6. Jurus Buat PDKT

1002 Words
Pagi hari yang Sena kira akan cerah seperti prediksinya, ternyata salah besar. Ekspetasinya dihancurkan oleh sosok monster genit bernama Dalilan yang bertandang langsung ke rumah dengan alasan merindukan Cecil. "Saya kangen banget karena udah lama nggak liat wajahmu, Cecil." Huek, ndasmu. Alay banget woi! Sena bergidik ngeri, padahal baru dua hari yang lalu dia berkunjung. Jangan percaya ucapan manusia yang akrab sama spesies reptil ini, deh, soalnya penuh dusta. Dalilan yang baru menginjakkan kaki di teras main memeluk erat tubuh mamanya yang entah kenapa masih sangat ramping walaupun sudah jadi janda beranak satu. Sena yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil memakan kripik pisang menyorot tak suka pada pria berkepala empat tersebut. "Lan, udah, ah, peluk-peluknya. Nggak malu ada Sena yang lagi liatin?" Cecil yang menerima pelukan tiba-tiba pria itu langsung mendorongnya pelan. Dalilan g****k, masa nggak peka kalo mamanya risih sama perbuatannya? Rasanya Sena pengin berteriak kira-kira seperti ini sekaligus menghabisi Dalilan sekarang juga, tetapi gadis itu tetap bergeming—melanjutkan kegiatannya menonton televisi yang tertunda, berusaha abai terhadap kegaduhan dari perdebatan calon pengantin yang didominasi Cecil. "Tapi, Cil, saya, kan, udah capek-capek ke sini. Masa nggak beri waktu buat saya ngisi tenaga?" Cecil tersentak mendengar bentakan Dalilan. "Apa? Isi tenaga katamu?" tanyanya ulang. Dalilan mengangguk dramatis. Wanita yang mendekati kepala tiga itu tidak menduga kalau Dalilan datang kemari mengusung tujuan ini. Seketika rasa bersalah menyeruak masuk ke relung hatinya. "O-oh, kalo gitu, aku bikinin kamu minum. Kamu mau kopi atau teh hangat?" "Kopi. Bukan gitu maksud saya. Ta—" Cecil menutup mulut pria yang hobi mengumbar janji manis memakai jari telunjuk, menyuruh untuk diam. "Jangan bawel, Lan, saya bakal ke dapur dulu, mau ambilin minummu. Bentar, tungguin ya." Cecil segera berlalu meninggalkan Dalilan yang terbengong-bengong di depan pintu rumah, sementara Sena merunduk, menyamarkan gelak tawa puasnya menggunakan bantal. Rasakan, mamam tuh, b******n tua, hihihi. Dalilan memang dasarnya tak peka, tetapi Cecil jauh lebih tak peka di sini. Sungguh membagongkan. Sena yang sering kena dampak dari ketidakpekaan mamanya sudah biasa sejak kecil, berbeda jika Dalilan yang memulai tahap pertama pasti akan misuh-misuh sampai akhirnya kebal. "Om-om, mending abis ini latihan buat paham kode mama gue." Wajah merah Sena bergerak bebas, setelah melepaskan wajah dari permukaan lembut bantalnya—terkekeh bahagia. "Dasar anak tiri kurang ajar kamu!" Gigi Dalilan menghasilkan suara gemerutuk yang kuat membuat Sena tambah tertawa terpingkal-pingkal. "Om, kan, belum sah jadi papa tiri." Siapa yang menganaktirikan siapa? Gayanya yang kebesaran mengancam, tetapi nyali saja dia tak punya, Dalilan mau jadi apa? Sena tak selemah itu buat menghormati orang yang belum terlalu lama singgah di hidupnya. Hah, rasanya Sena betah tertawa di atas penderitaan calon papa tirinya. "Halah, Om, sih, sok-sokan ngadepin Mama yang kerja kantoran." Cecil merupakan sekretaris di salah satu perusahaan keluarga, karena beliau menolak jadi direktur atau CEO—jadilah mamanya diberi jabatan itu. Akibat kesibukannya yang padat, Cecil sering lupa serta salah dalam menanggapi sesuatu berbau candaan atau serius. Apakah Dalilan akan terus bertahan? Entahlah. Sena cekikikan, mengambil satu buah kripik untuk meredakan tawanya. Gadis itu tak sengaja melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul tujuh, lantas beranjak menyambar ransel sekolah. Oh, dirinya tidak bisa santai lagi! Sena harus cepat! "Mama, yuk, anterin Sena ke sekolah!" seru Sena panik. Buru-buru berlari ke tempat mamanya berada. Cecil yang melihat tingkah ajaib anak gadisnya, hanya mengerutkan alis heran menyiratkan tanda tanya. Sebelum diomeli oleh Cecil, gadis itu bergegas mengimbuhkan, "Sena bisa telat berangkat ke sekolah, Ma!" "Telat?" Cecil membeo, "ya sudah, minta tolong ke Om Dalilan buat nganterin kamu. Mama nggak bisa kalo sekarang." "Itu, mah, bisa diatur, Nak. Saya lagi luang, kamu tenanglah." Sena yang telah menyadari kehadiran Dalilan, dirinya mendadak memasang wajah paling termelas yang pernah ada guna berusaha membujuk agar Cecil menarik ucapannya barusan. "Sena, Mama kayaknya ...." *** Hua, Sena benci Cecil! Mama jahat! Gadis itu terus menggerutu dalam kebisuan seraya mengerucutkan bibir yang merupakan tanda manifestasi kekesalannya pada sang mama yang mengiyakan bujuk-rayu pria tua itu, dibanding anak gadis satu-satunya. Rupanya Cecil tengah memasukkan Sena ke kandang harimau, eh, singa. Ebuset, padahal sama saja, kan? "Huft. Apes lagi." Atas usulan itulah Sena mau tak mau berakhir nebeng di motor butut milik Dalilan yang sedari tadi bentar-bentar mogok di jalan. "Om payah, ngendarain motor nggak becus," ledek Sena yang sepertinya minta ditabok. Selain Dalilan yang bodoh melakukan jurus PDKT untuk meluluhkan hati Cecil gagal, lagi-lagi dia balas dendam dengan menghambat Sena sampai ke tujuan. Cukup mengesankan. Andai motor miliknya tidak sedang diperbaiki di bengkel, Sena bakal ogah buat nebeng di motor tua Dalilan yang sama sekali tak bisa diandalkan ini. "Om, jangan galauin motornya, dia bukan mama gue!" Dia bisa-bisa telat datang ke upacara bendera yang akan dilaksanakan pukul delapan pagi. Sena gemas melihat Dalilan yang tatapannya terlihat linglung meratapi roda depan motor. Apakah dia sudah bosan hidup di dunia yang kejam? "Om!" Tangannya yang gatal reflek bergerak untuk menjambak rambut Dalilan keras, menyadarkan pria itu supaya balik ke realita, tidak berlama-lama larut ke dalam perasaan sedih ditinggal pacar roda motornya. Maaf, tetapi Sena harus membatalkan niat pria itu dulu. "Aduh-duh. Apaan, sih, Na?" Dalilan mendelik kesal saat mendengar Sena mengoceh panjang kali lebar tentang upacara pagi yang harus dihadirinya. Tidak lupa sambil menunjuk-nunjuk pria itu bagai buronan polisi yang wajib dibekuk. Dalilan mengembuskan napas berat. Dirinya jadi merasa terintimidasi oleh seorang anak remaja perempuan yang masih bau kencur. Tak apa, ini semua demi Cecil (re: harta). "Maaf dah, ayo cepat." "Nah, gitu kek dari tadi," marahnya. Dalilan mendengkus pelan saat gadis itu membalikkan badan menaiki motornya yang selesai dibenahi. Namun, gadis itu seketika tidak jadi naik ke motor Dalilan ketika tak sengaja melihat si sosok gebetan yang tiap muncul bikin hati merana tak kenal waktu sedang lewat di hadapannya. Idih! Mana boleh Sena Sambora mengabaikan kesempatan yang tak mungkin datang dua kali, bukan? "Dikaaa, gue boleh nebeng sama lo, nggak sih? Soalnya Mamang Ojol yang gue pesan nge-cancel gara-gara pacarnya selingkuh!" Dika menengok mencari asal sumber suara, menemukan Sena sedang senyam-senyum bagai sudah hilang kewarasan. Okelah, terobos sajalah meski Dalilan mengamuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD