5. Rahasia Frasa dan Sha

1005 Words
"Iya, gue suka bunga Anggrek. Emang kenapa?" tanya Sena terlihat nyolot, demi menutupi kegugupan. Gadis itu lanjut berkacak pinggang, berupaya mengintimidasi Frasa yang cuek. Alis tebal Frasa menukik tajam saat gestur tubuh gadis itu makin gelisah, rupanya malu sebab gagal melakukan rencana konyol barusan. "Nama lo Sena Sambora, benar?" Sena mengangguk ragu. "Lo takut sama gue, ya?" Dengan cepat, Sena yang gelagapan langsung menggeleng—berusaha menampik perkataan Frasa yang menusuk. Sena tidak tahu saja bahwa Frasa masih rada curiga pada mulut penuh dustanya. Sometimes, gadis itu sudah membulatkan tekad melakukan salto karena menyesal mengikuti animo yang sudah di tahap teratas rindu akibat beberapa Minggu ini dirinya absen berkunjung kemari. Sena melupakan satu kemungkinan dasar jika mendatangi satu tempat yang paling keramat di Jewel High School yang tak lain dan tak bukan adalah kebun anggrek ini bisa diakses oleh somebody else, bukan hanya satu orang. "Apa yang bikin lo setakut itu kalo lihat gue?" Mirror dong, Mas. Sena jangan diajak ngobrol atau kalau diperbolehkan, dia akan dengan senang hati berlari masuk ke rumah mengambilkan kaca buat Frasa. "Dih, hampir nggak terhitung." Di rumah Sena banyak menyimpan kaca dari semua ukuran, dari yang ukuran mini sampai jumbo, pokoknya paket lengkap, deh. Beres, tinggal memilih saja—semuanya gratis. Tenang! Dia bukan cewek luaran yang pelit, kok! Malas bersawala dengan gadis yang terkenal play girl. Sambil melengos, Frasa bergegas untuk mengambil karung berisi pupuk organik guna menyuburkan tunas-tunas baru yang nantinya akan tumbuh menjadi tanaman hias yang merekah cantik. Meskipun Frasa dibenci oleh murid-murid karena sejuta rumor buruknya yang beredar, tetapi berkat keuletan dan dua tangannya yang ajaib itulah sekolahnya berhasil masuk urutan nominasi terbaik setahun belakangan sebagai sekolah terasri dan terhijau sejak tahun pertama angkatan mereka berada di sini. "Sa, mau gue bantuin nggak?" Sena mencebik kesal saat Frasa tidak menjawab pertanyaannya, memilih bungkam dengan tangan yang terus bergerak menepuk-nepuk gundukan tanah yang sudah diberi kompos berkualitas baik. "Nggak perlu, cewek kodratnya di rumah, bukan kelayapan. Ngerti?" Terkesan menyebalkan memang, tetapi Sena membenarkan ucapan cowok kalem itu. Jika diperhatikan lebih detail lagi, Frasa mempunyai fisik yang sama seperti mantan-mantan pacarnya yang tentu saja lebih di atas buaya-buaya darat yang pernah Sena temui. Kalau saja bukan karena rumor jelek yang melekat pada diri cowok itu, dia tak akan segan menaklukannya. Bulu mata yang panjang menyerupai bulu mata cewek kebanyakan, sorot matanya yang teduh, batang hidung laksana buah pir yang baru matang, dan terakhir bentuk wajah yang sejujurnya sangat manly mungkin cukup ampuh bikin cewek-cewek jatuh mimisan jika saja dia tak irit senyum. Memikirkan hal ini membuat Sena mendengkus. Oh, tidak-tidak, kalau sampai Frasa mengulas senyum tipis apa lagi lebar di depan ciwik-ciwik, bisa dipastikan keesokan hari akan gerombolan yang nongol membentuk fans club khusus. Pokoknya, gadis itu tak boleh ngasih saran seperti ini kepadanya. "Kenapa nggak pulang?" Sena nyaris senam jantung saat mendadak wajah Frasa yang menyilaukan terpampang tepat di depan matanya. "Akh, menjauhlah! Lo terlalu dekat!" pekik Sena sebal. Sudah dua kali dia mengagetkan gadis itu hari ini. Mana Frasa punya aura ganteng yang bikin Sena lupa untuk menolaknya, hiks. Persetan, Sena masih mau waras sampai ajal yang ditentukan-Nya menjemput dirinya. Sena segera beranjak dari acara jongkoknya, tetapi ditahan oleh Frasa. Gadis itu mendelik. "Kenapa lagi?" "Lo mau ke mana?" "Jelas gue mau pulang, kan, lo ngusir gue!" sinis Sena menyentak pedas, melepaskan cekalan tangan cowok kalem itu dengan kasar, kemudian melangkah sambil bersungut-sungut. Ukh, Frasa diam-diam meringis pelan, mengelus pergelangan tangannya yang terasa perih. Ternyata kekuatan cewek kalau lagi sensitif bisa separah ini. Akan tetapi, begini pun masih belum mengalahkan dahsyatnya amukan emak-emak tercinta. Di tengah-tengah Frasa merutuki rasa perih yang berdenyut tiada henti, ponsel pintarnya tiba-tiba berdering nyaring membuat cowok itu buru-buru mengangkat teleponnya saat melihat nama yang tertera di kontak. "Hei, apa kabar?" "Kabar Sha baik, ayo sebutkan password-nya." "Password-nya ... ada, Sayang, ada." Mendengar sahutan setelah menyapa, Frasa tersenyum samar mendengar tawa merdu si pemanggil telepon. "Kangen, huhu." "Astaga, haha. Masa baru ditinggal sebentar, udah kangen aja, sih, Sha?" Orang yang dipanggil Sha sepertinya sedang memberenggut dan merengek padanya membuat Frasa terkekeh, cowok itu mengulum senyum geli. "Hm. Sha udah makan malam, kan?" Sudah menjadi kebiasaan Frasa untuk mengingatkan makan, Sha sering kali melupakan makan siang, terutama makan sore di waktu menjelang malam. Cowok itu sungguh takut kalau nanti Sha terserang maag. "...." Sha diam membisu di seberang, justru tidak bisa menjawab satu pertanyaan kecil dari Frasa, padahal sedari tadi gadis itu terdengar cerita dan bawel sekali menceritakan pengalamannya bertemu orang baru. "Sha?" panggil Frasa memastikan. "Sha matiin teleponnya, ya. Sha udah ngantuk banget. Bye-bye!" "Tunggu, Sha, ini belum se—" Tut. Sha memutuskan panggilan secara sepihak. Frasa berkedip lantas mendaratkan b****g di bangku kebun anggrek yang menjadi wilayah kekuasannya, cowok bermata teduh itu menekuri sepasang sepatu yang dikenakan dan meremas benda pipih ber-casing hitamnya. Iya, dirinya sudah menebak bahwa Sha menghindari pertanyaan satu itu, Frasa tahu betul jawabannya adalah tidak. Mengapa? Karena ... gadis itu tak pandai berbohong, meski mereka tak melakukan kontak mata. Saat Frasa mencoba menghubungi, teleponnya sudah tak aktif. Ya Tuhan. Bagaimana ini? Sha tak ingin berkomunikasi dengannya, sementara Frasa masih merindukan suara bernada manja khasnya. Frasa dan Sha memiliki satu persamaan. Mereka pernah kehilangan dan ditinggalkan seseorang yang berharga untuk selama-lamanya di waktu yang bersamaan. Bedanya hanya Frasa-lah yang memiliki banyak serpihan kenangan dibandingkan Sha semasa orang itu masih hidup. "Kenapa dia nggak mau jujur sama gue?" Suara Sha sebelum mematikan telepon terdengar bergetar, Frasa rasanya ingin segera memberi pelukan penenang saat ini juga. Namun, sekarang belum waktunya, eh, lebih tepatnya adalah Frasa butuh waktu untuk kembali menatap wajah duplikat orang terkasihnya. Frasa mendesah, menyiuk gusar. Dadanya sesak, terlampau sulit membendung emosi serta khawatir yang merajalela karena memikirkan betapa kejamnya, Sha yang tega menyiksa tubuhnya sendiri dan tak peduli pada dampak yang akan terjadi. Bolehkah sekali saja, Frasa merasa kecewa atas suratan takdir yang ada? Tentang sakit Sha yang harus kehilangan orang tua di usia belia? "Iffah, tolong katakan. Apa yang harus gue lakuin sekarang?" Pandangan mata Frasa nampak menerawang, menengadahkan kepala menatap langit yang mendung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD