17. Berbagi Kebahagiaan

1866 Words
Lima sekawan itu kembali menghabiskan waktu liburan bersama. Mereka mengunjungi yayasan yang menanungi panti jompo dan juga panti asuhan untuk melakukan kegiatan sosial. Itu sudah menjadi rutinitas mereka semenjak lulus sarjana kedokteran. Yang semulanya hanya untuk mengisi masa senggang, menjadi sebuah kebiasaan yang bermakna.             Panti Jompo adalah tujuan pertama. Mereka bertemu dengan para staf yang sudah menyambut dengan hangat di lobi.             Seorang pimpinan bernama, Ibu Arumi langsung menyalami tangan Ziyan “Dokter Ziyan, terima kasih banyak atas bantu---”             Belum sempat menamatkan kalimatnya, Ziyan sudah buru-buru mengedipkan sebelah mata sebagai sebuah isyarat besar yang kemudian membuat Ibu Arumi mengerti.             “Aaah~ Terima kasih banyak atas kehadiran para dokter” Ibu Arumi mengurai genggamannya dari tangan Ziyan, mengulang kaimatnya “Kami merasa terhormat, pak dokter dan bu dokter mau menyempatkan waktu untuk datang”.             “Iya bu.. sama-sama.. kita juga sudah menganggap semua orang disini sebagai orang tua kita juga” Kata Musa senang hati mewakili seluruh ungkapan teman-temannya.             Setelah banyak berbincang-bincang sederhana, kelimanya diantarkan untuk bertemu para ibu, bapak, kakek dan nenek yang tinggal di panti tersebut. Tak disangka, respon para penghuni panti begitu meriah. Semua menyambut para dokter dengan hati menggebu layaknya sedang bertemu dengan anak-anak mereka.             “Jio!!!” Satu nenek langsung menarik pria berwajah indo pemilik kulit sawo matang itu dengan erat. Pun Jio tak bisa melawan “Emak kangeeeen banget”.             Sontak itu membuat keempat temannya saling menahan tawa. Semua tak menyangka bilamana Emak Yati begitu merindukan Jio, si pria kaku itu.             Jio membalas pelukan hangat wanita berambut abu itu dengan senang hati meski awalnya agak sedikit terkejut “Jio juga kangen sama emak”.             Bagi Jio, Mak Yati ini mempunyai kemiripan dengan neneknya, ia juga memperlakukannya sebegitu baiknya yang membuat Mak Yati merasa nyaman sejak pertama berjumpa dengannya. Tenang, ini bukan cinta pada pandangan pertama, kok.             Lima sekawan itu mengajak para lansia untuk melakukan cek kesehatan. Para dokter dengan telaten menghampiri lansia tersebut satu-persatu. Pun cara memperlakukan mereka harus dari hati ke hati. Seperti berbicara dengan anak kecil, bahkan lebih mudah menghadapi anak kecil. Para lansia butuh pendekatan khusus.             “Kakek.. masih ingat saya?” Tanya Qiara ramah, memposisikan dirinya setengah duduk. Ya, si ice princess ini tak selamanya dingin. Ia begitu tulus dan ramah pada para lansia, juga pada anak-anak.             “Uhmm” Seorang kakek yang duduk diatas kursi roda itu sedang berusaha mengingat.             Qiara tersenyum lembut, sembari memasang stetoskop ke telinga “Gak usah terlalu diingat, kek. Yang jelas saya beberapa kali datang kemari”.             “Waduuhh. Maaf ya, Neng.. kakek benar-benar nggak ingat” Balas kakek tersebut dengan suara bergetar.             “Nggak apa-apa. Oh iya.. katanya kakek kemarin sempat sesak napas, ya?” Tanyanya perhatian sebelum memeriksanya. Memeriksa lansia ini terbilang tak mudah, berbeda dengan orang dewasa lain “Saya periksa dadanya dulu, ya, Kek”.             “Jangan!” Seru sang kakek menghentikan pergerakan Qiara yang hendak mengarahkan stetoskop ke d**a sang kakek. Perempuan itu mengerutkan kening.             Kakek itu justru tertawa renyah “Kakek nggak mau telinga kamu sakit karena di setiap ada kamu, jantung kakek sedang berdebar kencang”.            Kalimat itu membuat Qiara mematung bersama mata yang melebar. Satu sudut bibirnya nampak berkedut.             Suara tawa kakek itu semakin membuat Qiara merasa ngeri. Lalu tersenyum lebar menampakkan barisan gusi berwarna merah jambu tanpa ada gigi disana “Oops!” Kakek segera menutup mulutnya “Kakek lupa nggak pakai gigi palsu”.             Semua kelakuan kakek itu membuat kepala Qiara berdenyut.             Menjadi relawan di panti jompo seperti ini selalu menyisakan kisah-kisah unik dari masing-masing personel, tak hanya Qiara. Ziyan juga tak pelak dari gombalan maut para nenek-nenek, tapi ia menanggapinya dengan tawa, tak jarang pula ia balas dengan gombalan juga. Berbeda dengan Qiara yang hanya mampu membisu, diam tanpa bahasa. ^^^             Kursi-kursi mulai ditata sedemikian rupa di taman. Lima sekawan tak menyangka jika sudah disipakan tempat khusus di samping taman sebagai tempat mereka akan menampilkan sebuah panggung hebat.             Para perawat dan staf sudah banyak mendengar tentang hobi lima sekawan yang sangat mahir bermain alat musik, serta menyanyi. Itu tak pelak menjadikan momentum kali ini lebih bermakna, agar para lansia juga terhibur.             Meskipun alat musik tidak lengkap, hanya ada dua gitar—itu tak jadi masalah. Kelimanya mencoba menyanyikan lagu-lagu lawas dengan genre akustik klasik yang lebih menenangkan, terutama untuk para lansia.             Seperti biasa, Jio sudah mengambil alih satu gitar, sementara satu gitar lagi kan di detingkan oleh Ziyan. Mereka sudah duduk berbanjar, bersiap menampilkan sebuah lagu lawas.             “Assalamu’alaikum. Selamat sore semuanya!” Sapa Ziyan menatap wajah-wajah gembira para lansia.             “Wa’alaikumussalaam!” Semua menjawab serempak.             Lima sekawan itu dalam hati berucap penuh syukur, karena hari ini bisa berbagi kebahagiaan pada para orang tua yang sengaja ditinggalkan anaknya di panti, atau atas kemamuan mereka sendiri.             “Semoga kehadiran kami selalu memberikan manfaat untuk semuanya. Semoga ibu, bapak, kakek dan nenek senantiasa diberikan kesehatan” Tukas Ziyan memimpin, sesekali melirik keempat temannya.             “Aamiin!” Lagi-lagi semua menjawab serempak penuh suka cita.             Sebagai pembuka, lima dokter ini menyanyikan sebuah lagu yang dirilis tahun 1992 oleh band kenamaan DEWA-19 yang berjudul, Kangen. Lagu penuh makna itu dinyanyikan versi akustik dengan suara merdu masing-masing personel. Benar, semua mengambil bagiannya dalam bernyanyi dan bukan hanya Ziyan.             Kuterima suratmu, telah k****a dan aku mengerti             Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku             Di dalam hari-harimu, bersama lagi             Kau tanyakan padaku, "Kapan aku akan kembali lagi?"             Katamu kau tak kuasa melawan gejolak di dalam d**a                                 Yang membara menahan rasa pertemuan kita nanti             Saat bersama dirimu             Para lansia itu turut melakukan nyanyian bersama seraya mengangkat tangan ke udara. Mengayunkannya ke kanan dan kiri. Sepertinya mereka benar-benar terhibur.             Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya             Menahan rasa ingin jumpa             Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang             Melepas semua kerinduan yang terpendam ^^^             Setelah melaksanakan kegiatan sosial, lima sekawan itu beranjak pulang. Sebuah SUV mewah dari peugeot yang dikemudikan oleh Jio memelesat cepat di jalanan untuk menemukan masjid, melaksanakan sholat maghrib disana.             Meskipun memiliki banyak kegiatan, ataupun hanya sekedar kumpul bersama, mereka tak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Sebisa mungkin ketika adzan berkumandang, salah satu dari mereka selalu ada saja yang mengingatkan satu sama lain.             Sholat adalah tiang agama. Suatu perkara sakral yang nantinya akan dipertanyakan pertama kali oleh malaikat saat sudah bersemayam di alam kubur. Sholat bukan sekedar kewajiban seorang muslim, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang mendarah daging.             Sepanjang perjalanan pulang, semuanya nampak sedang berbagi kisah unik mereka saat menangani para lansia. Saling tertawa dan juga mengejek satu sama lain. Tapi tidak pada Qiara. Perempuan berhijab lilac itu hanya hening menikmati yoghurt anggur kesukaannya sambil menatap jendela, memperhatikan lampu-lampu saling beradu dengan gedung-gedung pencakar langit yang mendominasi langit Jakarta. Ya.. perempuan berhati dingin itu sedang asyik dengan dunianya, ia bahkan tak sadar jika sedotan di dalam yoghurtnya penyok karena terlalu lama digigit.             Hingga satu hal meruntuhkan dunianya.             Sebuah screen dengan sistem bluetooth di bagian depan mobil menampilkan sebuah panggilan masuk bersama dering disana. Sontak itu menghentikan tawa para Halaman belakang squad, terlebih saat melihat satu nama disana. Ziyan dan Anya yang berada di belakang mobil kompak mendekat ke bagian tengah untuk melihat lebih luas nama kontak tersebut. Sementara Qiara sempat melirik ingin tau, namun masih enggan beranjak dari posisinya yang sudah nyaman bersandar di punggung jok.             “My Unicorn?” Anya bertanya penuh selidik.             “Aaah~” Jio yang sedang mengemudi mendadak kehilangan akal. Ia buru-buru mematikan panggilan tersebut “B-bukan apa-apa”.             Musa menyipit. Melayangkan tatapan mengintimidasi “Jadi lo beneran punya pacar?”.             “B-bukan” Jio mengelak sambil berusaha fokus pada jalanan “Gue nggak pacaran!”.             Anya mendengus lega “Tapi gue seneng, akhirnya Jio nyimpen kontak orang di HP-nya”.             Musa menoleh “Siapa tau cuma kontak pacarnya doang. Belum tentu kontak kita juga disimpan ama dia”.             “Bener juga”.             Pikiran Anya seperti baru terbangun. Ia mengangguk paham dan membenarkan kalimat Musa. Pasalnya selama nyaris tujuh belas tahun berteman, Jio sama sekali tak pernah menyimpan satupun nomor teman-temannya di ponsel. Di dalam kontak hanya terisi nomor ibu dan adiknya saja.             “Trus? Siapa tuh My Unicorn?” Ziyan penasaran. Itu semakin membuat Jio frustrasi.             “Deket doang, nggak pacaran!” Jio menjelaskan sembari melirik teman-temannya di belakang melalui spion “Ntar.. nanti kalau timing-nya pas, ntar gua kasih tau”.             “Lo mirip si Tiara, ya” Ceplos Qiara santai. Perempuan itu masih bersandar di punggung jok.             Seketika kalimat itu membuat Jio semakin berkeringat dingin. Bibirnya bergetar, serta jantung yang bergemuruh.             “Tiara? Emang kenapa?” Ziyan mengerutkan kening.             Qiara memposisikan duduknya lebih tegap “Iya.. Tiara juga belakangan ini misterius banget. Dia lagi deket juga gitu ama cowok. Pas gue tanyain, ntar-ntar gue kasih tau” Ia menirukan cara bicara Tiara yang lembut “Mirip lah ama si Jio gitu”.             Lagi-lagi Jio semakin kehilangan akal. Dadanya sesak. Semuanya terasa tak karuan. Apa Qiara sudah menyadari semua yang terjadi dibalik hubungannya dengan Tiara? Sebab ini bukan saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya.             “Lah?! lo kan kembarannya. Tanya dong!” Sergah Ziyan.             “Gue kan nggak mau ikut campur. Nanti dia pasti akan kasih tau gue atau mungkin gue yang akan tau sendiri” Jelas Qiara kembali bersandar bersamaan dengan ponselnya yang bergetar “Oh?! Ini Tiara telepon gua” Serunya langsung mengusap ikon hijau disana.             Untuk yang kesekian kalinya, Jio membeku. Sekujur tubuhnya membiru. Lidahnya kelu membisu. Matanya membelalak kikuk. Jantungnya nyaris menggelinding. Kini, telinganya sedang sibuk mengintai pembicaraan dua saudari kembar dari telepon.             Musa menoleh. menghadap ke arah Ziyan dan Anya di belakang “Iya, kan? In the same case.. kalau kalian ada diposisi Qiara pasti bakal korek habis rahasia saudara kembar kalian, kan?”.             “Iya lah!” Seru Ziyan dan Anya kompak.             “Gue bakal korek habis rahasa Tiara sampe mampus” Anya sangat ekspresif. Ia tampak sangat gemas dengan sikap santai Qiara.             “Apalagi kalau udah bahas soal percintaan. Kaya sakral banget” Ziyan tak kalah gemas menimpali.             “Berisik lo, issh!” Semprot Qiara. Tatapan pedangnya membuat tiga admin gosip itu mengerjap dan mengunci mulut rapat-rapat. Jika Nyai sudah seperti ini, tak kan ada yang berani melawan.             Qiara kembali melanjutkan panggilannya “Ohh~ lo mau nitip seafood?.. Ok.. gua bawain”.             “Musa, buruan searching restoran seafood di daerah Thamrin!” Titah Jio menggebu-gebu.             “Buat apaan?” Musa yang sedang sibuk membalas pesan di ponselnya menimpa heran.             “Tuh buat Tiara”.             “Etdah.. Tiara mah dibeliin seafood Lamongan emperan juga doyan” Sahut Qiara santai.             Jio menyergah. Ia menggeleng “Jangan! Di restoran lebih berkualitas, kasihan kapolsek banyak tugas, harus banyak nutrisi yang diterima” Ia menatap wajah datar Qiara dari balik spion “Gue yang bayar deh.. tenang aja. T-tiara kan temen kita juga” Tiba-tiba gugup saat menemukan tatapan datar Qiara. Tatapan yang selalu membuat siapapun gelisah.             Ziyan yang sejak tadi menyimak, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sembari mengais hipotesa. Kemudian melirik Qiara penuh tanya. Pun keduanya saling memandang dengan tatapan heran. Pun Anya dan Musa juga merasakan kejanggalan. Akhirnya semua saling menatap curiga. Pasalnya Jio bukan tipikal orang yang mudah menjajakan orang. Bukan pelit, hanya saja sangat teliti dan sangat menata keuangannya dengan baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD