Part 9

1994 Words
Arka lulus ujian dengan nilai yang sangat amat pas-pasan. Semua bersumber karena polemik masalah keluarga yang dihadapinya saat ini. Merry, ibu tirinya yang usianya sangat jauh dengan daddy-nya ini datang bagaikan bencana yang mengacaukan hidupnya. Ia hamil anak dari Daddy-nya. Dan Arka akan mendapat seorang adik tiri. Hebat. Ini anugerah atau bencana? Semoga ini adalah sebuah anugerah dari Tuhan, walau jauh dilubuk hatinya ia begitu membenci Merry yang mengantikan posisi Mommy. Arka keluar dari kamarnya dengan langkah ogah-ogahan. Tubuh tinggi semapai dan aletis bak model ini hanya di balut dengan kemeja putih berbahan katun dan celana panjang hitam. Ospek menyusahkan, kenapa harus ada yang nama ospek? Apa si pentingnya ospek? Menyusahkan iya tapi benfit?Tidak sama sekali. Dunia kuliah begitu berbeda dari apa yang ia ekspetasikan dulu, ia pikir kehidupan kuliah sangat menyenangkan dengan kebebasan tapi kenyataan berbicara lain. Walau sudah satu bulan ia resmi menjadi seorang mahasiswa rentetan kegiatan ospek lagi-lagi menjadi beban untuknya. andai daddy-nya mengizinkan ia pergi ke Amerika untuk sekolah musiknya, jujur daripada ia harus masuk ke jurusan manajemen ia lebih menyukai musik. Darah seorang seniman tak pernah bisa dihapuskan sampai kapanpun dari mommynya yang seorang pianis itu. Lagi-lagi, karena Arka hanyalah seorang bocah ingusan ia harus merasakan yang namanya sebuah tekanan hidup. Daddynya menolak semua permintaan Arka dan ia harus masuk di jurusan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan. Walau banyak orang berimpian masuk ke kampusnya untuk Arka semua ini adalah mimpi buruk. Dengan langkah cepat Arka menurun anak tangga satu persatu, jam tanganya menunjukan pukul setengah tujuh pagi, satu jam lagi acara apel pagi dimulai. Suasana rumah masih sangat sepi apalagi daddy sedang ada urusan di luar negri. Ketika sampai di depan meja makan, hanya ada sosok Dara yang mengenakan serangam putih merah yang ia temui. Dara begitu kebingungan melihat susana rumah yang sangat sepi ini. “Hey ma princess.” Arka mendaratkan kecupan ringan di kening Dara, “Kok kamu sendirian, Sayang? Tante Merry mana?” Dara hanya tersenyum kecut mendapat perlakuan dari Arka. “Ih! Kakak apaan si!” “Mentang-mentang udah gede ya, sombong banget sama Kakaknya!” Arka pura-pura merajuk. Dengan cepat Arka menyambar sepotong roti yang ada di piring Dara lalu melahapnya dan lagi-lagi Dara terlihat kesal dengan sikap Arka ini. “KAKAK RESE!” erang Dara, “Kembalikan rotiku!” Arka tersenyum licik, pipinya masih mengembung dan gigi-giginya masih“Mau ambil rotinya? Ambil di mulut kakak gih!” “Males!” Dara mengebungkan pipinya seperti ikan fugu. “AAAAAA! SAKIT SAKIT!” sebuah teriakan menyat hati terdengar, seketika pembicaraan antara Arka dan Dara pun terhenti karena teriakan itu. semakin lama semakin membuat bulu kudu Arka berdiri. “Tante Merry dimana?” tanya Arka dengan Dara. “Den... Den Arka!” dengan terhunyuk-hunyuk menuruni anak tangga rumah ini seorang wanita setengah baya yang tak lain adalah pengasuh Dara –Mbok Asih– mendekati  Arka dan Dara. Wajah Mbok Asih nampak pucat pasih. “Ada apa, Mbok?” “Nyonya....” “Ada apa sama Mama?” Dara nampak terlihat begitu panik. “Nyonya....” Arka langsung berlari menuju kamar Merry ibu tirinya itu diikuti Dara dan Mbok Asih, tapi sialnya kamar itu terkunci. Dengan bantuan pak Jono supir pribadi yang di tugaskan oleh Daddy untuk mengantar Dara, Arka berhasil mendobrak pintu kamar Merry dan Arka hanya mampu meringis melihat pemandangan yang mengenaskan. Tubuh Merry terkulai tak berdaya dengan perut besarnya yang belum genap berusia tujuh bulan itu bersimbah darah. “Tante,” gumam Arka. “Aden, kita harus—” “Pak, tolong siapin mobil,” sela Arka, “Mbok bisa tolong kabarin Daddy?” “Tapi—” “Nggak ada tapi-tapian, Mbok!” erang Arka, “Mau Daddy di luar kota kek, di luar negeri ke apa kek pokoknya kabarin Daddy sekarang juga!” ##### Arka memandangi tubuh wanita ini yang dibalut dengan selimut tebal, wanita ini nampak begitu shock sekaligus ketakutan membuat ekpresi wajahnya begitu mengemaskan. Arka berusaha mendekati wajahnya ke arah wanita itu, lagi-lagi wanita itu semakin ketakutan. “S-s-s-s-siapa kamu?” tanya wanita ini ketakutan. “Harusnya saya yang tanya kamu itu siapa,” sahut Arka ketus, “Dari semalam kamu itu bencana buat saya, tahu! Gak tahu asalnya darimana datang-datang menjadi bencana untuk orang lain, Cih! Udah mabuk, nyusahin orang lagi.” Wanita itu tiba-tiba menangis, Arka semakin kebingungan untuk menghadapi wanita ini. Apa perkataanya terdengar sangat kasar? “Jangan menangis. airmata kamu itu terlalu berharga untuk membasahi wajah manismu,” ujar Arka sambil menyentuh pipi chubby wanita itu, namun siapa sangka justru wanita itu malah menepis tanganya. “Jangan sentuh aku, b******k!” erang wanita itu, “Belum puas kamu membuatku nampak hina? Belum puas kamu menyentuhku?” Arka menyegitkan keningnya, menyentuh wanita ini? Bahkan, Arka berpikir jutaan kali untuk menyentuh wanita ini. Bukan hanya menyentuh tapi untuk merasakan betapa manisnya bibir tipis wanita ini saja Arka begitu takut, takut akan sebuah karma. Bagimana jika adik perempuannya dihancurkan masa depanya sama seperti ia merusak masa depan wanita ini? Atau... kelak ia menjadi seorang ayah lalu mendapati anak perempuannya hancur karena seorang pria? Seplayboy-playboynya dirinya ini, tapi untuk menghancurkan masa depan seorang wanita bukan tipenya. Seorang wanita bagaikan sebuah sepatu kaca milik Cinderella dimana jika sepatu itu retak maka sampai kapanpun semua tak akan bisa seindah seperti sedia kala. “Menyentuhmu? Saya menyentuh kamu?!” tanya Arka sakartis, “Ngigo kamu! Yang ada kamu yang menyentuh saya!” “Buktinya, kamu tidur di—” “Dengar ya, Miss. Demi Tuhan, saya tidak pernah menyentuh kamu. Semalam kamu pingsan di club malam karena saya nggak tahu rumah kamu dan saya nggak mau di sangka pria b******k oleh daddy saya, makanya saya membawamu ke hotel.” Jelas Arka, “Dan satu lagi, saya nggak level main sama anak kecil kaya kamu!” “Apa? anak kecil?!” dumal wanita ini, “Dengar ya, pria aneh yang nggak jelas asal usulnya alias Alien. Aku bukan anak kecil, aku ini sudah 24 tahun!” Arka tekekeh, 24 tahun? ternyata dugaanya begitu meleset jauh. Tapi kenapa bentuk fisik dan umur dari wanita ini berbanding jauh? Pembohongan publik atau mungkin ia benar-benar hanya mengaku-ngaku berusia 24 tahun? “Kamu nggak bohong kan?” tanya Arka, “Kamu anak SMA kan?” Wanita ini mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi Arka nyaris kehilangan fokusnya karena godaan bibir tipis wanita ini. “Kamu nggak percaya? Silahkan kamu ambil KTP dan SIM yang ada tasku!” Arka bangkit dari tempat tidurnya, diraih Sling Bag Gucci yang tergeletak di atas sofa, sebuah beda berbentuk persegi dengan mudah ia temukan. Lalu Arka langsung memberikan dompet itu kepada wanita aneh ini, wanita ini sibuk mencari KTP-nya dan binggo, ia menemukan KTP itu dengan cepat. “Bacalah sebelum berkomentar,” ujar wanita ini sinis. Arka mengambil KTP dari tangan wanita ini lalu membaca secara saksama isi dari KTP itu, Kanaya Septiara Pramudyanto nama yang cantik. Secantik rupanya. Lahir tanggal 21 September 1990? Wow wanita ini hanya berselilih tiga tahun denganya? Dan... dia masih mahasiswa? Seumuran ini dia masih menjadi mahasiswa? “Puas?” tanya Kana sinis, “Kamu masih mau bilang aku anak SMA?” “Oke saya salah,” sahut Arka, “Kamu benar-benar bukan anak SMA. Tapi mahasiswa... gadungan!” “STOP MENGEJEKKU!” teriak Kana tak tahan. “Aku bukan mahasiswa, aku sudah memiliki pekerjaan! Dan aku belum menganti status KTP-ku!” Keheningan menghampiri mereka berdua. Kana masih enggan menatap wajah Arka. Menurut Kana, pria aneh yang ada di depannya ini hanya seorang pria b******k entah darimana datangnya lalu merebut harta yang paling berharga dari dirinya yang mati-matian ia jaga untuk suaminya kelak. Belum cukupkah, sebuah kenyataan pahit dimana pria yang begitu ia cintai harus pergi meninggalkannya demi wanita lain? Kini sebuah cobaan hidup yang jauh lebih menyakitkan menghampiri Kana. Kehilangan harta yang paling berharga yang ia jaga selama? Mampukah ia bertahan untuk hidup dari cemooh orang-orang? “Kamu kok malah diam?” tanya Arka memcahkan keheningan, “Kamu masih marah sama saya? Saya bercanda tahu. Serius amet kaya ngadepin pembimbing skripsi.” “Sangat marah malah,” jawab Kana sinis. “Saya kan udah minta maaf sama kamu. Saya tahu, saya lancang membawamu ke sini namun semua situasi ini benar-benar menyulitkan bagi saya.” Arka menatap nanar kearah Kana, “Katakan, apa lagi si yang membuat kamu bisa marah dengan saya? Dan jelaskan bagaimana saya harus meminta maaf dengamu?” “Jawab pertanyaanku!” tuas Kana, “Semalam... kamu melakukan apa saja denganku saat aku pingsan karena aku mabuk?” Arka mendesah kasar, “Dengar ya... Bocah Bawel, sudah saya bilang semalam saya tidak melakukan apa pun dengan kamu! Saya nggak level main sama anak-anak.” “Bohong!” tolak Kana, “Kalau kamu nggak macam-macam kenapa kita berdua tidur di ranjang dan... kenapa kamu hanya menggunkan celana pendek dan bertelanjang d**a seperti ini?” Arka terkekeh, astaga bodohnya ia mempermalukan dirinya sendiri memperlihatkan bagian tubuhnya dengan seorang wanita sepolos ini. Memang kemejanya basah karena muntahan wanita ini namun, kaus oblongnya basah karena guyuran shower semalama suntuk. Nyaris saja wanita ini membuatnya kelewatan batas.  “Baju saya itu... basah karena muntahan kamu tahu! Dan sialnya saya nggak bawa baju lagi daripada saya sakit karena masuk angin lebih baik saya lepas.” “Bohong!” erang Kana, “Pasti kamu me—” “Bocah aneh,” potong Arka, “Demi Tuhan, saya tidak berbuat macam-macam denganmu. Yang ada kamu yang berbuat macam-macam dengan saya. Kamu dalam keadaan setengah sadar malah mencium saya dengan membabi buta!” Kana terdiam, tidak ciuman pertamanya... Direbut oleh pria b******k ini? Apa yang ada di dalam pikiran Kana hingga ia begitu bodoh untuk memberikan ciuman pertamanya? Apa... jangan-jangan Kana sendirilah yang dengan sukarela menyerahkan kehormatannya dengan pria ini? “Itu... tidak mungkin!” “Dibalik kepolosanmu,” Arka menatap tajam ke arah Kana, “Ternyata kamu pencium yang hebat, Miss. Harusnya semalam saya melakukan lebih dari sekedar foreplay... melepas keperjakaan saya mungkin. Saya rela memberikannya untukmu, wanita penggoda.” Ya, hampir 28 tahun hidup Arka ia belum sama sekali mencoba tidur dengan seorang wanita. Dia memang playboy, sering membuat para wanita sakit hati dan kecewa tapi dia bukanlah daddy-nya yang menanamkan benihnya di tubuh wanita dengan sembarangan. Free s*x not his style. s*x hanya boleh dilakukan setelah menjadi pasangan yang sah di mata hukum, negara dan juga agama. “ITU NGGAK—” Dengan kesal Arka membukam mulut Kana dengan ciumannya. Benar-benar w*************a, batin Arka. Dan sukses satu tamparan mendarat di pipi kiri Arka, Arka hanya mampu meringis menahan sakit juga panas akibat kerasnya tamparan dari Kana. “AKU BUKAN w************n!” erang Kana “WALAU AKU SUDAH NGGAK PER—” Arka hanya mampu mendesah kasar, sudah berapa kali Arka mengatakan ia tak pernah menyentuh Kana tapi kenapa wanita ini begitu keras kepala? “Aduh, saya capek deh ngomong sama orang lola kaya kamu. Demi Tuhan, saya tidak pernah menyentuh kamu lebih dari sekedar mencium kamu!” “Aku nggak percaya!” lagi-lagi Kana bersikeras menolak ucapan Arka, “Aku butuh bukti otentik.” “Maksudnya?” Arka nampak tidak mengerti dengan penuturan Kana, “Kita melakukan.. ehem... itu sekarang? Kalau berdarah sakit dan perih... kamu masih percaya kamu semalaman nggak saya apa-apain?” Apa si yang ia katakan? Melakukan dengan seorang wanita saja aku tidak pernah cuman pernah mendengar cerita dari teman-teman yang sudah menikah dan aku belum praktik sama sekali sok-sokan banget ngomongnya, gerutu batin Arka. “Jangan mimpi kamu bisa menyentuhku lagi!” tuas Kana, “Aku mau... aku melakukan visum! Bukan melakukan itu!” “Visum? Maksunya?” Kana melempar sebuah guling yang ada di dekatnya. “AKU MAU TEST KEPERAWANAN! PUAS?! KALAU KAMU NGGAK MENURUTI KEMAUANKU SAMPAI LEBARAN KUDA AKU NGGAK AKAN PERCAYA SAMA SEMUA UCAPAN DARI MULUTMU ITU, ALIEN! ” Kana berlalu dari hadapan Arka, sedangkan Arka hanya longos memandangi kepergian Kana. Wanita ini terlalu aneh, mungkin wanita yang sangat aneh yang penah Arka temu. Kenapa menyakinkan wanita ini sama saja meyakinkan sebuah patung? Bahkan Dara yang masih berusia 17 tahun  saja kalah ribet dengan wanita aneh ini. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD