Part 8

1705 Words
Kana kecil kini mulai beranjak menjadi seorang remaja yang cantik, ramah, dermawan dan pintar. Lambat laun, Kana mulai melupakan sahabat masa kecilnya, Fandy yang pergi meninggalkannya itu. Walau selembar foto yang berhiaskan dirinya dan Fandy masih terpajang rapi di meja belajarnya namun pengkhianatan Fandy membuat Kana enggan hanyut dalam pirikannya tentang Fandy dan mengalihkanya dengan hobinya membaca buku. Banyak orang yang begitu mudah jatuh hati dengan Kana karena kecantikan, sikap dan kepintaranya ini. Kana benar-benar mewarisi gen-gen terbaik dari kedua orang tuanya, kecantikan dan keramahan dari ibunya juga kepintaran dan sikap deramawan dari ayahnya. Sekarang Kana sudah duduk di bangku kelas sembilan SMP dan akan menempuh ujian nasional, kedua orang tuanya mulai gunda karena keterbatasan biaya mereka mulai takut bahwa Kana tak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Apalagi adik Kana, Dirga sudah memasukui usia sekolah dan juga memerlukan biaya yang tak sedikit. “Nduk,” panggil Wira saat menghampiri Kana yang asik membaca buku tentang pengetahuan alam yang ia pinjam dari perpustakaan sekolahnya. Kana begitu menyukai dunia pengetahuan alam dan kesehatan. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi seorang dokter, karena menurut Kana seorang dokter adalah pekerjaan yang sangat mulia di dunia ini, tak hanya mulia mungkin sangat keren dan berwibawah dengan jas putih dan stetoskop yang menjadi alat bantunya itu. “Iya, Pa?” sahut Kana. “Papa tak ngomong sama kamu, Nduk,” ujar Wira. Buru-buru Kana menutup buku yang sedang ia baca. “Tak ngomong apa toh, Pa?” “Kan kamu sebentar lagi mau ujian, Nduk,” Wira mendesah kuat, “Papa sama Mama sebenarnya ndak mau ngomong soal ini tapi mau bagaimana lagi, Nduk.” “Tunggu!” erang Kana, “Kana ndak paham Papa ngomong opo sama Ana. Ada apa toh, Pa?” “Ayah Anto wes ngomong sama Papa, Nduk.” Wira membuang pandanganya, “Dia setuju kamu pindah ke Jakarta.” “Apa?” Kana nampak kebinggung, “Papa ini ngomong apa toh?! Pindah ke Jakarta maksudanya?” “Papa sama Mama...” Wira berhenti sejenak, “Nggak bisa biayain kamu sekolah, Nduk.” “Papa...” “Lebih baik...” Wira menatap sendu kearah Kana, “Kamu sekolah di Jakarta saja, Nduk. Tinggalah dengan Ayah Anto, jadilah anak angkat Ayah Anto jika kamu tetap ingin menjadi dokter, Nduk.” Mendengar penuturan Wira akhirnya Kana mulai emosi, dibantingnya buku yang sedang ada di dalam gengamannya ke atas meja. Sontak Wira terkejut melihat sikap putri kesayangannya ini menjadi kasar. “AKU LEBIH BAIK NDAK USAH JADI DOKTER, DARI PADA AKU HARUS PISAH SAMA PAPA, MAMA DAN DIRGA!” teriak Kana sambil berlari menuju kamarnya, sedetik kemudian terdengar suara pintu kamar yang dibanting dengan keras oleh Kana. “Pa, kenopo toh?” Kania menghampir suaminya yang masih membeku melihat sikap Kana yang benar-benar berbeda. Tak ada Kana yang manis, lembut, penurut dan ceria seperti biasanya. “Ana, Ni.” Wira mengacak-ngacak rambutnya, “Aku wes gagal bujuk dia tuk tinggal sama Mas Anto di Jakarta. Dia... malah marah sama aku, Ni.” ##### Range Rover hitam milik Arka melaju dengan kecepatan rendah, nampak jalan-jalan di Jakarta sudah sepi ya karena sekarang sudah menunjukan pukul satu pagi dimana hampir separu penghuni kota ini sudah terlelap namun sebagian besar lagi justru memulai kehidupan mereka. Lampu merah menghalangi Range Rover milik Arka untuk melaju, sekilas Arka memandangi wajah wanita yang berada di sampingnya ini. Ia mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah menemui wanita ini kenapa ia begitu familiar dengan wajah wanita ini? benar, mereka sudah dua kali bertemu yang pertama di bandara dan yang kedua wanita ini lah yang membuat baju Arka di penuhi dengan kopi. Dengan refleks Arka mengelus pipi cubby wanita ini, dia benar-benar terlihat polos saat tidak sadar seperti ini. kenapa... wanita seperti dia harus pergi ke club malam lalu minum-minuman alkohol seperti ini? Semakin lama Arka menelurusi pipi wanita ini, ia mengalihkannya alur jari jemarinya terhadap bibir tipis nan menggoda ini. Tiba-tiba rasa ingin mengecup dan merasakan manis bibir ini terlintas di pikiran Arka namun, lagi-lagi ia berusaha menolaknya. “Tidak, dia pasti wanita baik-baik.” Kini Arka membuang pandangnya dari wanita ini dan kembali melajukan Range Rover-nya ini. setelah sekian lama ia melajukan Range Rover-ya ini Arka berhenti di sebuah hotel yang cukup mewah di selatan Jakarta ini. Ya semoga, saja dengan membawa wanita ini ke hotel besok pagi ia bisa membawanya pulang ke rumah orang tuanya dan menjelaskan apa yang terjadi dengan wanita aneh bin ajaib ini. Arka turun dari mobilnya dan mengedong tubuh mungil wanita ini, beberapa satpam, repsesionis dan pengunjung hotel ini memusatkan padangan merekan dengan Arka dan wanita ini. “Selama malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa salah satu repsesionis hotel ini. “Saya ingin memesan dua kamar atau satu kamar dengan dua bed,” sahut Arka. Dengan cekatan repsesionis ini mencarikan daftar kamar yang kosong untuk Arka dan wanita ini. “Maaf, Pak. Untuk kamar hanya tersisa satu saja, Pak dan kamar dengan dua bed-nya juga sudah penuh dan hanya tersisa satu kamar dengan satu bed Pak,” ujar repsesionis ini ragu. Satu tempat tidur? Lalu aku mau tidur dimana? -_- sofa gitu? tapi kalau bawa ini orang ke rumah bisa di ceramahin sama daddy, maki Arka dalam batin. “Oh iya udah saya ambil tempat itu deh.” “Atas nama?” “Arkana Ifandy,” sahut Arka datar. “Status dengan wa—” “Dia sepupu saya,” sela Arka, “Apa seorang sepupu tak boleh tidur satu kamar? Lagian saya juga tahu diri kok sama sepupu saya sendiri nggak akan macam-macam.” Tak perlu menunggu waktu lama, sang repsesionis ini langsung memberikan kunci kamar untuk Arka. “Ini kunci kamarnya ya, Pak. Kamar 809 lantai delapan.” Arka langsung meraih kunci kamar tesebut, lalu seorang bellboy membantu Arka membawakan barang-barang Arka yang terdiri dari satu tas kerjanya yang berisi dokumen juga tab miliknya dan tas selempang wanita ini. Selama di lift sang bellboy nampak menaruh curiga dengan gerak-gerik Arka dan wanita ini. “Papa...” gumam wanita ini mecahkan keheningan di dalam lift tersebut. Dan akhirnya ia memuntahkan sedikit minuman yang ia minum ini tepat di kemeja siffon yang Arka kenakan. “Dasar wanita, selalu saja menyusahkan!” dumal Arka. ##### Setelah masuk kedalam kamar yang ia pesan, Arka menghempaskan tubuh mungil wanita ini ke atas ranjang empuk kamar ini. ia terpaksa melepaskan kemeja siffon yang ia kenakan karena sedikit basah akibat muntahan wanita ini. Setelah ia melepaskan kemejanya dan hanya mengunakan kaus oblong juga celana jeans, kini Arka kembali mendekat kearah wanita itu. Lagi-lagi Arka hanya mampu membisu memandangi wajah wanita ini yang sangat polos saat terlelap. Dan... bibir tipis itu, kenapa bibir itu seolah-olah sedang menggoda Arka untuk merasakan kemanisanya? Tidak, ia bukan pria b******k yang akan menebarkan benihnya dimana-mana kan? Memang Arka begitu sakit hati melihat penghianat kedua orang yang begitu berarti di hidupnya, namun apakah ia harus melampisakan segala kemarahan sesaatnya ini dengan wanita yang tidak berdosa seperti ini? Bagimana jika yang ada di posisi wanita ini adalah Dara, adik yang begitu ia cintai itu? Tidak, tidak boleh menyentuhnya. Saat Arka ingin beranjak dari wanita ini, tanpa seizin Arka wanita ini menarik wajah Arka dan mengecup bibir Arka dengan lembut. Arka benar-benar tak berkutik saat ini, padahal wanita mungil ini bukanlah ciuman pertamanya tapi kenapa... kenapa saat bibir mereka bertautan Arka merasakan jantungnya ingin loncat dari tempat peraduannya? Apa wanita ini adalah wanita yang tercipta dari medam listrik yang kuat? Wanita ini benar-benar mencium Arka begitu membabi buta, dalam keadaan setengah sadar seperti ini ia benar-benar hebat memengang kendali permain panas ini. Dia benar-benar wanita yang begitu liahi dalam mencium bahkan Arka kini mulai terhipnotis dengan ciuman wanita ini. Sesekali ia mengigit bibir Arka lalu menarik lidahnya hingga desah nafas dari wanita ini begitu membuat harsat seorang pria dewasa dalam Arka bangkit dari tidurnya. Setelah puas dengan permainan perang lidah, kini wanita ini mulai menggoda Arka dengan desahan suara yang begitu mengoda. Beberapa kali Arka menolak bahkan mendorong wanita ini untuk melakukan hal yang lebih namun, ia tak pernah berhenti memaksa hingga semakin lama Arka semakin merasakan gelora hasrat yang sudah menguasainya. Ketika Arka mulai tak tahan dengan goda yang diberikan wanita ini, Arka berusaha menahan tangan kanan wanita ini agar tak melakukan hal gila lainnya, dan betapa terkejutnya Arka saat melihat sebuah gelang rajutan yang sudah lusung melolos keluar dari balik lengan kemeja kotak-kotak yang wanita ini kenakan. “Kenapa...” Ana, ya nama itu kembali memenuhi otak Arka setelah bertahun-tahun Arka berusaha menyikirkan pikirannya denga Cinta pertamanya alias cinta monyet semasa SD-nya. Pasti jika sudah dewasa, Ana akan seumur dengan wanita ini. tidak... ini mungkin kemungkinan wanita ini adalah Ana cinta masa kecilnya hanyalah 1 berbanding 10 juta karena pasti banyak orang yang memiliki gelang yang sama seperti yang ia berikan untuk Ana dulu. Buru-buru Arka mejauhi tubuh wanita ini darinya, Arka langsung berlari ke arah toilet yang berada di kamar ini demi melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya demi menhilangkan hasrat dan emosi yang menguasai dirinya. Di bawah dinginnya guruan shower yang begitu menusuk hingga ketulang-tulangnya, lagi-lagi Arka memikirkan tentang Ana... Ana... dan Ana. Kenapa setelah bertahun-tahun ia berusaha melupakan nama itu, nama itu kembali muncul dan memenuhi otaknya kembali? ##### Kana berusaha memicingkan kedua matanya, rasanya begitu silau membuat matanya sakit saat ini. Cahaya dari balik sela-sela gordeng ini benar-benar menyebalkan, kenapa harus ada cahaya sesilau ini dan menganggunya tidur nyenyaknya? Kana masih butuh tidur, sungguh tubunnya terasa sangat lelah. “Aw!” ringis Kana sambil memijat-mijat keningnya. Kenapa kepalanya begitu berputar saat ini? Tunggu dia berada di mana. Kana melirik sebuah lengan besar yang ada di sampingnya dan menahannya dalam dekapan eratnya ini. Sontak Kana begitu tekejut melihat sosok asing yang berada di sampingnya. Dia bukan Papa, Ayah, Dana apalagi Dirga. Dia.... “AAAAAAAAA!” teriak Kana dengan suara tingginya yang melengking. Teriakan Kana sukses mengema keras memenuhi ruangan ini. Dan pria yang masih asik dalam mimpinya ini langsung terloncat dari tempat tidurnya. “Ada apa si? Bersik!” dumal pria itu. Kana langsung menarik selimut yang ada untuk menutupi tubuhnya, walau tak ada satu pun pakaian yang terlepas dari tubuh Kana, ia benar-benar masih sangat shock melihat pria aneh yang tak tahu dari mana asalnya ini tidur bersamanya di satu ranjang. “S-s-s-siapa kamu?” ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD