Pintu otomatis itu terbuka seiring dengan sensor gerak yang disponsori oleh langkah Musa dari ruangan operasi untuk menemui wali pasien delapan tahun yang baru saja melangsungkan operasi akibat kecelakaan, terjatuh dijalanan yang menurun dan dadanya tertimpa gagang skuter. Pria itu menurunkan maskernya agar bisa berbicara dengan jelas. Pun orang tua pasien itu segera bangkit menanti kabar putri mungilnya.
“Dok, gimana anak saya? Operasinya lancar?” Sang ibu begitu panik.
Musa tersenyum menenangkan suasana “Alhamdulillah operasi berjalan dengan baik. Tapi perlu diketahui bahwa benar adanya sebagian pembuluh darah di lever yang robek, sehingga terjadi pendarahan. Jaringan di sekitarnya rusak dan darah sulit dihentikan, sehingga lever harus dipotong” Musa yang terkenal b****k itu bisa menjelaskan dengan baik, seolah berubah seratus delapan puluh derajat dari sikap aslinya. Pun wali pasien masih setia menyimak.
“Maka dari itu harus dilakukan pemantauan lebih setelah operasi, karena memungkinkan pendarahan dari organ lain” Tambah Musa membuat kedua orang tua tersebut mengerti.
“Tapi itu tidak membahayakan nyawanya, kan, dok?” Sang ibu masih dirundung kecemasan.
“Tenang saja. Selama dua atau tiga hari, Khalisa harus terus diawasi di PICU[1]” Jawab Musa lembut.
Wanita itu membuka mulut lagi, masih dengan suara bergetar “Lever yang dipotong itu akan tumbuh, kan, dok?”.
“Tenang, ibu. Lever yang dipotong akan berkembang dalam beberapa bulan” Tukas Musa penuh kesabaran. Menghadapi wali pasien memang butuh berkali-kali lipat tingkat kesabaran.
“Jazakallah, Dok” Ayah dari pasien itu menggenggam tangan Musa begitu erat, membuatnya sempat tersentak, lalu menyunggingkan senyum sebagai balasan terindah.
^^^
Di sudut ruangan, Anya sang dokter spesialis jantung itu sedang fokus membaca buku dan di hadapannya juga ada tumpukkan buku lain yang sedang mengantri untuk dibaca. Sesekali ia mengangguk paham dan sesekali ia memberikan garis warna pada hal penting disana.
“You know me so well~ girl i need you, gril i heart y---” Ziyan yang baru saja membuka pintu sambil bernyanyi, mendadak menghentikan aktifitas nyanyinya saat menemukan kesunyian di ruang kerja Anya.
Hmmm.. Ia berdeham sambil mengangkat kedua tangannya yang terdapat kantung besar berisi makanan. Lalu bergegas duduk di sofa.
Pun Anya menoleh dengan mata berbinar “Woaahh!”.
Ziyan menghembus napas kencang. Mengeluarkan lima kaleng cola dari setiap saku di jas, di baju dan juga di celana, menatanya di setiap sisi meja “Gue kira lo udah siap-siap pulang ke rumah. Udah jam satu, kan? Jam dua, lo harus buka praktik di rumah”.
“Gue udah ganti jadwal praktik di rumah jadi seminggu tiga kali doang” Jawabnya.
“Ha?!” Kaget Ziyan “Kenapa?”.
Anya tersenyum “Gue ini udah jadi ibu, pekerjaan gue makin banyak. Bener, apa kata Qiara, simbiosis mutualisme. Selain mengurus pasien, gue harus punya banyak waktu juga untuk keluarga dan juga untuk kalian”.
“Uhmmm” Ziyan memanyunkan bibir gemas. Merekahkan kedua tangan seolah ingin memeluk sahabatnya dari kejauhan “Sayaaang Anya”.
Pipi Anya bersemu kemerahan bak buah persik. Mengulas senyum bahagianya melihat sahabat yang selalu memberikan ketenangan di setiap waktunya, bahkan di tengah sibuknya.
“Assalamu’alaikum!!” Musa si perusuh datang. Ia langsung mengambil satu kentucky untuk dilahapnya tanpa basa-basi.
“Waalaikumussalaam” Ziyan dan Anya saling memandang penuh tanya dari kejauhan, heran.
“Lo udah cuci tangan belum?” Tegur Anya.
“Udah.. gue baru selesai operasi. Laper banget!” Ucapnya ditengah aktifiatas mengunyah, kemudian fokusnya terpecah saat menemukan Anya sedang belajar alih-alih makan “Lah?! Lo ngapain, Nya?”.
“Ada yang harus gue pelajari. Besok gue ikut konferensi[2] bareng CS[3]” Jelas Anya sambil fokus pada buku-bukunya.
“Pasien lo ada yang harus dioperasi?” Tanya Ziyan sambil mengunyah kentang goreng.
Anya mengangguk “Dia pengidap jantung koroner dan gue rasa harus operasi bypass”.
“Gak bisa gitu. Lo juga harus makan” Musa menghampiri Anya, membawakan nasi dan ayam untuknya “Aaa!” Titah Musa agar Anya membuka mulutnya. Pria itu lantas memberikan nasi kepal, kemudian disusul kentucky-nya.
“Assalamu’alaikum!” Seru Qiara dan Jio bersamaan memasuki ruangan.
“Wa’alaikumussalaam” Jawab yang lain kompak.
Qiara tak sanggup lagi menahan perutnya yang meronta. Ia langsung membuka nasi dan ayamnya tanpa basa-basi. Ziyan melemparkan sambal sachet padanya “Oh?” Kaget Qiara. “Kamsahamnida[4], oppa!” Perempuan itu bertingkah sok imut sembari menyenggol lengan Ziyan oppa.
“Dih! Najis” Hardik Musa.
“Diem lo, Musa. Gue lagi males berurusan ama lo” Kata Qiara sedang tak ingin mempedulikannya. Ia asyik dengan makanannya.
Jio meneguk cola dingin “Siapa yang beli nih makanannya?”
“Anak sultan, dong” Ceplos Musa.
Jio menoleh ke arah Ziyan “Lo abis ambil gaji?”
Musa tertawa “Anak sultan buat apa ambil gaji? Kentut doang aja dapet duit”
“Kaga. Gue nggak ambil gaji. Gue nggak punya uang pribadi juga” Jawab Ziyan polos.
“Boong lo!” Kaget Qiara tak percaya. Bagaimana tidak? Ziyan adalah anak tunggal dari pengusaha kaya raya yang memiliki banyak saham di dalam dan luar negeri.
“Serius, Qi. Gue beli-beli ini karena dapet uang jajan dari mamah tadi pagi” Jujur Ziyan yang membuat semua terbelalak.
Musa mendengus kasar “Besok gue harus minta uang jajan ama Mamah Linda deh”
Drrt..
Qiara yang sedang asyik makan harus terganggu saat ponsel disakunya bergetar. Ia buru-buru meneguk air mineral. Karena kedua tangannya kotor, ia meminta tolong Ziyan yang sudah selesai makan untuk mengambilkannya sekaligus mengusap tombol speaker.
“Halo?” Qiara terdiam sejenak sembari menyimak kalimat dari seberang.
“Ada pasien laki-laki 17 tahun kecelakaan motor, akan datang lima menit lagi, dok”
“Ok. Saya kesana, sekarang!” Jawab Qiara tak ingin menunda “Tolong beresin ini, ya. Gue turun”.
“Tunggu.. tunggu!” Ucap Ziyan memerintah, menghentikan langkah Qiara. Ziyan datang menghampiri sembari membawa tissue basah. Meraih dua tangan Qiara dan mengusapkannya agar bersih kembali.
“Ok.. kamsahmnida, oppa” Katanya buru-buru langsung berlari.
“Masih sempet-sempetnya pake bahasa Korea” Heran Anya menggeleng kepala.
“Seharusnya dia gak usah ambil kedokteran bedah apalagi GS.. gimana mau tumbuh tinggi, coba? Baru makan, langsung ada panggilan” Ungkap Jio merasa iba pada anggota terpendek dari Halaman belakang squad.
Ziyan masih berdiri memandangi punggung Qiara yang semakin menghilang karena berbelok. Diam-diam, ia tersenyum puas. Perempuan itu memang galak dan menyebalkan tapi dia lucu dan sangat kompeten pada prinsipnya.
^^^
Qiara berlari menuju IGD begitu cepat.
“Dia pasien kecelakaan motor yang saya bicarakan tadi, dok”. Jelas seorang suster yang disambut dengan anggukan kepala Dinan “Ini hasil pemeriksaannya” Suster yang diketahui bernama Fira itu memberikan sebuah laporan.
Qiara memeriksanya sesekali mengangguk paham saat membaca keterangan bahwa pasien mengalami patah tulang rusuk dan keseleo pada pergelangan kaki.
“Akhhh” Rengek pasien laki-laki tersebut kesakitan.
“Oke” Qiara menutup hasil pemeriksaannya “Tolong tenang!. Jangan banyak bergerak!” Sambungnya pada pasien tersebut.
“Suster Fira, tolong persiapkan ruangannya” Pinta Qiara datar.
“Baik”.
Qiara menghembuskan napas panjang “Hmmm.. coba saya lihat lagi kemungkinan patah tulang rusuknya” Ia kemudian menekan pelan bagian rusuk yang langsung dihadiahi jeritan tanpa suara pasien tersebut “Ya, benar. Pergelangan kakimu---” Dinan memeriksa lagi kaki pasien yang luka.
“Aaakh! Sakit!” Rengek pasien berusia tujuh belas tahun itu.
“Ah~ itu keseleo pergelangan kaki” Sahut Qiara tenang.
“Aissh! Dokter mau nyiksa saya atau mau obatin saya, sih?!” Ucapnya frustasi.
“Apa kamu ngebut-ngebutan di jalan?” Tanya Qiara. Namun tatapannya terlihat mengerikan.
Anak itu terlihat ketakutan. Qiara seperti seorang polisi yang hendak memberikan sanksi. Wajah ngeri Qiara bahkan terlihat familiar. Ia bergetar. Berusaha mengumpulkan kalimat yang ternyata sudah beterbangan entah kemana. Kini ia sadar, bahwa dirinya telah kehilangan kata-katanya.
“Benar, dok” Seseorang berseragam abu-abu, beserta hijab dengan warna satu tone lebih tua itu datang menghampiri. Qiara dan pasien itu menoleh bersamaan ke arah sang empu.
“Dia tujuh belas tahun, tapi belum mempunyai SIM. Tapi sudah berkeliaran dengan motornya” Sambungnya menampakkan diri, menatap lurus tepat dihadapan pasien “Mencoba menghindar dari razia dengan berputar balik.. akhirnya kena batunya” Ia menoleh ke samping, saling berhadapan dengan Qiara “Tolong segera diobati, Dokter Qiara Shandriena” Ia lantas kembali tegap, meletakkan tangan kanan ke bahu kiri sebagai tanda penghormatan pada tim medis secara formal.
Qiara menegapkan badannya dengan sedikit mendongak pada perempuan yang lebih tinggi darinya itu, membuat hormat kepada instansi negara “Siap, Kompol Tiara Shabriena”.
Pasien yang sedang terbaring itu membeku, sedang mencerna keadaan. Begitu juga dengan beberapa suster dan dokter di sekitar sana bersamaan dengan kembalinya Suster Fira yang sedang membantu pasien untuk dibawa ke ruangan rontgen.
Tiara yang merupakan seorang komisaris polisi itu memandangi punggung Qiara yang sedang menghampiri wali pasien, sembari mengangkat satu senyumnya.
“Dok, gimana anak saya?” Tanya sang ibu bangkit dari duduknya menyambut Qiara.
“Anak ibu mengalami cidera patah tulang rusuk, memar di hampir seluruh badannya, kemudian juga keseleo yang cukup parah pada kakinya” Jelas Qiara tegas dengan wajah dan nadanya yang selalu datar “Maka saya harus meminta persetujuan wali untuk melakukan operasi”.
“Tolong tangani anak saya, dok. Dia memang bandel, tapi dia anak saya satu-satunya. Saya juga tidak punya suami. Hanya dia orang yang paling berharga dalam hidup saya” Ibu itu menangis sembari memohon banyak “Tapi anak saya bisa pulih lagi, kan?”.
“Untuk kesembuhan total memang membutuhkan waktu yang lama. Saya juga minta tolong, agar anak ibu untuk selalu mematuhi peraturan dan jangan terlalu dimanjakan sehingga anak ibu bertindak sedemikian rupa. Jika dia taat peraturan, sudah dipastikan hal ini tak terjadi” Tambah Qiara seadanya tanpa senyuman dan tanpa filter dalam ucapannya. “Setelah prosedur pengobatan ini, dia masih ditindak oleh yang berwajib”
Mendengar itu, sang ibu hanya bisa mematung kebingungan. Antara merasa khawatir berlebih pada putranya dan juga sedikit tergores dengan menilai bahasa tubuh Qiara yang terkesan arogan, seolah menyudutkannya.
Tanpa Qiara tau, ada Dokter Harun yang sejak tadi menyimak dan memperhatikan keduanya. Mulanya, pria 45 tahun itu tak sengaja lewat IGD, namun terhenti saat melihat obrolan intens Qiara dan wali pasien.
Dokter Harun mendekati keduanya. Qiara sempat tersentak dan sedikit menggeser posisinya “Assalamualaikum ibu... Insyaa Allah kami akan melakukan pengobatan yang terbaik untuk anak ibu agar penyelesaian permasalahannya dengan pihak kepolisian juga berjalan lancar” Sambung Dokter Harun ramah, berusaha menjelaskan dengan singkat namun mudah dimengerti.
“Terima kasih banyak, dokter” Sang ibu menjadi lebih tenang “Setelah ini saya akan bertindak lebih tegas.. sekali lagi terima kasih”
Dokter Harun tersenyum “Sama-sama, ibu” Ia lantas kembali menatap Qiara “Dokter Qiara, mari bicara sebentar”.
Qiara mengangguk. Mengekor di belakang Dokter Harun yang membawanya menuju taman tengah rumah sakit. Ia mengerem langkah saat pria tampan berkulit eksotis itu memutar badan.
“Dokter Qiara, ada apa dengan cara bicaramu, cara pandangmu?” Tanya Dokter Harun agak emosi.
Qiara menunduk “Saya hanya mengatakan faktanya, karena anak itu butuh ketegasan dari orang tuanya untuk kemaslahatan semua orang juga”.
"Bukankah kalimat itu terlalu menyakitkan?" Dokter pemilik lesung pipi itu nampak sangat marah.
“Dokter Qiara sudah cukup lama menjadi dokter, seharusnya bisa memfilter apa yang mesti dibicarakan pada wali pasien. Jangan buat mereka panik. Jangan buat mereka sakit hati” Dokter Harun menghela napas kasar. Gurat kekecewaan nampak jelas terpancar “Dan tolong singkapkan keramahan pada wajah kamu” Ia lantas pergi begitu saja meninggalkan Qiara di tempat yang masih termenung.
^^^
Meskipun Musa adalah orang paling berisik, juga kerap bertingkah semaunya, tapi ia sangat mencintai anak kecil. Sayangnya Allah belum memberikannya kepercayaan untuk mendapatkan anak. Itu tak menjadi masalah untuknya, karena ia sudah bertemu dengan banyak anak kecil menggemaskan sebagai seorang ahli bedah anak.
Ia sedang visit, memeriksa keadaan pasiennya yang berada di PICU sambil sesekali melantunkan surah pendek di telinga pasien agar memberikan ketenangan.
“Khalisa, dokter pergi dulu, ya” Pamitnya, lalu mengusap kening putri kecil tersebut dengan penuh kelembutan.
Setelah melepas masker, ia bergegas keluar dan langsung terkejut saat melihat Dokter Harun yang sudah berdiri keren di hadapannya “Astaghfirullah!” Ia mengelus d**a.
^^^
Musa dan Harun saling duduk berhadapan di sebuah kafe yang masih berada di komplek rumah sakit. Diatas meja juga ada beraneka dessert menyegarkan. Tepatnya, Harun mengajak adik sepupunya itu untuk nongkrong bareng.
“Tentang Dokter Qiara---”.
“Qiara emang kaya gitu, bang. Jarang ngomong anaknya. Sekalinya ngomong terlalu jujur dan blak-blakan, apalagi sama orang yang baru dikenal. Mukanya kaya jutek, songong, tapi itu emang bawaan. Aslinya mah baik, walaupun gue sering dipukulin” Belum sempat menamatkan kalimatnya, Musa yang sedang menguyah pancake itu langsung menyahut. “Pokoknya kesan pertamanya jelek banget deh tentang Qiara”.
“Tapi dia nyebelin banget. Mukanya tuh pengen gue siram air, tau” Keluh Dokter Harun “Perempuan, masa gak bisa senyum sedikit aja. Masa gak bisa membagi keramah-tamahan sama orang lain. Gue juga udah rada gak nyaman sejak nyapa dia di lift waktu itu”.
Musa tertawa “Iya. Dia emang gitu image-nya. Tapi semakin kita kenal, dia orang yang baik dan cerdas. Dia bahkan konsisten sama pendiriannya sendiri. Tangguh!” Ia mengangkat lengannya, menunjukkan otot kuatnya.
“Intinya mah... jalani aja. Semakin lama kenal Qiara, semakin banyak terlihat sisi baiknya. Dia juga salah satu dokter yang berpegang teguh pada ‘Apapun yang terjadi, selamatkan pasien!’ dia gak akan goyah sama apapun, sekalipun dia kehilangan pekerjaannya” Sambung Musa.
“Seriously?” Dokter Harun Melongo.
Musa mengangguk sambil meneguk ice frappuchino “Serius. Waktu residen, dia udah pernah terancam gara-gara mau pake ECMO[5], padahal dia belum punya lisensi spesialis, demi menyelamatkan pasien”.
“Woaahh!!!” Dokter Harun cukup terkesan dengan kisahnya.
“Tapi bukan tanpa alasan. Waktu itu emang lagi genting” Musa menghentikan aktifitas menyendok puding “Saking irit ngomong, kita aja sampai belum tau pasti alasan kenapa dia belum nikah”.
“Dia belum nikah? Di umurnya ini?” Dokter Harun tersentak.
“Iya. Pacaran juga gak pernah. Denger dia naksir cowok juga gak pernah” Jawab Musa sembari mengingat-ingat kembali “Kita juga baru tau kalau dia punya saudara kembar waktu residen, padahal kita udah berteman jauh sebelum itu. Parah, kan? Saking gak pernah basa-basi. Gak pernah curhat juga”.
Dokter Harun terkekeh “Kembaran juga ada?”.
“Qiara dan Tiara. Mereka kembar non identik. Kalau dilihat, mereka cuma kaya kakak-adik biasa” Jelas Musa sembari mengaduk sedotan diatas genangan minumannya “Tiara punya postur tinggi, tegap, makanya dia jadi polwan. Diangkat jadi kapolsek pula sekarang, kapolsek termuda diseluruh polrestabes Jak-Sel. Pribadinya juga jauh lebih ramah. Qiara dokter kecil tapi kuat banget, mentalnya kuat, tegas, gak pernah senyum” Musa tertawa mebayangkan wajah judes sahabatnya itu “Kata dia, kalau dia punya badan lebih tinggi dari Tiara, dia bakal pilih jadi polwan daripada dokter”.
“Kapolsek termuda?” Kaget Dokter Harun. Ia termenung dalam diam mengagumi kehebatan kedua saudara kembar yang mempunyai karir gemilang. Sepertinya tak bisa memandang mereka hanya dengan sebelah mata.
“Ah~ ada lagi cerita gila Qiara” Tambah Musa teringat sesuatu “Dulu pas jaman intern, dia selalu jadi malaikat penolong buat intern lainnya. Kalau ada senior yang semena-mena, dia langsung ngelabrak. Parah, gak?”.
“Parah gila, sih” Dokter Harun melongo masih terheran-heran dengan perempuan unik itu.
“Dan abang tau? Kenapa aku suka banget usilin dia?” Tanya Musa yang disambut gelengan kepala kakak sepupunya itu “Gua emang berisik anaknya, pengecualin untuk soal Qiara. Gua sengaja usilin dia sepanjang belasan tahun kita bersahabat, supaya mancing dia ngomong, tau gak?”.
Dokter Harun tertawa renyah. “Niat banget lo.. lagian juga dia diem-diem aja” Ia lantas mengangguk paham “Okey. Antisipasi aja, biar gue gak kaget. Soalnya, minggu depan gue ada operasi bareng Dokter Qiara”.
Musa mengacungkan ibu jarinya “Bagus.. lebih baik begitu”.
^^^
Jio melangkah menuju eskalator yang akan membawanya menuju lobi sembari berjalan tegap dan penuh karisma. Hari ini, ia pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Jadi, ada banyak waktu untuk beristirahat.
Sampai di lobi, tak sengaja, ia menemukan sosok yang tak asing dimatanya. Ia lantas mendekat untuk memastikan yang dilihatnya tidak salah.
“Tiara?”
Tak disangka, sosok itu berbalik “Oh?! Jio?”
“Nggak biasanya lo nungguin Qiara” Herannya. Pasalnya meski keduanya kembar, namun tak terlihat mempedulikan satu sama lain, lantaran kesibukan mereka satu sama lain.
Tiara tertawa lepas “Gue disini karena ada pelanggar yang kecelakaan. Sama bawahan gue juga kok. Oh iya.. gimana kabarnya? Gue udah lama banget gak ketemu anak-anak Halaman belakang, apalagi ama lo”. Polwan tersebut berucap penuh kelembutan.
“Masa sih?” Jio menyipit sembari menahan senyum. Pun Tiara mengangguk “Kalau gitu, weekend mau ngopi bareng?”
^^^
Qiara keluar ruang operasi sambil memijat leher belakangnya yang terasa keram. Ia sudah menyelesaikan operasi pada anak korban kecelakaan tadi. Normalnya, setelah operasi, dokter yang memimpin akan mengucapkan terima kasih serta memuji kerja keras satu sama lain, tapi itu tak berlaku pada Qiara. Ia hanya keluar tanpa mengucap sepatah katapun.
“Dokter Qiara” Salah satu dokter residen bernama Ridwan mengejar. Qiara berbalik tanpa berkutik “Heheh.. gak ada apa-apa sih. Cuma mau... hmmm---” Ia sedang menimbang ucapannya.
“Saya duluan” Ucap Qiara dingin, terlalu lama menanti.
Raut kekecewaan terpatri jelas di wajah Ridwan. Sebab ia ingin mendapatkan keramahan dari Qiara. Ia sudah melakukan operasi bersama dokter tersebut setelah perpindahannya ke Metro Medical Center, namun tak pernah ada kehangatan darinya.
Sesampainya di ruangan, Mata Qiara harus terbelalak saat menemukan sesosok yang sedang duduk di kursi kerjanya “L-lo gak pulang dari tadi? Ini udah jam sebelas malam”.
Ziyan berbalik “Gue udah pulang, kok. Udah buka praktik juga. Tapi.. hujan-hujan gini, gue jadi pengen makan mi rebus pake cabe, pake telor setengah matang” Katanya menarik satu senyuman sembari membayangkan hal tesebut.
Qiara tersenyum begitu menggemaskan. Sebuah senyum yang hanya terulas ketika ia berada diantara sahabat-sahabatnya. “Ayo!” Ia memasuki ruangannya tanpa menutup pintu untuk saling menjaga, karena tak ada ikatan mahram diantara keduanya.
Qiara dan Ziyan mengambil beberapa cup mi dan telur dari lemari. Semua itu diletakkan di lemari, sebagai payung sebelum hujan. Sebagai seorang dokter bedah, ia kerap sekali bekerja tanpa mengisi perut. Sebenarnya kembali datang ke rumah sakit sudah menjadi kebiasaan bagi Ziyan. Ia selalu memastikan bahwa Qiara tetap aman.
Cuaca yang sedang tak bersahabat di malam ini, membuat Ziyan khawatir akan Qiara yang sendirian. Meskipun dia perempuan tangguh, tetap saja, perempuan adalah makhluk yang harus dilindungi.
Keduanya menikmati mi rebus super pedas bersama secangkir teh hangat bersama suara alam yang menenangkan, ditambah sebuah lagu yang mengalun dari ponsel Ziyan. Sebuah tembang lawas nan manis milik boyband kenamaan Indonesia pada tahun 90an, Cool Color dengan Tataplah mendominasi genangan cinta. Malam itu, suasana nampak tenang. Kelalahan perlahan pecah, menerbitkan sebuah cahaya kebahagiaan dibalik kegiatan sederhana.
[1] PICU : Unit perawatan intensif.
[2] Konferensi : Rapat keputusan operasi yang dihadiri dokter spesialis dan ahli
[3] CS (Cardhiotoracic Surgery) : Ahli Bedah Thoraks kardiovaskular
[4] Kamsahamnida : Terima kasih dalam bahasa Korea formal
[5] ECMO (Extracorporeal Membrane Oxygenation) : Alat pengganti fungsi jantung dan paru-paru.
________
Tiara: Go Yeon Jung