1. Kepompong

3485 Words
September 2019. Dentuman khas yang berasal dari sneaker itu terpantul jelas seiring dengan langkah tegap kaki mungil seorang dokter berparas baby face namun nampak dingin. Ia berjalan menyusuri lobi rumah sakit dengan baju casual. Kaos putih yang terbungkus outer coklat s**u, kulot berwarna khaki juga membalut kaki pendeknya, tak lupa dengan hijab dengan warna senada di kepalanya, serta kaca mata yang bersarang di hidungnya. Ia terus berjalan cuek sembari sesekali membenarkan sling bag-nya. “Assalamu’alaikum. Selamat malam, Dokter Qiara” Sapa salah satu dokter residen[1] laki-laki yang diketahui bernama Adam, diantara beberapa dokter residen lainnya. “Wa’alaikumussalam” Jawabnya singkat sembari mengulas senyum yang terkesan sederhana. Tak terlalu bersemangat, dan tak juga pula dingin. “Hati-hati di jalan, dok” Sambungnya. Hanya seulas senyum yang menggambarkan jawaban dari salam manis tersebut. Karakternya yang diam dan irit bicara itu sudah mendunia di dunia medis Rumah Sakit Mulia Hati. Bukan sombong, hanya saja kepribadiannya yang introvert sudah mendarah daging, namun jika sudah mengenalnya dengan baik, Qiara adalah dokter yang menyenangkan dan baik hati. “Yaa.. datar aja ekspresinya”. Celetuk Irfan sambil terus memandangi punggung Dokter Qiara terheran-heran. “Lain kali, gak usah disapa lah, Dam. Flat banget tau, nyebelin, gak asik”. Adam tersenyum luas memandangi Dokter Qiara dari kejauhan penuh arti dengan tatapan berbinar. “Itulah pesonanya Dokter Qiara”. “Haduh.. terserah loe dah”. Irfan berjalan lebih dahulu bersama beberapa dokter residen lain, meninggalkan Adam yang masih terpaku menatap punggung Dokter Qiara yang nyaris menghilang karena berbelok. Qiara, Kemudian mempercepat langkah sampai keluar lobi. Menoleh ke kanan dan kiri untuk menyelidik. Sepertinya ia sedang menanti. Sesekali, ia juga mengintip arloji yang bersarang di pergelangan tangan kanannya. Dokter bertubuh mungil itu lantas mengeluarkan ponsel dari sling bag-nya, mencari kontak disana. Baru saja mengarahkan ponsel ke telinga, suara klakson mobil mengejutkan dari arah timur. Mata teduh dokter ahli bedah umum tersebut lantas berkecipak bagaikan telaga yang beriak saat batu terlempar kesana. Kaca mobil bagian depan terbuka, menampilkan dua lelaki tampan disana. “Hello, Nyai!”. Sorak keduanya kompak yang membuat Qiara si pendiam itu tersenyum lebar, menampilkan barisan gigi yang rapi disana—ini merupakan momen langka. Tanpa mengulur waktu, Qiara lantas membuka pintu di bagian belakang, menempatkan diri disana. Selanjutnya, mobil sedan mewah berwarna putih metalic itu memelesat cepat di jalanan. “Si bawel mana, nih?” Tanya Qiara sambil memainkan jemarinya diatas layar ponsel untuk membalas beberapa pesan yang masuk. “Si bawel?” Selidik Ziyan—pria berkaca mata bulat yang kerap dipanggil oppa[2] oleh banyak orang, lantaran memiliki visual oriental yang menyerupai pria Korea, sambil fokus dengan roda kemudinya. “Siapa lagi kalau bukan Musa” Timpa pria berparas indo yang terkenal teladan dan antisosial, Jio. Kemudian melirik Qiara dari spion dalam mobil. “Yoi” Qiara memasukkan ponsel ke dalam tas. Hahaha.. Ziyan tertawa kala mengingat sahabatnya, Musa yang terkenal dagelan. “Orang gila itu lagi ada jadwal operasi”. “Berarti kita bertiga aja?” Tanya Qiara memastikan pada dua sahabatnya. “Iya.. Gue udah ngabarin Choki, kok kalau om dan tantenya mau datang” Balas Jio sembari menatap jalanan. “Om, tante?” Kaget Ziyan. “Terus mau dipanggil apa? Pakdhe? Budhe? Simbah?” Celoteh Jio merubah dialeknya menjadi jawa kental. Pun Qiara tertawa terpingkal-pingkal. “Lagian Choki kan anaknya Anya, sahabat kita, mau dipanggil apalagi coba, kalau bukan om dan tante” Heran Qiara pada Ziyan “Kadang suka aneh lo, Zi” Kemudian ia dan Jio tertawa lagi. “Kebanyakan main ama Musa, lo”. Pun Ziyan hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang terkesan telmi, telat mikir. ^^^ Sannah heelwah, Choki.. Sannah heelwah, Choki.. Sannah heelwah Choki..Sannah heelwah, Choki~ “Yeayy!!” Semuanya bersorak menanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Choki, tak terkecuali Qiara, Jio dan Ziyan. “Ayo, tiup lilinnya, sayang!” Pinta Anya sembari menunjuk lilin berbentuk angka dua yang terpampang di ujung kue tar bertemakan Tayo. Alih-alih meniup lilin, Choki hanya berteriak gemas seperti seorang bayi yang sedang kegirangan saat mendapati keramaian di rumahnya. Ia menarik-narik topi di kepala Ziyan. Choki yang masih belum paham cara meniup lilin itu, akhirnya diwakilkan oleh ayah dan ibunya. “Yeayy!” “Makasih banyak loh, kalian sudah sempatkan waktu buat anak gue” Ungkap Anya terharu atas kehadiran para sahabatnya di tengah kesibukan masing-masing. “Lebay lo, kita juga pasti akan sempatin datang”. Celoteh Ziyan yang disambut air mata haru Anya. “Lah? nangis?”. Pun semua mata terfokus pada Anya—wanita berambut pendek dengan mata coklat gelapnya yang mempesona, beserta badannya yang agak tambun efek persalinan dan menyusui. Pun sang suami segera mengambilkan tisu untuknya. “Gue tuh masih gak habis pikir kalau punya sahabat sebaik kalian, gue juga gak pernah ngebayangin kalau kita masih memikirkan satu sama lain meski sudah hampir tujuh belas tahun berlalu”. Ucap Anya dari lubuk hati yang terdalam sembari sesenggukan kecil di tengah rasa harunya. “Kita juga gak habis pikir kalau lo masih cengeng aja”. Sahut Qiara yang disambut tawa seluruh penghuni ruangan, termasuk suami dari Anya, Dimas—seolah mengakui kepribadian istrinya. “Gue gak nyangka kalau gue punya ponakan, udah dua tahun pula umurnya”. Tambah Ziyan sembari memangku Choki. “Perasaan, kemarin kita baru ketemu, baru ospek di kampus, taunya salah satu dari kita udah punya anak. Musa juga udah nikah.. Cepet banget ya, waktu berlalu” Imbuh Ziyan lagi sambil membayang. “Ya kalian kapan nyusul? Udah saatnya kita kumpulkan anak-anak kita kalo weekend, biar main bareng” Anya menyambut dengan mata berpijar, penuh harap. “Cowok mah santai.. tuh, si perawan tua, betah banget dia sendirian mulu” Celetuk Jio asyik memotong kue tar sembari melirik Qiara. “Iya nih.. kapan lo nikah, Qi?”. Qiara yang tengah asyik bermain mobil-mobilan Tayo dengan Choki dan Ziyan mendadak menghentikan aktifitas “Kalian ngomong ama gue?”. “Ye kali ngomong ama tembok” Tanpa diduga, Jio mengoleskan whip cream ke wajah Qiara. “Aissh!” Wanita itu menggerutu pasrah pada tingkah sahabatnya yang menyebalkan. “Kayanya temen dosen aku di kampus ada yang lagi cari istri” Timpa Dimas. “Tuh, Buruan! Tunggu apa lagi?!” Desak Jio, pun begitu pula yang lainnya. Sementara Ziyan masih asyik menggendong-gendong Choki. Keheningan terjadi selama beberapa detik. Dengan wajah bernodakan whip cream, Qiara menatap teman-temannya itu dengan tatapan datar. Yang lain juga sibuk menanti responnya. “Aaa!” Qiara merogoh tasnya, mencari sebuah ponsel. Anya dan Jio saling bertatapan, seakan memberikan sebuah isyarat. “Musa.. Ini Musa telpon” Sambungnya heboh, jemarinya menari di layar ponsel. “Heleh.. Ngibul mulu, dia, Nya” Jio tak peduli, ia kembali meneguk cola. “Ngeles mulu lo kaya bajay” Timpa Anya. Baik Anya maupun Jio, keduanya seolah sudah terbiasa dengan sikap jengah Qiara jika sedang membahas soal jodoh. Entah dia ingin menutup diri atau memang tak peduli. Yang jelas kepribadian Qiara tak bisa ditebak. Ketika mendengar suara bising dari seberang, Qiara menyurakan mode speaker agar terdengar oleh semua orang “Nih.. nih.. dengerin. Kalian mah kaga percaya ama gua”. Jio dan Anya kompak mengiyakan. “Musa! Kita lagi kumpul nih di rumah Anya!” Sapa Qiara. “M-maaf, saya Suster Wulan, Dokter Musa meminta saya untuk menerima telepon jika operasinya belum selesai” “Aa~~” Qiara mengangguk paham, lalu menatap Anya dan Jio penuh waspada. “Lo yang nelepon, Musa, kan?” Tanya Jio dengan nada rendahnya. Terdengar berat dan mengintimidasi, membuat Qiara menjauhkan telepon dari telinganya sambil memamerkan senyum innocent. “Makan nih!” Anya mengoleskan whip cream lebih banyak ke pipi chubby milik Qiara, hingga nyaris memenuhi wajahnya. “Ih apaan sih!. Minggir woy!” Seru Qiara berusaha mengelak. Jika sudah seperti ini, mereka suka lupa umur. Tingkahnya kembali seperti anak ABG. “Choki, liat Aunty Qiara. Mukanya kaya badut, ya” Celoteh Ziyan menunjukkan wajah Qiara pada Choki yang disambung dengan tawa si kecil. “Choki! Tolongin aunty!” Rengek Qiara dengan wajah celometan. Malam itu, tepat di hari ulang tahun Choki, terasa begitu menyenangkan. Perayaan yang sederhana, menjadi begitu ramai dan meriah berkat kehadiran para sahabat dari Anya, ibunda Choki. Meskipun squad itu kurang lengkap tanpa kehadiran satu anggota lainnya, Musa, nyatanya Choki nampak begitu senang, begitu pula dengan kedua orang tuanya. Anya tak bisa memungkiri rasa bahagianya bisa membangun keluarga kecil yang harmonis bersama suami dan buah hatinya, Choki. Juga dengan hadirnya sahabat sejati dalam hidup. Sahabat yang benar-benar selalu ada dalam suka maupun duka. Sahabat yang selalu mengguyurnya dengan cinta dan kasih sayang. Sahabat yang tetap loyal meski keadaan sudah berubah. Qiara, Ziyan, Jio, Anya dan juga Musa, pertama kali dipertemukan pada ospek Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran di tahun 2003. Qiara dan Anya merupakan teman satu kampung dari Padang, yang merantau ke Jakarta demi menimba ilmu kedokteran. Keduanya terlambat datang ospek di hari ketiga karena perut Anya yang selalu tak bersahabat di pagi hari. Nasib Qiara si gadis rajin, harus mengulur waktu untuk menunggu Anya. “Kalian berdua, harus membersihkan gedung kosong di sudut sana! Kebetulan disana bekas perpustakaan lawas yang nantinya akan di gunakan sebagai kelas” Titah sang kakak tingkat yang membuat Qiara dan Anya hanya bisa mengulum bibir. “Gara-gara kau, ambo kanai hukuman (Gara-gara kamu, aku jadi kena hukuman)” Celetuk Qiara penuh kesal setelah masuk ke dalam gedung kosong berdebu yang dimaksud. “Maaf.. Apa boleh kate, perut ndak bisa duto (Gimana lagi, perut nggak bisa bohong)” Keduanya saling mengungkapkan kekesalan dengan dialek Minang yang masih begitu kental. Uhuk uhukk. Ia lantas terbatuk-batuk saat menyapa debu-debu maha tebal di setiap sudutnya. “Lagian lah talanjur.. tapi kau mamuakkan bana! (Lagi pula sudah terlanjur. Tapi kamu menyebalkan sekali!)” Qiara masih menyesalinya sambil menenteng piranti pembersih ruangan. “Yo maaf, sia yang ka tau kalau akhirnyo mode ko (Maaf ya kalau akhirnya seperti ini)” Krek Pintu terbuka lebar bersamaan dengan cahaya nan terang yang menyilaukan ruangan gelap itu. Qiara dan Anya lantas menyipit dan tak sanggup menatap siapa gerangan. Uhuk uhuk... suara batuk-batuk itu saling bersautan—sepertinya tak hanya kedatangan satu orang. Disusul dengan suara pintu yang tertutup dengan sendirinya. Mengagetkan seluruh penghuni ruangan. “Oh? Ada orang disini?” Salah seorang laki-laki pemilik tinggi badan standar dengan wajah imut, serta kaca mata bulat itu mengibaskan tangannya untuk membantu menghilangkan debu-debu beterbangan yang mengganggu penglihatannya. “Apa kalian juga kena hukuman?” Selidik Anya. “Emang rese banget” Keluh seorang lain. Pria berkulit putih itu sangat tak nyaman dengan ruangan berdebu. “Aduh gatel!”. Keluhnya manja. Ia nampak menggaruk kaki dan tangannya berkali-kali sembari merasa jijik. Semua itu tak pelak dari perhatian dua perempuan yang sedang terheran-heran. “Oh! Dia Ziyan. Biasalah anak mamah suka sensitif” Sahut kawannya. “Oh iya, kalau gue, Musa. Gue ama Ziyan kebetulan datang dari SMA yang sama di Jaksel. Salam kenal, ya”. “Salam kenal juga. Aku Anya dan ini kawan aku---” Kalimatnya terhenti saat menoleh dan menemukan Qiara yang sudah tak lagi ada di sampingnya. “Kemano dia?”. “I—it—hatchih!” Lanjut Ziyan saat menemukan gadis mungil berhijab sedang membersihkan meja dengan santainya sebelum ia kehilangan kalimatnya karena bersin-bersin. “Wah?! Mentalnya kuat bener.. uhuk uhuk” Musa menimpali ketenangan Qiara saat membereskan debu-debu yang super tebal seraya terbatuk-batuk. Anya turut menggeleng heran. “Dia memang seperti itu. Misterius. Baru saja mengomel, sekarang dia bersih-bers---” Belum sempat menyambung kalimatnya, pintu kembali terbuka. Anya, Musa dan Ziyan menoleh berjamaah pada sosok yang datang dengan tampilan klimis. Rambut super licin dengan belah tengah yang begitu rapi. Tak lupa dengan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana. Kaca mata maha besar juga bertengger kokoh di batang hidungnya. Apalagi tatapannya terlihat dingin. Semua mata saling membeku, membesar, bersama dengan mulut yang terbuka lebar. Pffftt.. Musa tak kuasa menahan tawa. “Disini nggak buka lowongan kerja, bang” Goda Musa. “Saya ndak mau melamar pekerjaan, saya disuruh datang ke sini untuk bersih-bersih karena terlambat datang ospek” Jelasnya dengan dialek jawa yang begitu kental, membuat yang lainnya melongo. “What’s your name?” Tanya Ziyan dengan aksen british yang kental—maklum, ia pernah tinggal di negara Ratu Elizabeth tersebut. “My name is Pramujio Hadi Wiryagunawan Adji Prasmono Susilo dari Solo” Jawabnya begitu formal masih dengan medok jawanya yang tak berubah meski sudah menggunakan bahasa inggris. “Waww!”. Seru ketiganya bersamaan—speechless. “Terus, mau dipanggil apa?”. “Panggil saya Jio mawon mboten nopo-nopo (Panggil saya Jio tidak masalah)” Balasanya yang justru menggunakan bahasa jawa. Itu semakin membuat ketiganya saling bersitatap bingung. Prang! Suara sapu terlempar itu begitu menyeruak bersamaan dengan debu-debu yang beterbangan bebas. Semuanya kompak batuk dan bersin. “Cepat bersih-bersih!!!” Teriak Qiara berbingar emosi karena tak ada yang memulai kerja. Tatapan tajamnya masih sanggup menusuk dibalik kaca mata retronya. Qiara benci menunda-nunda. Qiara benci basa-basi dan mengobrol tidak jelas. Qiara benci tempat berdebu. Qiara sangat perfeksionis. Qiara nyaris tak pernah menyunggingkan senyum. Wajahnya boleh baby face, tubuhnya boleh mungil tapi ia bagaikan cabe rawit, kecil dan pedas. Galak dan menyebalkan. Begitulah sejarah lima sekawan tersebut terbentuk. Sejak saat itu pula, semua sepakat memanggil Qiara, Nyai. Lagi, sejak saat itu, kelimanya mampu mempertahankan persahabatannya yang begitu erat, hingga usia ke tiga puluh lima tahun. Dari awal perjuangan menjadi dokter, hingga berhasil meraih gelar spesialis. Dari kepompong hingga menjadi kupu-kupu. Menjadi seorang dokter bukanlah suatu perkara mudah. Disaat usia 24 atau 25 tahun, sebagian besar orang di luar sana sudah menyelesaikan sarjana mereka dan sudah merambah ke dunia kerja. Tapi, untuk menjadi seorang dokter, harus menempuh jalan panjang setelah lulus sarjana kedokteran. Mereka harus menjalani koas, internship[3] dan sekolah lagi untuk mendapatkan gelar spesialis, sekaligus menjadi residen. Menjadi residen sendiri merupakan hal tergila bagi seorang dokter. Bekerja menangani pasien sembari mengerjakan tugasnya sebagai ‘pelajar’, membuat karya ilmiah, demi meraih gelar spesialis. Omelan dan cacian dari senior sudah menjadi makanan sehari-hari. Tapi lima sekawan itu berhasil melewatinya. Kelimanya sudah berhasil meraih gelar spesialis masing-masing, meski di waktu yang berbeda-beda. ^^^ “But, if you're thinkin' about my baby.. It don't matter if you're black or white, Aww~” Ziyan menjentikkan jemarinya di roda kemudi dengan begitu asyik sembari menyanyikan lagu milik King of pop, Michael Jackson yang berjudul ‘Black or white’ yang diputar melalui tape recorder lengkap dengan gaya nyentriknya. Jio yang berada disampingya tetap tak berkutik dengan kebisingan yang disponsori oleh kawannya itu. Ia tetap fokus pada jalanan. Mengamati kelap-kelip lampu gedung pencakar langit di tanah Jakarta bersama ramai lancarnya jalanan di malam hari. Pun begitu pula dengan Qiara yang sudah terlelap dalam mimpinya di bagian belakang mobil. “Eh.. macet?” Kaget Ziyan bersamaan dengan kakinya yang langsung sigap memijak rem saat menemukan deretan mobil yang terhenti. Jio langsung membenarkan posisi duduk. Menerawang ke bagian depan “Perasaan.. gue cek di maps, aman-aman aja, tadi” Ia kembali memeriksa google maps. “Jalanan Ibu Kota emang penuh misteri, kaya idup gue” Ziyan menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi mobil pasrah sambil memijat keningnya. “Kadang lancar, tiba-tiba macet juga”. Jio terkekeh “Kalau itu mirip ama dompet gue. Kadang lancar, tau-taunya seret”. “Oh? Udah sampai?” Tanya Qiara begitu terbangun seraya mengumpulkan nyawanya. Pun matanya juga masih menyipit. “Harusnya sih bentar lagi sampai apartemen lo, begitu keluar tol. Tapi gak tau nih, tiba-tiba macet” Jawab Ziyan sambil kembali menginjak gas, memajukan mobilnya perlahan-lahan saat ada celah. “Eh tunggu deh” Jio sedang memeriksa sesuatu. “Apa ada kecelakaan?”. Kalimat itu membuat yang lainnya turut mendongak mencari tau, bersamaan dengan sirine ambulan yang semakin lama, semakin terdengar menyeruak. “Iya, itu kecelakaan” Qiara buru-buru membuka pintu mobil secara tergesa-gesa. Itu sontak mengejutkan kedua temannya. “Qi.. Qiara!” Panggil Ziyan, namun sama sekali tak dihiraukan wanita tersebut. Ia sudah terlanjur berlari menuju TKP yang sepertinya agak jauh dari tempat mereka berpijak. “Jio, buruan susul Qiara! Kasihan dia bangun tidur” Lanjut Ziyan pengertian yang dihadiahi anggukan Jio. Pun Jio mengekor Qiara dari kejauhan lantaran wanita itu sudah berlari lebih cepat menuju TKP. Di dekat pintu keluar Tol nampak sebuah mini bus yang terguling keluar jalur. Para medis sudah mengevakuasi sebagian korban, namun belum semuanya. “Awas, Qi!” Teriak Jio saat melihat Qiara yang terlalu antusias, membuatnya nyaris terpeleset. “Maaf, anda dilarang masuk!” Titah petugas medis. Untung saja id card-nya masih disimpan di saku, dengan napas yang terengah-engah akibat berlari, Qiara segera menunjukannya pada tim medis tersebut. “Saya GS[4] dari Rumah sakit Mulia Hati”. “Silakan, Dok. Kami berterima kasih atas bantuannya”. Qiara mengangguk dan bergegas masuk untuk mengambil pertolongan pertama pada kecelakaan. Pun hal yang sama juga berlaku pada Jio. Ia juga menunjukkan identitasnya sebagai bagian dari tim medis, spesialis penyakit dalam, kemudian menyusul untuk membantu mengevakuasi korban lainnya sambil menemani Qiara. “Bagaimana dengan korban?” Tanya Qiara sembari menerima senter dari para medis. “Semua sudah dibawa ke rumah sakit, tersisa tiga korban karena posisinya terhimpit” Jelasnya. “Apa dereknya sudah tiba?” Tanya Jio sambil melakukan pengecekan pada salah satu korban. “Ya, mereka sedang bersiap mengangkat bis-nya”. “Baik”. Qiara mengerahkan seluruh tenaganya untuk melakukan CPR atau pengompresian d**a untuk memberikan napas buatan pada seorang ibu hamil bersamaan dengan petugas yang sudah bisa membongkar perlahan bagian-bagian bis. Proses evakuasi begitu dramatis lantaran beberapa korban yang masih terjepit. Namun kesigapan petugas, serta pertolongan dua dokter tersebut mampu memberikan secercah cahaya. Petugas medis memasang penyanggah ke bagian leher ibu hamil yang tak sadarkan diri, bersiap mengangkatnya ke atas tandu untuk dibawa ke rumah sakit. Begitu pula dengan dua pasien yang tersisa lainnya. “Pindahkan dia! satu.. dua.. tiga!” Pasien diangkat ke atas tandu. “Sudah saya pasangkan sabuknya” Kata petugas medis setelah memasangkan sabuk ke pasien agar tetap aman saat diangkat menuju ambulan. “Ayo, pindahkah perlahan” Kata Qiara sembari mengatur tempo napas. Qiara lantas mengantar pasien sampai ke rumah sakit karena harus terus melakukan CPR sampai ditangani di IGD. Pun begitu dengan Jio, namun keduanya menaiki kendaraan yang berbeda. Ambulan tersebut terhenti tepat di depan pintu IGD Metro Medical Center yang kebetulan tempat Jio bekerja. Tiba di IGD, para medis dengan sigap dan cekatan mengeluarkan pasien dari dalam mobil untuk diserahkan pada bagian IGD. Pun Jio bernapas lega karena keadaan pasien yang ditanganinya sudah membaik sejak di dalam perjalanan, jadi ia tak lagi perlu melakukan CPR. Berbeda dengan Qiara yang tak hentinya melakukan CPR. Ia bahkan terus berada disamping pasien sembari di dorong oleh para medis menuju IGD. Menyadari bahwa Qiara tak punya akses di rumah sakit tersebut, Jio segera mendampinginya. “Pindahkan! Satu.. dua.. tiga!” Petugas medis serta perawat membantu memindahkan pasien ibu hamil tersebut, kemudian segera mengambil alih CPR yang dilakukan Qiara. Hhh..Qiara menghela napas begitu kasar. Embun yang dihasilkan menggambarkan betapa lelah dirinya. Tenaganya seolah habis begitu saja. Tangan yang bergetar, deru napas yang tak beraturan beserta lelehan keringat, begitulah drama lahir dan batin seorang dokter sepanjang langkah. Melihat Qiara yang membungkuk, mengumpulkan energi, Jio langsung menuntunnya menuju ruang tunggu di depan IGD. “Lo tunggu Ziyan disini, gue ambil air putih sekalian konfirmasi pasien tadi sama GS yang menangani” Jio berlari kembali menuju IGD, mengkonfirmasi beberapa hal pada dokter bedah umum tentang kecelakaan tadi, meski sebenarnya para medis sudah menjelaskan, tapi tak ada salahnya bila Jio kembali mengulas detailnya, karena ia yang memberikan pertolongan pertama. “Terima kasih, Dokter Jio atas sukarelanya membantu. Jika tidak ada pertolongan pertama, keadaan mungkin terbalik” Ucap salah satu dokter residen yang bertugas di IGD bernama, Aisyah. “Bukankah itu sudah menjadi tugas seorang dokter?” Pungkas Jio disertai dengan air muka yang tegas serta bahasanya yang selalu formal. Pun Aisyah hanya mengulum bibirnya dan enggan berkutik lagi. Pasalnya, Jio ini terkenal dengan sikapnya yang berwibawa dan sulit berbicara santai. “Beri dia 1 milimeter epinefrin melalui jalur infus tiap tiga menit!” Pinta Salah satu dokter IGD untuk ibu hamil pada suster. “Terus lakukan CPR sampai Dokter Harun datang!” Perintahnya lagi pada seorang residen. “Baik, Pak!”. “Monitor sudah terpasang?” Suara husky bersama langkah tegapnya begitu menyeruak. Semua mata terfokus, saling memberikan penghormatan pada sosok yang baru saja memasuki area terheboh di rumah sakit, IGD. “Sudah terpasang, Dok” “Bagus. Kita periksa denyut jantungnya” Dokter nan tampan itu mengambil alih bagian untuk memeriksa kembali ibu hamil tersebut. “Sudah berapa lama gagal jantung?”. “Sejak di pindahkan dari TKP, mungkin sekitar 15 menit yang lalu” “Denyut jantungnya sudah normal. Kita sudahi CPR-nya” Titah Dokter tampan berkulit eksotis tersebut sembari mengontrol melalui monitor. Ia lantas melakukan USG untuk mendeteksi kandungannya. “Ini sudah minggu ke 36. Sudah panggil dokter kandungan?”. “Sudah, dok. Sebentar lagi Dokter Indra akan segera turun”. “Kerja bagus. Penanganannya pertamanya sangat bagus” Ucapnya lega. “Dokter Jio dan rekannya yang menangani di TKP” Jelas salah satu perawat yang disambut dengan keningnya yang berkerut, kemudian menoleh ke arah Jio yang sedang berbincang dengan perawat IGD. Ia menghampirinya “Dokter Jio?”. “Oh, Dokter Harun?” Jio mengangguk langsung bersikap sopan pada dokter yang menjabat sebagai ketua departemen ahli bedah umum. Dokter tampan dengan tinggi menjulang itu tersenyum “Terima kasih untuk hari ini. Penanganannya sangat baik sekali. Jika tak dilakukan CPR hingga tiba di rumah sakit, kita tak bisa menyelamatkan ibu maupun bayinya”. “Oh.. untuk itu bukan saya, Dok” Jio menggeleng. Ia lantas menunjukkan tangannya pada Qiara yang disampingnya kini sudah ada Ziyan. “Dokter Qiara dari Rumah sakit Mulia Hati yang melakukan banyak hal untuk ibu hamil itu”. Pun Dokter Harun mengikuti arah tangan tersebut. Matanya berhasil membidik wanita mungil berkulit kuning langsat dengan hijabnya disana. Ia nampak kelelahan. “Dokter Harun! Kami akan menyiapkan OR[5]” Seorang residen bedah menghampiri memecah fokusnya. “Baik” Jawabnya. “Dokter Jio, sampaikan salam dan rasa terima kasih saya pada Dokter Qiara” Ia menertawakan dirinya sendiri. “Seharusnya saya yang datang sendiri, tapi saya harus segera melakukan operasi”. “Tidak apa-apa, Dok. Insyaa Allah saya sampaikan” Ujar Jio tidak masalah. Kemudian Dokter Harun berpamitan, bergegas menyiapkan operasi. “Ayo, kita pulang!” Ajak Jio saat sudah berada di hadapan kedua kawannya. Keduanya lantas ikut berdiri. Berbalik menuju pintu keluar. “WOYY! My bestfriend!” Seseorang yang sedang berlari menghentikan langkah ketiganya. Alih-alih menoleh, ketiganya justru merutuk kesal, menahan malu dengan tingkahnya yang tak bisa membedakan antara tempat kerja dan hutan. “Haha!” Musa membelah bagian seraya merangkul ketiga sahabatnya. “Ya Allah.. sayang kaliaaan. Tau aja gue baru selesai operasi. Siapa hari ini yang mau traktir?”. Ketiganya kompak mengernyit, lalu berhambur dari barisan satu persatu meninggalkan Musa di pintu lobi UGD. “Udah jam sepuluh malam, Tiara nungguin gue, Bye!” Seru Qiara acuh. “Kita harus nganter ibu nyai” Imbuh Ziyan sambil menunjuk sopan ke arah Qiara yang selalu menjadi ratu diantara mereka. “Lah? kok ninggalin gue.. laper nih abis operasi” Keluh Musa sembari mengusap perutnya yang sejak tadi terus-terusan berdendang. “Gue traktir, deh!!!” Teriaknya mencari perhatian ketiga sahabatnya. _____________________________________________: [1] Dokter residen : Seorang dokter yang sedang menjalani pendidikan untuk menjadi dokter spesialis. Bahasa resminya kalau di Indonesia adalah Peserta Program pendidikan Dokter Spesialis dan disingkat menjadi PPDS. [2] Oppa : Panggilan adik perempuan pada kakak laki-laki dalam bahasa korea. [3] Internship : Magang. [4] General Surgery : bedah umum [5] OR : Operation Room (Ruang Operasi) ____________ note: *dr. Aisyah (residen) : Tzuyu Twice *dr. Harun : Kim Seonho supaya mudah membayangkan. Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD