14. Petunjuk Kotak Musik

1000 Words
"Shasa siapa sampe Frasa jadi sepanik itu?" Pertanyaan Rachel bikin Sena merasa pusing tujuh keliling. Cewek yang notabenenya adalah sahabat karib justru menambah rasa gundah dalam hati. Otaknya sudah dipenuhi benang kusut karena keganjilan yang dirinya rasakan sekarang. Sepertinya ada yang salah di sini. "Sen, lo nggak ada curiga atau apalah gitu sama gerak-geriknya cowok itu?" Sena diam membisu, sibuk berkutat dengan pikiran dan ... hatinya yang entah kenapa sedikit berantakan. "Emang gue siapa Frasa sampe harus menaruh curiga? Bukannya urusan pribadinya, ya?" Sena balik bertanya membuat Rachel semakin heran, nada bicaranya seperti seseorang yang tak mau terjerumus kian jauh ke lautan perasaaan yang dapat jadi bumerang. "Lo, kan, temannya." Sena mendelik mendengarnya. Memang kalau status teman bisa membuat seseorang boleh mengintip permasalahan orang lain? Tidak, kan? Gadis itu ingin langsung mengajak sahabatnya pindah, tetapi rasa kemanusiaannya meronta-ronta melihat Frasa yang terlihat mengiba. "Meski gue teman, bukan berarti gue bisa seenaknya ikut campur, Rachel." Gadis berpakaian sederhana tersebut mengangguk paham, sementara Sena beralih memperhatikan Frasa terkejut usai memutuskan sambungan telepon dengan orang yang dipanggil Shasa. "Huft, gue harus cepat-cepat jenguk Shasa di rumah. Kalo nggak, pasti gue dikira bakal ingkar janji sama mama Shasa." Sena menggaruk tengkuk lagi. Mengapa dirinya jadi rada-rada susah menangkap maksud dari gumaman Frasa sekarang? "Oi, kalian ngapain ngumpet?" Rachel dan Sena terperanjat kaget saat Dion menepuk bahu keduanya bersamaan. Cowok yang dikenal humoris tersebut menampilkan deretan gigi putih yang rapi, seolah tak punya dosa. Kenapa dia harus muncul di saat-saat begini? "Lagi main petak umpet? Gue mau—" Sena menutup congor milik Dion Casa sesegera mungkin menggunakan dua tangannya, dirinya belum bersiap jika harus ketahuan di situasi memalukan dengan diam-diam habis menguping pembicaraan Frasa dengan seseorang yang tak memiliki hubungan sedikit pun dengannya. "Ion, gue mohon sama elo. Buat kali ini aja, lo jangan coba-coba berisik!" Sena melihat Dion berkedip beberapa kali seraya mengangguk-angguk bagai anak anjing yang patuh pada majikan. Perasaan damai mengalir ke hatinya. Syukurlah, salah satu cowok ganteng yang satu ini mau menurut, meskipun ketampanannya tak dapat menyamai Dika Aristo atau Frasa di matanya. "Thanks, ya," bisiknya membuat Dion mengembangkan senyuman. Merasa bangga karena menuruti cewek cupu, tetapi memiliki lengkungan bibir tipis yang manis—seolah-olah mendapat apresiasi dari bupati, bahkan wakil presiden. Ya, kerjaannya emang halu melulu, sih! "Eh, dia udah pergi?" Nihil. Dia tidak lagi melihat punggung kokoh Frasa di sudut manapun, Sena menyiuk keki—ternyata begini rasanya dicampakkan tanpa sempat menjelaskan faktanya. Eh? Kenapa Sena malah curhat? "Sen, Dion, kaki gue pegel dipake berdiri. Ayo balik ke kelas! Gue ogah dihukum lagi!" Terpaksa, cewek cupu itu menyudahi aktivitas merenungi betapa misteriusnya hidup seorang Frasa Astial Juanda, padahal Sena sudah tahu seluk-beluknya sepintas. *** Di waktu yang sama, Sena tertinggal jauh dari langkah cepat kedua teman laknatnya yang berjalan membelah koridor Jewel High School. Cewek malang itu mengulas senyum miris, ingin sekali mengutuk kecepatan tak normal Rachel-Dion yang paranoid luar biasa. Argh, dasar mereka tak setia kawan! Sena akan membalasnya suatu hari nanti. "Biar gue jadiin mereka ayam grepek sekalian! k*****t emang, tuh, dua tikus!" Akan tetapi, langkah Sena terjeda saat manik Indranilla itu melirik ruangan kosong yang biasanya murid-murid mengisi saat jam sesudah istirahat, disebut ruang musik. Rasa penasaran mendorong untuk kesekian kalinya mengendap-endap memasuki ruang yang sepertinya sengaja tak dikunci. "Uwu, solimi banget gue main masuk tanpa izin guru, tapi nggak apa-apa, cuman sebentar." Netranya memindai sudut demi sudut ruangan yang dipenuhi berbagai alat musik yang terlihat masih baru dibeli. Sena berbinar tatkala melihat benda yang mengilap dari kejauhan. Kendati Sena sendirian, bukan masalah, kan, hanya melihat-lihat saja. Semuanya nampak sedap sekali dipandang. "Harta karun! Harta karun! Astaga!" Selain mengulik isi pikiran cowok, dirinya sangat menyukai peralatan musik dan benda-benda berkilau. Menarik untuk dimainkan! Sena mengusap piano berdiameter hampir menyerupai tinggi badannya, dahulu pernah bermimpi ingin memainkan alat musik yang terkenal ini, tetapi nyaris pernah kesampaian. "Kotak musik?" Sena menghampiri benda yang menarik perhatiannya, yaitu sebuah musical box berbentuk seperti piano mini yang biasanya dia lihat ketika anak-anak berulang tahun beberapa waktu lalu. Apa pemiliknya tak sengaja meninggalkannya, tetapi seingat Sena tak ada anak-anak yang membawa barang tak semestinya ada di ruang musik Jewel High School. Huh, Sena menatap lamat-lamat kotak musik berbentuk unik dan menawan tersebut dengan tatapan serius. Dia merasa kasihan sebab kotak musik ini tak terdapat goresan apa pun. Pasti pemiliknya sedih karena tak bisa memainkannya. Kotak musik ini dapat menghasilkan suara saat penutup kotak dibuka. Tak hanya sekadar menghasilkan suara, kotak musik ini juga memiliki sebuah patung balerina yang dapat berdansa saat musik sedang diputar. "Apa gue putar aja lagi? Lagunya bagus, sih." Sruk! "Eh? Apa yang jatuh?" Demi melihat sesuatu yang tergeletak di lantai, Sena jongkok untuk dapat meraih liontin berwarna perak, di sana ada satu foto yang tersimpan di bagian tengahnya, permata indah yang hampir retak. "Iffah?" Sena mengerutkan kedua alis, merasa kebingungan setelah mengeja nama di belakang permata liontin itu. Dirinya seketika menahan napas saat sosok cantik di foto perlahan masuk ke retina matanya. Wajah wanita di balik foto usang itu beraura cantik. "Sepertinya liontin berisikan foto ini berarti banget buat pemilik aslinya. Sori, gue ngerasa bersalah belum bisa mengembalikannya." Sena bergumam pelan. Iris birunya berkaca-kaca getir, merasa bersimpati terhadap ceroboh si pemilik asli yang asal meletakkan barangnya yang rawan akan pencuri iseng di sekolahnya. "Kayaknya elo nggak diajarin sama sekali tentang edukasi sama orang tua sampe tega maling liontin orang, ya?" Sena tersentak kaget, lantas menoleh dan mendapati sesosok cowok yang tengah memasukkan satu tangannya ke saku celana abu-abunya. Alamak, bagaimana caranya dia tahu bahwa dirinya berada di ruang musik? "B-bukan begitu, gue cuman pengen—" Sena langsung kicep saat orang tersebut malah menyela ucapannya tanpa mau menyimak sudut pandang yang lain, hanya memandang salah dari satu sisi saja. "Halah Sen, mana ada maling yang bakalan ngaku, toh?" Sena menelan ludah sambil memutar otak alias sedang berpikir keras. Dirinya masih punya akal sehat untuk tidak meladeni satu cowok yang menuduh sembarangan. Takut-takut tersebar rumor yang lebih buruk, kemudian mencemari nama baik Sena. "Please, jangan memperkaos gue, dong!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD