Part 10

2185 Words
Ketegangan begitu terlihat di wajah Arka dan Dara. Sudah lima jam Merry berada di ruang operasi dan dokter belum keluar sama sekali. Hentakan suara sepatu terdengar dari kejauhan lorong ini. terlihat William berjalan mendekat kearah Arka dan Dara yang masih terlihat tegang. Mendengar Merry masuk rumah sakit, William yang sedang pergi ke Singapur untuk urusan bisnis ini mendadak pulang. Tidak, jangan lagi ia merasakan sebuah kehilangan. “Fandy,” panggil William. Arka hanya mendesah kasar, rasanya sudah berulang kali Arka memohon dengan daddynya ini untuk berhenti memanggilnya Fandy. Hanya mommy-nya juga Dara lah saja yang memboleh memanggilnya seperti itu. “Dad?” “Gimana keadaan Mama kalian?” terlihat kecemasan sangat tergambar diwajah William. “Dokter belum keluar juga, Dad,” sahut Arka. “Keluarga ibu Merry Wiratama,” panggil seorang dokter sembari keluar dari ruang operasi. Buru-buru William menghampir dokter ini. “Saya suaminya, Dok. Keadaan istri saya—” “Keadaan Ibu Merry baik-baik saja namun, Ibu Merry masih dalam keadaan kritis,” sahut dokter ini, “Namun... effek obat pengugur kandungan begitu kuat... sehingga janin yang ada di kandungan ibu Merry... tidak bisa di selamatkan Pak.” “Merry...” “Dan...” Dokter itu berhenti sejenak, “Effek obat pengugur kandungan itu membuat kerusakan pada rahim Ibu Merry sehingga kami terpaksa mengangkat rahim beliau demi menyelamatkan nyawa Ibu Merry.” Bagaikan sebuah peluru tajam menembus jantungnya, William lagi-lagi kembali terlambat untuk mencegah sebuah kehilangan lagi. Mungkin William memang b******k telah merebut sesuatu yang berharga dari Merry, membuat masa depan Merry hancur, membuat kehidupan wanita ini berantakan namun kenapa Merry tega melakukan hal ini denganya? Belum cukupkah semua yang ia berikan selama ini? ##### Merry berhasil melewati masa kritisnya, setelah hampir dua hari ia koma akhirnya kedua mata Merry terbuka. Rasa sakit dibagian perutnya benar-benar membuatnya lebih baik mati daripada harus merasakan ini. “Tante, sudah sadar?” tanya Arka dengan suara lembut. Merry mengangguk lemah, Arka tersenyum menyambut anggukan Merry. “Saya panggil Daddy ya?” “Nggak usah—” “Sayang, kamu sudah sadar?” terdengar suara sayup-sayup dari depan pintu kamar perawatan ini. sosok jangkung William langsung menghampiri Merry, terlihat raut wajah senang sekaligus lega terlukisan di wajah William. “Mas...” terdengar suara Merry masih lemah, “Maafkan aku.” “Merry...” “Maaf, aku—“ “Kenapa kamu tega melakukan ini denganku?” sela William, “Apa semua yang aku lakukan untukmu belum cukup?” “Semua lebih dari cukup,” sahut Merry. “Lalu?” “Aku melakukan ini...” Merry melirik kearah Arka yang mematung di samping William, “Hanya demi Arka.” Arka terkekeh, demi dirinya? Memangnya ia pernah menyuruh wanita gila ini menggurkan kandungannya apa? Walau ia sangat amat membenci Merry tapi ia tak akan tega menyuruh Merry mengugurkan kadungannya apalagi ia bersumpah bawah janin itu memiliki darah yang sama denganya... aliran darah dari Daddy-nya “Apa maksud Tante?” Arka nampak tersulut emosi, “Demi Tuhan, aku tak pernah menyuruh Tante menggurkan janin itu walau aku sangat membenci Tante sekalipun!” “Kamu membenci Tante... berarti kamu juga membenci anak yang Tante kandung,” isak Merry. “Kamu nggak akan pernah bisa percaya sama Tante kalau bayi itu adalah anak Daddy kamu.” “Tapi, saya—”  Tanpa pandang bulu, satu tampar mendarat di pipi Arka. William terlihat begitu emosi mendengar penuturan Merry. Bisa-bisa putra kebanggannya ini melakukan hal seperti ini ##### Beberapa ibu-ibu hamil di ruang tunggu ini tak pernah melepaskan pandangnya dari Arka dan Kana. Terlihat mereka sukses menjadi artis dadakan di poli kandungan siang ini. Semua karena ulah Kana, si wanita berkepala batu yang memaksa Arka untuk melakukan test keperawanan untuk membuktikan bawah apa yang di kata Arka itu benar adanya. “Duh Mbak, kok suaminya ganteng banget si?!” goda seorang ibu hamil dengan perutnya besarnya yang duduk di samping Arka. “Kalian berdua terlihat cocok deh. Saya kepengen ah punya anak seganteng dan secantik kalian.” Kana mendengus kesal, apa sekali si ocehan ibu ini? suami? Mengenal pria ini saja tidak. Dia bagaikan seorang Alien jahat yang datang ke bumi merusak hidupku dalam semalam, tapi sayang dibandingkan Do Min-joo si Alien tampan, pria gila ini sangat amat jauh bedanya Do Min-joon is cool and this man? Sok cool,  Maki batinnya. “M-m-m-makasih, Bu,” sahut Arka kikuk. “Mau program KB atau mau program cepet punya momongan ni?” celetuk seorang ibu hamil yang berada di samping kiri Kana. “Saya mau—” “Kanaya Septiara Pramudyanto,” panggil perawat membuat pembicaraan Kana terhenti. Di satu sisi Kana merasa lega karena terbebas ocehan ibu-ibu hamil ini namun di satu sisi yang lainnya ia masih merasa gunda, siapkah ia dengan sebuah kenyataan bawah hartanya yang paling berharga itu sudah di rebut oleh pria b******k yang ada bersamanya? Kana mendorong pintu ruang praktik dokter ini diikuti pria asing ini yang mengekor di belakanya, bukan pria asing maksudnya Arka. Ya nama pria menyebalkan itu. Dan seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang yang tergerai menutupi sedikit wajahnya itu menggunakan snelli persis miliknya terlihat sedang sibuk memeriksa sebuah rekam medis yang ada ditanganya. Dengan ragu akhirnya Kana berusaha menyapa wanita ini. “Selamat siang, Dok.” Kana berusaha ramah dengan dokter ini. ya... dokter ini –dokter Shila- adalah salah satu teman satu asramanya saat di Jerman. “Oh, kamu rupanya, Kana!” seru dokter Shila ini riang, “Ayo, duduk dulu.” Kana langsung menarik kursi kosong yang ada di depan dokter ini di ikuti Arka yang juga duduk di samping Kana, Kana hanya mampu menahan kesalnya karena Arka terus mengutitnya. Seorang wanita cantik berdiri di samping dokter ini. Ia bukan seorang perawat apalagi dokter karena tidak menggunakan jas putih yang seperti biasanya di gunakan seorang dokter. Ah, mungkin dia asistennya? “Wah, Baby Kana udah hampir tiga tahun ya kita nggak ketemu ya?” tanya dokter Shila, “Eh ini sua—” “Bukan bukan, Kak!” potong Kana, “Dia itu—” “Saya Arka sepupuhnya, Kana.” sela Arka. Berbohong lebih baik daripada terus-terusan di bilang suami wanita aneh ini amit-amit deh sampai lebaran kuda juga ogah jadi suami wanita aneh ini bisa darah tinggi duluan, maki Arka dalam batinya. “Kirain aku, kamu udah nikah, Na,” ejek Dokter Shila, “Ternyata still single. Jomblo tulen kamu, Na sampai sekarang belum punya pacar.” Kana tersenyum kecut sementara Arka hanya tersenyum canggung sambil mengaruk-garukan tengkuk kepalanya yang tak gatal ini. “Dokter sepertinya sangat mengenal Kana ya?” “Dia teman satu kamar saat saya tinggal di asrama mahasiswa. Waktu itu saya menyelesaikan studi spesialis saya di Jerman dan Kana mendapat beasiswa kuliah di Jerman,” sahut Dokter Shila, “Karena umur kita bedanya jauh... jadi saya selalu menganggap Kana sebagai adik saya. Dan... nampaknya futer doctor sekarang sudah berhasil jadi real doctor ya? Welcome at the reality, Baby Kana!” Jerman? Wanita ini kuliah di Jerman? Kedokteran? Jadi dia ini... seorang dokter lulusan Jerman? Wow ia benar-benar tak bisa di remehkan ternyata aku salah melihat hanya cover dari wanita ini, batin Arka. “Oh iya? Wah saya ngga tahun lo kan Kana nggak pernah cerita soal itu.” “Adik sepupu anda jenius loh,” sahut dokter Shila, “Dia kuliah Cuma-cuma di Jerman karna peneliltian yang dia buat dalam bidang kedokteran telah di akui kehebatannya.” “Kak Shila!” erang Kana, “Berhentilah membeberkan aibku! Semua yang terjadi itu hanyalah jebakan batman dari Masku! Siapa juga yang mengajukan beasiswa ke Jerman!” Dokter Shila hanya menahan tawanya. “Ini bukan aib, tapi kebanggaan, Ana.” “Terserah Kak Shila deh!” sahut Kana ketus, “Kakak, ayolah... jangan mengulur waktu kasihan ibu-ibu yang mau konsul sama Kakak! Next time aja kalo mau ngobrol A-Z sama aku.” “Baiklah,” ujar Dokter Shila, “Sekarang... maksud dan tujuan Baby Kana datang ke poli kandungan mau ngapain?” Kana mengigit bibir tipisnya, rasanya ia begitu malu mengatakan keinginannya melakukan test keperawanan apalagi ada Arka, pria satu-satunya di ruangan ini. “A-a-a-anu...” “Test keperawan, Dok,” sela Arka. Baik Dokter Shila maupun assistennya ini hanya mampu tercengang menderngar penuturan Arka yang begitu to the point. “Test keperawanan? Memangnya Kana mau masuk akademi militer?” “Bisa kan, Kak?” tanya Kana penuh harap. “Bisa si...” Dokter Shila melirik Arka, “Tapi... jangan ada laki-laki ya.” Arka merasa tersindir. Dengan berat hati ia berpamitan keluar memberikan waktu privasi antara Kana dan Dokter Shila. Arka kembali menunggu di ruang tunggu poli ini dan lagi-lagi para ibu-ibu fans dadakannya ini mengerubuni Arka baik artis idola. “Mas Ganteng, istrinya kemana?” celetuk salah satu ibu-ibu yang ada di ruang tunggu. “Di dalam,” sahut Arka datar. “Ngapai—” Suara deringan dari ponsel milik Arka pun sukses membuat pembicaraan Arka dengan ibu-ibu hamil ini terhenti. Arka buru-buru mengambil ponsel berukuran lima inci dari saku celana jeansnya, tertera nama Maurine di sana dan Arka langusng menyetuh layar ponselnya itu. “Halo?” “Kak Arka dimana?! Kok, rapat sepenting ini kakak malah menghilang? Kenapa?” cerocos Maurine. “Apaan si kamu!” erang Arka, “Bisa nggak nanya satu satu?” “Maaf....”  “Aku itu lagi ada urusan,” sahut Arka datar. “Urusana apa sampai kata Om Will kakak itu nggak pulang semalaman?” “Ya ada urusan!” jawab Arka terus, “Kamu itu sebagai sekretarisku mau tahu banget si urusanku!” “Aku ini kan, calon istri Kakak!” sahut Maurine, “Wajar kan, aku nanya soal Kakak pergi kemana?” “Jangan mimpi kamu!” sindir Arka. “Oke sekarang, Kakak dimana?” tanya Maurine, “Semua orang udah nunggin Kakak!” “Di rumah sakit.” “Ngapain?” “Aku—” dan tiba-tiba saluran telfon terputus. Arka melirik kearah ponsel yang ada digenggamnya. Pasti ponselnya telah kehabisan baterai, mana powerbank-nya juga sudah habis. Bodoh sekali, semalaman menghilang ia malah lupa membawa charger ponselnya ##### Sesudah melakukan hasil pemeriksaan, ternyata bagian selaput dara milik Kana masih untuh walau hasil tertulis test tersebut baru bisa di ambil besok. Kana terlihat sekali nampak malu yang sudah menuduh Arka yang bukan-bukan. Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan yang sangat baik akhirnya Kana dan Arka pun memilih pulang. Terlihat wajah Arka nampak gunda gulana akibat telfon dari Maurine tadi. Di tengah perjalanan tiba-tiba Kana ingin buang air kecil dan kebetulan mobil Arka sendiri pun butuh bahan bakar. Mereka memilih untuk berhenti di sebuah SPBU. Lalu Kana memilih untuk bersembunyi dari Arka dengan alasan ke toilet dan menelefon Thalia. Kana pergi ke apartermen Thalia tanpa sepengetahuan Arka. Bodohnya, dia malah meninggalkan tas miliknya di mobil Arka. Hanya bermodalkan nekat pergi ke apartermen Thalia tanpa uang sepeser pun ditanganya. Sesampainya di kawasan elit Kelapa Gading, taksi yang membawa Kana pun berhenti di salah satu Apartermen yang cukup mewah di kawasan ini. Terlihat Thalia sudah menunggunya di depan pintu lobby apartermennya. “Ana!” seru Thalia nampak lega, wanita itu langsung memeluk Kana begitu erat. “Lo nggak apa-apa kan? Gila lo bikin Mas Dana panik setengah mampus.” Kana mengeleng, “Gue nggak apa-apa. Nggak ada yang luka kan?” “Lo kemana aja si, Na?” tanya Thalia curiga, “Nggak ada kabar, main kabur gitu aja.” “Awalnya gue ke diskotik terus gue ketemu temen gue yang dulu tinggal satu asrama sama gue di Jerman dan nginap deh sampe pagi dan ponsel gue tewas baterainya,” jawab Kana bohong, “Maaf ya lupa ngabarin.” Setelah membayar ongkos taksi, akhirnya Thalia membawa Kana masuk ke dalam apartermennya. Dan betapa terkejutnya Kana saat melihat sosok Dana entah darimana asalnya sudah menunggunya di dalam kamar apartermen milik Thalia. “Darimana aja kamu?!” tanya Dana ketus. “Mas...” Dana bangkit dari sofa empuk yang ia duduki, ia menatap Kana sangat tajam bagaikan seekor elang yang siap memangsa buruan mengoyak satu persatu daging milik mangsanya. “Kamu itu sama Qila aja. Sama-sama nyusahin doang bisanya!” erang Dana. “Maaf, Mas.” Kana merunduk ketakutan, “Aku tahu aku salah nggak ngabarin, Mas. Maaf... sekali lagi maaf Mas.” Nampak emosi menguasai Dana, belum pernah seumur hidup Kana melihat Dana semarah ini denganya. “Kamu di kasih kebebasan malah ngelunjak, Na! Inget kamu itu perempuan, jaga nama baik keluarga, Ana! Apa jadinya, kalau Ayah dan Om Wira melihat sikap kamu seperti ini?! Jangan mentang-mentang kamu udah punya uang sendiri kamu bisa seenaknya ya! Pergi ke diskotik?! Mau jadi apa kamu Ana... Ana.” “Aku tahu aku salah, Mas!” dan emosi kini menghampiri Kana, “Dan aku nggak seenaknya kok sama Mas sama Ibu sama semuanya! Aku masih bisa menjaga diriku!” “Mulai besok, jangan harap kamu bisa pergi atau pulang ke rumah sakit sendirian! Kamu nggak boleh pergi sendiri lagi, dan... Mas bakal tunda pembelian mobil kamu.” “Mas Dan—” Dana langsung menarik lengan mungil Kana. “Ayo kita pulang!” “Tapi, Mas aku—” “Thalia, terimakasih ya atas informasinya,” ujar Dana, “Aku nggak tahu kalo nggak ada kamu aku mau cari Kana kemana lagi.” “Sama-sama, Mas,” sahut Thalila. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD