2. Kupu-kupu

4637 Words
“Seorang dokter yang tulus tak pernah mengharapkan pujian. Seperti kupu-kupu yang tak pernah mengharapkan pujian dibalik sayap indahnya” *** Sore itu, lima sekawan sedang berkumpul di ruangan kerja Ziyan yang kebetulan juga satu ruangan dengan Jio. Tirai biru langit menganga, menampilkan biru langit yang sesungguhnya. Normalnya jika semua berkumpul akan ada keseruan dan kebisingan, tapi tidak untuk kali ini. Semua hening, hanya terfokus pada sosok perempuan berkaca mata bulat dengan hijab hijau army di kepalanya. Ia sedang menimbang banyak hal sembari terus menatap selembar kertas sakral di hadapannya. “Gimana? Ambil gak?” Tanya Jio memastikan. “Udah lima belas menit kita nungguin lo buat tanda tangan kontrak” Ia menengok arlojinya. “Keburu gue buka praktik nih”. Setelah sekian lama, akhirnya Qiara mulai menggerakkan penanya menuju kolom tanda tangan yang dihadiahi antusiasme dari para sahabatnya. Alih-alih menandatangani kontrak kerja sama dengan Metro medical center, ia jutsru menggeleng dan mengurungkannya—ralat, ia sepertinya kembali menimbang. “Yah!” Gurat kekecewaan terpancar dari wajah keempat sahabatnya. “Tinggal tanda tangan, apa susahnya sih, Qi?!” Anya mulai kesal. “Lagian kita berempat udah gabung disini semua, masa lo sendirian”. Ziyan mengetuk meja. “No second chance, Qiara!. Mumpung rumah sakit lagi butuh ahli bedah umum” Suasana nampak sekonyong hening, hanya terdengar hembusan napas berat dari Qiara. “Musa, gue mau tau pendapat lo, karena lo baru pindah enam bulan yang lalu ke sini”. Musa yang sejak tadi asyik makan sandwich mendadak tersedak. Qiara menoleh ke arah Musa dengan tatapan yang sederhana namun membuat semua orang merasa ngeri. “Kenapa gue harus pindah ke Metro medical hospital?”. Musa buru-buru meneguk air mineral. “Mata lo gak usah gitu, dong! Gua colok, loh”. Qiara terkekeh. Wajah datarnya selalu saja membuat orang salah paham. “Gue biasa aja, Musa. Gue gak mengintimidasi. Rese deh”. Musa berdeham sejenak “Okey.. okey.. menurut gue, kerja dimanapun asalkan kita ikhlas mah gak masalah. Mau di sini atau di rumah sakit lain, itu terserah lo”. “Musa!” Protes Anya, Ziyan dan Jio dengan tatapan mengintimidasi, membuat Musa mengerjap kaget. “Loh, ada yang salah?” Musa bingung dengan menampilkan senyum innocent menyebalkannya. “Gue kasih pendapat gue ya, Nyai. Lo tuh selama ini paling susah kalau buat kumpul. Lo paling telat kalau kumpul bareng. Dan karena ada kesempatan ini, kita bisa kumpul bareng-bareng tiap waktu sekaligus bekerja dengan penuh keikhlasan. Keren nggak?” Tukas Ziyan panjang lebar sembari menyombong diakhir kalimat dengan gaya sok kerennya. “Ok, setuju!” Tanpa basa-basi, Qiara langsung menandatangani kontraknya. Semuanya kompak melongo. “Dia nge-prank kita ya, Nya?” Tanya Musa pada Anya dengan tatapan kosong. Menyimpan kesal dalam hati “Udah bikin lama nunggu, bikin gue jantungan”. “Ng---” “Bukan nge-prank” Sahut Qiara sebelum Anya menamatkan kalimatnya sambil memasukkan kontrak tersebut pada map “Tapi menguji kalian. Gue cuma mau tau, kira-kira dengan lengkapnya formasi kita di satu tempat kerja yang sama, apa sih yang bisa kita lakukan?” Qiara berdiri berceloteh ria “Dan jawaban Ziyan yang paling tepat. Sebagai seorang dokter, kita butuh kehidupan pribadi, dan kita juga harus menyelamatkan pasien dengan penuh keikhlasan. Seperti kupu-kupu yang menghisap nektar sebagai sumber pangannya, dan proses itu membantu penyerbukan pada bunga. Intinya simbiosis mutualisme”. “Wah?!” Musa menganga sembari bertepuk tangan “Ini yang gue suka dari lo sejak dulu.. swag!” Ia membentuk huruf v dengan ibu jari dan telunjuk ke dagu, bergaya sok keren. “Ayo, Nya! Gue gak punya akses untuk ketemu pimpinan” Ajak Qiara, kemudian pergi bersama Anya. Kini tersisa Ziyan, Musa dan Jio di ruangan. Ketiganya sedang membahas akhir pekan mereka. Bukan tanpa sebab, pasalnya sudah sejak lama mereka tak pernah berkumpul bersama karena masalah jarak dan waktu—mungkin sejak lulus sarjana kedokteran. Jikalau ada waktu berkumpul, sudah pasti formasi tak akan lengkap. Dahulu mereka bertugas di rumah sakit yang berbeda-beda, namun seiring waktu berjalan, kini lima sekawan itu seolah ditakdirkan kembali untuk bersatu dalam sebuah skenario yang baru. “Gimana? Jadinya weekend mau ngapain?” Tanya Ziyan memastikan lagi. “Gue sih kangen nge-band” Ceplos Musa sambil membayang pada masa lalu. “Gue kangen camping, kangen volunteer, ngajarin anak jalanan, kangen ketemu nenek-nenek di panti jompo. Apa mereka semua sehat? Atau udah gak ada?” Tambah Jio dengan nada datarnya. Ia juga tengah mengulas kenangan lawas. Ziyan menghela napas kasar. “Gue juga kangen semua kali, tapi gimana sama si mamah muda? Si Anya, kan punya anak. Dia juga pasti weekend bareng keluarga. Lo juga, Musa. Gimana bini lo?”. “Kalau gue mah gampang, belom ada anak masih ada waktu lah” Balas Musa kemudian menimbang suatu hal “Tapi si Anya gimana?”. “Etdah.. weekend kan ada sabtu-ahad. Ya ambil salah satunya dong. Nanti Choki boleh diajak juga. Biasanya dia suka rombongan sekampung kan kalau mau nongkrong ama kita-kita” Tandas Jio santai sambil sibuk memainkan ponselnya. “Laki, anak, orang tua, adiknya juga dibawa”. “Ok. Masalah Anya dianggap beres ya, toh dia juga anaknya gampang diajak kompromi, gak kaya si judes” Kata Ziyan lalu mencentang cacatan di bukunya. Ya, dia mencatat betul kegiatan pertemanan mereka. “Eh! Bentar deh, bini gua nelpon” Musa menghentikan obrolan sejenak untuk menjawab telepon dari sang istri. “Halo Assalamu’alaikum, sayang” Ia mengubah nada bicaranya menjadi sok romantis untuk menggoda kaum jomblo. Itu lantas membuat Ziyan dan Jio muak. “Oh? Mau perawatan? Ya udah pake kartu unlimited aku aja, sayang.. iya gak apa-apa”. Ziyan dan Jio saling membelalak. “Gila lo? Makmur bener bini lo!” Seru Ziyan saat Musa sudah memutuskan panggilannya. “Bukannya apa-apa, bini lo juga kerja, kan?” Ia masih terheran-heran. “Eh perjaka tua!” Ledek Musa pada dua sahabat jomblonya “Kalian tau apa? Rejeki seorang suami itu ada pada istri” Ia tertawa, diakhiri dengan menjulurkan lidah pada keduanya. “Au bodo..” Ziyan menepis tak ingin membahas masalah rumah tangga, apalagi rumah tangga orang lain. “Trus.. enaknya weekend besok kita mau ngapain?”. “Aduh, gue pulang duluan ya!” Jio bangkit dari duduknya setelah mendapat pesan singkat. “Gue udah harus buka praktik di klinik.. udah pada antri pasiennya. Sorry!”. Ziyan dan Musa hanya bisa memandangi punggung Jio yang semakin lama, semakin menghilang karena keluar ruangan. Kemudian saling bersitatap dengan tatapan kosong untuk seperkian detik. “Gue tau!” Musa menjentikkan jemarinya. Pun Ziyan memasang wajah antusias menanti kelanjutan kalimatnya. “Camping ke puncak!”. ^^^ Merdu kokok ayam, tetes bening air jatuh dari ujung dedaunan, rumah kedamaian bersama dengan sinar mentari yang berpijar terang dengan warna emas semu merah telur miliknya. Dentingan gitar mengalun damai di bawah perkemahan sederhana. Lima sekawan itu duduk berdampingan dengan tenang. Termenung bersama sejuk di depan tenda perekemahan. Mereka seperti sedang bernostalgia akan kenangan lawas saat mereka kerap mengadakan camping sederhana di kawasan puncak. Bernanyi, berbagi cerita serta menikmati barbeque untuk mengisi akhir pekan. Namun cipta bayang sepanjang jalan mendadak sirna kala Papah Fardan—Ayah Ziyan datang mengambil kandang ayam disamping tenda. “Ey ey.. rambo sayang, ternyata kamu disini. Siapa yang bawa kamu ke sini?” Papah Fradan mengambil ayam jago kesayangannya. “Papah!” Seru Ziyan. “Kok diambil sih? Ziyan kan pinjam sebentar buat bikin camping ala-ala puncak” Pria tiga puluh lima tahun itu merengek layaknya bocah. Wajahnya yang tampan, badan yang tinggi sangat jauh dari karakter aslinya yang manja. Sangat mengenaskan. Ya, kini mereka berlima sedang mengadakan virtual camping di depan halaman rumah maha luas milik Ziyan yang rindang dan asri bagaikan di taman wisata. “Oh iya” Pah Fardan menepuk dahinya. “Papah lupa.. maaf ya” Pria berambut silver itu juga meminta maaf pada teman-teman anaknya. “Iya, pah.. santai aja” Balas Musa santai. Kemudian Om Fardan memilih untuk kembali ke dalam rumah dan memberikan rambo ke tangan putranya. Suara tangis Choki menyeruak. Anak itu sepertinya merasa bosan. Anya buru-buru menenangkan putranya. “Iya, nak.. Mau pulang, ya? bosan?”. Ziyan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ia benar-benar tidak memahami situasi aneh seperti ini. Suasana menjadi kikuk. Kemudian Jio mendentingkan senar gitarnya asal-asalan penuh kesal “Camping apaan, nih?!”. “Tau ah! Idenya Musa bodong nih!” Qiara memprotes, bangkit dari duduknya. “Eh tenang dulu. Gue ngelakuin ini karena jaga-jaga kalau ada panggilan darurat. Gue baru aja ngoperasi orang. Lo juga, kan, Qi? Kalau ada sesuatu, kita bisa langsung capcus ke rumah sakit. Katanya kita harus menerapkan simbiosis mutualisme dalam kehidupan” Celoteh Musa berisik. Ia terus membuat teman-temannya percaya dengan keputusannya yang selalu nyeleneh. Selanjutnya suara ponsel dari saku celana baggy milik Qiara berdering. Ia buru-buru menerimanya. “Tuh kan, lihat! Muka suram Qiara itu pasti panggilan horor dari IGD”. “Gue cabut duluan, ya!” Pamit Qiara setelah menutup panggilan sembari membereskan barangnya. “Dari IGD?” Selidik Jio yang disambut anggukan kepala wanita berkaca mata tersebut. “Mau gue anter?” Ziyan menawarinya. “Gak usah.. gue duluan ya, bye!”. Qiara nampak sangat terburu-buru. “Tuh kan bener kata gue. GS tuh punya kesibukan tingkat tinggi” Musa menjentikkan jemarinya. “Virtual camping emang paling pas. Jadi, gue mempertimbangkan semua ini demi kebaikan bersama” Lanjutnya dengan menggambungkan segala alibi yang baru dikumpulkan di kepalanya—nyatanya semua ini hanya kebetulan. Kebetulan saja ada panggilan untuk Qiara. “Kali ini masuk akal. Tapi kalau lo kasih ide gila lagi, gue jitak pala lo!” Ancam Ziyan menyentil kepala Musa yang akhirnya tertawa terpingkal-pingkal. Percayalah, Musa adalah spesies paling menyebalkan di seluruh jagad raya. Meski begitu, ia adalah vitamin c bagi lima sekawan tersebut. Begitulah persahabatan, akan selalu ada yang menyebalkan, pendiam, pemarah dan yang manja sekalipun. Karena manusia tak ada yang sempurna, maka, sahabat hadir untuk saling melengkapi. ^^^ Pintu lobi terbuka bersamaan dengan sendirinya seiring dengan sensor gerak yang ditimbulkan dari langkah kaki mungil Qiara. Pagi membentang, ia berjalan tegap disetiap langkahnya menuju ruangan. Menanti lift yang akan membawanya ke lantai empat. Ting! Lift terbuka bersamaan dengan beberapa perawat yang turut serta disana. Perawat itu menyapa ramah Qiara yang dibalas dengan senyuman khas dokter tersebut. Sebuah senyum yang terulas datar namun tidak dingin. Hanya sebatas tarikan kedua sudut bibir yang sewajarnya. “Assalamu’alaikum. Selamat pagi, semuanya” Dokter Harun ikut memasuki lift tersebut sembari menyapa seluruh penghuninya. “Wa’alaikumussalaam. Pagi, Dokter Harun” Semua kompak memberikan penghormatan padanya dengan begitu ramah—bagaimana tidak? Dokter Harun ini sangat tampan dan berkarisma. Dokter Harun juga sudah terbiasa di dekati oleh banyak rekan medis, apalagi statusnya sebagai duda, membuat julukan ‘duda keren’ itu melekat pada dirinya. Ia lantas berdiri tepat disamping Qiara. Wanita itu hanya menunduk sopan demi menghormati seniornya tersebut alih-alih menyapa dengan kata-kata. “Oh? Dokter Qiara?” Kaget Dokter Harun yang disambut dengan wajah datar Qiara. “Saya sudah lama ingin bertemu tapi belum sempat. Saya mau mengucapkan terima kasih banyak atas pertolongan pertama pada ibu hamil korban kecelakaan tempo hari”. “Sama-sama, dok” Jawabnya singkat bersamaan dengan beberapa orang yang turut memasuki lift. Dokter Harun mengangguk samar sembari memperhatikan bahasa tubuh dan sikap Qiara yang sangat berbeda “Ah iya... selamat bergabung bersama GS disini” Sambungnya ramah yang lagi-lagi hanya dibalas dengan anggukan kepala yang sangat sopan tanpa mengucap sepatah katapun. “Stop!” Teriak seorang pria heboh memasuki lift yang sudah hampir penuh. Ia lantas menutup pintunya. Bergeser ke samping, pria itu merapikan rambutnya ke dinding lift berwarna silver yang memantulkan dirinya, seperti kaca. Dengan penuh percaya diri, ia bergaya nyentrik disana sembari bersiul, tak sadar bahwa saat ini sedang menjadi tontonan orang di dalam lift. Qiara memijat sejenak keningnya yang berdenyut sebelum akhirnya memberikan cubitan maut di lengan pria penuh percaya diri tersebut. “Aaaa!” Teriaknya kesakitan sekaligus terkejut. Ia lantas berbalik mendapati mata Qiara yang sudah membulat. “Bisa nggak sih, nggak malu-maluin? Sekali aja!” Bisik Qiara mengintimidasi. Musa lantas meluaskan pandangannya, menemukan semua orang yang sedang memperhatikannya. Alih-alih malu, ia lantas tertawa dan menyapa penghuni lift dengan ramahnya. Memang pria tak tau malu. Pun Qiara hanya bisa menghela napas kasar melihat tingkah sahabatnya. “Oh?! Bang Harun?!” Sadar Musa saat tau ada Dokter Harun disamping Qiara. “Dapet salam dari bunda, kapan main ke rumah? Udah lama gak mampir”. “Insyaa Allah.. kebetulan belakangan ini rada sibuk” Harun merekahkan senyumnya yang begitu luas, membuat tingkat ketampanannya berada di level maksimal. Pun para perawat tak pernah mengalihkan pandangannya pada Harun. Apalagi, kini ia bersatus sebagai duren, ada saja semut-semut berbibir merah yang mencari perhatian pada dokter berhati hangat tersebut. “Kenapa? Kok pada ngeliatin Bang Harun?” Selidik Musa “Kita ini sepupuan, wajar aja kalo mirip.. hehehe” Tawanya. Qiara mepuk dahinya. Menyembunyikan wajahnya. Lebih tepatnya ia sangat malu “Musa.. Musa”. Bisiknya meracau. “Kenapa, Qi?” Kaget Musa “Lo sakit?”. “Lo yang sakit!” Semprotnya. “Oh iya..” Musa kembali heboh dengan suaranya yang lantang “Bang Harun, kenalin ini Qiara, GS baru. Sahabat aku loh”. Ia mengedipkan sebelah mata. “Dia bisa bantu banyak, jadi abang nggak sibuk lagi dan bisa main ke rumah bunda.. hmmm.. first impression-nya pasti buruk, tapi sebenarnya dia dokter yang keren dan sahabat yang baiiik hati”. Bug! Qiara mendaratkan kepalan tangannya ke ubun-ubun Musa cukup keras yang langsung disambut rengekan pria berparas baby face itu, sebelum akhirnya Qiara mengucapkan salam pada Dokter Harun karena harus segera keluar lift lebih dahulu. “Aduduuh!” Musa masih memegangi ubun-ubunnya yang berdenyut. “Gimana mau dapet jodoh lo! Temen aja di timpukkin mulu”. “Sakit banget, Musa?” Tanya Dokter Harun perhatian. “Bangetttt! Tangan dia tangan besi. Titisan Thanos kali ya?!” Gerutu Musa meluapkan kekesalan karena selalu menjadi bulan-bulanan Qiara. “Cepet di kompres, ya, sebelum semakin bengkak. Abang duluan!” Dokter Harun juga turun di lantai yang sama dengan Qiara karena berada pada deprtemen yang sama, meninggalkan Musa yang harus melanjutkan perjalanan ke lantai tujuh. ^^^ “Ibu tidak mengkonsumsi kopi atau minuman yang mengandung kafein?” Tanya Jio sebelum memeriksa tekanan darah seorang pasien. Tatapan tegas serta pembawaan yang profesional, membuat kesan wibawanya semakin terpancar, terlebih ada jas putih kebanggaan seorang dokter. “Tidak, Dok. Saya selalu memastikan ibu tetap steril luar dan dalam sebelum memeriksakan ke sini” Jelas sang anak “Ibu juga sudah makan sejak satu jam yang lalu”. “Baik” Jio membalutkan manset pada lengan pasien lanjut usia. Jio kemudian mengatur tekanan yang diberi 30 sampai 40 mmHg lebih tinggi dari catatan tekanan darah pekan lalu. Secara perlahan, selubung akan mengembang, serta angka sudah mencapai tekanan yang ditentukan, kemudian secara perlahan selubung akan mengempis antara 2 sampai 5mmHg/detik. Angka tersebut akan ditunjukkan pada layar tensimeter. Dokter residen mencatat angka yang ditertera pada layar tersebut sebagai catatan medis pasien. “Ibu, dari pemerkisaan mendalam melalui tes lab yang dilakukan sebelumnya, Ibu Herdiana mengalami hipertensi” Ucap Jio perlahan namun tetap tegas, berusaha membuat pasien dan keluarganya mengerti dan tidak panik. “Ini sudah umum terjadi pada lansia ya, dok?” Tanya Ibu Herdiana. Jio mengangguk “Benar. Tapi alhamdulillah putri ibu begitu cekatan selalu memeriksakan kesehatan ibunya setiap sebulan sekali. Jadi, mari kita atasi lebih dini sebelum hipertensi ini bercabang ke berbagai penyakit lainnya”. “Alhamdulillah” Ibu dan anak itu merasa lega. Keduanya saling memegang tangan sembari terus menyimak Jio yang terus memberikan edukasi dan segala hal yang harus dihindari para penderita hipertensi. “Mulai sekarang, jangan terlalu banyak mengkonsumsi garam apalagi micin. Semua dipastikan organik” Jelas Jio sembari mengedarkan pandangan ke ibu dan anak itu secara bergantian dengan tatapan tajamnya “Tidur juga yang tepat waktu, banyak mengkonsumsi buah dan sayur, makan nasi juga secukupnya, karena nasi banyak mengandung gula yang dapat memicu obesitas jika berlebihan. Dan yang terpenting jangan banyak pikiran. Intinya merubah pola hidup. Mari kita coba periksa lagi perkembangannya setelah satu pekan ke depan”. “Terima kasih, dok” Ucap keduanya bersamaan yang dihadiahi senyuman tipis Jio yang berwibawa itu. Pun sang anak ingin segera mengajak ibunya pulang, namun sang ibu menahan. “Dokter, Jio” Panggil pasien. Jio yang baru saja membuka komputer mendadak menghentikan aktifitasnya. Ia mengerutkan kening. “Dokter tadi bilang.. saya tidak boleh banyak pikiran, ya?” “Hmmm.. iya” Jio menanti kelanjutannya. “Ah~ begini, dok---” Pasien 62 tahun tersebut kembali menarik kursi yang langsung dibantu anaknya untuk kembali duduk “Ada satu pikiran yang sangat mengganggu pikiran saya” Pun Jio setia menyimak dengan senang hati “Putri saya ini adalah anak saya satu-satunya. Dia sudah dua puluh tujuh tahun, tapi belum juga menikah. Bagaimana kalau saya menjodohkan putri saya dengan Dokter Jio”. Mata Jio yang tenang mendadak membulat dengan mulut yang melebar. Dunianya seolah berhenti berputar. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Begitu pula dengan residen dan suster di belakangnya yang turut mematung di tempat. “Ibu.. ayo pulang” Sang anak merasa tak enak hati dengan kejujuran sang ibu. ^^^ Malam tergelar di bumi. Setelah menyelesaikan praktik di rumah sakit, Ziyan yang merupakan dokter spesialis paru-paru itu harus segera pulang ke rumah demi melanjutkan tugasnya sebagai dokter, yakni kembali membuka praktik di rumah setiap hari Senin hingga Jum’at yang di mulainya pukul 17.00 WIB. Hari ini pasien tak begitu banyak seperti biasanya. Namun belum tentu penyelesaiannya akan cepat. Tergantung bagaimana diagnosa per-pasien. Kini, jam digital sudah menampilkan angka-angka yang menunjukkan pukul 20.00 WIB. “Ini pasien terakhir?” Tanya Ziyan pada asistennya sembari memeriksa ke layar komputer. “Iya, Dok. Saya panggilkan sekarang?” Ziyan mengangguk sembari masih mengetik di depan komputer. Tak selang beberapa lama, pasienpun masuk bersama istrinya. Kemudian disambut hangat oleh Ziyan. “Dokter Ziyan” Panggil Annisa—asisten, menghampiri seraya sedikit berbisik sambil menunduk kepada pasien sebagai penghormatan. Pun Ziyan mengerutkan kening “Ini, untuk dokter” Sebuah kaleng cola diletakkannya diujung meja. Ziyan menyipit kala ada memo yang menempel disana. Semangat, dokter ganteng. Ayam bakar madu, menunggumuuu! _Halaman belakang_ Pipinya yang putih itu bersemu merah, matanya berpijar indah bagaikan bintang sirus di malam hari saat membaca tulisan di memo tersebut “Mereka sudah datang?” Tanyanya pada Annisa. Annisa mengangguk. “Mereka sudah mulai bakar-bakar di halaman belakang bersama ibunya dokter. Kayanya seru banget, dok”. ^^^ Pemanggangan dan segala piranti untuk melangsungkan BBQ alias ‘baqar-baqaran’ sudah tertata di halaman belakang. Para wanita, Qiara dan Anya mempersiapkan bumbu dan sambal yang dibantu Ibunda Ziyan, Mamah Linda. Pemanggangan juga sudah mulai dinyalakan. Penanggung jawab dipegang langsung oleh Jio, Musa dan Papah Fardan. Ya, kedua orang tua Ziyan selalu turut serta dalam kegiatan seru putra dan para sahabatnya. Maklum saja, Ziyan ini anak tunggal yang sangat dicintai kedua orang tuanya. “Ayam, sudah siap!” Seru Anya yang dibantu Qiara membawa satu ekor ayam ke pemanggangan. Dengan sigap, Jio dan Musa mengambil alih dan mulai menaruhnya diatas pemanggang, agar dua perempuan itu kembali mengambil dua ekor yang tersisa. “Ah iya” Mamah Linda menepuk kedua tangannya. “Qiara, ayo bantu Mamah. Di kulkas masih ada sirloin strip, iga sama fillet paha. Mau dibakar sekalian aja. Ala-ala Korea gitu”. “Wah?! Mantap, Mah! Musa mau!!!” Seru Musa sambil mengoles bumbu ke ayam. Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing sembari menunggu Ziyan menyelesaikan praktiknya. Dengan kerja sama antar mereka, ditambah ada beberapa pekerja yang turut membantu, masakanpun lebih cepat selesai. Semua makanan disajikan di atas tikar maha besar yang sudah disiapkan. Tak hanya masakan nusantara seperti ayam bakar madu, ada juga barbeque ala Korea dengan daging serba tipis. Lalapan dari selada, timun dan kawan-kawan tersaji cantik diatas tikar. Suasana malam dengan bintang bertabur di langit, serta sejuknya angin yang menerpa dedaunan, membuat suara bergesek disana. Siluet pepohonan berdiri tegak di sekitar halaman belakang kediaman mewah milik Keluarga Ziyan. Lima sekawan ini menjuluki diri mereka, Halaman Belakang squad, karena sejak masih duduk di bangku kuliah, mereka sudah kerap belajar bersama di halam belakang rumah Ziyan. Yang awalnya tak sengaja, menjadi sebuah kebiasaan. Itu semakin membuat orang tua Ziyan merasa tidak kesepian lagi. Keduanya sudah menganggap Jio, Musa, Qiara dan Anya sebagai anak. “Ayo, makan!” Seru Papah Fardan mengawali acara makan-makan, disusul dengan kehebohan lainnya. “Guys!” Teriak Ziyan berlari kecil menghampiri setelah bertugas. “Oh, anak mamah!” Mamah Linda melambaikan tangan pada putranya. Pun Ziyan langsung memeluk sang ibu layaknya balita. “Udah wangi anak mamah, buru cari tempat duduk”. “Aku mau samping mamah” Jawabnya manja. “Gak bisa!” Sargas Qiara super galak. Pun Ziyan tersentak bukan main. “Gue udah duluan disamping Mamah Linda”. “Gue udah PW gak mau geser. Sono duduk samping Qiara” Tambah Anya. Pasalnya Mamah Linda duduk diantara Qiara dan Anya. Ziyan hanya bisa pasrah sembari memanyunkan bibirnya kesal. Ia benar-benar seperti bayi raksasa. Pria pemilik tinggi badan 180 sentimeter itu, akhirnya duduk di paling ujung, tepat disamping Qiara. Semuanya ramai-ramai menikmati hidangan penuh suka cita. Mulut-mulut itu tak hentinya mengunyah. Semua bergerak semangat saat daging itu meleleh menyentuh indera pengecap. Mamah Linda mengambil selada dan memasukkan daging tipis ala Korea beserta bawang dan juga saus “Qi.. Qi..” Mamah Linda mengarahkan kepalan selada itu ke arah Qiara. Pun wanita berhijab yang sedang asyik mengunyah itu menoleh. “Aaa!. Makan! Ini sirloin kesukaan kamu”. Qiara tak menolak. Ia membuka mulutnya dan mengunyahnya perlahan sembari merem melek “Wooah?! Masyaa Allah.. endol surendol”. “Ini buat Anya. Aaa!” Kata Mamah Linda pada Anya. Bergantian menyuapi anak perempuannya. Respon yang sama juga dibuat Anya akan cita rasa yang lezat. “Eh, cucu papah gak diajak?” Tanya Papah Fardan baru menyadari ada yang kurang. “Choki di rumah sama Dimas, Pah. Tadi cuma ikut antar doang” Jawab Anya yang begitu senang saat putranya dicintai oleh banyak orang. “Awalnya mau ajak Dimas ama Choki juga, tapi kata Dimas, biar aku puas main-main sama kalian semua”. “Woahh!! Keren banget suami lo” Ceplos Qiara asal-asalan—ataukah ini merupakan curhatan hatinya? Ia bahkan sibuk mengurusi daging-dagingnya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya, seolah ini merupakan refleks. “Makanya cepetan nikah” Semprot Mamah Linda yang nyaris membuat Qiara tersedak. Untung saja, Ziyan cekatan mengambilkannya air mineral yang langsung diteguknya. “Memangnya orang tua gak mendesak kamu untuk menikah? Mamah aja mendesak si Ziyan, tapi dianya aja yang banyak alasan” Tambah Mamah Linda. “Boro-boro, mah. Qiara ama Tiara, dua anak itu sama aja. Orang tuanya udah capek ngingetin mereka berdua” Tandas Musa sambil mengambil daging dari panggangan. “Apaan sih, Musa. Gua mau menikmati hasil belajar selama belasan tahun berjuang mendapatkan gelar spesialis. Ntar kalau jodoh juga dateng sendiri” Balas Qiara yang sudah terlalu bosan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Setiap berkumpul, pembahasannya selalu sama, pernikahan, pernikahan dan pernikahan “Lagian jodoh yang baik tidak datang dengan terburu-buru”. “Qiara, kamu itu perempuan. Kamu seorang dokter juga pasti tau masa produktif perempuan itu sampai umur berapa” Mamah Linda angkat bicara dengan nada lembutnya. “Kata Qiara udah pada sold out yang seumuran dia. Padahal mah dua perjaka tua ada disini” Musa mengarahkan matanya ke arah Ziyan dan Jio. Ziyan tak hanya diam, ia langsung melempar potongan timun padanya. “Ama berondong aja kalau gitu” Saran Papah Fardan “Lagian muka kamu masih kaya anak 20an kok”. Qiara mendengus kasar. “Mukanya doang, Pah. Umur gak bisa boong”. “Gue juga heran.. dia suka ngomel, kenapa masih awet muda, ya” Musa tak henti-hentinya menyeletuk hal-hal yang membuat Qiara naik pitam tiap harinya. Cih.. Qiara berdecak “Berisik lo!” Musa meraih sisa paha ayam diatas piring bersamaan dengan tangan Qiara yang ingin mengambilnya juga. Keduanya lantas saling bersitatap dengan tatapan tajam. “Gue duluan!” Sarkas Musa tak mau kalah. “Enak aja” Qiara menarik paha ayam itu. Pun Musa kembali menggenggamnya lebih erat. Tarik menarikpun terjadi. Alih-alih melerai, yang lainnya justru mendekat, menyaksikan pertarungan sengit diantara dua manusia yang sedang merebutkan paha ayam. “Lepas, gak?!” Qiara melotot ngeri. “Nggak!” Musa tetap kekeuh pada pendiriannya. Bug! Suara yang mengalun dahsyat itu membuat semua meringis ngeri. Qiara kembali mengerahkan serangan mautnya. Memberikan pukulan dengan tangan kirinya ke punggung Musa begitu kencang, pria itu lantas menjerit kesakitan sekaligus kehilangan tenaga, membuat paha ayam itu terlepas dari genggamannya. Qiara memang selalu menjadi pemenang. “Aduuuuuh! Gila lo! Ubun-ubun gua aja belom kelar.. lo tambahin lagi” Teriak Musa tak kuasa menahan sakitnya yang semakin bertambah “Mamah! Qiara tuh ngeri banget!” Musa merengek pada Mamah Linda. Pun Qiara hanya santai, tak mempedulikan Musa sembari asyik menyantap paha ayam yang didapatkannya. “Kamunya juga usil banget. Udah tau Qiara itu gatot kaca. Otot kawat, balung wesi” Tawa Mamah Linda “Kecil-kecil cabe rawit, dia”. Jio tertawa “Gue tuh pernah ngarep kalian bisa berjodoh tau”. “Hahhhh!!!” Teriak Qiara dan Musa kompak tak terima. Menepis segala kalimat tersebut. Pun yang lainnya juga ikut terkesiap, tak terkecuali Ziyan. Ia bahkan sampai tak jadi memasukkan suapan ayam ke dalam mulutnya. “Maksud gue.. kalian tuh kaya tom n jerry gitu. Biasanya benci bisa jadi cinta. Muka kalian juga yang paling awet muda diantara kita semua.. taunya Musa berjodoh sama orang lain” Tambah Jio terkekeh sendiri sembari membayang imajinasinya. Qiara mengerjap sambil bergidik ngeri kala membayangkan situasinya “Auuhh! Gak kebayang sama sekali.. Hihh!”. “Emangnya kalian bersahabat cewek-cowok gak ada gitu perasaan satu sama lain?” Tanya Papah Fardan penasaran. “Musa pernah, Pah” Terang Musa percaya diri yang disambut antusiasme para sahabatnya “Tapi ditolak mentah-mentah ama Anya”. “Gue?” Anya menunjuk dirinya sendiri sembari mengingat masa lalu “Ah iya ya” katanya saat teringat. “Untung lo nolak dia dan nikah ama Dimas” Ziyan angkat bicara yang disambut tawa semua orang yang dilanjut tawa seluruhnya serempak. Saling ricuh, olok-olokkan, bete-betean, berantem, cekikikan setelahnya sudah menjadi hal biasa lima sekawan itu sejak duduk di bangku kuliah. Saling merasuki kehiupan masing-masing anak perantauan. ^^^ Qiara merapikan gelas, piring dan segala perkakas yang sudah dicuci bersama ke dalam sebuah box yang nanti ketika kering akan dirapikan bibi ke lemari “Mah, Qiara pulang, ya”. “Sendiri? Tadi kamu bawa mobil sendiri?” Mamah agak cemas. “Enggak. Mobilnya di rumah sakit.. hehehe” Tawa Qiara. “Tadi capek baru selesai dua operasi dadakan hari ini”. “Ziyan” Panggil Mamah Linda. Pun Ziyan yang sedang beberes langsung menghampiri ibunya “Antar Qiara pulang, ya. Kasihan pulang sendirian”. Ziyan, anak penurut itu selalu mengiyakan perkataan orang tuanya. Ia dan Qiara berjalan bersama menuju garasi. Kebetulan yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Tepat setelah mereka berada di dalam mobil, Ziyan menahan lengan Qiara agar perempuan itu menoleh “Ya Allah, Qi. Untung lo pulang ama gua, bukan ama taksi online.. malu-maluin” Pria berwajah oriental itu mengambil selembar tissue di dashboard, sementara Qiara termenung seraya menyipit. “Kebiasaan deh” Dengan telaten, Ziyan mengusap sedikit noda makanan di sekitar dagu Qiara. “Masa sih?” Qiara melirik ke arah cermin kecil yang baru ia ambil dari tas tanpa merasa berdebar sedikitpun dengan sikap Ziyan. Pria itu nampak melakukannya penuh perhatian. “Udah” Kata Ziyan. Pun Qiara kembali memeriksa wajahnya ke cermin dengan jelas. Pria berkulit putih itu terus memandangi Qiara sambil tak kuasa menahan senyumnya yang merekah sedikit demi sedikit penuh arti, lalu menggerakkan tuas pressneleng. Terima kasih telah membaca!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD