jelasnya. Gadis itu menunduk dan mencari goresan yang ia maksud itu lalu menunjuknya, ia menghadapkan goresan itu agar dapat dilihat oleh Argan. "Ini!" Ia lagi- lagi menunjukkan goresan yang tampak samar itu. "Lo bisa lihat, 'kan ada goresan di sini?" Argan menganga melihat reaksi Putri. Ia sungguh menarik kata- kata dalam hatinya yang menyebutkan bahwa Putri ini mirip Natasha Wilona. Bahkan kedua gadis itu tak bisa dibandingkan. Putri benar- benar menakutkan. Dan semua itu hanya karena sebuah goresan. "Cuma goresan kecil, Put." Argan ikut menunjuk- nunjuk goresan itu. "Lagian kalau dilihat dari jauh itu gak kelihatan sama sekali," sambungnya dengan nada kesal. "Cuma goresan kecil lo bilang?" Putri kini tersulut emosi. Ia mengangkat dagunya menantang Argan. "Bagi gue yang pecinta minifig ini sama sekali gak menolerir goresan satu pun, meskipun itu goresan kecil," jelasnya. Ia melirik Nino yang terdiam. "Lagipula kalian juga selalu menginginkan kesempurnaan dalam hidup kalian, 'kan, sama halnya dengan barang yang kalian miliki. Pasti kalian juga melakukan hal yang sama jika melihat goresan di benda berharga milik kalian." Argan dan Nino tak dapat membalas perkataan Putri barusan. Mereka terdiam. Bahkan mereka membenarkan ucapan Putri itu. "Terus juga kalian tahu 'kan kalau minifig ini harganya bahkan dua kali lipat dari biaya SPP Semester kalian. Jadi tentu aja kalau gue marah meskipun cuma ada goresan kecil di sini." Putri menyambung ucapannya lagi saat kedua cowok itu hanya diam. Nino menarik napasnya dalam- dalam. Ia tengah mengendalikan dirinya agar tak terpancing oleh perkataan dari Putri itu. Setelahnya barulah cowok itu membuka bibirnya. "Put, lo tahu bagaimana gue dan Argan udah susah payah dapatin barang itu, kita bahkan rela tidur di depan toko itu sampai pagi. Lo juga tahu kalau bahkan setelah kita dapatin barang berharga lo itu kita benar- benar jaga. Bahkan kita jaga dengan segenap hati kita," jelas Nino dengan panjang lebar. Ia menjeda, untuk selanjutnya diteruskan. "Jadi gak mungkin banget ada goresan seperti itu karena ulah kita," sambungnya. Putri mengerjap. Perkataan Nino memang benar adanya. "Dan kalaupun goresan itu karena ulah kita, bisa dong lo tetap bayar upah kita meskipun separuh dari perjanjian. Seenggaknya lo tetap hargai usaha kita, bukannya malah gak mau bayar seperti itu." Nino lagi- lagi melampiaskan seluruh uneg- uneg di pikirannya. Putri mengerjap dan gadis itu tetap tak menolerir kesalahan apapun dan sekecil apapun. "Enggak. Pokoknya gue tetap gak mau bayar," putusnya. Gadis itu beranjak dari duduknya sambil mendekap minifignya itu. "Sekarang lebih baik kalian pulang karena urusan kita udah selesai." Mata Argan dan Nino kini benar- benar mendelik. Mereka tak percaya bahwa Putri memang mengusir mereka. "Put gak bisa gini dong." Nino mengulurkan tangannya hendak menyentuh tangan gadis itu namun langsung ditepisnya. Sedangkan Argan hendak maju untuk mendekat dan meminta penjelasan lebih lanjut, namun Putri sudah meneriakinya. "Pak Satpam! Pak Satpam! Usir kedua orang ini dari sini!" Putri terlihat ketakutan saat mendapatkan penolakan seperti itu. "Put!" Nino geram dan kesal sekarang. Kesabarannya sudah habis. Bahkan saat satpam kini mulai berdatangan dan menarik ia dan Argan untuk ke luar dari rumah itu. Dengan Argan yang terus memberontak. Nino menatap Putri dengan nyalang. Ia tak terima gadis itu merendahkan harga dirinya seperti ini, bahkan setelah apa yang ia dan Argan lakukan untuk memperoleh minifig gadis itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD