Kini, bumi sudah berada di penghujung tahun 2019. Kelima dokter itu sedang mendapat jadwal libur untuk beberapa hari dan kompak untuk menghabiskan waktu bersama dengan berbagai hal positif.
Seperti malam ini, semuanya sedang berkumpul di rumah Ziyan untuk kembali bermain musik. Tak hanya berlima, kali ini Anya mengajak anak dan suaminya untuk melihat penampilan mereka. Juga ada orang tua Ziyan. Mereka semua sudah duduk di sebuah sofa panjang yang sengaja ditempatkan tepat dihadapan podium sebagai penonton.
Jemari Musa mulai menari lembut diantara tuts piano sembari mengamati tangga nada di depannya. Alunan lembut itu begitu menenangkan, membuat para penonton menggerakkan kepala ke kanan dan kiri. Syahdu sembari mengingat kembali sebuah lagu yang dirilis pada tahun 1999 oleh penyanyi kawakan, Ebiet G. Ade.
Disusul dentingan gitar yang dimainkan Jio terdengar begitu klasik. Terlebih ia memainkannya dengan penuh penghayatan. Kemudian Anya menjentikkan jemarinya diatas senar bass dengan tenang. Qiara mengambil bagian akhir di dalam intro. Menabuh bagian simbal begitu pelan.
Setiap waktu.. engkau tersenyum
Sudut matamu memancarkan rasa
Vokal Ziyan yang merdu, mengalun lembut bagai semilir angin yang berbisik di antara siluet pepohonan. Semua membayang akan masa lalu.
Keresahan yang terbenam. Kerinduan yang tertahan
Duka dalam yang tersembunyi.. jauh di lubuk hati
Kata-katamu.. riuh mengalir bagai gerimis
Jemari Musa semakin cekatan berlari diatas tuts untuk kembali membuat intro.
Seperti angin tak pernah diam~~ Bersamaan dengan Ziyan yang mengambil bagiannya, Qiara kembali menabuh drumnya pelan dengan lengan mungil itu.
Selalu beranjak setiap saat
Menabarkan jala asmara.. menaburkan aroma luka
Benih kebencian kau tanam.. bakar ladang gersang
Entah sampai kapan.. berhenti menipu diri~~~
Reff : Kupu-kupu kertas.. yang terbang kian kemari~~
Aneka rupa dan warna.. dibias lampu temaram.. Ooh`
Tangan Jio bergerak lincah diantara senar gitar sembari sesekali memejam, merasuki lagu tersebut. Lengkingan suara gitar begitu mengalun syahdu, membuat Papah Fardan tak bisa berhenti mengikuti gaya epik Jio ketika bermain gitar.
Membasuh debu yang lekat dalam jiwa
Mencuci bersih dari segala kekotoran.. Ooh`
Aku menunggu hujan turunlah
Aku mengharap badai datanglah
Gemuruhnya akan melumatkan semua.. kupu-kupu kertas
(Back to Reff 2x). Sepanjang bagian ini, kelimanya bernyanyi bersamaan secara kompak meski sedang memainkan alat musik. Pun Tak terkecuali para penonton yang sejak awal sudah ikut bernyanyi sambil melambaikan tangan. Bahkan Choki yang sejak tadi berada di pangkuan Papah Fardan terlihat bahagian bertepuk tangan melihat sang ibu dan teman-temannya beraksi.
Lima sekawan itu juga sudah pernah membawakan lagu ini, bukan untuk kompetisi, hanya sebagai pengisi liburan mereka saat masih duduk di bangku kuliah.
“Aduh.. maaf nih, guys. Ada panggilan darurat nih. Ada masalah ama pasien gue” Musa langsung membereskan pirantinya.
“Derita anak bedah” Jio menggeleng iba.
“Gua cabut, ya.. Pah-Mah, Musa pamit duluan” Musa menyempatkan diri untuk mencium tangan kedua orang tua Ziyan “Dimas, Choki, ponakan gue... pulang dulu semua” Ia melambaikan tangan pada semuanya “Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikumussalaam”.
Jio berangsur dari tempatnya untuk menjawab satu panggilan “Halo? Wa’alaikumussalaam?”.
“Gue di parkiran apartemen lo”.
“Hah?!” Mata Jio yang sudah bulat itu semakin menyerupai bola ping-pong “Ngapain?”.
“Mobil lo udah seminggu di parkiran apartemen gue. Katanya lo nggak mau Qiara tau. Kasihan kalau lo harus kerja naik taksi online mulu”.
Jio menyelidik suasana dan kembali menyambung saat teman-temannya sedang asyik mengobrol dengan orang tua Ziyan “Tiara.. Qiara nggak bilang kalau lagi pada nge-band?”.
“Uhmm... Gue tau. Tapi hari ini gue pulang cepet, dari pada gabut”.
Pria datar itu lantas menghembuskan satu napas berat “Tunggu disana! Gue langsung ke sana, ntar gue antar lo pulang”.
Panggilan diputus sepihak. Di seberang sana, Tiara yang hendak menyambung, mendadak terhenti.
^^^
Malam itu terasa begitu sejuk saat gerimis menyapa dunia di malam yang begitu tenang. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Halam belakang squad sudah seluruhnya kembali ke rumah masing-masing.
Ziyan sang pemilik rumah sedang bersemedi di depan meja bersama beberapa buku tabungan disana. Ziyan juga sedang sibuk menerima banyak panggilan dari tadi—bukan panggilan medis.
“Oh gitu.. ini dananya sudah ada. Setelah ini bisa langsung dipakai” Ziyan masih asyik berbincang dari ponselnya “Rumah Sakit Medika?” Ponsel itu masih melekat di telinganya “Hmmm.. Iya tolong segera diurus semuanya ya.. Kalau ada kendala langsung hubungi saya.. Wa’alaikumussalaam” Akhirnya setelah satu jam berkutat pada panggilan, Ziyan kembali meletakkan ponsel ke atas meja. Di atas sana terdapat beberapa karya origami aneka warna berbentuk kupu-kupu.
Ia lantas membuka buku catatannya dan memberikan tanda centang di beberapa kolom “Pak Hendri, udah. Yayasan Nurul khasanah, juga udah. Panti asuhan kasih ibu, udah. Yayasan Sehat Indonesia, juga udah” Kemudian menutup kembali benda persegi panjang itu.
Ziyan menghela napas panjang. Tak sengaja menatap sebuah tape recorder lawas disana. Ia menarik satu senyum kala benda tersebut mengingatkannya akan masa lalu. Pria berkulit putih itu membuka loker lain yang di dalamnya terdapat beberapa kaset pita yang kini sudah termakan zaman oleh platform musik online.
Tapi bagi Ziyan, benda tersebut tak hanya dapat memutarkan lagu, melainkan memutarkan memori indah dimasa kuliah dan bahkan sebelumnya. Ia memasukkan kaset tersebut ke dalam tape recorder. Menekan tombol on disana.
Suara merdu nan khas milik Ebiet G. Ade dengan lagu Kupu-kupu kertas versi asli, membangun ketenangan dalam malam gerimis di akhir tahun.
Ziyan sengaja membuka jendela kamarnya. Semilir angin membuat gantungan kupu-kupu aneka warna yang terbuat dari kertas origami itu beterbangan. Sesekali terkena basah karena terkena cipratan gerimis.
Sembari mendengarkan lagu syahdu, Ziyan kembali melanjutkan aktifitas membuat kupu-kupu dari kertas. Ini sudah menjadi kebiasaan pria tampan berwajah oriental itu sejak kuliah. Hasil karyanya, kemudian ia gantungkan di jendela, membiarkannya sampai terlumat air hujan dan kembali membuat yang baru.
Dalam aktifitasnya, Ziyan terus menyunggingkan senyum. Banyak kenangan yang terus melekat dalam benaknya. Menjejakki luasnya memori terindah dalam hidup. Membayang satu nama yang selalu disimpannya dalam diam. Ia lantas menghentikan aktifitas membuat origami, membuka loker untuk mengambil satu kotak yang di dalamnya terdapat dua buah kupu-kupu kertas yang nampak lusuh—seperti barang lawas.
Senyumnya semakin luas kala melihat dua benda tersebut. Dicecap sebuah kenangan yang selalu mengguyur ingatannya. Menyemai rindu.
Tok tok!
Suara ketukan pintu memecah lamunan Ziyan. Pria itu memasukkan kembali benda tersebut ke dalam loker.
“Ziyan, sayang.. Kamu belum tidur? mamah masuk, ya?” Kata Mamah Linda memastikan dari luar.
“Iya, mah. Masuk aja” Jawab Ziyan.
Kemudian sang ibu membuka pintu dan langsung menutupnya. Mengambil tempat di atas ranjang empuk milik putra sematawayangnya. Keduanya duduk saling berhadapan.
“Mamah belum tidur?” Tanya Ziyan perhatian.
“Belum. Mamah baru aja kelar video call ama Qiara”.
Ziyan terbelalak “Mamah ngapain vc ama Qiara? Malam-mala pula”.
“Ngobrol aja. Kenapa sih?” Mamah Linda heran.
Ziyan membeku. Menatap Mamah Linda penuh selidik. Ada tarik napas bertenaga, lalu melena diam-diam menghembus.
“Mah” Panggilnya lembut “Jangan maksain perasaan Qiara untuk Ziyan”.
Mamah Linda menyatukan alis “Kamu ngomong apa, sih? Mamah nggak bahas tentang perjodohan antara kamu dan dia. Mamah cuma ngobrol sederhana aja”.
Napas Ziyan menghela pelan. Ia merasa lega. Pasalnya Mamah Linda ini selalu membahas tentang perjodohan antara dirinya dan Qiara—kasarnya seperti memaksakan perasaan orang.
“Ziyan, apa yang kamu cari?” Mamah Linda berucap lebih serius. Sorot matanya membidik tepat di bola mata putranya.
Pria berkaos kuning itu tak langsung mejawab. Pikirannya sedang memudar. Mengembara entah kemana. Ingin menjawab cinta, tapi apakah sosok itu juga mencintainya? Topeng dalam dirinya tak mudah tuk dibuka. Tapi Mamah Linda sangat menyayanginya. Dia memang hanyalah dia. Wanita berhati dingin yang tak pernah mempedulikan apapun.
“Nak” Mamah memanggilnya lembut. Ia mengusap tangan putranya halus “Jika kamu memiliki cinta, maka genggam cinta itu. Jangan biarkan dia lepas. Sekalipun itu bukan Qiara.. Keysha pun akan mamah terima”.
“Keysha?” Ziyan mengerutkan kening yang disambut anggukan kecil kepala sang ibu “Pasrah banget sih, mah”.
“Intinya kamu harus segera menikah. Mamah mendesak kamu untuk menikah bukan karena umur. Tapi karena mamah yakin kamu sudah mampu” Tambah Mamah Linda.
“Tapi---”.
Mamah Linda menggeleng, tak mau mendengar alasan putranya yang tak pernah berubah “Aaah! Apa? Kamu mengkhawatirkan Mamah sama Papah?” Wanita 58 tahun itu mendengus kasar “Mamah sama papah insyaa Allah akan baik-baik aja tinggal berdua. Kalau sudah menikah, kamu juga bisa main ke sini setiap weekend”.
“Ziyan, anak mamah sayang.. itu harapan terakhir mamah sama kamu. Mamah sama papah nggak pernah berharap yang lebih dari itu. Kita sebagai orang tua sudah bersyukur punya anak satu yang penurut, nggak pernah macam-macam, cerdas. Karir kamu juga bagus. Itu sudah melebihi ekspektasi kita, Nak” Sambung Mamah penuh harap disertai rasa syukur tak terkira.
“Mah.. Ziyan di rumah aja, mamah kadang masih ngerasa kesepian. Apalagi kalau Ziyan sudah berkeluarga?”
“Nggak apa-apa, Nak. Mamah sama papah akan jauh lebih senang bilamana kamu tidak disini untuk memimpin keluarga kamu” Mamah masih kekeuh dengan harapannya “Temuilah wanita baik di luar sana, dan menikahlah. Mamah berharap itu Qiara, tapi jika ada orang lain yang lebih baik, itu nggak masalah”.
Kalimat itu membuat Ziyan termenung. Ia menunduk. Menimbang banyak hal. Ia tak tau harus melakukan apa. Semua pikiran itu terasa abstrak. Tapi tatapan penuh harap dari sang ibu membuat Ziyan bergetar.
Pria pemilik wajah kecil itu mengulum bibir. Sesekali membasahinya. Ziyan tak sepenuhnya bisa mengikuti jalan pikiran sang ibu. Keraguan berkemelut mesra dalam pikiran dan batinnya. Meluap dan tumpah mencari muaranya.
Mamah Linda memang sudah keluar dari kamar Ziyan, tapi pria itu masih banyak merenungi hatinya. Sesekali melirik sekilas pada kupu-kupu kertas lawas di dalam kotak. Pikirannya mengembara.
Percayalah, secuil rasa tentang seseorang pembuat origami itu masih membekas erat dalam relung hati nan dalam. Mengikut sepanjang usianya bertambah. Ziyan selalu menegaskan bahwa dirinya masih perlu waktu. Tapi nyatanya ia memang tak memiliki keberanian. Entah kemana perginya.
Ziyan tak tau, sampai kapan dirinya akan terus menyimpan kupu-kupu kertas itu alih-alih menjadikan sebuah kupu-kupu yang nyata untuk singgah di kebunnya.
Bisakah kelak di masa depan, aku dan kamu melewati setiap musim bersama?—itulah pikiran-piran abu yang selalu menghantui Ziyan.
Mendung langit di muka bumi bagai memahami isi hatinya yang selama ini terus berbalut keraguan dan ketakutan berlebih atas sesuatu yang belum tentu terjadi. Bisakah persahabatan yang sudah terjalin belasan tahun tumbuh sebagai cinta? Bisakah aku menuntunnya di jalan Allah sedang aku bukan lelaki sholih?.