7. Modus dan Kejutan.

1000 Words
Bagaimana? Boleh, kan? Memasang wajah memohon, Sena menatap Dika sambil menangkupkan kedua tangan tepat di depan d**a. "Lo minta nebeng?" Sena mengangguk dengan cepat. Harap-harap cemas. Ayolah, Dik. Keburu Dalilan sadar kalau calon anak tirinya sedang berusaha kabur! "Kenapa?" Apakah dia akan menolong gadis berbando merah itu untuk kali ini saja? Ah, sudahlah. Sena tak peduli jika nantinya Dika tak mengacuhkan dirinya, yang penting bisa kabur. "Ih, apaan sih? Senggol cowok sana-sini, mau embat gue juga? Padahal gue simpan jok belakang buat Daisy, dia udah nungguin gue di rumah." Sena pura-pura tak mendengarkan isi pikiran Dika yang meracau kesal. Oke, untuk sekarang gadis itu harus tahan agar tak memukul kepalanya dengan batok kelapa, meski suka sekali pun padanya—tetap saja diri itu merasa dongkol. "Karena gue udah telat banget, Dik. Gue minta tolong buat nebeng sama lo sampe depan halte. Boleh? Ya?" Lebih baik Sena sedikit merendah di hadapannya, tahulah ego lelaki itu tinggi. Harusnya depan halte bukan apa-apa, sebab tinggal jalan kaki lurus akan sampai depan gerbang Jewel High School. Dika mengembuskan napas gusar. "Lo nggak liat apa gue bawa motor bukan mobil? Nggak muat kalo bonceng dua orang!" "Sena, kamu di mana? Hm?" Sena tersentak kaget mendengar panggilan Dalilan yang semakin dekat. Sontak saja gadis itu langsung melompat ke jok dan menepuk-nepuk bahu Dika dengan gerakan tergesa-gesa. "Sori banget kalo terkesan nggak sopan, Dik. Buat kali ini aja, kok. Habis itu gue nggak bakal gangguin elo sama Daisy lagi." Mau tak mau, kalau sudah begini. Dika hanya memejamkan mata dan balas berdeham singkat. Pasrah. Dika langsung menstarter motor ninja miliknya, kemudian melaju dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata—membelah jalan raya yang padat akan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Sena memberanikan diri buat meraih kedua bahu kokoh itu sebagai pegangan sementara waktu. Sena memekik tertahan melihat betapa kerennya Dika saat fokus mengemudikan motornya, antara gugup dan bahagia. Akhirnya usai beberapa minggu suka dalam diam, ada sebuah kemajuan menyenangkan, meski masih kecil kemungkinan kalau nanti cowok itu melirik sebagai gadis yang dicintainya. Rasanya Sena ingin waktu berhenti atau setidaknya berjalan lambat saja, supaya gadis itu bisa meresapi aroma parfum maskulin yang menguar dari jaket yang dikenakan oleh Dika saat ini. Terasa memabukkan di indra penciumannya bagai candu. Senandung ceria dilantunkan Sena selama perjalanan yang memakan waktu singkat untuk tiba di depan halte. Hingga harus berlari agar pak satpam tak menutup gerbangnya. "Tungguin saya, Pak!" *** Menurut pandangan Sena, pendidikan adalah salah satu aset paling berharga yang bisa dimiliki seseorang. Dengan mempunyai pendidikan yang tinggi, otomatis ilmu yang dimiliki juga akan bertambah luas pula. Alhasil, seseorang dengan pendidikan tinggi akan disegani dan menjadi individu yang akan banyak dibutuhkan orang karena keahliannya. Namun, untuk bisa mendapatkan ilmu yang banyak, dibutuhkan perjuangan serta biaya yang tidak sedikit. Pasalnya, semakin tinggi bangku pendidikan yang dienyam, semakin mahal dan rumit untuk didapatkan. Karena alasan ini pulalah mungkin mengapa sistem pendidikan yang terpadu perlu untuk dicanangkan. Di Indonesia sendiri, sistem pendidikan masih membutuhkan banyak pembenahan di berbagai aspek. Meskipun pemerintah telah berusaha sekuat tenaga untuk menyempurnakan sistem pendidikan, tidak bisa dipungkiri jika masih terdapat beberapa kelemahan di beberapa sisi. Supaya revisi sistem pendidikan dalam negeri dapat berjalan dengan optimal, dibutuhkan contoh referensi sistemnya dari negara yang lebih maju. Kegiatan membandingkan sistem pendidikan Indonesia dengan negara maju hendaknya dilakukan agar menjadi bahan introspeksi bagian mana yang perlu diperbaiki. Sena menguap lebar, tanda mengantuk saat mendengarkan penjelasan materi dari guru bidang yang tengah mengajar. Bila dirinya tengok kanan-kiri, ada belasan siswa-siswi yang sudah tertidur pulas. Hm, jumlah siswa-siswi yang masih menyimak dengan serius tidak lebih dari sepuluh orang. Miris sekali, pikir Sena dalam hati. Gadis itu mengedarkan mata ke luar jendela kelas, melihat pepohonan yang sedap dipandang. Beralih untuk melihat kebun anggrek, netranya menangkap siluet punggung kekar yang familier di penglihatan Sena. Bukankah itu Frasa? Apa yang dia lakukan? Bergumam, Sena tak sadar menatap lekat orang yang dikenalnya sebagai Frasa tengah melakukan kegiatan rutinnya, yakni merawat tanaman bunga anggrek yang indah, wanginya menyeruak sampai ke lantai dua. Mengapa Sena bisa mengetahui hal ini? Buktinya sekarang dirinya sudah dapat mencium wangi anggrek yang harum semerbak, tetapi hanya samar-samar. Namun, keningnya berkedut heran tatkala melihat sesosok anak kecil yang menempeli Frasa. Bukan, bukan hantu penasaran yang gentayangan, ini real manusia. Rambut pirang ... sepertinya Sena pernah melihat itu, tetapi di mana ya? Bagaimana bisa Sena melupakan Ila? Anak kecil berhati malaikat yang bersama Frasa adalah gadis kecil imut yang pernah menolongnya dari rundungan tak bermoral teman-teman satu sekolahnya. Bila Sena perhatikan sekali lagi, dua orang yang usianya terpaut cukup jauh itu sepertinya berbincang seru dan nampak akrab. Membuatnya bertanya-tanya, sejak kapan mereka yang tak pernah dijumpai bersama kini memiliki hubungan baik? Apakah Sena ketinggalan informasi terbaru? Rasa-rasanya dirinya tak yakin kalau Frasa yang kelihatannya lebih ke arah cuek pada sekitar mendadak berubah jadi kucing jika berdekatan dengan anak kecil. "Sena Sambora. Kenapa kamu bengong, hah? Bisa tolong jelaskan ulang materi yang Bapak sampaikan tadi atau mau dihukum keliling lapangan sekarang juga?" panggil suara bariton yang berasal dari depannya. Mampus, mampus, mampus! Sena hampir terjengkang dari kursi saking terkejutnya saat Pak Gemma menghampiri bangkunya. Ah, harusnya dia tak melamun di tengah pelajaran olahraga di bagian teori tadi. "S-saya bisa, kok, Pak." Kentara sekali suaranya terdengar bergetar. Beruntung, ada sedikit ingatan tentang pelajaran yang nyangkut di otak. Sena menghela napas berat, tidak apa-apa, deh menahan malu karena kurang bisa menjelaskan ulang, daripada panas-panasan disuruh buat berkeliling lapangan yang luasnya minta ampun. Sena tanpa banyak bicara, beranjak dari bangkunya untuk menyambar spidol papan tulis. Masih teringat jelas kalau Frasa sempat tertawa lepas akan tingkah menggemaskan yang Ila tampilkan. Apa seorang Ketua Biotek yang dari awal terkenal antipati bisa sebegitu terbukanya sama anak kecil? Benar kalau tiada hal yang mustahil. Sena pun sebenarnya tak ingin ambil pusing mengenai kedekatan mereka berdua. Namun, entah kenapa kalau ada sesuatu yang berkaitan dengan Ila, Frasa, atau keduanya membuat Sena merasa harus ikut campur dalam hal ini. Gadis bertubuh semampainya itu mengakuinya. Dua orang itu pun sukses merebut sebagian besar perhatian Sena selama beberapa hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD