12. Lebih Dekat

1453 Words
Di sebuah sudut ruangan yang tenang, Ridwan terduduk sembari menyeruput kopinya yang masih hangat. Ia memilih sebuah kedai kopi yang tak begitu ramai di sudut kota. Sebuah kafe klasik bernuansa vintage. Aroma kopi menggelitik setiap indera penciuman di malam itu.             Tak jauh dari kursinya, tampak jendela kaca maha besar. Menampilkan beberapa orang berjalan cepat bersamaan dengan gerimis yang mulai membumi. Ridwan, pria pemilik wajah tegas itu terperangah dan teringat sesuatu.             Apakah dia akan datang? Gumamnya dalam batin. Ia terus menengok ke jendela penuh harap, sesekali menengok ke arloji yang melingkar di tangan kirinya.             Ridwan lantas meneguk kembali kopinya untuk menetralisir kerasahan. Tiba-tiba pintu kedai kopi itu bergerak dan terbuka. Sayup-sayup bising kendaraan di luar sana sempat menyeruak. Mata tajam itu membulat penuh antusias saat sosok yang diharapkan sudah melambaikan tangan ke arahnya meski dengan wajah datar.             "Dokter Qiara?" Ridwan sampai harus bangkit dari kursi "Silakan, Dok" Ia lantas menarik satu kursi di hadapannya.             Perempuan berbalut kulot jeans serta blouse putih yang dipadukan dengan vest berwarna mint itu tersenyum lembut, duduk seraya meletakkan sling bag ke atas meja.             Kini keduanya telah duduk berhadapan. Belum sempat membuka obrolan, Ridwan sudah lebih dahulu memanggil pelayan semata-mata menutupi rasa gugup yang terus mengintainya.             "Dokter Qiara mau pesan apa?".             "Hmm.. aku matcha hangat aja".             Suasana canggung itu kembali menyelimut. Ridwan hanya bisa mengulum bibir sembari memutar otak, merangkai kata. Namun lidahnya beku.         "Ah~ ternyata ini ya selera anak jaman sekarang---" Qiara menelisik seluruh sudut ruangan kafe "Estetik. Tapi sayangnya, aku dan teman-teman nggak pernah datang ke tempat kaya gini".         Lagi-lagi, Ridwan tak bisa bereaksi. Ia tak menyangka bilamana Qiara akan membuka obrolan lebih dulu "M-memangnya kalau nongkrong dimana, Dok?".         "Dok?" Qiara menyatukan alis bersamaan dengan pelayan yang membawakan matcha dan meletakkannya di atas meja "Katanya kamu nggak mau manggil 'Dok' kalau makan di luar?".         "Ah~" Ridwan merutuki dirinya sendiri "Oh-iya. Trus... Kak Qiara?".         Qiara tertawa kecil namun masih terlihat berwibawa dan tenang "Terserah kamu aja".         Siapapun, tolong cubit Ridwan! Ia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Entah kenapa, Qiara selalu punya daya tarik tersendiri hingga membuat pria yang mendekatinya begitu segan dan tak bisa bersikap akrab, padahal itu tujuan Ridwan.         "E-ee.. apa Dok-- eh, Kak Qiara mau makan di tempat lain?".         "Nggak usah. Aku juga pengen tau kebiasaan anak muda" Qiara kembali meneguk matcha hangat.         "Jangan gitu dong, Kak. Berasa kaya tua banget jadinya" Ridwan menyangkal.         Qiara menarik satu napas berat sambil menatap gerimis yang perlahan berubah semakin deras "Terkadang aku juga mikir gitu. Tapi namanya hidup terus berjalan dan belum tentu semua berakhir seperti yang kita harapkan".         Selama Qiara bertukas, Ridwan terus memperhatikan pergerakan seniornya yang seolah sedang membuat kata-kata terbaik untuk perasaannya. Setiap kedipan mata pria manis itu mengandung makna. Senyumnya tak tertahan.             “Kak.. aku boleh tanya sesuatu?” Ridwan memberanikan diri.             Pun dengan wajah datarnya, Qiara tetap siap menyimak “Tapi jangan banyak-banyak”.             Ridwan terkekeh “Iya deh.. aku cuma mau tanya tentang pekerjaan. Aku benar-benar terkesan sama sikap Kak Qiara. Kenapa bisa menghadapi segala situasi kacau dengan tenang?”.             “Aku cuma pengen bantuin pasien. Pastinya juga banyak belajar, supaya kamu tenang. Betul, kan? Kalau sudah punya ilmunya, kamu bisa menghadapi dengan baik” Jelasnya tetap elegan. Pun Ridwan tak bisa mengendalikan mulutnya yang terus menganga saat menyadari ketulusan Qiara setiap menangani pasien.             Ridwan mengangguk paham “Tapi.. seandainya, kalau hal yang tak diinginkan terjadi pada pasien. Sesuatu mendesak, kritis dan kecil harapan.. apa Kak Qiara nggak takut jika pada akhirnya disalahkan?”.             Qiara menekuri lantainya sejenak “Takut. Takut banget. Tapi kalau kita terus berpikiran pendek, gimana mau maju? Memikirkan yang terbaik untuk segala situasi adalah yang terbaik”.             “Ah~ udah gitu aja pertanyaannya?” Lanjutnya memecah keheningan saat Ridwan sedang sibuk mencerna kalimatnya.             “Oh.. satu lagi. Tapi ini bukan pertanyaan sih, lebih ke penyataan” Kata Ridwan yang dihadiahi mulut Qiara yang mengeriting “Aku jadi paham, kenapa Kak Qiara selalu dingin dan datar”.             Qiara menaikkan satu sudut bibirnya yang berkedut. Keheranan dengan kalimat asal Ridwan yang tak pernah diucapkan siapapun di rumah sakit lantaran selalu kehilangan nyali.             “Itu karena Kak Qiara suka matcha”.             Qiara membulatkan matanya. Lalu beralih ke segelas matcha di meja “Kenapa matcha?”.             Ridwan menunjukkan segelas caramel frappuchino miliknya ke arah Qiara “Lihat! minuman ini punya rasa yang berwarna. Dia punya kopi yang kuat tapi tetap nikmat saat dicampur saus karamel dengan topping whiped cream. Coba bayangin, seramai apa hidup aku?” Pria itu nampak antusias menanti respon Qiara yang sejak tadi memandang datar.             “Sedang matcha.. Cuma hijau. Nothing” Timpa Ridwan lagi dengan ekspresif.             “Kamu nggak takut sama aku?” Qiara justru bertanya hal lain. sebab, Ridwan saat ini seperti bukan orang yang dikenalnya di rumah sakit. Bahkan, ini kali pertamanya ada seseorang yang berani mengajaknya makan di luar.             “S-saya?” Ridwan sempat mati gaya.             “Iya”.             Ridwan menggaruk belakang kepala yang tak gatal “Ah~ soalnya aku nggak lagi kerja bareng Dokter Qiara. Kayanya Kak Qiara lebih hangat dari atasanku”.           Perempuan berhijab itu sempat tertegun. Sampai akhirnya ia mengulum bibir, memahami situasi “Ridwan” Pria yang lebih muda darinya siap menyimak dengan baik “Aku ini orangnya kaku. Aku nggak pinter ngomong, tapi semua orang selalu salah paham. Jadi, jangan sungkan kalau kamu memang butuh bantuan”.             Detik itu juga jantung Ridwan berdegup tak beraturan. Itu semacam kejutan yang tak pernah terbayangkan. Sisi lain Qiara membuatnya lebih jatuh hati. Semua perasaan aneh itu mengalir ke seluruh aliran darah. ^^^             “Woah!” Mata Musa berbinar saat mangkuk-mangkuk mi ayam porsi jumbo itu berdatangan. Hilir mudik bagai tradisi setiap lebaran “Ayo, makan!” Serunya pada para dokter residen yang ia traktir makan malam.             Disana ada Rania, Nilam dan Azis. Ketiganya adalah residen yang kerap membantu Musa dalam setiap pekerjaannya. Mereka nampak antusias saat mendapat ajakan makan malam dari atasannya itu. Apalagi, Musa sangat pandai bergaul, membuat siapapun nyaman berada disekitarnya.             “Dok” Azis berucap sembari mengadu mulutnya dengan Mi Ayam pengkolan pinggiran ibu kota “Kapan-kapan makan mewah gitu. Saya pengen lah sekali-kali”.             Belum sempat dibalas Musa, Rania sudah buru-buru menendang kaki Azis yang tepat berada dihadapannya sebagai sebuah isyarat besar.             “Apa sih?” Keluh Azis.             Musa hanya terkekeh seraya menyantap ceker ayam super besar “Ini pemanasan dulu, ya. Besok-besok gue ajak makan daging wagyu”.             “Ah gaya! Nggak usah sok-sok an lo, Jis. Lo bisanya makan daging Wahyu bukan Wagyu!” Pekik Nilam yang dihadiahi tawa lainnya.             “Lagi pula, Dokter Musa barusan pindah rumah pasti banyak pengeluaran. Makan Mi Ayam aja udah enak banget kok, Dok” Imbuh Rania.             Musa mengeuk es jeruk di tengah gemericik gerimis “Gue tuh terkesima banget sama Rania” Kalimat itu sontak membuat Rania mati kutu dalam beberapa waktu “Gue tau lo kasihan ama gue, tapi nggak masalah dong kalau gue menjanjikan sesuatu yang Insyaa Allah gue tepati?”.             “Tuh!” Azis kembali bersuara, menyemprot Rania.             “Udah! Makan aja!” Ajak Musa.             Pun acara makan-makan itu berlangsung cukup meriah lantaran Musa selalu banyak bertanya mengenai pacar para residen itu. Ia berkelakar sangat panjang, tak sedikit yang selalu terkena skak mat oleh dokter satu ini.             Nilam pulang terlebih dahulu dengan mobilnya. Disusul Azis yang menunggangi kuda besinya setelah berpamitan pada Musa. Selanjutnya Rania. Perempuan anggun bermata hazel itu memesan taksi daring.             “Gue anter”.             “Hah?”.             “Tapi ke rumah sakit dulu, mobil gue disana”.             Kebetulan jarak antara warung mi ayam dan rumah sakit sangatlah dekat. Musa melepaskan jaket denim yang dikenakannya, lalu mengalihfungsikan sebagai payung untuk melindungi tubuh dari tetesan air. Membantangkannya pula ke atas kepala Rania yang sempat membuat gadis berhijab itu tersentak. Jantungnya memompa darah berlebih. Ia membeku.             “Ayo, cepet!” Seru Musa. Keduanya lantas menerjang gerimis bersama.             Kini keduanya sudah duduk berdampingan di dalam mobil milik Musa “Hfftt” pria itu mendengus kencang sembari mengencangkan sabuk pengaman.             “Rania.. maaf, aku baru bisa jajanin mi ayam padahal kerja kamu sangat bagus hari ini” Musa memulai obrolan sambil fokus mengemudi.             “Ah~ nggak masalah, Dok. Saya mah makan apa aja boleh” Balasnya dengan sangat lembut. Ciri mojang yang sesungguhnya.             “Gimana mau biasa aja. Kamu aja jaga malam terus. Besok juga jaga malam, kan?”.             “I-iya”.             “Aku nggak bisa bantuin sepenuhnya kerjaan kamu sebagai dokter residen, tapi aku bisa nemenin kamu. Ya.. nemenin begadang, mungkin”.             “Nggak usah, Dok. Saya teh bisa kerjakan sendiri. Biar Dokter Musa istirahat aja”.             “Sesekali boleh, dong?” Musa sempat melirik Rania sejenak. Namun gadis itu hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD