13. Penyebab Frasa Marah

1002 Words
Sena yang sedang senyum-senyum sendiri bikin Rachel yang mendekati gadis itu jadi merinding total. Cewek yang mengenakan seragam sekolah plus cardigan pendek itu menyikut lengan sahabatnya sampai terkesiap. "Gangguin gue aja, sih, Chel." "Entah kenapa gue jadi yakin habis liat lo yang keciduk melulu, lo jadi nggak waras gara-gara Dika." Sena yang mendengar penuturan Rachel itu mendelik kesal. Bagaimana bisa otaknya yang minim akhlak berpikir seperti itu? Memang hidup Sena yang tidak abadi ini harus berporos hanya kepada cowok itu saja? Tidak, 'kan? Sena butuh pasokan materi yang bisa mencukupi kebutuhan finansialnya dan Cecil, bukan sekedar janji manis yang diumbar-umbar seperti semprot nyamuk yang senantiasa digunakan mamanya ketika malam hari. Dirinya tidak sebodoh itu menjadikan cinta sebagai satu-satunya arah tujuan di dunia. "Lo ngomong sekali lagi nggak bakal gue bantuin lo pedekate sama doi lo. Gimana? Tinggal pilih, gampang!" Rachel terperangah melihat Sena mengancam untuk membungkam dirinya. Cewek itu demen sekali menyalahgunakan kelemahannya sebagai tameng terakhir. Rachel tanpa ragu mengambil segelas jus apel yang baru diminum setengah untuk disiram ke Sena yang hidung kembang-kempis—berbangga di atas penderitaan orang lain. Well, sangat disayangkan karena Rachel membuat sahabat terbaiknya jadi basah kuyup. "Lo emang sepik nggak bolehin gue ini menginjak-injak ego lo, tapi lo, nggak ngelarang gue buat nyadarin teman sengklek gue yang kebangetan ini perlu disiram pakai cahaya Illahi, Sen." Rachel terlihat mendramatisir ucapannya yang cenderung menjurus ke diri Sena. Hayati lelah menantikan keping-keping ketidakpastian. Sena mendesah kasar, frustrasi akibat keributan dari gumaman Rachel yang tidak akan ada habisnya, nonstop. Anggapan yang terlalu dibawa-bawa overthinking itu malah menimbulkan penyakit. Usut punya usut, Sena juga multitasking dengan mendengarkan inti pikiran cowok yang berseliweran di sekitarnya. "Bisa enggak, ya, gue dapetin cewek bohay aduhai tadi? Gue penasaran sama sikapnya yang songong, apa luar sama dalam beda?" Ehm, Sena mendapati salah satu inti pikiran dari cowok gans bertampang dingin yang terdiam cukup lama di sampingnya. Apakah ini benar-benar cowok selera penghuni dunia oranye di cerita klasik bertemu cewek bawel yang awalnya mereka saling benci satu sama lain? "Sebelum janur kuning melengkung, gue bakal takis salah satu kaum jomlo yang mencintai karakter tiga dimensi." Sena mengalihkan netranya ke cowok yang berjinjit mengambil komik yang sepertinya adalah series reinkarnasi, tampak mata redup di balik kacamata itu berbinar-binar bahagia. Rupanya ada cowok penyuka komik? Dilihat-lihat sih, postur tubuhnya tak seideal remaja pada umumnya yang tinggi semampai—Sena mengira-ngira tinggi badan cowok itu tak lebih dari dirinya. Paras rupanya sama-sama cupu dan otaku-able. "Rachel? Lo tau nggak?" "Tau apaan?" ketus siempunya nama yang tengah mengunyah sehabis gadis itu memasukkan permen karet merah muda ke mulutnya membuatnya kini terlihat seperti tupai yang memakan biji buah Pinus. "Ketua Biotek yang lo ceritain waktu itu ternyata kepribadiannya nggak seburuk yang gue kira selama ini." Rachel menilik Sena dengan tatapan menilai sekaligus sangsi. Ada angin apa tiba-tiba sahabatnya membahas tentang cowok yang menurutnya tak punya sisi yang menarik? "Benar, Chel. Nggak sepatutnya kita berasumsi jelek dengan satu sisi." Dia semakin tidak mengerti. Sena sedang melantur di pagi yang cerah ini? Dih, jangan sampai kegilaannya menular ke Rachel. Ogah, kalau dia ikutan gila! Mana yang lagi jadi bahan gunjingan berada tidak jauh dari jangkauan dua cewek itu, siapa lagi jika bukan Frasa Astial Juanda? Hell, Rachel masih mau kuliah, kerja, dan menikah a.k.a belum siap tewas, cewek itu menimang-nimang langkah berikutnya yang akan diambil, antara mengikuti sahabat yang urat malunya sudah putus atau diam-diam kabur tanpa ketahuan. "Chel, lo mau dapet good news buat gosip di perkumpulan lambe turah, kan?" Rachel tersentak, lalu menoleh ke arah Sena yang tersenyum evil. Uh, mengapa play girl yang satu ini selalu dapat menebak kebutuhannya dengan benar dan tepat sasaran bahkan tahu kalau dirinya bergabung ke geng-geng berisi siswi-siswi yang suka merumpi! "Gimana? Sepertinya nggak bikin elo ngerasa rugi, deh?" Sena melirik dan menyunggingkan senyum puas ketika Rachel mengangguk dengan pasrah. Sahabatnya mudah sekali dipancing, tetapi itu merupakan cela yang bisa dirinya manfaatkan kadang-kadang seperti sekarang. "Ya sudah, lo ikut gue dan bantu nyari tempat yang cocok buat sembunyi." Rachel menyamakan langkah bareng Sena yang tengah mengedarkan mata Indranilla miliknya. Akhirnya kedua orang itu menemukan tempat sesuai bayangan pikiran Sena. Sena menangkap sosok Frasa tengah menempelkan gawai ke cuping telinga yang seksi. Ups, pikiran binal malah berkeliaran ke tempat-tempat yang tidak seharusnya. Beruntung dirinya bersembunyi bersama Rachel dengan baik. "Dia lagi teleponan sama siapa, tuh?" Rachel bergeming tidak menjawab. Ah, Sena tak bisa mengandalkannya kali ini—oke, ganti telinga cantiknya yang harus bekerja ekstra mulai detik ini. Gadis itu menyimak dengan serius percakapan Frasa dan seseorang di seberang dari telepon suara via w******p. "Kenapa kamu nggak jujur padaku, Sha?" Sontak Sena mengerling. Sepertinya cewek itu kehilangan salah satu poin penting, yakni penyebab sorot mata Frasa yang sarat akan getir dan tempo suaranya yang terdengar rendah, pilu. "Tapi setidaknya jangan dengan cara berbohong, Shasa!" Frasa berteriak keras nyaris membuat Sena terlonjak menabrak tubuh Rachel yang berada di belakangnya. Jantungnya berdetak kaget. Namun, mampu menyita rasa ingin tahunya yang tinggi. Sebenarnya apa yang dibicarakan dua orang itu sampai Frasa naik pitam? Siapa Shasa? Apakah mereka berdua berteman? Sena mengutuk cowok berparas tampan yang tak memilih menggunakan mode speaker agar bisa didengarkan oleh dirinya dan Rachel yang tetap bersembunyi di dekat situ. "Seandainya Iffah masih hidup. Pasti dia nggak suka Shasa yang tumbuh besar dan jadi anak bandel. Pernah kamu memikirkannya?" Iffah? Sena semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan yang Frasa bawakan ini. Apakah seharusnya dirinya tidak ikut menguping pembicaraan mereka? "Sakit nyeri? Kamu berdarah? Di mananya?" Entah kenapa, Sena suka melihat perubahan raut wajah Frasa yang hanya ditunjukkan pada gadis spesial bernama 'Shasa' tersebut ketimbang wajah kaku selama di sekolah. Dia jadi lebih ekspresif. "Hah? Bagian bawah mana?" Jujur saja, awalnya Sena tidak menghiraukan obrolannya dengan Shasa, tetapi saat semburat merah muncul di pipi Frasa membuat dirinya merasa kepanasan. Pikirannya mendadak berkelana ke sana-sini, hatinya seolah merasa dongkol gara-gara something yang entah apa. "Oke-oke, aku bakal secepatnya datang menjengukmu, kok." Geez, apa-apaan itu? Mengapa Frasa sebegitu khawatirnya hingga datang ke rumah? Seberapa dekat hubungannya dengan Shasa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD