Setelah menyelesaikan pasien terakhirnya, Jio berkemas untuk kembali bertemu pasien lain di klinik. Sebelum beranjak, ia harus memastikan penampilannya super rapi. Kemeja yang dimasukkan ke dalam celana jeans, serta rambutnya yang dibelah samping. Meskipun style-nya berbeda dengan Jio tujuh belas tahun lalu, namun secara garis besar ia tetaplah Jio yang mencintai penampilan super rapi.
Ia berjalan menuju eskalator dengan langkah tegapnya. Ia nampak berwibawa dan penuh pesona.
Selanjutnya, tak sengaja ponselnya berdenting saat ada pesan masuk disana. Jio segera membukanya dengan mata berbinar kala melihat satu nama disana. Ia membalas pesan sembari sedikit menahan senyum bersama rona pipinya yang mulai memerah. Sesekali ia berdeham dan kembali menunjukkan image sempurna dari seorang dokter.
Namun, siapa sanggup menahan gejolak merah jambu yang kata orang sama halnya seperti batuk? Itu tak bisa ditahan. Jio terus menahan senyum sekaligus berusaha keras untuk kembali menjaga image-nya agar tak ada orang lain yang melihat sisi asli seorang Jio ketika jatuh cinta.
“Hmmm” Jio berdeham kala kakinya sudah menapaki lobi dan kembali menutup ponselnya. Ia melangkah penuh karisma.
“Assalamu’alaikum, Dokter Jio” Sapa Aisyah sangat ramah.
Jio mengangguk sopan, namun tetap berkarisma “Wa’alaikumussalaam”.
“Dok, dok.. sebentar” Aisyah membuat tanda stop dengan kedua tangannya, menahan pergerakan Jio. Wanita bermata bulat itu mengambil satu kotak dari pos IGD, pun Jio mengerutkan kening “Ini.. buat Dokter Jio. Saya baru order tadi, masih hangat” Aisyah memberikan kotak berisikan kebab Turki.
Jio menerimanya “Terima kasih, Rania”.
Aisyah menyatukan alis “Rania?”.
Jio mengerjap “Itu kan anak buahnya Musa” Gumamnya. Meski ada kesalahan, ia tetap berusaha terlihat berkarisma “Maksud saya Khadijah”.
Wanita tinggi berambut ikal itu semakin menganga “Nggak ada yang namanya Khadijah disini” Ia menghela napas pelan “Saya Aisyah. Residen tahun ke tiga yang bertugas di IGD, Dokter Jio”.
“Ah. Maaf. Kalau begitu, terima kasih, Dokter Aisyah” Jio membungkuk sedikit sebagai penghormatan sesama dokter, karenanya memang selalu bersikap formal dengan siapapun kecuali dengan para sahabatnya, sebelum akhirnya ia berbalik dan meninggalkan Aisyah yang masih mematung di tempat.
Para suster yang sedang menjaga pos, seketika menampakkan diri dari balik bilik. Ada Suster Fira dan Suster Ajeng. Keduanya kompak menatap punggung Jio yang semakin lama semakin menghilang.
“Emang klimis banget gayanya”.
“Kaku kaya canebo kering”.
Para suster itu saling berbisik dan menimpali satu sama lain.
“Isshh!!!” Aisyah mengepalkan tangan, menyulut kekesalannya “Masa dia nggak pernah ingat gue? Padahal kita udah pernah kerja bareng. Apa jangan-jangan pura-pura nggak ingat demi dapat perhatian dari gue?”.
Suster Ajeng terkesiap “Dokter Aisyah” Panggilnya. Pun wanita itu menoleh “Maaf nih ya.. beliau memang nggak mudah mengingat nama orang, apalagi kalau sampai ngarepin dapat perhatian.. kayanya nggak mungkin deh”. Kemudian terkekeh.
“Iya. Dia udah punya cewek” Tambah Suster Fira membuat Aisyah terperangah.
“Seriously?!”.
Suster Fira dan Suster Ajeng menoleh satu sama lain, kemudian mengangguk kompak “Kata Suster pos atas” Keduanya menunjuk langit-langit yang dimaksudkan pada para suster jaga staf lambe turah di lantai 10.
Aisyah menghela napas yang begitu berat “Dasar suster pos gosip!”.
^^^
Dokter Harun yang nampak kelelahan setelah menyelesaikan operasi, membuka gagang pintu ruangannya bersamaan dengan jantungnya yang nyaris menggelinding kala menemukan kursi kerjanya yang semula menghadap ke belakang, menjadi berputar ke depan. Seseorang telah duduk diatas sana.
“Astaghfirullah!” Dokter Harun mengerjap sembari menepuk dadanya. Lututnya bahkan nyaris tak sanggup menopang tubuhnya yang tinggi semampai itu.
“Aloha!” Musa menyapa kakak sepupunya itu dengan tawa konyolnya.
“Lo ngapain disini? Ngagetin gua! Parah lu!” Dokter Harun menutup pintu, lalu merebahkan diri ke sofa karena ia sudah sangat kelelahan tingkat dewa.
Musa meletakkan ice latte ke atas meja di depan sofa “Minum dulu, biar seger!” Ia tertawa renyah.
“Ntar ah.. jantung gue masih berguncang, tau!” Sarkasnya masih kesal yang dihadiahi tawa Musa.
“Bang.. lo nggak jadi re-sign, kan?” Tanya Musa memastikan sambil mencecap es kopinya dengan sedotan yang bertengger disana.
Dokter Harun menoleh untuk seperkian detik, kemudian menatap langit-langit putih sembari mendengus pasrah “Nggak tau. Disisi lain gue mau banget untuk keluar, disisi lain gue juga tetap mau tinggal”.
“Emangnya alasan abang mau keluar yang sebenarnya apa sih?”.
“Semua untuk anak gua. Gua nggak mau sampai anak gua terlalu lama dirawat neneknya” Dokter Harun masih menatap langit-langit putih “Sebagai orang tua, gua harus mendidik anak-anak dengan didikan gua, bukan didikan orang lain. Kodratnya seperti itu, kan?”.
Musa mengangguk paham. Mulutnya masih beradu dengan permen coklat “Nikah aja lah. Biar ada yang ngurus Queensha ama Raja”.
Bug!
Satu lemparan bantal itu mengenai tepat di muka Musa.
“Aduuh!” Musa mengeluh kesal “Lama-lama lo kaya si Qiara, ya”.
Cih. Dokter Harun berdecak “Sekarang gua makin paham kenapa Qiara suka banget nyiksa lo”.
“E.. cieee” Musa mengarahkan telunjuknya ke Dokter Harun sembari melayangkan tatapan menyelidik “Udah main paham-pahaman aja, nih”.
Dokter tampan itu menyipit “Apaan sih? Lo makin lama jadi dokter, makin gila, ya”.
“Ya makanya lo nikah sono, biar ada yang ngurus anak-anak lo. Lo juga nggak usah keluar dari profesi yang mulia ini” Musa memberikan saran.
Dokter Harun terbangun. Ia memposisikan duduknya agar nyaman “Nggak mudah menggantikan sosok ibu untuk anak-anaknya. Gue juga---” Ia mendadak kehilangan suaranya “Ah.. bodo” Ia lantas kembali bersandar ke punggung sofa.
“Lo juga apa?” Musa berharap kakak sepupunya itu melanjutkan kalimatnya “Ya intinya.. gue tau mungkin lo belum sepenuhnya move on. Tapi disini yang harus dipikirkan anak-anak lo yang juga membutuhkan figur seorang ibu seutuhnya. Lo juga harus tetap membantu menyelamatkan pasien” Tukas Musa berusaha membuka pikiran kakak sepupunya.
“Sebenarnya---” Dokter Harun sedang menimbang banyak hal “Gua bukan dokter kompeten kaya dulu” Ia lantas menatap tangan kanannya sejenak “Makanya gua nggak yakin untuk bertahan dengan profesi ini. Tapi disisi lain, gua cinta ama pekerjaan ini. Gua cinta rumah sakit ini”.
“Dan lo cinta sama Qiara” Imbuh Musa tiba-tiba mengejutkan mata Dokter Harun yang tenang “Mungkin 80% alasan lo memang benar, tapi ada 20% yang masih lo bingungkan.. lo bimbang sama perasaan lo ama Qiara. Iya, kan? Itu juga menjadi alasan lo semakin kesulitan untuk mengambil keputusan”.
Dokter Harun mendengus kasar. Ia hanya mengulum bibir dan tak menyuarakan apapun, seolah kalimat Musa benar adanya. Banyak pikiran yang sedang melayang di kepalanya.
Entah kenapa perasaan Musa begitu riang dalam hati. Pasalanya ia seperti benar-benar mendapatkan jawaban. Padahal ia sama sekali tidak tau kenyataannya. Musa hanya memancing dengan teori-teori sok taunya demi menemukan sebuah titik terang untuk sahabat dan juga sepupunya.
“Jangan sia-siakan momen seperti itu! Kadang kebahagiaan datang diantara pemilik rasa yang tersembunyi” Musa menepuk sebelah bahu Dokter Harun. Ia lantas bersandar ke punggung sofa.
“Aah~ udahlah.. galau-galau mulu. Traktir gua, dong ama anak-anak gua” Pinta Dokter Harun berusaha keluar dari zona galau.
Musa mengernyit “Traktir?” Kalimat itu disambut Dokter Harun menggebu-gebu.
“Aaa~” Musa menjentikkan jemarinya saat menemukan sebuah ide “Okey.. lo belum pernah dateng ke rumah baru gua, kan?”.
^^^
IGD selalu menjadi tempat paling rusuh di rumah sakit. Banyak pasien berdatangan. Pun para tenaga medis berlalu-lalang kesana kemari. Pos IGD juga begitu sibuk oleh panggilan-panggilan darurat.
Namun kehebohan itu tak memecahkan fokus Qiara yang sedang memantau pasien dari komputer di pos jaga IGD. Matanya terus membidik cahaya yang terpancar dari komputer dengan tenang.
“Assalamu’alaikum, Dokter Qiara” Panggilan tersebut berhasil membuatnya terpecah.
Qiara berbalik menemukan ibu dan anak yang sedang tersenyum begitu luas padanya. Wanita pemilik mata lentik yang terbungkus kaca mata itu tersenyum datar, kedua sudut bibirnya hanya sedikit terangkat.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak atas bantuan Dokter Qiara sejak awal putra saya, Okta, operasi sampai pengambilan pen” Kata sang ibu begitu bersyukur. Ia menggenggam tangan Qiara erat “Maaf kalau saya sempat berspekulasi yang tidak baik pada Dokter Qiara. Tapi ternyata dokter sangat keren”.
Benar. Okta adalah pelajar korban kecelakaan lalu lintas yang juga menjadi incaran polisi saat menghindari razia. Anak itu sudah menyelesaikan berbagai prosedur operasi hingga pengambilan pen, dua hari yang lalu. Dan beberapa saat lalu, Qiara sudah mengizinkannya untuk pulang, namun sang ibu belum sempat mengucapkan terima kasih.
“Sama-sama ibu” Jawab Qiara seadanya bersamaan dengan sang ibu yang melepaskan genggamannya.
Kini, giliran Okta yang meraih tangan Qiara, membuat dokter mungil itu sempat tersentak. Pelajar tujuh belas tahun itu menyalami tangan Qiara sopan layaknya pada seorang guru. Pun dokter super dingin itu mengusap kepala Okta.
“Terima kasih, Dokter Qiara. Insyaa Allah saya tidak akan nakal lagi” Katanya dengan senyum polos disana. Pun Qiara hanya bisa membalas dengan anggukan kepalanya. Air mukanya sangat datar.
“Kalau begitu, kami pamit” Ucap sang ibu mewakili putranya juga, kemudian berbalik.
“Okta” Panggil Qiara menghentikan langkah keduanya “Jadilah pelajar teladan. Jangan melanggar peraturan lagi” Ia mengambil satu napas sejenak, menatap mata Okta begitu dalam “Dan jadilah anak yang berbakti pada orang tua, terutama ibumu”.
Kalimat sederhana itu sontak membuat Okta bergetar. Matanya mulai mengkilat bening. Sementara sang ibu sudah membuat bendungan di pelupuk matanya. Qiara ini kerap sekali menampar orang hanya dengan kalimat yang jarang sekali terucap dari bibirnya. Kini, keduanya benar-benar menyadari bahwa dibalik sikap dingin Qiara, terselip sebuah kehangatan.
“Cium tangan ibumu, Okta!” Qiara kembali menyambung yang langsung dilakukan anak tersebut dengan sepenuh hati. Suasana mendadak haru.
Tanpa Qiara sadari, ada orang yang sedang memperhatikannya di ujung sana.