12. Dika Berubah?

1006 Words
"Kesambet apaan lo, Sen?" Rachel yang tengah membaca novel bergenre misteri-fantasi bertajuk 'The Mirror and Cute Vampire' di aplikasi orange terheran-heran ketika melihat Sena—sahabatnya yang entah kenapa raut wajahnya semringah hari ini. Alasan apakah yang membuatnya bersinar terang sekarang? "Lah, seenak upil lo kata gue dirasuki? Gue baik dan sadar banget," ujar Sena mencak-mencak karena secara tidak langsung Rachel mengatainya tidak waras, itulah bahasa kasarnya, sih. "Tapi asli, gue merinding liat lo kek habis dikasih penampakan hantu. Lo bikin gue teringat sama adegan yang mirip sama di salah satu novel karya penulis terfavorit." Merasa agak kepo membuat Sena melongokkan kepala ke layar gawai milik Rachel. Kedua iris Indranilla itu memicing karena pencahayaan ponsel pintarnya pakai mode sedikit gelap. "Huh? Apa bagusnya? Dia, kan, baru penulis amatiran aja lo udah heboh." Sontak Rachel tanpa ragu memukul lengan sampai Sena reflek mengaduh kesakitan. "Lo jangan asal me-judge, dong. Meski dia penulis baru, tapi rajin kuadrat update ceritanya. Terus juga ceritanya tersebar di beberapa platform online lain dan rata-rata udah tamat, jadi gue nggak bakal ngerasa digantung!" Rachel menjelaskan secara singkat tentang penulis yang telah lama diikutinya di aplikasi tersebut. Sesosok misterius yang menginspirasi serta memotivasi banyak orang di sekitarnya, penulis yang senang menulis beberapa genre cerita berbeda untuk memulai titik awal dengan berpartisipasi dalam lomba di berbagai penerbit. Rachel ini cukup sering menyapa dan mengobrol bareng penulis yang memiliki nama pena cantik itu di sosial media yang ternyata aslinya super ramah. Cerita yang ditulis oleh penulis favorit itu termasuk seleranya, plot atau alur yang tersusun apik, dan penokohan yang cukup unik mampu menyihir Rachel yang dulu iseng membaca salah satu ceritanya yang sekarang sudah terbit menjadi buku, ada juga buah karyanya yang gadis itu singgah untuk membaca di platform online berwarna ungu. "Adegan yang gue maksud itu waktu teman Aca ngeliat Aca masuk dengan wajah merah, nggak lama dibikin pas leher Acacia kayak ada bekas gigitan, tapi bukan gigitan nyamuk! Dan masa, ya, komen gue juga di-notice sama dia! Ih, lo tau rasanya, tuh, senang nggak ketulungan!" "Oh, begitu." Sena hanya merespon dengan nada yang terkesan cuek. Rachel mendelik kesal, padahal dirinya sudah menjelaskan rinci. "Kok, cuman 'oh, begitu' doang?" Sena melirik Rachel sekilas, kini melempar muka bosan sambil bertopang dagu. "Mau lo gimana? Gue harus bilang wow gitu?" Rachel nampak pundung saat diserang balik oleh sahabatnya. Sena kalau urusan percintaan diteliti sampai ke akar-akarnya, kalau dengar cerita Rachel langsung masa bodoh. "Ya, nggak gitu juga, sih. Tau ah dark!" Rachel menenggelamkan diri di muka meja yang didudukinya, tidak peduli jika seandainya wajahnya jadi kotor sebab mandi debu. Telanjur keki saat Sena tidak acuh terhadapnya yang sedang menyorot cerita penulis yang diam-diam ingin merekomendasikan agar sahabatnya berminat membaca. "Susah, mah, betina diajak ngomong! Ya, hasilnya gini!" Rachel mencibir kesal, sedangkan Sena masih terdiam dengan pandangan yang lurus ke arah ambang pintu kelas IPA-3, menyorot tajam ke siluet seseorang yang berdiri di sana yang memasukkan salah satu tangan ke sakunya. "Itu ... bukannya Dika? Ngapain dia datang ke kelas kita?" gumam Rachel berkedip bingung yang ditanggapi acuh tak acuh oleh Sena yang belum ingin mengalihkan atensi dari Dika yang kini berjalan memasuki kelas. Sena belum memakai kemampuannya untuk membaca pikiran Dika karena tidak bertatapan dengan cowok itu, sebenarnya kemampuan ini bekerja bila kedua belah pihak saling beradu pandang. Jadi, Sena mau mencoba berkomunikasi dengan lawan bicara tanpa adanya 'contekan' dengan cara alternatif menatap daun telinganya—sebagai peralihan dari sepasang mata yang amat candu itu. Dika berjalan menyisir bangku yang berada paling depan, tempat Sena dan Rachel duduk. Rachel kelabakan saat mengetahui kalau cowok yang sudah tertunangan itu mengincar sosok sang sahabat yang terlihat kalem. "Sen, lo mending cabut dari kelas, deh." "Buat apa cabut?" Sena mengangkat alis bertanya. Rachel geregetan saat sahabatnya tak segera beranjak untuk mengikuti perintahnya, harusnya dia peka kalau Rachel berniat menolong dari predator ganas, tetapi malah sulit peka! Rachel menatap sinis ketika senyum tercetak di bibir Dika yang melihat Sena dengan ambisi, dirinya tak tahu maknanya apa. Tangan cowok itu terulur membelai rambut panjang sahabatnya yang tergerai bebas. "Jangan sentuh sahabat gue, anjing!" Andai saja Rachel punya nyali besar untuk berseru seperti itu, tetapi apalah daya gadis penyuka cokelat batangan itu hanya bisa memandang lekat-lekat kontak fisik yang dimulai Dika Aristo dengan Sena. Kalau boleh berkata jujur, Sena ingin sekali berteriak gembira atas skinship yang dilakukan Dika—si pujaan hati kepadanya saat ini dari jarak sedekat ini. Tubuhnya pun ikut panas dingin layaknya tremor tatkala napas hangat cowok itu menerpa wajah gadis itu. Namun, Sena tidak akan mengetahui bagaimana isi pikiran gebetan karena memilih untuk tidak menggunakan kemampuan spesialnya di situasi yang sedang terjadi. "Ada apa lo ke sini?" Dika kelihatan gugup saat diinterogasi Rachel yang terus menatap tajam. Sena berusaha menghentikan aksi sahabatnya, tetapi tak bisa sama sekali. "Eh, Chel. Gue cuman mau nyapa Sena doang abis itu balik lagi ke kelas, kok." What? Mengapa Dika susah-susah ke kelas mereka berdua hanya untuk sekadar bertegur sapa dengan satu cewek? Lalu mengapa harus pegang-pegang rambut anak orang coba? Berbagai spekulasi baru melintas di benak Rachel kini—target cowok itu adalah sahabatnya. Dia tak ingin jika Sena berakhir mengemis cinta sebab hanya dipermainkan bak boneka oleh Dika. "Serius cuman itu? Dik, kalo lo punya akal bulus sama Sena. Mending lo urungkan niat lo sebelum tulang-tulang lo patah." Sena sudah keburu dibuat merinding mengingat Rachel adalah pemegang sabuk hitam yang terkenal di Jewel High School. Siapapun yang nekad biar berurusan dengan sang sahabat ataupun Sena, maka dapat dipastikan keesokan harinya orang itu sudah terdaftar sebagai pasien rumah sakit. Rachel termasuk tipe-tipe sahabat yang diam-diam sangat perhatian, meskipun di luar nampak garang. Perhatian yang diberikan sebenarnya agak berlebihan, cewek itu jika sudah menyeleksi secara ketat melebihi Cecil tentang cowok yang disukai Sena dari segala bibit, bobot, dan bebet sampai dia merasa yakin. "Y-ya, cuman gitu doang. Gue belum—eh, nggak ada niat yang buruk, kok." Ralat, Rachel tambah sangsi melihat gelagat mencurigakan Dika. Jangan sampai Sena jadi pihak yang dirugikan akibat menyukai cowok yang sebentar lagi menjadi milik cewek lain. "Ck, dasar!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD